
Ada sesuatu yang harus disembunyikan, tapi jika menyakiti kehidupan. Toh untuk apa, seorang penyanyi pun menceritakan bebannya lewat lagu.
***
Pukul 2 lebih hujan belum terlihat tanda-tanda redanya, malah terdengar semakin bergemuruh kencang, angin bukan sekedar lagi melintas, melainkan terus membawa buliran air hujan semaunya.
Alam seakan tahu keadaan Naziya, langit seakan paham lukanya. Naziya masih menangis, dia masih menunduk tidak berani menunjukkan wajah.
"Sayang," panggil Bu Rina, dia mengelus pundak muridnya dan perasaan iba muncul.
Naziya tidak menjawab, masih dengan keadaan berdiri dia memeluk Bu Rina tiba-tiba.
"Arrrgggghhhhhh… " tumpah sudah, bukan lagi menangis Naziya berteriak dengan suara kecewa yang begitu berat.
"Aku mau mati saja, aku ingin bersama ayah. Aku ingin dia, aku capek berpikir terus, dan terus bersangka tanpa pasti." racaunya berada dipelukkan Bu Rina.
Beberapa menit dia membiarkan Naziya memeluk dan menumpahkan segala racauannya tanpa disela.
Bu Rina membawa Naziya duduk di bangku panjang yang tersedia di sebelah mejanya. Isakan Naziya masih tersisa, dia melepaskan pelukan itu. Setelahnya dia pun mengangkat wajah, jelas sekali wajahnya terlihat lelah. Kantung mata yang sedikit berwarna hitam pun terlihat seperti mata panda, hidung merah dan matanya masih sedikit berair. Bu Rina tersenyum, dia memegang tangannya.
"Bentar ibu cari dulu kain, bajumu basah sekali." Naziya menggeleng dia enggan melepaskan genggaman tangan Bu Rina.
Bu Rina menghela napas berat, dia mendekat dan kembali memeluk Naziya. Sekarang bukan sekedar murid dan guru, Naziya merasa Bu Rina memeluknya seperti anak kepada ibu.
"Ibu Naziya sudah lelah," lemahnya.
"Ibu dari awal tidak pernah akan memaksamu untuk berbagikan, cuman ibu menegur mau bagaimana? Sayang pendidikan kamu," jawabnya.
Naziya sebentar memandang Bu Rina lalu dia menenggelamkan kepalanya lagi di ceruk leher Bu Rina.
"Apa ini ada hubungannya dengan Pak Hartono kah?" Naziya tidak menjawab, malah menghapus jejak air matanya dia sekarang duduk tegap menghadap Bu Rina.
Naziya memejamkan mata, mulai mengingat secara sempurna seluruh memori yang diragukan selama satu minggu kebelakang.
Hari itu, di mana dia genap berusia tujuh tahun ibunya mengajak jalan-jalan ke taman kota. Selama ini, Naziya tidak pernah tahu sosok ayahnya seperti apa, sehingga, meski Naziya bahagia ibunya menyimpan luka, ada firasat lain yang mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi kepadanya tapi dia tidak ingin mengganggu, sebelum pergi dia berkata kepada ibunya.
"Mah aku kenapa jadi takut untuk pergi ya, tapi melihat Naziya kegirangan aku tak tega membatalkannya. Apalagi dia sudah benar-benar memenuhi syarat jadi juara kelas semester ini," keluhanya membuat hati ibunya tidak tenang.
"Sudahlah jangan pernah mengingkari janji sana pergi," Ibunya menjawab setengah hati.
"Bundaa ayo, ko malah melamun. Nenek mau ikut ya?" dia berlari, menarik-narik tangan ibunya.
"Sayang gimana--" ucapan itu terpotong oleh ibunya.
"Benar shakila, anakmu sudah tidak sabar. Sana pergi! Selama ini kamu hampir sibuk bekerja, tidak ada waktu untuknya kan? Ini permintaan dia sewaktu semesteran tiba loh.
"Yeyy jalan-jalan… " serunya kegirangan. Meskipun sekedar jalan-jalan yang menggunakan kaki sebagai alat transportasinya tidak membuat Naziya mengeluh cape ingin naik kendaraan yang berlalu-lalang. Mereka pun tiba di taman. Jarak anatar rumah Naziya ke taman sekitar 1 KM kurang lebih.
"Bunda bunga itu indah ya," tunjuk Naziya.
Shakila tersenyum tipis. Selama di taman Naziya tidak diam, dia berkeliling. Keaktifan dia dan tawa renyah, tidak sedikit mengundang senyum orang-orang.
"Adek cantik banget, awas jatuh." perkataan itu dijawab anggukan oleh ibunya, yang ditegur malah santai-santai saja.
"Hidupku hancur dan udah rancu, aku ingin mati kali ini. Tapi tolong jangan menghalangiku, aku ingin pergi menyusul ibu di sana. Ayah sudah tidak sayang aku lagi. Dia selalu membentakku" seorang anak kecil yang berbicara terhadap orang dewasa yang sejajar dengan tubuhnya. Orang dewasa itu terlihat menangis, dia berusaha meraih memeluknya, namun berkali-kali dia menepis, Naziya terganggu dengan suaranya yang berteriak, Naziya memutuskan untuk mencari arah suara itu.
Ibunya istirahat sejenak membiarkan. "Jangan jauh-jauh sayang, bunda capek," teriak Shakila. Naziya tidak menggubris, sampai dia menemukannya dan menghampiri mereka.
"Dia kenapa tante?" Naziya bertanya dengan khasan anak kecil. Shakila melihat itu, ketakutan menyerang dia. Saat dia akan menghampiri seseorang membekapnya bersamaan dengan adanya kecelakaan sehingga Naziya kesulitan. Sebelumnya, teriakan ibunya terdengar sehingga dia mengurungkan diri untuk menunggu jawaban kembali.
"Naziyaaaa...." menghilang.
"Bundaaa… " teriaknya berlari menyeberangi jalan, dari arah yang berbeda mobil melaju kencang.
Brukk … Naziya terpental, kepalanya banyak mengeluarkan darah. Seperti mimpi, dan tidak mengingat apa-apa lagi setelah kejadian itu, tapi kenapa sekarang dia berada di sebuah ruangan. Dindingnya bercatkan warna kesukaan dia, biru navi yang dipadukan merah muda. Di samping ranjangnya ada meja sebelahnya lemari, dan dekat jedela beberapa langkah dari ranjang dia ada meja belajar. Naziya terbangun mencari orang.
"Ceklekk..." suara pintu terbuka.
Di sana berdiri seseorang tersenyum menghadap ke arahnya, berjalan mendekati, Naziya memberi tempat.
"Kamu udah baikan?" tanya dia lembut. Naziya masih belum menjawab, dia hanya menatapnya.
"Ini ayah sayang, panggil ayah yah," katanya lagi.
Kehidupan Naziya berubah, tidak mengingat apapun tapi dibayar dengan kasih sayang yang selalu dia rindukan saat ini. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menjalani tanpa keluhan apalagi hidup yang ditawarkan jauh lebih baik. Naziya kira, tidak ada sosok ibu ataupun yang lainnya. Hanya ada dia dan seseorang yang menyuruhnya memanggil ayah. Ternyata salah, dia memapah Naziya ke ruang tengah.
"Turun yuk, mamah sama kakak ada adek juga sedang nunggu." titahnya lembut
Naziya nurut, dalam gendongannya Naziya merasa nyaman.
"Hai sayang, sini sama mamah," dia tersenyum.
"Teteh Naziya, main yuk." semua berjalan menyenangkan, sampai di mana ketika Naziya satu tahun berada satu atap dengan mereka.
"Mas, sampai sekarang aku udah ikhlas menerima dia. Anak kamu, anak dari wanita yang paling kamu cintai, tapi setidaknya bisakah kamu balik mencintai aku sebagai istri, bukan hanya sebagai ibu dari anak-anakmu." sesekali mamahnya Naziya menangis dan lontaran itu terdengar.
Naziya yang sudah berumur 9 tahun, tidak paham tapi memori ingatannya sangat kuat. Nadila yang katanya kakaknya terpaut usia 2 tahun, dengan Naziya. Dia sedikit paham tapi belum benar-benar, hanya saja ketika melihat keributan kecil seperti itu tanpa disengaja dia suka menaruh hati jengkel, berakhir mengerjain Naziya kadang sampai nangis, yang dibela tentu Naziya, mereka sibuk melerai dan keributannya tidak dilanjutkan.
"Sudahlah mah, ayah sedang… " terhenti ketika tangis Naziya terdengar olehnya.
"Kakak balikin! Itu punya aku. " Nadila semakin gencar mengerjainnya. Teguran itu datang, selalu berakhir memarahi Nadila dan Naziya yang dibawanya pergi dalam pelukan dia. Hati Nadila sakit melihatnya, tapi itu lebih baik ketimbang harus melihat keributan mamah dan ayahnya yang selalu berakhir dengan tangisan sang mamah.