
"Maksud Bapak?" tanya Shanum, sedikit tidak mengerti dengan apa yang di katakan atasannya
"Aku ingin agar kau menemani aku makan malam bersama klien malam ini"
"Ta... tapi, kenapa harus saya Pak? Maksud saya, saya hanya seorang Office Girl di kantor Bapak, dan akan sangat tidak pantas jika saya yang menemani Bapak" ujar Shanum beralasan
"Aku yang berhak menentukan siapa yang pantas dan tidak pantas untuk menemani. Aku tidak ingin mendengar penolakan, dan malam ini kau harus menemani aku. Sekarang pilih saja dress yang kau inginkan" ujar Arga
Shanum mengetatkan rahangnya menahan amarah. Jika tidak mengingat Arga adalah atasannya, maka ia akan menghajar Arga habis habisan dengan kemampuan bela diri yang ia miliki. Namun ia tidak bisa berbuat banyak, karena ia berhutang banyak pada Arga, setelah satu bulan yang ia janjikan, mungkin ia akan segera pergi dari sisi laki laki menyebalkan ini. Ia akan mencari pekerjaan lain yang tidak akan melibatkan dirinya dengan laki laki ini lagi
Shanum masuk kembali kedalam. Setelah beberapa saat ia keluar, dan kembali menemui Arga dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya. Arga segera beranjak saat menyadari keberadaan Shanum di dekatnya
"Sudah?" tanya Arga
"Sudah Pak"
"Baiklah, ayo" Arga mendahului Shanum, dan langsung masuk kedalam mobil. Setelah Shanum ikut duduk di sampingnya, ia segera menyalakan mesin mobil dan membawanya meninggalkan boutique "Kita akan mencari kontrakan untukmu"
Shanum hanya mengangguk singkat. Ia hanya menatap jalanan yang mereka lalui dengan tatapan kosong. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana cara melewati satu bulan ini dengan baik. Ya, satu bulan, ia hanya akan bekerja di perusahaan Arga selama satu bulan, itu artinya mulai sekarang ia harus berhemat, dan segera mencari lowongan pekerjaan yang cocok untuknya.
"Kau ingin kontrakan dimana?" tanya Arga memecah kesunyian
"Dimana saja Pak"
Shanum melirik Arga sekilas, laki laki itu masih fokus pada kemudinya "Saya rasa itu tidak pantas Pak"
"Kenapa?"
"Saya hanya Office Girl, dan Bapak adalah Bos saya. Apa kata orang nanti jika saya memanggil atasan saya dengan sebutan Mas"
"Kalau begitu, kita pacaran saja"
Shanum langsung menghunuskan tatapan tajam pada atasannya. Ia bahkan berkali kali menghela napas agar kepalan tinjunya tidak benar benar melayang mengenai wajah atasannya. Ia memilih memalingkan tatapan melihat jalanan yang masih mereka lalui
"Bagaimana?" tanya Arga
Shanum diam saat lagi lagi Arga kembali bersuara "Maaf Pak, tolong jaga sikap anda karena kita masih dalam jam kerja"
"Memangnya kenapa, apakah ada hukum yang melarang atasan dan bawahan untuk pacaran. Aku rasa, aku tidak menetapkan aturan itu di kantorku" ujar Arga "Jadi bagaimana dengan tawaranku tadi, kau maukan?"
"Maaf Pak" Shanum memejamkan matanya. Ia benar benar harus memiliki kesabaran seluas samudera untuk menghadapi Bos-nya ini
"Baiklah, kau belum bisa menerimaku rupanya. Tapi Hann, aku ingin kau tahu bahwa kau menempati tempat istimewa di hatiku"
Shanum masih diam, meski dalam hati terus menerus menjerit dan mengatakan sumpah serapah yang tak berkesudahan. Sejujurnya ia sedikit bertanya tanya saat tadi mendengar ungkapan Arga bahwa dirinya menempati tempat istimewa di hati laki laki itu. Namun keinginan untuk bertanya ia urungkan, karena ia tahu laki laki ini pasti akan menjawab pertanyaannya dengan candaan, yang akan membuat hatinya semakin kesal