Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 64



Sesuai permintaan Daffa, Arga akan segera menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk menjemput sahabatnya itu. Tidak lupa, ia juga membawa serta Shanum bersamanya, sebab perjalanan dari Bogor menuju Jakarta yang cukup memakan waktu, membuat Arga memilih untuk membawa Shanum agar ia tidak sendiri


Mobil mulai melaju dari kediaman Shanum menuju jalan raya yang akan membawa mereka menuju kota Jakarta. Selama perjalanan ada saja yang Arga bicarakan, dan Shanum hanya menjawab seadanya. Perjalanan yang cukup panjang, membuat Shanum menguap beberapa kali karena mengantuk. Ia melirik Arga yang masih tampak segar, seolah tidak mengantuk sama sekali


"Ada apa?" tanya Arga saat menyadari Shanum tengah menatapnya


"Kau tidak mengantuk?"


"Tidak, apa kau mengantuk?"


"Hem..."


Arga merebahkan kursi yang di duduki Shanum, membuat Shanum tampak nyaman untuk memulai tidurnya "Tidurlah, perjalanan kita memng cukup panjang"


"Tidak, aku hanya akan merebahkan badan saja, aku tidak mungkin tidur sedangkan kau fokus mengemudi" bantah Shanum


"Tidak apa apa Hann, aku sudah terbiasa. Kau tidurlah"


"Tidak"


"Baiklah"


Arga kembali fokus pada kemudinya. Ia bisa melihat dari sudut matanya, bahwa Shanum beberapa kali terlihat menahan kantuk. Bahkan beberapa kali ia juga mendengar Shanum yang menguap. Namun mengingat Shanum yang bersikeras untuk tetap terjaga, membuat Arga akhirnya tidak lagi bersuara.


Beberapa saat berlalu, akhirnya Shanum benar benar tidak bisa menahan dirinya. Tanpa terasa, ia sudah tertidur dengan nyaman. Sedangkn Arga yang sedari tadi memperhatikan Shanum melalui ujung matanya hanya tersenyum kecil saat melihat Shanum tertidur


"Dasar keras kepala, tadi katanya tidak mau tidur"


"Kau menculik anak gadis siapa?" tanya Daffa


"Menculik? Enak saja, dia kekasihku" ujar Arga tak terima


"Kekasih? Sejak kapan?"


"Sejak kau memecatnya dari perusahaanmu"


Daffa diam, ia mulai mencerna ucapan Arga padanya. Ingatannya seketika melayang pada beberapa bulan yang lalu saat dirinya memarahi seorang Office Girl yang bekerja di kantornya karena tidak membuatkan kopi dengan benar untuknya, atau kata yang lebih tepat adalah karena Office Girl tersebut tidak membuat kopi seenak buatan sang istri. Daffa kemudian melirik Arga dengan tatapan memicing


"Lalu kau apakan dia, kenapa dia terlihat kelelahan, apa jangan jangan kau..."


"Jangan sembarangan kalau bicara. Aku ini masih sangat waras untuk tidak berbuat macam macam pada anak gadis orang" Arga melirik Shanum yang masih tidur di dalam mobilnya tersebut


"Memangnya, kau sudah benar benar bisa melupakan Hanna?"


Pertanyaan Daffa membuat Arga terdiam. Namun di detik berikutnya ia menepuk bahu Daffa dengan tersenyum "Aku tidak tahu, apakah aku sudah melupakan Hanna atau belum. Karena terkadang, aku masih tetap ingin membuat sesuatu yang mrnggambarkan tentang diri Hanna dalam dirinya, tapi aku sudah mulai berusaha untuk melupakan Hanna"


"Selamat berjuang kalau begitu" ucap Daffa


"Terima kasih. Oh iya, untuk sementara kau tidak bisa duduk di depan, jadi dengan sangat amat terpaksa, silahkan duduk di belakang"


Daffa memberengut kesal, sebelum akhirnya masuk kedalam mobil. Arga ikut masuk, dan duduk di depan kemudi, setelah itu ia mulai melajukan kendaraanya menuju kediaman Dirgantara. Tidak lama, akhirnya mereka tiba di depan kediaman megah keluarga Dirgantara


"Terima kasih bro" Daffa melambaikan tangan singkat, membuat Arga dengan segera melajukan kendaraannya kembali