
Setelah menaruh barang barang Alina di kamar tamu, Arga kembali keluar menemui Mama Brianna "Ma, aku akan keluar sebentar"
"Kemana Sayang?"
"Aku pamit Ma" ucap Arga yang langsung keluar dari rumah tanpa menjawab pertanyaan sang Mama
Arga segera melajukan kendaraannya menuju perusahaan miliknya. Ia tidak peduli jika saat ini ia hanya mengenakan pakaian santai, dan datang ke kantor. Karena yang ada di pikirannya saat ini adalah melihat wajah Shanum, untuk menambah semangatnya
Terdengar aneh memang. Sebuah rasa yang berawal dari obsesi, sampai akhirnya sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi sebuah ketertarikan yang nyata. Ya, ia merasa bahwa ketertarikan yang ia rasakan bukan lagi karena Shanum memiliki wajah yang hampir sama dengan Hanna, tapi rasa yang ia miliki lebih dari itu
Arga turun dari mobil, setelah memarkirkan mobilnya di tempat seharusnya. Begitu memasuki kantor, banyak pasang mata yang terpukau dengan penampilan Arga yang terlihat begitu santai. Tampilan santai yang terlihat jauh lebih memesona. Arga yang memang terkenal ramah tampak tersenyum sepanjang jalan menuju ruangannya. Hingga akhirnya setelah beberapa saat, lift yang ia pakai mengantarkannya pada lantai dimana ruangannya berada
"Bos?" begitu keluar dari lift, terdengar suara Gibran yang tampak menaruh tanda tanya besar akan kedatangannya
"Ada apa denganmu? Tampaknya kau sangat terkejut melihat keberadaanku. Apa jangan jangan, kau membawa simpananmu ke kantorku?" tuduh Arga
"Itu tidak mungkin Bos, bukankah anda tahu jika saya tidak memiliki kekasih, apalagi simpanan" ujar Gibran membela diri
"Siapa tahu saja" ujar Arga. Ia lantas melihat kesana kemari mencari keberadaan Shanum "Dimana dia?" tanya Arga
"Siapa Tuan?" tanya Gibran tak mengerti
"Yang pasti aku tidak mencarimu"
Arga lalu melangkahkan kakinya menuju pantry, tanpa menghiraukan Gibran yang masih diam di tempatnya. Begitu tiba di pantry, terlihat Shanum yang tengah membersihkan meja pantry. Membuat Arga hanya diam, sembari memperhatikan Shanum bekerja. sedangkan Shanum, setelah mengelap meja, ia meletakkan kain lap tersebut pada tempatnya, dan berbalik. Namun ia begitu terkejut saat melihat keberadaan Arga di belakangnya
"Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Shanum dengan sisa keterkejutannya
"Bawakan kopi ke ruanganku sekarang" perintah Arga yang langsung saja mendapat anggukan patuh dari Shanum
"Ini kopi pesanan anda Pak" ucap Shanum
"kunci pintunya Hann..."
Shanum sedikit aneh dengan perintah Arga. Namun tak urung ia tetap melakukan perintah atasannya tersebut untuk mengunci pintu ruangan. Selesai mengunci pintu, ia kembali berjalan mendekati Arga dengan nampan berisi kopi di tngannya
"Duduklah" pinta Arga
"Tapi Pak..."
"Kau boleh memakiku jika kita hanya berdua. Anggap aku musuhmu atau apapun itu, tapi tolong jangan panggil aku Bapak" ujar Arga
Shanum menautkan alisnya mendengar ucapan Arga. Namun ia masih belum duduk, ia sedikit antisipasi dengan laki laki menyebalkan di depannya ini. Menyadari kopi yang belum ia taruh di meja, Shanum segera menaruh kopi tersebut tepat di hadapan Arga
"Silahkan Pak, aaa..."
Pekikan Shanum menggema saat tangannya tiba tiba saja di tarik oleh Arga untuk duduk di samping laki laki itu. Sedangkan Arga hanya tersenyum kecil melihat Shanum yang menjerit. Karena lengkingan jeritan Shanum justru membuatnya bahagia. Namun barusaja senyuman terbit di sudut bibirnya, ia harus kembali merasakan sakit pada perutnya saat tinjuan Shanum mendarat disana
"Kenapa kau memukulku" keluh Arga sembari memegang perutnya yang terasa sakit
"Rasakan itu, aku sudah sering memperingatkanmu untuk tidak macam macam denganku, tapi kau selalu saja bertindak semaumu"
"Aku hanya mengajakmu untuk duduk Hann, apa itu salah?" tanya Arga membela diri
"Salah, karena kau memaksaku"