Self Healing

Self Healing
Bab 10 Mamah



 


Hari tidak pernah berhenti hanya untuk menunggu orang\-orang yang sekedar memulihkan luka, dia akan terus berjalan sampai pengatur\-Nya berkata sudah waktunya.


 


***


Hujan sudah sedikit reda, Naziya menyadarkan kepala kebelakang dinding. Bu Rina yang mendengarkan ceritanya masih belum sempurna menemukan masalah Naziya. "Sayang, selanjutnya apa? Kamu udah yakin bukan anaknya?" Naziya terlihat berpikir. "Tidak usah menyesal, bercerita tidak salah," Bu Rina menenangkan. "Kepalaku sakit bu," Rupanya memori dia setelah cerita itu belum teringat." Yang jelas aku yakin, Hafidz itu anak yang teriak-teriak di taman tadi." Akhirnya Naziya mengakui sendiri. "Tapi barusan Pak Hartono berbisik mengenali wajahku dan khawatir jelas terpancar dari mata om Hartono membuatku sedikit iri," Ucapnya. "Kakakmu Nadila itu baik, mau mengajarimu dan sudah menganggapmu sebagai adik," Bu Rina mengalihkan pembicaraan. "Iya bu, dia memang sudah baik. Tapi terbalik saat hatiku sudah menerima dia sebagai kakak, mamah seakan menjauhkan… Aww," Dia memegangi kepala. "Apa buktinya?"


"Hari itu, sesudah sholat subuh kak Nadila mengajariku mengaji. Mamah tiba-tiba menarik dia, tidak tahu apa yang dibicarakan. Aku pun tidak jadi diajarinya, aku mengaji sendiri." Ujarnya. "Dan mulai saat itu juga, aku membentengi diri. Tidak pernah menegurnya lagi, dari sana mental kedinginan aku terbentuk bu," Bu Rina sekarang meneteskan air mata." Sampai masuk SMA sekarang pun, kamu terkenal dengan penuh misteri dan ice princess itu? Lebih parah lagi kamu jadi kasar," Tebaknya. "Iya eehee, sudah lama sebenarnya aku acuh, tapi masih kadang selalu ingin menarik perhatian mereka. Ya terakhir kali itu. Ka Nadila sama, dia seakan membiarkan benteng itu semakin kokoh. Dia bersikap ketus lagi, tidak pernah peduli lagi, tidak pernah datang kesekolah untuk memenuhi panggilan BK. Sampai aku terancam dikeluarkan dari sekolah, tapi dari sana aku membela. Meski nakal prestasi selalu berjalan, aku menjuarai olimpiade sampai tingkat nasional masa mau dikeluarkan dari sekolah cuman karena masalah sepele. Akhirnya kepala sekolah mengiyakan. Graduation, mereka tidak mendampingi yang ada Pak Tarno tukang kebun melambaikan tangan, ketika nilai UN mendapat predikat terbaik ketiga sekota ini, aku mengedarkan seluruh pandangan tidak kutemui mereka, di panggung hampir mau meninggalkan tapi Pak Tarno memberi harapan." Lanjutnya Naziya mengenang, tidak sangka di benar bakalan ingat semua, serasa pening tapi bisa dikendalikan. Bu Rina mengelus kepala yang ditutupi kerudungnya. "Kamu mau pulang ke mana?" Ucapnya. "Aku boleh ikut ibu dulu," Lemahnya.


"Kenapa begitu sayang, pasti. Kita pulang sekarang aja."


Cerita itu ternyata memakan waktu sampai mendung tiada, hanya bias putih sisa hujan tertinggal. Bu Rina sengaja memancing pertanyaan kepulangan dengan jawaban sesuai harapan. Dia bukan ibu kandungnya memang, tapi dia rasa ada yang harus perlu dibenahi. Menceritakan kehidupan seseorang tidak akan habis satu hari, apalagi 17 tahun lamanya. Sambil menguji kebenaran, mamahnya Naziya akan mencari dia tidak atau sekedar bertanya kabar, mengingat Naziya seorang gadis yang cantik.


***


Petang sudah membayang, senja tiada nampak, Kemacetan jalan sepanjang mata memandang. Bu Rina tidak mengeluh karena lama seperti biasa, Naziya tidak mau memakai mobil ataupun kendaraan. Dia mengajak Buk Rina jalan, awalnya Bu Rina keberatan. Tapi usulan diterima setelah perjanjian, memakai ojek dulu baru setelah dekat perumahan kita jalan. Sesampainya di sana, perumahaan dengan gaya minimalis berjejer sepanjang jalan komplek. Naziya dipegang tangannya oleh Bu Rina dengan bergandengan untuk berjalan. Dia nyaman, anak kecil menggelitiknya secara spontan dari belakang. "Umi," Cicit anak itu. "Ihh geli," Naziya menggeliat secara otomatis dia terlonjak, Buk Rina tertawa. "Sayang kenalin ini Ayesha, anak ibu." Bu Rina memperkenalkan anaknya. "Ihh aku kaget bu, hallo sayang." Naziya mendekat dia menghirup aroma Ayesha jahil. Mencubit hidung mancungnya."ihh teteh ini," Protes Ayessa. Usia dia kira-kira 8 tahun, wajahnya mirip sekali dengan Buk Rina. Manis, kulitnya putih. Mata sipit tapi indah jika sedang terbelak. "Wleee… " Bu Rina takjub, ternyata sikap Naziya bisa berbeda ketika bersama anak-anak. Rumah dengan cat berwarna hijau dipadukan putih terlihat, gaya nuanasa eropa dan tradisional indonesia menambah ke khasan. "Rumah ibu, cantik," Puji Naziya. "Maaf tadi ibu ngerjainnya kamu, kelewat satu rumah kan. Anak ibu tadi dikode," Jujur Bu Rina. "Ayo umi masuk," Ajaknya. "Apa mau aku sembur," Ancam dia sambil memegangi selang. Naziya tertawa renyah. "Udah ayuk, keburu adzan." Sebelum mereka pulang, Bu Rina mengajak sholat asar terlebih dahulu di masjid sekolah.


Pertamakali Naziya menginjakan kaki di rumah Bu Rina, disambut hangat oleh seseorang. "MasyaAlloh. Cantik banget," Kata dia. Suami Buk Rina. "Mas ini Naziya, kenalin." Naziya menelengkupkan tangan di dada. Suaminya mengangguk, Bu Rina masih takjub belum satu jam bersamanya sikap yang lain Naziya keluar. "Dedeknya sini," Naziya meminta bayi yang tengah digendong suaminya untuk digendong olehnya. "Wah ganteng, eehh lupa. Assalamu'alaikum. Kamu siapa namanya," Naziya terlihat begitu senang tidak nampak seperti orang yang telah menangis berjam-jam. Pakaianpun telah kering. "Wa'alaikumsalam," Kompak semua termasuk Ayessa yang menyeletuk. "Ahh teteh gitu gak asyik, sama dedek dipuji sama aku aja nggak," Ayessa menghentak-hentakan kaki menuju dapur. "Aduhhh," dijawab oleh abinya dengan gelengan. "Maaf putri kecilku, sini dong." Masih memangku bayi Naziya mengejar Ayessa. Bu Rina membiarkan itu, pemandangan yang begitu sempurna arti sebuah keluarga. "Umi, kalau begitu abi ke mesjid dulu ya?" Pamit dia. "Abi jadi--" Sebelum melanjutkan pertanyaan itu, suaminya berucap "Abi jadi sayang, nanti berangkat jam 8 malem. Tadinya mau abi batalin tapi umi tadi nelpon mau ngajak murid umi nginep ada masalah yang harus diselesaikan, barusan interaksi dia tidak membuat abi khawatir meninggalkan umi sama anak-anak." Bu Rina tersenyum penuh cinta, dikecup suaminya. "Ihh abi batal dong, sayang." Tapi malah dibalas dengan kecupan balik."Abi bisa wudhu lagi di masjid," Bu Rina bersalaman.


***


"Abi, Ayessa ikut yah, yah!" Ayesha terus merajuk tidak mau ditinggal. "Gak bisa sayang, abi ada urusan. Besok lusa pulang lagi ko," Tuturnya mencari alasan. "Gak mau, Ayesha pengen ikut!" Naziya yang kebetulan sudah keluar kamar selepas ngelonin dedek bayi. Dia ikut membujuk Ayesha. "Kan ada teteh, sini Ayesha cantik. Putri kecilku, teteh bacain dongeng mau? Atau mendengar teteh ngaji," Naziya merentangkan kedua tangan. Ajaib, Ayesha langsung mau, dia berlari dalam pelukannya. "Kamar kamu di mana?" Tanya dia. Ayessa menunjukkan kamar yang bersebelahan dengan kamar dedek bayi. Bu Rina tidak enak hati, dia melarang "Sama umi aja ya." Dibalas oleh Naziya dengan perkataan " Gak apa-apa ibu, Ayessa sama aku dulu aja. Mending ibu anterin om, bapak abi atau apa yaa aku manggilnya," Lelocon dia yang dijawab Buk Rina dengan tepukan. "Makasih sayang, Yaudah." Bu Rina mengantar suaminya ke depan gerbang. "Benarkan abi bilang?" Goda dia. "Ihh apaan sih abi, masih kesel tau ditinggal-tinggal mulu." Untuk menutupi ketidakenakan hatinya terhadap Naziya dia jadi uring-uringan kepada suaminya. "Umi gak enak hati," Jujurnya."Abi paham, yaudah semoga umi bisa membantu dia ya. Abi pergi dulu." Buk Rina tidak masuk ke dalam sebelum mobil suaminya telah hilang dari pandangannya. Dia masuk ketika Naziya sudah tertidur di kursi, artinya Ayessa sudah tidur. Tidak tega akhirnya Bu Rina mengelus kepalanya yang mungkin dilepas setelah kepergian suaminya. Naziya menggeliat, badannya panas. Buk Rina panik, dia mengambil kompresan. "Emm ibu… " Bu Rina menahan dia untuk tidak duduk. "Ibu boleh pinjam HP-mu, kamu tidur aja. Dikamar Ayessa ya." Naziya menggangguk tidak banyak komentar. Buk Rina mulai mencari tahu, adakah kekhawatiran seorang ibu. Satu jam telah berlalu, jam 22.00 masih sama tidak ada pesan satu panggilan masuk dari HP dia dan Naziya. Akhirnya dia beranikan membuka HP Naziya. Tidak ada pesan yang dicuriga, hanya pesan dari Hafidz yang dibaca sampai pukul 22.15 ada notif.


From : Ka Nadila


Buk Rina mencari kontak bernama ibu, ataupun nomor yang sama milik mamahnya Naziya yang berada di hpnya. Tidak ada, nihil. Artinya dia tidak mempunyai nomor mamahnya. Hanya Ka Nadila tapi mengapa pesannya dihapus kembali ya. Tanya Bu Rina dalam hati,


To : Ka Nadila


Ada apa?


Sebisa mungkin Bu Rina bersikap datar


From : Ka Nadila


Adek kamu di mana? Pulang sayang😔.


Ziyalucuu😍 : Lagi kesambet apaan? Apa karena tadi hujan gede bangett yaa


Ka Nadila : Adek! Oke kakak mau jujur. Nilai semester kakak nurun


Ziyalucuu😍 : Apa urusannya?


Ka Nadila : Belum beres ngetik, kakak paham kamu menjadi seperti itu. Kakak capek dek, berkamuflase antara kamu dan mamah. Kakak capek berpura-pura jahat dan acuh. Kakak tidak mau mamah kecewa, sebab tidak menuruti perkataanya. Kakak masih ingat saat kamu meminta kakak mengajari banyak hal, dan saat sehari setelah itu mamah mengubahnya. Apa kamu tahu dek? Kakak dimarahin, dia mengingatkan kakak tentang kekasaran kakak sewaktu kecil. Sebelum ayah meninggal, saat kakak menjambak kamu. Kakak benci itu, dia seakan memprovokasi akhirnya kakak kalah tidak lagi berani. Nyali kakak menciut, ingin bersikap bodo amat tapi tak bisa. Kakak paham semuanya sekarang, kakak sudah lebih tua darimu. Bertahun-tahun kakak menjalankan kamuflase, dan hari ini kakak ingin nyerah. Ayo katakan kamu di mana? Kakak ingin jemput kamu pulang. Mamah tidak ada di rumah, dia tidak pulang. Ketika aku meminta penjelesab kenapa. Mamah selalu menangis dan mengurung diri, dia bukan tidak ada ataupun sibuk kerja. Mamah selalu di kamar tanpa sepengatahuan kita. Tapi sekarang benar-benar tidak ada, kakak telah menghubunginya beberapa kali tidak terjawab. "


Ziyalucuu😍: Cari saja, peduli apa kakak:)


Ka Nadila : Typing


Bu Rina tidak berniat melanjutkan, dia menutup HP Naziya.