
Setelah berbicara mengenai banyak hal, akhirnya Arga mengajak Kiyara untuk pulang ke rumah mereka. Namun begitu sampai di rumah Shanum, Arga bukan ikut turun, melainkan kembali memutar mobilnya, dan berangkat pergi tanpa mengucap apa apa. Beberapa saat kemudian, mobil Arga tiba di sebuah hotel yang jaraknya cukup jauh dari rumah Shanum. Ia segera memarkir mobilnya, dan masuk ke dalam
"Mas..." pekik Selfi membuat Arga menengok
"Bagaimana?" tanya Arga
"Mama dan Papa ada di kamar sekarang"
Arga mengangguk, dan langsung saja melangkah bersama Selfi menuju kamar kedua orang tuanya. Tiba di depan kamar, Arga menatap Selfi, seolah meminta persetujuan. Melihat anggukan dari Selfi, membuat Arga akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu
Ceklek
Mama Brianna terdiam di tempat saat melihat wajah putranya berada di hadapannya. Pandangan matanya beralih menatap Selfi yang tersenyum kecil kearahnya. Ya, kemarin Selfi mengajak dirinya dan suaminya untuk ikut serta menuju kota Bogor dengan alasan pertemuan penting. Sejak awal, Nyonya Brianna memang sudah curiga dengan permintaan putrinya. Namun melihat putrinya yang tampak sangat memelas membuat Nyonya Brianna menurut
"Siapa Ma?" tanya Tuan Rapi berjalan mendekat "Arga..."
"Malam Pa" sapa Arga, ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian "Apa Arga boleh bicara?" tanya Arga
"Masuklah"
Arga duduk berdampingan bersama Selfi. Di depan mereka, Tuan Rapi dan Nyonya Brianna juga ikut duduk. Cukup lama terdiam, akhirnya Arga berdehem untuk memulai pembicaraan
"Apakah Mama dan Papa masih membenci Om Harun?" tanya Arga
"Jangan bertele tele Arga, Papa yakin, kau sudah tahu apa yang terjadi diantara kita dan mereka. Jadi katakan apa tujuanmu menemui kami" seperti biasa, si Tuan Rapi perfeksionis selalu meminta to the point
"Pa... hanya Om Harun yang bersalah, bahkan Ibu Siti 'pun sama sekali tidak tahu jika Om Harun merencanakan hal buruk untuk kita. Tapi kenapa Ibu Siti, Shanum dan adik adiknya harus merasakan akibat dari perbuatan jahat Ayah mereka?"
"Inilah konsekuensi-nya Arga. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama. Nama Ayah mereka telah buruk, dan itu akan meninggalkan kesan buruk juga untuk keluarganya. Maka dari itu Papa memutuskan untuk tidak lagi memiliki hubungan apapun pada mereka" jelas Papa Rapi
"Tapi apa Papa tahu, bahwa selama ini Ibu Siti harus berjuang seorang diri demi kelangsungan hidup ketiga anaknya. Shanum, di umurnya yang sudah sangat matang untuk menikah, memilih untuk tetap sendiri karena tanggung jawab besar yang ia tanggung untuk kelangsungan hidup dan pendidikan kedua adiknya. Kiyara, gadis belia yang baru akan menginjak usia tujuh belas tahun, harus merasakan pahitnya kehidupan, dan susahnya mencari uang demi kelangsungan pendidikannya. Lalu Dimas, anak laki laki itu terlatih dewasa sebelum waktunya, anak berusia sebelas tahun yang biasanya hanya menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar, kini harus ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sedangkan kita, kita hidup tanpa ada kekurangan apapun. Lalu di mana letak keadilan untuk mereka Pa, bukankah mereka masih memiliki hak untuk menyandang status sebagai seorang Argantara?"
Nyonya Brianna menggeleng mendengar ucapan putranya. Sebegitu sedihkah kehidupan mantan Adik Iparnya itu selama ini. Apakah segala kepedihan itu benar benar terjadi dalam kehidupannya. Lalu bagaimana bisa dirinya hidup bergelimang harta dalam kekuasaan keluarga Argantara, sedangkan mantan Adik Iparnya justru merasakan pahitnya kehidupan. Sungguh, apa yang barusaja ia dengar membuat hati Nyonya Brianna merasa tercubit
"Lalu, apakah kita berhak meng-klaim harta kekayaan yang sudah di wariskan Kakek untuk Shanum?" tanya Arga kembali