Self Healing

Self Healing
Episode 43 Honeymoon yang Tertunda



Delapan bulan sudah kami menjalani LDR dan akhirnya kami berdua berkesempatan untuk menghabiskan waktu berdua, selama 5 hari dan 4 malam, di Hong Kong dan Makau.


Di hari keberangkatan kami menuju Hongkong, Tyo berangkat ke Jakarta terlebih dahulu agar dapat menjemputku dan berpamitan dengan anak-anak.


"Semua sudah masuk koper ya, nggak ada yang tertinggal kan?" tanya Tyo.


"In syaa Allah sudah beres semua. Oiya, Mas bawa jaket?"


"Nggak, cuma jas kasual aja."


"Sayang bawa jaket yang mana ? kayaknya Sayang nggak punya jaket deh."


"Memang nggak punya, jadi aku pakai ini aja," tunjukku pada mantel panjang hingga lutut yang kumiliki.


"Wih keren, coba pakai!"


Aku pun memakai mantelku.


"Bagus banget! Akhirnya kepakai juga. Oiya, jadi nanti mantel ini ditenteng ... sama apa?"


"Mantel itu aja," jawabku.


"Yakin nggak bawa gantinya? 5 hari lho, Yang," ucap Tyo.


"Ya cuma punya ini, gampanglah nanti biar kayak orang kaya, beli aja disana," candaku sambil bergegas menuruni tangga.


Di lantai bawah, ayah dan ibu telah menanti keberangkatan kami ke bandara.


"Lin, Tyo mana?" tanya ayahku.


"Ada di atas, lagi sebentar lagi turun kok," jawabku.


Tak lama kemudian, Tyo membawa koper sambil menuruni tangga lalu menemui ayahku.


"Assalamu'alaikum, Pak."


"Wa'alaikumsalam. Ini bapak pinjemin kamu jaket," ucap ayahku sambil memberikan jaket kulit buatan Jerman kepada Tyo.


"Eh ini kan jaket kulit, Pak," ucap Tyo.


"Iya, kamu pakai aja. Bapak kan sudah jarang pakai, jadi sekarang kamu pakai aja," jawab ayahku.


"Hmm mantu kesayangan dipinjemin jaket mihil nih," lirihku.


"Kamu juga ibu pinjemin jaket. Ini buat ganti disana, pakai aja coat ibu," ucap ibu sambil memberikan jaket berwarna krem.


"Serius ibu minjemin aku coat ini?" tanyaku.


"Iya.Kamu pakai sekarang aja, jas hitamnya disimpan aja dulu."


Aku pun menerima coat yang ibu berikan dan menyimpan jas milikku ke dalam koper.


"Nanti boarding jam berapa?" tanya ayahku.


"In syaa Allah boarding jam 3. Sampai di Hongkong jam 9 malam, trus langsung ke hotel."


"Yowes selamat bersenang-senang."


"Titip anak-anak ya, Bu," ucapku sekalian berpamitan.


"Iya, kamu liburan berdua dulu, anak-anak aman disini."


Sementara itu, kedua putriku masih belum selesai melepas rindu kepada ayah mereka.


"Ih Ayah, baru tadi malam sampai, kok sekarang sudah pergi lagi? Aku ikut, Yah!" protes Ara.


"Maaf, tapi kalian belum bisa ikut. Nanti kalau liburan sekolah, kita jalan-jalan," jawab Tyo.


"Asyiik!! Kemana, Yah?"


"Hmm in syaa Allah, nanti kita ke Singapura. Doain ayah-ibu, biar selamat sampai rumah lagi, yaa?"


Kedua putriku pun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.


"Ibu, oleh-olehnya yaa," pinta Icha.


"In syaa Allah. Icha mau apa?"


"Terserah ibu, aku nggak tahu di Hong Kong ada apa aja."


"Yowes, in syaa Allah nanti kalau ada yang bagus, ibu beliin," jawabku sembari mencium dan memeluknya, lalu bergantian dengan Ara.


"Ibu berangkat dulu yaa, Icha sama Ara harus nurut yangti dan yangkung."


"Iya, Bu. Oleh-olehnya ya Bu."


"In syaa Allah. Sudah ya, ibu sama ayah pergi dulu. Assalamu'alaikum."


Siang itu kami pun menuju terminal keberangkatan internasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sesampainya di sana, kedatangan kami telah ditunggu oleh rombongan RS. Sembari mengantri untuk check-in, kami pun saling berbincang.


"Hai Lin, ikut juga?" tanya mbak Lisa, dokter gigi yang menjadi langgananku di RS.


"Iya, Mbak. Kapan lagi, iya kan?"


"Iyalah, liburan ramai-ramai ke luar negeri itu jarang. Anak-anak nggak ikut?"


"Iya, mereka di rumah aja. Ribut minta ikut sih, tapi nggak lah, mahal kalau segambrengan," jawabku.


Tyo pun ikut menanggapi pertanyaan dari mbak Lisa,"In syaa Allah nanti, di liburan kenaikan kelas, anak-anak aku ajak ke Singapura aja."


"Eh beneran mau ngakak anak-anak ke sana?" tanyaku yang cukup terkejut dengan pernyataan Tyo.


"In syaa Allah, tabungan dollarnya sudah lumayan buat jalan-jalan ke sana. Yaa, nginap semalam juga sudah cukup. Kita naik feri paling pagi, trus besoknya pulang naik feri terakhir," jawab Tyo yang membuatku ingin memeluknya, jika saat ini kami tidak sedang berada di tempat umum.


Selesai check-in, rombongan kami pun bergerak menuju ruang tunggu penerbangan internasional. Ternyata penerbangan internasional ini cukup ramai, bahkan semakin malam semakin ramai dengan penerbangan tujuan negara-negara di Asia Timur.


Sewaktu rombongan kami hendak mengantri pemeriksaan X-ray, aku melihat rombongan pilot beserta awak kabin dari maskapai Korean Airlines dan Japanese Airlines yang juga mengantri pemeriksaaan.


"MasyaAllah, lalat atau nyamuk bakalan kepleset kali ya, kalau mau nggigit kulitnya! Mulus, licin, kinclong amat? Mana wajahnya setipe semua lagi! Nggak usah jauh-jauh nyari idol, deh. Pilot sama pramugari and pramugaranya aja sudah uwauu banget!" gumamku.


Ternyata bukan cuma iklan majalah atau televisi, jikalau kulit wajah orang Asia Timur memang sangat mulus. Terlebih lagi, mereka lebih menyukai dandanan dengan warna-warna natural dan yang terkesan tanpa make-up.


"Sst, ngeliatin apa, kok segitu amat?" tegur Tyo yang membuyarkan lamunanku.


"Eh iya, ngeliatin pramugari itu. Kulitnya kok bisa mulus begitu yaa?"


"Perawatan, Yang."


"Pastilah, mereka kan memang sudah dijatah biaya perawatan setiap bulannya, tapi aku kalau perawatan juga nggak sampai seperti itu hasilnya."


"Beda jenis kulit, tapi Sayang juga bagus kok kulitnya, nggak berjerawat, nggak ada flek hitam, mulus, masih seperti mahasiswa


"Mas, ada berapa orang yang ikut?"


"Kalau nggak salah totalnya 30 orang," jawab Tyo.


Kulihat dari beberapa dokter spesialis yang turut serta, mereka juga ikut membawa anggota keluarganya, bahkan ada yang membawa serta anak mereka yang masih balita.


Setelah beberapa saat menunggu, penerbangan menuju Hongkong dengan menggunakan maskapai penerbangan nasional Hongkong itupun mulai diterbangkan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Changi, Singapura, terlebih dahulu.


Setelah transit selama 45 menit, penerbangan pun dilanjutkan untuk menuju destinasi akhir kami, yaitu Hongkong, yang akan ditempuh selama 4 jam.


Sekitar pukul 9 malam, akhirnya kami landing di Bandara Internasional Hongkong. Ketika mengantri bagasi, aku dan Tyo berbincang-bincang tentang Bandara Hongkong.


"Eh Mas, tahu nggak ? kalau bandara Hongkong ini didirikan di atas lahan pulau buatan."


"Pulau buatan, gimana maksudnya?"


"Baiklah, anak IPS penggemar Discovery Channel akan menjelaskan," jawabku.


"Jadi di tahun 1998, di tahun yang sama Hongkong lepas dari Inggris dan dikembalikan ke Cina, mereka membangun bandara baru yang lebih aman, karena bandara yang lama terletak di pusat kota yang sudah padat dengan gedung pencakar langit. Jadi, bandara yang lama sudah tidak memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan pendirian bandara. Kebayang kalau terjadi kecelakaan pesawat, sedangkan bandara terletak di pusat kota, korbannya dong!"


"Oke aku lanjut, jadi Hongkong bikin pulau baru atau reklamasi untuk membangun bandara baru yang jauh lebih aman dan pastinya lebih modern. Jadi dia nimbum laut untuk dijadikan pulau, itulah yang dinamakan reklamasi. Don't ask me how! That's all I know. Pokoknya proses bikin bandara ini yang terajaib, yang pernah aku lihat. Butuh 6 tahun untuk bisa jadi sekeren sekarang. Nah, yang ajaibnya adalah sewaktu bandaranya mau dioperasikan, it's the best part! Setelah penerbangan terakhir, baik kedatangan dan keberangkatan, semua kru, karyawan dan apalah petugas bandara semua beberes, ngosongin bandaranya, sampai benar-benar kosong. Satu persatu kendaraan operasional bandara mulai mengangkut barang-barang ke bandara baru, di bantu sama truk-truk yang entah berapa jumlahnya. Pokoknya, mereka rombongan bergerak bareng. Nah trus, ini part terkerennya, tepat setelah pesawat terakhir landing dan bandara sudah dinyatakan kosong, sekitar jam 1 dini hari bandara lama dimatikan semuanya, langsung gelap gulita dan bandara baru langsung nyala. 5 jam setelah itu operasional bandara dibuka dan sekitar jam 6 pagi, mendaratlah pesawat pertama."


"Ntar belum selesai! Kalau di bandara yang lama, punya resiko di tengah kota dengan gedung-gedung pencakar langitnya, di pulau reklamasi ini juga punya resiko yang nggak kalah nyeremin, yaitu gunung-gunung yang berada di sekeliling bandara. Pokoknya, bandara Hongkong ini menjadi salah satu bandara yang lumayan ekstrim sekaligus tersibuk di dunia. Oke, sekian dan terima angpau," jelasku yang membuat Tyo memberikan pandangan keheranan ke arahku.


"Yang, kok bisa tahu?"


"Kan aku sudah bilang, aku penggemar Discovery Channel sama NatGeo. Oke, jangan tanyakan kenapa, aku juga bingung, kenapa aku bisa freak seperti ini," jawabku yang membuat Tyo tertawa.


"Smart, not freak. Sayang itu cerdas, buktinya diajak ngomong apa saja bisa nyambung, masalah kedokteran aja, bisa nyambung. Nggak semua orang awam itu bisa hafal masalah seperti ini, apalagi cuma dari nonton TV. Nah trus, tentang pengetahuan kedokteran, kok tahu tentang inkubasi, resusitasi, nggak banyak orang awam yang tahu tentang istilah ini lho, plus code blue, kok Sayang juga tahu?"


"Aku kan penggemar serial ER, mereka makananku di tengah-tengah tugas kuliah yang menumpuk. Dari situ aku tahu sedikit-sedikit, tentang kedaruratan."


"Terus, kenapa nggak jadi dokter aja, kan kita bisa praktek bareng?" tanya Tyo.


"Ingat aku anak IPS, kan? Ikatan Pelajar Santai," jawabku datar.


"Eh ada kok anak IPS yang masuk kedokteran, bisa kok!"


"Itu artinya dia menyalahi hukum pelajar santai, karena ketika masuk kedokteran, sudah dijamin hidupnya tidak akan sesantai dulu lagi. Aku cukup menyerahkan masalah ini ke ahlinya, kepada orang-orang yang bersedia belajar detail tentang ilmu kesehatan, yang bisa ngafalin buku obat yang setebal kamis itu, termasuk Mas. Sudah ah, jangan suruh aku jadi dokter lagi, wis tuwek!"


Setelah selesai mengambil bagasi, kami pun kembali berkumpul di teras kedatangan. Lalu seorang pria paruh baya, datang menghampiri kami.


"Selamat malam, saya Frans, tour guide dari Jalan-jalan Tour and Travel, apakah ini rombongan dari RS Awassuka Batam?" tanyanya dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar.


"Iya, Pak."


"Selamat malam dan selamat datang di Hongkong. Kita langsung ke bis saja, ya," ajak Frans yang kemudian berjalan menuju bis tour.


Beberapa menit kemudian, bis mulai bergerak setelah semua barang bawaan dan rombongan tur masuk ke dalam bis.