Self Healing

Self Healing
Bab 8 Hari yang menyakitkan



Setiap orang pasti mengalami masalah, dengan ujian yang kadang membuat mereka hampir kehilangan hati, menjadi buas tak terkendali, atau melatih hati dengan menjadi orang berharga dengan ikhlas menerima. 


***


   Hari masih sama, bulan terus berganti sampai matahari nanti tidak terbit lagi atau berganti tempat.


Keadaan hari itu kacau, ayah Naziya tidak ada di rumah. Nadila marah-marah tidak jelas dia terus menjambak Naziya. Mayassah bingung, setengah hatinya melihat itu terasa puas.


"Sakit Kak, lepasin." saat itu ayahnya yang datang tanpa memberi tahu dulu melihat semuanya merasa bingung.


"Nadila!!" semburat kemarahan tercetak dalam wajah dia. "A--ya-h," Nadila tergagap. Naziya langsung berlari ke arahnya, dia memeluk ayahnya.


 


"Naziya gak mau tinggal sama kakak, mamah dan adek lagi. Ayah pergi mereka nyuekin aku, dan kakak barusan menjambak aku, cuman gak sengaja menabraknya."


 


Hari itu Nadila benar-benar tidak seperti biasa, Ayahnya menampar Nadila. "Plak.... "


 


"Dia adikmu, bukan boneka!" air matanya luruh saat itu juga.


 


Dia menangis dan Mayassah menghampiri dan membawa dia dalam pelukannya.


 


"Saya akui saya salah, tapi seperti ini kamu memperlakukan anak\-anak, membiarkannya saling melukai, terlebih Naziya yang memang dilukainya kah? Kau senang" bisiknya.


Mayassah tidak berkata apa\-apa, hanya bisa menahan kesakitan dalam diam. 


 


***


    Matahari tidak terbit begitu cerah, awan kelabu menutupi dari sisa jejak hujan semalam yang masih belum selesai. Keadaan sudah terkendali, tapi Nadila dan Mayassah tidak tahu pergi kemana ayahnya membawa Naziya.


 


Nazwa yang baru keluar kamar dahinya berkerut bingung. "Mah ko berantakan? Ayah sudah pulang yah. Ko kalian gak makan? Itu makanan di meja gak ditutup lagi? Ada apasih?" beruntun pertanyaan yang mendapat timpukan bantal dari Nadila.


 


"Diem dek, sono makan. Masuk kamar lagi lebih baik," suruh Nadila.


"Kakak apaan sih," protes Nazwa. Sebelum keributan di mulai lagi, Mayassah tidak berkomentar apapun kepada mereka. Dia pergi meninggalkan keduanya. Dia rasa perlu menenangkan hati, tidak baik jika harus terulang seperti barusan. Nazwa semakin dibuat bingung, ingin melontarkan pertanyaan tapi Nadila pun pergi meninggalkannya. 


     Mayassah. kini berada di kamar, matanya sudah berair, dia terduduk di tepi ranjang. 


 Untuk istriku, 


    Pagi ini mentari tidak secerah hari pertama ketika ijab qobul kita terucap. Awannya kelabu, alam seakan sedang bersedih. Kamu tahu? Sekarang aku seakan mendapatkan dukungan, setelah bertahun-tahun menyakiti diri sendiri demi memenuhi keinginan orang dicintai. Ada banyak hal yang tidak engkau ketahui yang aku sembunyikan. Maaf jika aku lancang, cakrawala sekarang telah mengijinkan aku berterus terang, buktinya seakan paham dengan hati yang selalu sendu. Kicauan burung layaknya suara hatimu yang tak terima, aku paham. Tapi apakah engkau tahu? Siapa yang paling menderita. Lihat gunung yang tinggi yang selalu dipuji dengan sejuta misteri dan keindahan, kadang manusia lupa dengan tanah yang menopang. Dimana napak tilas itu berada. Naziya anakku, anak dari sahabatmu. Seseorang yang hanya aku ceritakan sekilas bahwa dia anak dari wanita yang amat kucintai. Dia anak Shakila, sahabatmu. Sekali lagi aku katakan. Ini kesalahan terbesar yang aku perbuat, sebelum di hari aku memutuskan meminangmu. Dia datang, awalnya aku sangat senang bahkan sampai lupa akan memeluknya, dia menahan. "Kak, apa kakak ingat dengan Mayassah." Saat mendengar namamu saja aku sudah muak, lagi dan lagi. Terus dan terus diulangi, aku tahu kau dan dia sama-sama wanita yang tidak bisa dibedakan kelasnya, tapi hatiku sudah jengkel dia terus berkata, Mayassah menyukaimu menikahlah dengan dia. Jelas-jelas aku menyukai dirinya bukan dirimu, tapi Shakila selalu keras kepala sama seperti Naziya. Pembahasan itu sampai ke intinya, dia tidak ingin melukaimu sebab dirimu telah banyak menolongnya dia tidak enak hati. Dia tidak mau menikah denganku, dia menyodorkan undangan pernikahan yang saat itu juga aku tepis. Hatiku marah, hancur, mengapa dia bisa sejahat itu, tanpa mendengarnya lagi aku masuk ke dalam rumah. Hari itu juga aku berjanji akan memenuhi permintaannya. Hanya untuk balas dendam, aku akan melukaimu, tapi setelah pernikahan aku, aku sejenak lupa dengan niat sebab luasnya ilmu pengetahuan serta perangai baikmu yang membuat aku tidak sampai hati. Soal hati, tetap masih sering sakit dan aku akui bahkan aku selalu menangis jika teringat tentangnya. Dua tahun pernikahan berjalan mulus, sampai lahirlah si cantik kita, Nadila. Setahun Nadila tumbuh, aku bertemu dengannya. Dia masih terlihat cantik, almamater universitas yang kukenal tengah dipakainya. Rahangku mengeras, apa maksud semua ini. Bukankah dia telah menikah? Kenapa dia nampak seperti seorang mahasiswi. Saat itu aku sedang berada di luar kota, di kota yang sama dengan keberadaanya. Aku tidak gegabah, langsung bertanya. Selama 6 bulan kurang lebih aku mencari faktanya, sampai satu pesan yang berada di HP-menarik perhatianku.  Isinya, 


 Mayassah terjatuh menyiku foto dia dan suaminya yang terpampang di nakas, setelah tanpa sengaja dia membaca kertas terbalik yang disisinya ada bunga mawar.


"Pranggg... Kringgg... Tuttt-tuttt." suara Handphone berbunyi.


"Iya saya sendiri! Ada apa?" Mayassah menganga. Dia menangis dengan teriak, menyambar tas yang berada di atas kas kasar. Najwa yang sedang berada di ruang tengah melihat mamahnya pergi terburu-buru mengejarnya. Tangisannya masih terlihat, setelah satu jam lamanya dia berada di dalam kamar.


 


"Kakak, mamah pergi sambil nangis," teriak Najwa. Nadila yang sedang berada di kamarnya pun keluar, dia mengejar Najwa yang sudah mengejar mamahnya.


 


Mayassah membuka mobil dengan satu hentakan, Nadila dan Najwa menyusup tanpa berbicara di kursi belakang.


Kurang lebih dua jam perjalanan, mereka tiba di rumah sakit. Nadila kaku, ada apa ini, trus saja hatinya bertanya, tapi Mayassah telah lebih dahulu meninggalkan mereka, berlari seperti orang yang sedang patah hati, ingin menghindar tapi tidak bisa.


 


"Maaf, ada pasien yang bernama Rudi. Di ruangan mana ya?" tanya Mayassah.


 


"Bentar bu, di UGD sebelah ruang operasi." jawabnya. Najwa masih menguntit, tak banyak tanya. Dia terus memegang tangan kakaknya.


"Ka, adek takut. Kenapa mamah ke sini," cicitnya. Nadila hanya menggeleng, kaki dia terus melangkah mengikuti mamahnya dari belakang.


"Dok bagaimana keadaan suami saya?" Mayassah menghadang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu, setelah dia berada di tepatnya.


 


"Dengan Ibu Maya, ya? Maaf saya harus sampaikan dengan berat hati bahwa nyawanya tidak tertolong, tapi anak ibu, bisa. Hanya saja, sekarang dia butuh perawatan intensif, ada beberapa urat syarafnya yang hampir tidak berfungsi. Saya akan mengoptimalkan sebisa mungkin, meski ingatan tentang masa lalu akan sulit dia ingat bahkan tidak bisa." Dokter menyampaikan pesannya dengan menunduk, bagaimana tidak? Rudi adalah temannya dan dia tahu persis semua cerita yang dialami.


Terpaut usia yang jauh berbeda, tidak membuat Haris segan dengan Rudi. Dia telah menganggap Rudi sebagai kakak, teman sekaligus ayah. Sosoknya yang selalu menguatkan dia dikala terpuruk, mengeluh lelah karena profesinya sebagai dokter dan masih terbilang muda sudah mendapatkan prestasi yang luar biasa. Jam 12.00 siang Rudi dikebumingkan. Naziya masih belum sadar. Semenjak hari itu berubah menjadi lebih gelap, Mayassah tidak tahu harus berbuat apa. Sebagian dirinya merasa hilang, sebagian dirinya merasa bersalah dan sebagian dirinya selalu merasa sakit.


 


Naziya sadar sebulan setelahnya, tapi ingatan dia benar-benar lumpuh. Mayassah senang, tapi harus bersedih juga. Semenjak itu keadaan berubah, meski kehidupan berjalan seperti biasa. Nadila yang kadang menyalahkan diri, akhir cerita buruk mengingat perpisahan dengan ayahnya. Dia tertampar dahulu, sebelum mendapatkan pelukannya lagi, dia pergi tanpa pamit. Naziya yang tidak mengingat apapun, selain boneka yang selalu dia pegang tak mau terlepas.


Najwa menjadi saksi dalam bisu, dan memandang kehidupan keluarganya dengan bingung, sedih dan tak paham. Sekuat apapun Mayassah menyayangi Naziya, dia tak mampu, terkadang ada bisikan-bisikan yang menyuruh dia melukai Naziya. Akhirnya Naziya terasingkan. Haris selalu menyempatkan diri untuk menengok mereka, tersenyum penuh kepahitan dikala sepi yang selalu dia dapat ketika pertama kali menginjak kaki di rumah mereka.


Naziya selalu sendirian, Haris hanya bertemu dengannya itu satu kali setelahnya tidak pernah lagi. Sampai Haris pindah tugas ke luar negri, terputus begitu saja. Mayassah yang tidak pernah sempat bertemunya lagi dia tidak tahu. Gelap, kosong dan hampa Mayassah mendidik anak-anaknya dengan keadaan itu, tidak menjadikan anak-anaknya seperti tidak terurus, tapi sikap dingin acuhnya mendarah daging sebab kekosongan jiwa itu, satu pesan lagi yang suaminya sampaikan meski tidak diharuskan dia lakukan. Mencari keberadaan Shakila, apa dia masih hidup atau telah tiada. Sepak terjang setelah kematian Rudi menjadi pemimpin perusahaannya masih saja kesulitan dan hasil belum didapatkan setelah 8 tahun berjalan, hampir lelah menyuruh koneksinya. Mayassah selalu mengurung diri, yang terjadi dia meratapi. Membaca lembar-lembar deary suami dan sahabatnya yang pernah dia berikan, akhirnya selalu membuat semangat kobaran api.


Naziya tetap sama, terasingkan dan seperti tidak dianggap, meski masih baik-baik saja. Naziya yang menginjak usia 14 tahun baru paham, kadang dia menangis dalam diam ketika meminta perhatian dengan caranya Mayassah selalu menolak.


"Mah, Naziya sa--" potong Mayassah


"Sama bibi saja ya, mamah sibuk," tapi ketika melihat Nadila dan Najwa


"Kakak sama adek bareng mamah aja, ayuk sekalian pergi." ajaknya, Naziya tertinggal sendirian. Dia menangis memeluk boneka kesayangannya. "Bi aku gak mau sekolah, aku sakit," Dia mengeluh. Bibi mengelus rambut Naziya.


"Panas banget non, aduh. Kedokter saja ya," pinta Bibi.


"Nggak bi, bibi temani aku saja. Sini peluk," Naziya mengalihkannya semua itu kepada Bibi, orang yang telah bekerja lama dengan mereka. Bibi diam-diam selalu menangis hatinya, ketika melihat Naziya. Setelah kematian majikan lelakinya, dia merasa berbeda.