Self Healing

Self Healing
Episode 54 Pemeriksaan Autoimun



Setelah menginap selama dua malam, kami pun kembali ke Jakarta setelah menunaikan ibadah shalat dzuhur, dengan harapan dapat sampai di Rawamangun sebelum maghrib. Berbeda dengan saat berangkat, kali ini kami melewati jalan normal, walaupun sempat terkena penutupan akses, tetapi kami tetap dapat sampai di Rawamangun sesuai perkiraan.


Mengistirahatkan kepala ini adalah yang utama, sehingga sesampainya aku di rumah, aku segera menuju kamar yang biasa kutempati.


"Yang, makan dulu biar bisa minum obat," ucap Tyo sambil membawakan sepiring makan malam untukku dan obat yang harus kuminum.


"Nanti aja Mas, aku mual banget. Kalau ada yang seger-seger, aku mau."


"Hmm ada asinan Kamboja, mau nggak?" tanya Tyo.


"Boleh deh, tapi sedikit aja. Eh Mas, kalau ada pisang, boleh deh, siapa tahu aku bisa makannya," jawabku yang sebenarnya sudah merasakan lapar tetapi juga mual disaat yang bersamaan.


Tyo lalu membawakannya untukku ke dalam kamar.


"Makasih, Mas."


"Mas, tolong bilangin ke ibu, maaf aku langsung ke kamar, kepalaku rasanya nggak karuan," pintaku lagi.


"Yang, santai aja. Ibu dan yang lain semuanya juga tahu kondisi Sayang, malah tadi waktu Mas ke dapur buat ambil makanan, ibu bilang kalau Sayang istirahat aja di kamar, nggak usah mikirin kerjaan di rumah, utamakan kesehatannya dulu. Jadi Sayang jangan nggak enakan, semuanya paham kondisi Sayang kok," ucap Tyo dengan lembut sambil mengelus-elus punggungku.


"Sekarang makan dulu, baru setelah itu istirahat. Mas mau lihat anak-anak dulu, Zalfa juga lagi minta makan," lanjut Tyo.


"Makasih, Mas."


Selama aku sakit, Tyo selalu menyempatkan dirinya untuk mengurus Zalfa, yang masih berusia tiga tahun, si bungsu yang sangat aktif dan cerdas. Sayangnya kelincahannya sering kali terganggu karena Zalfa termasuk anak yang mudah sakit, hampir setiap dua-tiga bulan sekali, ia akan mengalami batuk dan pilek.


Hal ini yang terkadang membuat aku menjadi merasa bersalah, karena ia tidak mendapatkan ASI seperti kedua kakaknya, sehingga membuat daya tahan tubuhnya lemah. Ditambah di awal kehidupannya, aku banyak absen dari pengasuhannya.


Begitu juga dengan Icha dan Ara, di masa-masa pertama kali masuk TK dan SD, aku hanya dapat menemani mereka di enam bulan pertama, karena setelah itu, aku lebih banyak berada di dalam ruang perawatan rumah sakit, bahkan hingga tidak mengenali mereka sebagai anak kandungku.


Aku berharap aku dapat segera kembali sehat dan normal seperti sedia kala, sehingga dapat membersamai tumbuh kembang ketiga putriku. Aku jadi teringat ketika Ara baru duduk di TK B, usianya baru lima tahun. Saat itu aku menjalani operasi yang ke-empat, dimana aku sempat kehilangan memoriku.


Beberapa bulan setelahnya, disaat aku sedang menaiki tangga menuju lantai tujuh, aku bertemu dengan seorang petugas keamanan yang berjaga di lobby lantai lima.


"Selamat siang, Pak," sapaku padanya.


"Siang, Bu. Ibu sudah sehat?"


"Alhamdulillah, Pak."


"Eh nggak papa, Pak. Ara anaknya supel, kok," sahutku.


"Nah, iya Bu, dia cepat akrab dan ramah sekali. Jadi, kan saya waktu itu nanya ke adik Ara, sudah bisa baca atau belum? Dia jawab belum. Makanya waktu itu saya ajarin dia membaca dan berhitung, Bu."


"Lho jadi Bapak yang ajarin, Ara membaca dan berhitung?"


"Iya Bu, maaf ya Bu, bukannya saya lancang, tapi saya senang ngajarin adik Ara, dia cepat bisanya, cerdas banget!"


"Wah, terima kasih banyak Pak. Saya sebetulnya bingung, ini anak kok cepet bisa baca tulisnya, padahal saya tidak sempat ngajarin. Makasih ya, Pak."


"Sama-sama, Bu. Saya seneng kok ngajarin adik Ara."


Selesai dengan personil keamanan rumah sakit, sama halnya ketika di sekolah. Di saat Ara mau mendaftar ke SD, ia mengalami sedikit hambatan pada usianya yang kurang beberapa bulan dari yang seharusnya. Ara baru berusia lima tahun sepuluh bulan ketika memasuki tahun ajaran baru, sedangkan pada saat itu usia minimal untuk masuk SD adalah enam setengah tahun, yang artinya usia Ara kurang delapan bulan dari syarat ketentuan usia minimal.


"Bagaimana nih Bu, apa Ara nambah setahun di TK?" tanyaku pada wali kelasnya di TK B.


"Nggak Bu, Ara sudah terlalu pintar di TK. Dia sudah lancar baca, tulis dan berhitung. Dia juga sudah matang. Kalau nanti Ara tidak bisa masuk ke SD karena alasan umur, kami para guru dan kepala sekolah akan maju, menghadap ke kepala sekolah SD."


Itulah ucapan wali kelasnya saat Ara masih duduk di taman kanak-kanak. Aku sangat bersyukur walau dalam keadaan sakit seperti ini dan waktuku tidak banyak untuk mereka, tetapi mereka dapat tumbuh kembang dengan baik. Semua itu karena Allah memberikan aku teman dan saudara terbaik yang selalu ada untuk aku dan anak-anakku.


Sedangkan Icha, aku hampir tidak pernah mendengar keluhannya, ia selalu menjadi anak yang penurut dan penyabar, sehingga ia membuatku merasa tenang dengan kedewasaan yang ia miliki di usianya yang baru sepuluh tahun.


Dua hari sebelum kepulanganku ke Batam, aku harus terlebih dahulu memeriksakan diri ke ahli imunologi, untuk mengatasi autoimun yang kuderita.


"Ini operasi yang ke berapa?" tanya dr. Nugroho.


"Yang ke-lima, Dok," jawabku.


"Jangan takut, pasien saya ada yang sampai dua belas kali operasi Hidrochephalus, semuanya karena autoimun yang tidak terkendali," ucap dr. Nugroho yang membuatku terkejut.


"Dua belas kali? Gimana rasanya, aku aja yang sudah lima kali, rasanya nggak karuan?" tanyaku.


"Kamu tenang aja, autoimun itu bisa dikendalikan dengan suplemen-suplemen kesehatan. Biasanya para penderita autoimun itu kekurangan vitamin D3, asam folat, kalsium serta omega 3. Jadi nanti saya resepkan ke-empat suplemen itu, ya. Semuanya cukup diminum sehari sekali," jelas dr. Nugroho.


"Cukup sehari sekali, Dok?" tanya Tyo.


"Iya, cukup. Asalkan rutin setiap hari, in syaa Allah, autoimun dapat dikendalikan," jawab dr. Nugroho yang membuatku lega.