
Gelap akan hilang seiring pagi bersinar. Malam membawa cerita untuk disimpan dalam kenangan
***
Nura mengetuk pintu kamar Naziya."Ka, di depan ada Ka Firman." Naziya yang tertidur di meja belajar mendengar ketukan pintu langsung terbangun. "Bentar dek." Naziya membuka pintu dengan jiwanya yang masih belum terkumpul. "Ada apa," Serak suara orang bangun tidur. "Di bawah ada Ka Firman dan Om Hartono." Jawab Nura. "Haaa… " Nura menepuk pundak dia. "Dia gak bakalan nuntut ko, cuci muka sana. Cepetan temui." Naziya yang masih memakai seragam sekolah masuk ke dalam. Mereka sekamar, Naziya yang meminta. Sepuluh menit kemudian, Naziya menemui mereka. Naziya menelengkupkan tangan di dada. Dia duduk di sisi dekat kursi roda nenek. Hartono melihat kantung mata hitam Naziya lagi. "Om ke sini, bukan mau apa-apa ko. Cuman om mau meminta bantuan kepada kamu, Firman berniat meminang perempuan yang sewaktu kemerin dekat dengan Naziya." Haris tersenyum dia yang menjawab. "Nadila maksudnya." Yang ditanggapi Firman malu-malu. "Semua terlalu begitu cepat, Naziya tidak paham dengan skenario-Nya. Kepergian Hafidz masih terasa berat, padahal ada banyak kisah yang ingin Naziya rajut selepas sikap misteri Naziya. Cinta hadir tanpa diundang, tanpa dipaksa memilih. Naziya tidak percaya cinta pada pandangan pertama, tapi setelah Naziya rasakan. Naziya tidak bisa menolaknya, Naziya akan membantu. Dengan begitu, Naziya nikah tidak perlu melangkahi Ka Nadila." Nura yang datang membawa air dan suguhan melontarkan ledekan. "Cieeee… Kisah apa, ngerjain dia kali kakak mah. Bang Zayyan kakak genit nih." kesyukuran hidup selalu mengundang hal yang tidak diduga, salah satunya jodoh. Ka Nadila baik orangnya." Tambah Nura kembali yang dibuahi lemparan jeruk oleh Meira. "Tante kata kakek, itu mulutnya di lakban dulu." Hartono tertawa. Semua tertawa, terkecuali Nura yang memberengut malu dan Meira yang tidak paham. "Maafkan kelancangan kedua anak saya."Hartono dia berkata tidak masalah.
***
Malam seusai tahlilan, saat purnama bersinar dengan terang. Haris dan Hartono mendatangi rumah Mayassah beserta anak-anak mereka. Nazwa membuka pintu. "Ehh om… Masuk." Mayassah tengah menonton tv bersama Nadila ketika mereka masuk. "Haris, sini duduk." Meira sudah bergerak lincah ke arah Nadila. Dia tersenyum miris melihat Naziya yang datang bersama keluarga lain tapi terlihat bahagia. Sebagai kakak yang masih ada kaitan darah, masih belum ikhlas menerima dia memilih berpindah rumah saat kebenaran telah terdengar. Dia merasa masih belum menebus kesalahannya. Nazwa mencium tangan mereka satu persatu. Haris menganggukkan kepala ketika mata Naziya meminta waktu berdua bersama Nadila. Dia mengajak Nadila pergi ke kamarnya yang sudah ditinggalkan dua minggu yang lalu. Nadila masih diam belum banyak bicara. "Kakak jangan diam terus. Gak mau memulai pembicaraan duluan kah? Meski Naziya pergi hati Naziya tetap di sini. Kenangan ayah dan semua cerita masa remaja Naziya tertinggal di rumah ini. Rumah duka penuh ilmu." Nadila masih memandangi Naziya belum berbicara. Naziya menggoyahkan tubuhnya. "Ka bicara… " Naziya mulai menangis. Nadila belum berbicara juga tapi kini dia memeluknya. "Kamu jahat tinggalin kita. Kamu jahat, jahat dan jahat! Kakak… " Nadila terduduk lemas di atas ranjang melepaskan pelukannya. "Kakak pandangi Naziya, lihat wajah Naziya. Semua sama, hanya Naziya ingin bersama Nenek. Rindu ini dan kehampaan tidak terbayar sepenuhnya. Naziya cuman mau memulihkan luka yang selama ini Naziya pendam. Naziya sayang mamah, Kakak dan Nazwa." Kabar kecelakaan yang dialami Hafidz untuk melindungi Naziya saat itu, sedikit mengguncang jiwa Nadila. Dia takut Naziya kenapa-kenapa. Nadila bangkit dia pergi sebentar, lalu tiba-tiba menyodorkan buku Dear-Diary yang telah dibacanya. "Kakak minta maaf." Naziya menerima buku itu. "Sudahlah ka, kita biarkan yang terjadi berlalu." Pelukan hangat Nadila dan kerinduan keduanya terhadap sang ayah memberikan makna persaudaraan berbeda tapi sama.
***
Rivaldi memandangi temaram lampu kamarnya, dia mengingat bagaimana Nura membatalkan perjodohan. Dia salah memaknai kepedulian dia terhadap Naziya. Buktinya sekarang dia merasa menyesal dan sakit hati, merasa ada yang hilang.
Albi gesrek : "Bi terus gue harus gimana?"
Dia menuliskan pesan singkat kepada Albi, bertanya perihal hati.
RN💕 : " Gue gak tahu, argghhhhh. Ko, gue kesel yaa nyesel lagi. Jujur gue juga nangis barusan."
Albi gesrek : "Lo nanya gue? Lo aja gak tau. 😂 Pak ketua dingin makanya. Emmm emang kalau boleh gue tahu lo tahu dijodohin dengan dia karena apa?"
RN 💕 : Bacottt ahh, percuma ternyata gue nanya lu. Dia gadis tangguh, sebagai wujud balas budi dia menyelamatkan abiku. Tapi gue beneran sayang dia. "
Albi gesrek : "Gimana mau ngasih saran, cerita aja gak. Lo cuman bilang batal perjodohan. Awalnya saat itu gak nyesel, tapi hari ini lo galau kalut. Hahahha😁. Udah gak apa-apa, dia dua tahun lagi. Kita mau ujian bro, santai dulu aja. Nanti lo bisa ngekhitbah ulang dia kalau lo yakin dan mampu.
Rivaldi malas cerita, dia membanting HP-nya ke kasur. "Ada benarnya juga ya. Saran dia," Cuman Rivaldi. "Aahh kau sedang apa di sana. Aku ucapkan selamat malam seseorang yang telah pergi karena terlukai. "
Tingg pertanda satu pesan masuk ada
Albi gesrek : AKU INGIN MENCINTAIMU SEDERHANA
Puisi Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
"Hatiku selembar daun"
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini
Ada yang masih ingin ku pandang
Yang selama ini senantiasa luput
Sesaat adalah abadi
Sebelum kau sapu taman setiap pagi
"Kuhentikan Hujan"
Kuhentikan hujan
Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan
Ada yang berdenyut dalam diriku
Menembus tanah basah
Dendam yang dihamilkan hujan
Dan cahaya matahari
Tak bisa kutolak matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga
"Wkwkwk… hahahaha "
"Sial Albi Ko, ngetawain gue. Ngejek gue. Awas aja lo. Tapi." Rivaldi tersenyum melihat puisinya. Satu ide melintas dalam pikirannya.
RN (Rivaldi Nur Hisyam/Rivaldi-Nura)