Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 43



"Aw, kau bisa pelan pelan tidak" teriak Alina saat Arga memijat tangannya dengan sedikit keras, hingga menimbulkan rasa nyeri "Lagipula aku heran bagaimana kau bisa menyukai gadis bar bar sepertinya. Untung saja aku bisa bela diri sedikit, kalau tidak mungkin tanganku akan remuk olehnya" gerutu Alina seolah tiada habisnya


"Itulah daya tariknya Lin, dia sangat menarik dengan segala keberanian dan kegalakannya" ucap Arga


"Tapi bagaimana kau bisa menyukainya, bukankah setahuku kau menyukai gadis feminim. Sedangkan dirinya, dia sangat jauh dari kriteria idamanmu"


"Aku juga tidak tahu sejak kapan aku menyukainya, tapi yang pasti melihat segala kegalakannya membuatku tertarik" Arga kembali menambahkan minyak pada tangan Alina, dan memijatnya pelan


"Apapun itu, yang pasti kau harus membayar mahal diriku karena aku cedera hanya untuk membantumu" ucap Alina


"Kau membantuku, atau kau memang berniat menguji ilmu bela dirimu yang tidak seberapa itu?" tanya Arga, sebab ia juga cukup tahu jika Alina dulu cukup mahir dalam ilmu bela diri, dan yang ia lihat, saat tadi Alina dan Shanum berkelahi, Alina bukan hanya berniat membuat Shanum cemburu, tapi juga menguji kemampuannya yang sudah lama tidak ia gunakan


"Kenapa kau bisa membaca pikiranku" gerutu Alina "Tapi kau tahu, aku merasa tertantang untuk kembali mengajaknya berkelahi, aku merasa menemukan lawan yang sepadan sekarang" ucap Alina


"Hanya untuk mencari lawan berkelahi, kenapa harus Shanum. Kenapa tidak aku saja, aku juga bisa bela diri"


"Kau bisa bela diri. Terkena satu jurusku saja tulangmu pasti sudah retak" ujar Alina tertawa cekikikan. Sebab, ia sangat tahu jika Arga tidak bisa berkelahi


"Hei, kau meremehkanku?"


"Tentu saja" jawab Alina pasti "Sudahlah, intinya mulai hari ini aku akan sering mengunjungi kantormu dan membuat wanita itu marah, agar dia bersedia untuk berduel denganku"


"Kau serius ingin mengajaknya berduel?" tanya Arga


"Tentu saja, aku sudah lama sekali menantikan berduel dengan lawan yang seimbang sepertinya"


Arga melepas tangan Alina setelah memastikan tangan Alina sedikit membaik. Setidaknya, tangan Alina tidak akan bengkak karena cengkraman kuat yang tadi Shanum berikan. Setelah itu, ia berlalu menuju meja kerjanya dan mulai mengerjakan beberapa berkas yang menumpuk. Sedangkan Alina memilih merebahkan dirinya di sofa dan melanjutkan sisa kantuk yang masih melandanya


"Ada apa membangunkanku?" tanya Alina


"Sudah waktunya pulang, ayo"


Alina mengangguk meski kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Ia bangkit dari sofa, dan mengambil tas miliknya, kemudian keluar bersama Arga. Begitu tiba di lobi, Alina dan Arga segera masuk kedalam mobil, dan langsung pergi meninggalkan kantor.


Sedangkan di sisi lain, Shanum melangkah keluar dari persembunyiannya setelah memastikan Arga dan wanita yang tadi menghinanya telah pergi. Ia berjalan menuju halte, dan seperti biasa akan menunggu angkotan umum disana. Namun barusaja mendudukkan dirinya di halte, terlihat kilatan petir menyambar. Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan


Benar saja, tidak berselang lama hujan sudah turun dengan sangat deras. Kemeja Shanum yang biasanya ia biarkan terbuka, kini ia kancingkan, sebab rasa dingin dari air hujan benar benar membuatnya merasa kedinginan. Ia menatap kesana kemari, tampaknya angkotan masih belum juga terlihat


Berkali kali Shanum menghembuskan napasnya pada kedua telapak tangannya untuk menghilangkan rasa dingin yang kini melandanya. Ia kembali melirik arah angkot datang. Namun angkot sama sekali belum terlihat


"Kenapa lama sekali, biasanya di jam segini pasti sudah lewat disini"


Shanum bangkit dari duduknya saat melihat cahaya lampu dari kejauhan. Ia tidak bisa memastikan apakah itu angkutan umum atau bukan, sebab derasnya hujan membuat pandangannya tidak jelas. Hingga akhirnya cahaya itu kian mendekat, dan berhenti di depan halte. Dapat Shanum lihat seseorang keluar dari dalam mobil dengan menggunakan payung, dan dia adalah Arga


"Ayo pulang, biar aku antar" ajak Arga


"Tidak, aku menunggu angkot saja" tolak Shanum


"Ini sudah terlalu sore, tidak akan ada angkot yang lewat, biar aku antar saja"


"Tidak, pergilah"


Shanum kembali duduk di bangku halte tanpa mengindahkan ajakan Arga untuk mengantarnya pulang. Hujan yang begitu awet benar benar tidak bisa membuat Shanum pergi, dan akhirnya ia hanya menunggu hingga ada keajaiban. Entah hujan yang tiba tiba reda, atau kemunculan angkot yang akan menyelamatkan dirinya. Yang pasti, ia tidak ingin pulang bersama Arga