Self Healing

Self Healing
prolog



Semesta telah membuktikan 


Bahwasannya, dia tidak pernah bersikap curang 


Tentang mentari yang ada ketika waktunya 


Dan hujan yang rimbun ketika masanya 


~Nurjanah~


🌸🌸🌸


“Kakak kenapa ?” ujar seorang anak kecil mensejajarkan tubuhnya. 


    Naziya yang tengah duduk di kursi panjang sambil menunduk kini menoleh ke arah suara itu. Mengernyitkan dahi lalu mengedarkan pandangan ke segala arah. “ Hai adek, kamu sama siapa di sini ?" Alih – alih bukan menjawab pertanyaan melainkan balik bertanya. Tangan Naziya terulur untuk menggendong, gadis kecil itu tersenyum senang. Setelah jarak keduanya dekat, anak kecil itu menghapus jejak tangisan yang masih terlihat. Naziya yang terperangah dengan perlakuan langsung memeluk dia erat. Meneruskan tangisan dengan diam. 


          Langkah yang terdengar semakin dekat di telinga Naziya, mengusik dia untuk melepaskan pelukan. Anak kecil itu menatap Naziya lalu mengikuti ekor mata mengarah kepada seseorang yang datang menghampiri mereka. 


      “Abanggg,” pekiknya girang. Dia berlari namun Naziya menahan dengan telah merentangkan dua tangannya.


“Biarkan abang kamu menghampiri kita sayang, ngomong-ngomong adek cantik ini namanya siapa ya, hhee ... maaf kakak langsung meluk kamu gitu aja,” Naziya  bertanya dengan nada bercanda. 


    Seseorang yang dipanggil abang pun kini berdiri tepat di hadapan mereka dengan memakai pakaian formal yang terlihat seperti pakaian dosen. Kaca mata dan aura kharismatiknya membuat Naziya tidak mau menatap matanya yang menatap tajam ke arah dia. 


“Maaf sa—ya.” 


“Abang jangan malah, dia gak apa-apain adek ko. Butinya adek baik-baik aja. Tadi tata ini nangis, terus pas adek tanya eh dia malah meluk adek Bang. Pelukannya nyaman lohh, Bang,” Jelas anak kecil itu setelah melihat gelagat Naziya yang terlihat ketakutan.


“Udah, ayo pulang.” Membawa anak kecil itu dengan cekatan memindahkannya ke dalam pangkuan dia. Tanpa melihat Naziya kembali, dia pergi dengan cepat meninggalkan Naziya yang tengah mematung.


“Kamu siapa dek, celotehmu mirip Ayesha, membuatku lupa dengan sejenak masalah, setelah pernyataan yang menyakitkan bagi kakak.” Naziya bergumam pedih, sungai kecil dia tumpah kembali dengan perlahan dan perasaan menyeruak beda.


   Naziya tidak berniat pulang, dia sudah lelah dengan hati yang terus dia bohongi dengan kekuatan semu. Berbalik mencari sesuatu yang tadi tergeletak di atas kursi. Untuk pulang ke rumah Bu Rina kembali, Naziya malu.


"Aku  harus ke mana ya robb, gak ada lagi.. “ 


***


“Abang ini apa ya, “ tanya dia setelah mendaratkan bokong di jok dekat dengan kemudi. 


   


"Kamu dapat dari mana ini sayang, " lembut suara paraunya agak terkesan tidak seperti orang yang kaget.


"Adek dapat dari kakak tadi yang nangis, Bang."


"Ayok kita ke sana dek, kamu masih mau main sama kakak tadi kan ?" Zayan menerawang apa yang akan terjadi selanjutnya. 


 *Seandainya ini hanya sebuah kebetulan apa mungkin semua akan berjalan dengan indah


Jujur mengenalmu saja bagai kutukan yang akan menjeratku ke dalam masa laluku 


Masa lalu yang susah payah aku buang dan ikhlaskan


Masa lalu yang sulit aku kenang dan damaikan 


Tapi perangaimu membuatku jatuh 


Degup kencang pertama kali 


Membuat hatiku berloncat tidak tentu


Lentik mata dan ketegaranmu membuatku terayun


Langkah ini terhenti ketika jejak tangismu


Langkah ini tersandung ketika diammu


Bukan lagi tentang dia 


Bahkan aku sendiri untukmu 


Apa yang akan membawa takdir kepada pelabuhan itu.


  (Zayyan*)