
Setelah hampir 3 jam, akhirnya kami mendarat dengan selamat di Bandara Polonia, Medan, setelah menempuh 2,5 jam penerbangan.
Setelah pengambilan bagasi selesai, kami berdua menuju teras terminal kedatangan yang ramai dengan para calon penumpang ataupun juga penumpang yang baru tiba, seperti aku dan ada juga yang menjemput. Aku melihat seorang pria dan wanita yang melambaikan tangannya ke arah kami berdua, aku pun mengira mereka adalah Pak Ali dan istrinya.
"Halina? Saya Pak Ali."
"Iya, Pak. Saya Halina."
"Selamat datang kembali di Medan. Kapan terakhir kamu ke Medan?" tanya Pak Ali.
"Waduh, terakhir kali yaa waktu pindah ke Jakarta itu, waktu umur 5 tahun, berarti 19 tahun yang lalu," jawabku.
"Wah, ini sama saja baru pertama kali ke Medan. Selamat datang di kota Medan, tempatnya Opung bertemu Tulang," canda Pak Ali.
"Oiya, selamat ya atas pernikahan kalian," lanjut Pak Ali.
"Terima kasih, Pak," jawab kami berdua.
"Kalau begitu kita jalan sekarang," lanjut Pak Ali sambil berjalan ke tepi teras lalu memanggil mobilnya untuk mendekat.
"Ayo, silahkan naik," ucap Pak Ali setelah mobilnya mendekat.
"Lin, kamu langsung naik aja, biar Pak Ali dan Tyo yang masukin barang-barangnya ke bagasi," ucap Bu Ali.
Aku pun menaiki kendaraan bersama dengan Bu Ali.
"Lin, mumpung masih di Medan, kalau mau belanja kebutuhan untuk di kebun sekalian aja, mumpung di kota, karena pasti banyak yang kalian harus dibeli," lanjut Bu Ali.
"Jadi ngerepotin," ucapku.
"Nggak lah, saya malah senang bisa membantu. Keretanya nanti siang kan? Kita belanja trus makan siang, sebelum ke stasiun," ucap Bu Ali.
Benar saja, Pak Ali mengantarkan kami menuju pusat perbelanjaan terbesar di Medan.
"Silahkan berbelanja, saya berdua menunggu disini saja," ucap Pak Ali di depan coffeeshop asal negeri Paman Sam.
"Terima kasih, Pak," jawab kami berdua.
Kami pun segera memasuki area perbelanjaan hypermarket asal Perancis tersebut.
Aku mendorong troli belanja menuju area pecah belah untuk membeli piring dan gelas, serta aneka perlengkapan dapur lainnya.
"Belanjanya jangan banyak-banyak, repot bawanya di kereta. Nanti juga masih bisa belanja di Rantau Prapat atau Kota Pinang," ucap Tyo.
Aku pun menurutinya. Aku hanya membeli perlengkapan yang sekiranya memang segera dibutuhkan.
Waktu terus berjalan hingga 1 jam kemudian, akhirnya kami mulai mengantri pembayaran di kasir.
Istri Pak Ali pun menghampiri ketika kami sedang melakukan transaksi di kasir.
"Pakai ini, Mbak," ucap istri Pak Ali kepada kasir sambil menyerahkan kartu pembayaran dari salah satu bank nasional.
"Eh Bu, jangan. Aku sudah siapin uangnya kok," tolakku.
"Nggak papa, anggap aja ini hadiah untuk pengantin baru," jawab Bu Ali.
"Tapi kan waktu resepsi sudah," ucapku.
"Hmm iya memang sudah, nggak papa, saya yang traktir selama kalian disini. Kebutuhan rumah tangga baru itu banyak, jadi jangan keberatan dengan ini," jawab Bu Ali sambil menandatangani slip pembayarannya.
"Sudah yuk, kita lanjut makan siang," ajak Bu Ali.
Aku dan Tyo pun menurut saja, walaupun aku merasa sungkan dengan kebaikan Pak Ali dan istrinya.
Kami pun berjalan menyusuri toko-toko di dalam Mall yang tak kalah megahnya dengan yang ada di Jakarta.
"Barang-barangnya saya masukkan dulu ke mobil, Lina ikut Bu Ali untuk cari tempat makan. Tyo ikut saya," ucap Pak Ali.
Kami lalu berpisah. Kemudian, Bu Ali mengajakku ke sebuah rumah makan khas Melayu.
"Kita makan disini aja, ya. Biar nyobain makanan Melayu seperti apa, mau kan?" tanya Bu Ali.
"Boleh, Bu," jawabku.
Sembari menunggu makanan kami datang, kami pun berbincang setelah Tyo dan Pak Ali datang, setelah meletakkan barang belanjaan di mobil.
"Kenal dimana?" tanya Pak Ali.
"Kami teman di SMA, dulu kami teman sekelas sewaktu kelas 1," jawab Tyo.
"Jadi sudah pacaran dari SMA?" tanya Bu Ali yang membuat kami berdua tertawa.
"Nggak pakai pacaran, Bu. Langsung ditodong nikah sama ibu," jawabku.
"Langsung lamaran, trus dapat panggilan ke sini, jadi awal bulan Februari saya sudah ada di kebun," tambah Tyo.
"Jadi kemarin pulang untuk nikah?" tanya Pak Ali.
"Nggak juga sih, tapi yaa dibarengin sama urusan kantor, biar sekali jalan, jadinya acaranya dipercepat di bulan Mei," jawab Tyo.
"Awalnya di akhir tahun, trus jadi tengah tahun," tambahku.
"Semua serba cepat yaa, semoga umur pernikahannya tidak cepat, tetapi awet sampai maut memisahkan," ucap Pak Ali yang kami berdua aminkan.
Setelah selesai makan siang, kami bergerak kembali menuju ke Masjid Al Mashun yang tak jauh dari stasiun kereta api, untuk shalat dzuhur sebelum kami ke stasiun. Aku dan Tyo menjamak shalat, karena kami terhitung musafir yang masih dalam perjalanan.
Tak lama kemudian kami menuju stasiun kereta api, dengan melewati lapangan Merdeka Walk. Lapangan ini tampak ramai di sekitar pujasera, beberapa stall makanan dan minuman ternama terlihat di antara stall-stall lokal.
"Alhamdulillah, sudah sampai. Ini judulnya bertemu untuk berpisah, bertemu sesaat, nggak lama kita berpisah," ucap puitis Bu Ali.
"Ah Ibu bikin melow aja nih. Makasih ya, Bu," jawabku.
"Nanti kabarin ya, kalau sudah sampai," tambahnya lagi.
"Iya Bu, in syaa Allah akan segera dikabarin," jawabku.
"Oiya, ini untuk cemilan di kereta atau nanti setelah sampai di rumah," ucap Bu Ali sambil menyerahkan kantong berisi bika ambon dan bolu Meranti khas Medan, juga 2 botol minuman.
"Eh, Bu kok jadi ngerepotin begini?"
"Nggak repot, cuma beli aja kok, nggak bikin. Buat ngemil di kereta, yaa," jawab Bu Ali sambil menepuk-nepuk bahuku.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak," ucapku sembari memeluknya.
Lalu kami berdua pun segera menaiki kereta Sribilah yang telah menunggu untuk diberangkatkan menuju Rantau Prapat.
"Sekarang jam 1.15, nanti sampai di Rantau Prapat sekitar jam 7 malam. Setelah sampai, kita makan malam dulu, terus shalat, baru lanjut ke Kebun," ucap Tyo.
"Hmm, berarti nanti sampai rumahnya malam banget dong?" tanyaku.
"Yaaa sekitar jam 10-11 malam, biar nggak kaget lihat jalan masuk ke perumahannya, kalau siang pasti kaget deh," jawab Tyo.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kan seperti hutan, jadi nanti kita ngelewatin hutan sawit, setelah itu baru ketemu pabrik, trus kantor, baru deh komplek perumahannya," jelas Tyo.
"Jauh nggak dari jalan raya?" tanyaku.
"Hmmm sekitar 45-50 menit," jawab Tyo yang membuatku membelalakkan mataku.
"Masih 1 jam lagi buat sampai ke rumahnya?!!" tanyaku tak percaya.
"Iya, Sayang, masih 1 jam lagi. Totalnya sekitar 9 jam perjalanan, karena lokasinya ini lebih dekat dengan perbatasan Riau, kalau dari Langga Payung ke Pekanbaru, sekitar 8 jam naik mobil," jawab Tyo.
"Serius ini masih di provinsi yang sama? 9 jam itu sudah sampai Purwokerto kalau naik mobil dari Jakarta. Gede amat ya ini Sumatra Utara," ucapku.
"Yaa, karena Langga Payung itu selatannya Sumatera Utara, makanya nama kabupatennya Tapanuli Selatan, karena terletak di selatannya Sumatera Utara," jelas Tyo.
"Baiklah, sekian dan terima kasih atas penjelasan ilmu geografinya, Pak. Ish, aku kan yang IPS, apakah kita bertukar posisi?" candaku.
Tyo pun tertawa, lalu ia menjawab, "Mas tahu karena sudah disini selama 3 bulan, jadi sudah sedikit banyak ngerti daerah-daerah disini, yaa minimal yang sering dilewati."
Aku pun melihat ke arah jendela, pemandangan alamnya sungguh jauh berbeda dengan di Pulau Jawa. Jika di Jawa sepanjang perjalanan akan banyak melintasi persawahan, hutan karet dan sungai-sungai, tetapi di Sumatera Utara ini, hanya perkebunan kelapa sawit yang terlihat sejauh mata memandang.