Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 68



Setelah pertemuan singkat dengan Diana dan Lion yang ternyata tengah menikmati waktu santai di tempat yang sama. Akhirnya Arga dan Shanum memutuskan untuk kembali ke Bogor. Selama perjalanan, Shanum lagi lagi hanya tertidur, hingga akhirnya mobil yang di kemudikan Arga berhenti di depan rumah Shanum


"Hann, ayo turun" Arga mengguncang pelan bahu Shanum


"Sudah sampai?" Shanum mengedarkan pandangannya, dan benar saja, saat ini mereka telah berada di depan kediaman Shanum


Arga dan Shanum segera turun dari mobil, dan ternyata sudah ada Dimas yang menunggu di depan pintu. Tiba tiba ingatan Arga terlintas pada pagi tadi saat Dimas meminta dirinya untuk menjemput sekolah. Namun ternyata, Arga mengingkari, sebab ia lupa jika dirinya harus pergi ke Jakarta pagi tadi


"Hai Dim..." sapa Arga


"Mas Arga dari mana?"


"Dari Jakarta tadi, maaf ya tidak bisa menjemputmu dan Kak Kiya"


"Tidak apa apa, aku sudah terbiasa kok"


Arga mengangguk mendengar jawaban Dimas. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Terlihat rumah yang cukup terlihat sepi, entah dimana Ibu Siti dan Kiyara


"Ibu dan Kak Kiya dimana Dim?" tanya Shanum


"Ibu ada di belakang, lagi memetik sayuran segar. Kalau Kak Kiya seperti biasa, kerja kelompok katanya" jawab Dimas


Shanum mengangguk mendengar jawaban Dimas. Sebenarnya bukan lagi hal yang aneh saat mendengar Kiyara keluar dan mengatakan akan kerja kelompok. Tapi entah mengapa, Shanum merasa itu hanya sekedar alasan Kiyara, ia merasa ada sesuatu yang Kiyara sembunyikan dari dirinya dan Ibu


"Kalau begitu Kakak duluan ke kamar ya" pamit Shanum


"Siap"


Melihat kepergian Shanum, Arga memilih duduk di kursi ruang tamu, dan langsung saja Dimas ikuti "Tadi cari barang bekas lagi tidak?" tanya Arga lirih, sebab ia tahu jika Dimas mencari barang bekas tanpa sepengetahuan Ibu dan Shanum


"Tentu saja, Mas tahu, aku mendapatkan uang banyak tadi" jawab Dimas


"Oh ya? Kau mendapat berapa uang hari ini?"


"Kau hebat sekali"


"Terima kasih, Mas ini bisa saja"


Arga tersenyum saat melihat Dimas yang tersenyum malu malu "Uang jajan yang tadi pagi apa sudah habis?" tanya Arga, teringat akan dirinya yang memberikan uang jajan pagi tadi


"Sisa tiga ribu, tapi langsung aku masukan ke tabungan"


"Tabungan? Kamu mau pakai uang tabungan untuk apa, kenapa rajin sekali menabung" tanya Arga


"Untuk merenovasi rumah Mas, 'kan Mas tahu sendiri rumah kami seperti ini. Mas kesini di waktu panas, coba kalau di waktu penghujan, Mas pasti akan melihat atap atap rumah yang beterbangan karena angin"


"Separah itu?"


"Iya, terkadang juga dinding rumah yang terbang, sehingga kami harus kedinginan kalau musim penghujan" ujar Dimas


Arga melihat sekeliling rumah. Ini memang tidak pantas disebut rumah, bahkan, hunian ini sangat tidak layak untuk ditinggali. Sebuah bangunan berukuran kecil, dengan dinding yang terpasang dari bahan seng bekas yang pasti akan merasa dingin saat malam hari tiba. Apalagi setelah mendengar cerita Dimas bahwa jika musim penghujan maka atap dan dinding rumah ini akan terbang. Lalu bagaimana mereka bisa tinggal di tempat seperti ini


Seketika Arga teringat jika ayah Shanum adalah adik angkat dari sang Papa. Itu artinya, Shanum dan keluarganya berhak mendapatkan persenan dari harta yang keluarganya miliki. Lalu mengapa keluarga Shanum justru tinggal di tempat tidak layak seperti ini, sedangkan ia dan keluarganya tinggal nyaman di kota dan di sebuah rumah yang begitu besar. Arga seakan tidak sadar saat langkah kakinya mulai menuju halaman belakang, dan menemui Ibu Siti


"Bu..." panggil Arga


Ibu Siti yang masih memanen sayuran, seketika membalik badannya saat mendengar suara Arga "Nak Arga, ada apa?"


"Bisa ceritakan padaku tentang kisah keluarga kita?"


Deg


Meski awalnya terkejut, tetapi akhirnya Ibu Siti mengangguk. Ia mengajak Arga untuk duduk bersamanya di sebuh kursi kayu panjang di halaman belakang tersebut. Ingatan Bu Siti langsung menerawang pada kejadian berpuluh tahun yang lalu