
Penerbangan kami menuju Jogja berjalan lancar, tanpa mengalami keterlambatan dan kami tiba di Bandara Adi Sucipto pada pukul sembilan malam, setelah menempuh penerbangan selama dua jam.
Setibanya di rumah, seperti biasanya aku langsung mengurus anak-anak terlebih dahulu sebelum merapikan barang bawaan di dalam koper bersama Tyo. Tak lama, ibu menghampiriku sambil berucap, "Lin, ajak anak-anak makan dulu. Ibu sudah siapkan makanan kesukaan mereka."
"Baik, Bu."
"Cha, Ara, Zalfa, makan dulu, tuh sudah disiapin ayak krispi," ucapku dari ruang makan.
Ketiga putriku tanpa menunggu lagi, mereka segera berjalan cepat untuk mengambil piring dan menikmati makan malamnya.
"Mas, sekalian makan, biar bareng selesainya," ajakku kepada Tyo yang sedang mengeluarkan oleh-oleh khas Batam.
"Iya. Eh ini mau ditaruh dimana ?" tanya Tyo sambil membawa tiga kotak kek pisang Villa khas kota Batam.
"Ditaruh di meja aja, tapi satu aja, yang lain tolong dimasukkan ke dalam kulkas," jawabku.
"Dah, yuk, makan dulu," ajakku sekali lagi.
Kami berlima akhirnya dapat menikmati makan malam bersama, yang bertepatan bulan suci Ramadhan. Sayangnya, Tyo hanya dapat menemaniku selama dua malam, karena ia harus kembali bekerja.
Di awal pekan itu, aku segera menyelesaikan pendaftaran sekolah ketiga putriku.
"Ingat ya, bulan ini bayar sepertiga dari total uang pendaftaran, bulan depan dilunasinya," ucap Tyo sebelum ia kembali ke Batam.
Dua pekan berlalu, Tyo kembali datang untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama, lalu pada hari ke-empat kami ber-lima berangkat ke Jakarta untuk berkumpul bersama keluarga besar Tyo. Tidak ada yang berbeda dari pertemuan tahunan tersebut, hingga sesaat sebelum aku berpamitan untuk pulang kembali ke Jogja, ibu mertuaku berpesan, "Nak Lina, tolong jaga Tyo ya. Tolong jaga dia."
Sebuah pesan yang aku tidak mengerti akan maksudnya, tetapi aku mengiyakannya.
Lalu, malam sebelum Tyo kembali ke Batam, ia memeluk erat tubuhku sambil berkata, "Tolong jaga mas, tolong jaga mas !"
Aku kembali tidak mengerti akan maksud dari kalimat tersebut. Ada apa ? Apa yang harus kujaga ? Aku pun tetap diam, tidak berucap apapun.
"Tolong jaga mas, hati mas mulai beralih, tolong Sayang jaga hati ini," ucap Tyo sambil mempererat pelukannya.
Aku yang tidak mengerti akan maksudnya, hanya terdiam dan membeku, aku takut dengan apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.
"Ada seseorang yang mulai mengisi hati mas. Mas takut, kalau dia akan mengalihkan cinta mas," lanjutnya lagi.
Seseorang? Pikiranku pun mulai berterbangan, apakah Tyo selingkuh ? Tidak mungkin ia bisa melakukannya, sangat tidak mungkin ! Itu adalah hal yang paling tidak masuk akal untukku.
Aku pun menepis semua prasangka akan perselingkuhan dan bersikukuh Tyo adalah pria yang setia, yang telah ia buktikan padaku berulang kali melalui perilaku dan perhatian yang ia berikan selama ini.
Tetapi sepertinya aku salah dalam memahaminya. Beberapa hari setelah ia kembali ke Batam, ia mulai tidak bisa dihubungi, sedangkan ia telah berjanji untuk kembali ke Jogja sehari sebelum tahun ajaran baru dimulai, untuk mengantarkan ketiga putri kami ke sekolah.
"Bu, katanya ayah mau nganterin di hari pertama masuk sekolah ?" tanya Icha padaku.
"Di tunggu aja, mungkin lagi banyak kerjaan jadi sulit untuk minta izin lagi," jawabku, tetapi di dalam hatiku aku merasa cemas.
Hingga akhirnya Tyo menghubungi anak-anak dan meminta maaf karena tidak dapat memenuhi janjinya.
"Maaf ya, ayah nggak bisa ke Jogja, karena ayah belum bisa cuti," ucap Tyo.
"Jadi kapan Yah ?"
"Insyaallah Idul Adha kan masih dua bulan lagi, nanti in syaaAllah diusahakan ayah shalat Id disana. Oiya, ibu mana ?"
"Ada tuh, tapi lagi nyuci piring, kata ibu telpon nanti malam aja," jawab Icha.
Aku memang sengaja tidak ingin berbicara dengan Tyo di saat ada anak-anak, untuk itu aku memilih malam hari, di saat mereka sudah tidur dan aku telah menyelesaikan pekerjaan rumah, sehingga aku bisa nyaman berbicara dengan Tyo.
Tetapi di malam harinya, Tyo tidak menghubungiku. Aku pun mengirimkan pesan singkat untuknya.
"Mas, jadi nelpon nggak ? Atau sudah lagi istirahat?"
Pesanku pun tidak dibukanya, sehingga aku mengirimkan pesan kembali, "Yowes lah kalau sudah tidur, besok-besok lagi aja."
Pesanku tidak dibacanya pada malam itu, baru di pagi hari ia membacanya, tetapi tidak dibalasnya. Aku pun melupakannya begitu saja, karena jadwalku yang padat di awal pekan tahun ajaran baru, dimana aku harus full berada di TK dan kemudian menghadiri serangkaian pertemuan orang tua murid di SD.
Hingga beberapa pekan berlalu, Tyo tak jua menghubungiku, ia hanya berbicara kepada anak-anak ketika mereka hendak berangkat ke sekolah atau ketika pulang sekolah. Hingga aku meminta Icha untuk mengatakan pada ayahnya untuk menghubungiku di malam harinya.
"Yah, ibu minta nanti malam ayah telpon ibu."
Di malam harinya, Tyo kembali tidak menghubungiku dan pesanku tidak juga dibalasnya.
Hingga beberapa hari berlalu, Tyo masih sulit untuk dihubungi dan ketika ia dapat dihubungi, bukanlah kata-kata rindu yang kudapat melainkan kemarahannya.
"Memang enak dicuekin ?!" hardiknya padaku.
"Dicuekin ? Dicuekin gimana ? Bukannya aku yang dicuekin ?" tanyaku balik.
"Ya biar tahu rasanya dicuekin !" ketus Tyo.
"Ada apa sih, Mas ? Siapa yang nyuekin ? Yang nggak bisa ditelpon juga siapa ? Yang nggak balas WA juga siapa ? Harusnya aku yang tanya, kenapa aku dicuekin ?!" tanyaku.
Aku sungguh tidak mengerti dengan Tyo, apa yang sebenarnya terjadi ?
"Yaa kayak gini nih, nggak ngerasa kalau sudah nyuekin suami, eee malah bilang suaminya yang nyuekin!" jawab Tyo dengan ketus yang semakin membuatku tidak mengerti akan maksudnya.
"Mas, ada apa sih ?" tanyaku lembut, berharap ia menurunkan emosinya.
"Cerdas dikit dong kalau jadi istri! Masa' kayak gitu aja nggak ngerti ? Masa' nggak paham ?!"
"Mas, aku beneran nggak ngerti maksud Mas itu apa ? Kapan aku nyuekin Mas, kapan ?" tanyaku balik sambil menahan tangis, tetapi air mata ini mulai jatuh perlahan dan berusaha memahami apa yang terjadi.
"Makanya kalau suaminya ada di rumah tuh jangan dicuekin, kalau keluar kota juga yaa di telpon dong !" ketusnya lagi.
"Mas, aku benar-benar nggak ngerti maksud Mas, aku nyuekin apa dan kapan ?!"
"Bukannya Mas yang berulang kali ditelpon nggak di jawab, aku WA juga nggak dijawab, terus aku nyuekin dimananya?"
"Terserah kamu kalau nggak ngerti !" hardiknya, lalu kemudian ia mematikan sambungan teleponnya.
Jantungku berdegup dengan kencang, perasaanku mulai tidak karuan dan tak lama kemudian WA dari Tyo pun masuk.
"Dalam hubungan pernikahan itu harus ada kehangatan dan kepedulian. Bukan suami kerja, ketika pulang, istrinya sibuk sendiri !"
Aku pun menarik nafasku dan mencoba memahami satu persatu kata-katanya dan hanya satu pertanyaan dalam benakku, apa sebenarnya yang terjadi?
"Mas, ada masalah apa, kok ngomongnya tiba-tiba begitu ?"
"Mas, kalau aku ada kesalahan, aku minta maaf, tapi tolong kasih tau aku, salahku dimana?"
Tetapi jawaban yang kudapatkan hanyalah makian yang begitu kasar. Tyo yang selama ini lebih banyak lembutnya padaku, ketimbang menaikkan emosinya, benar-benar telah membuatku kebingungan akan pangkal masalah kemarahannya.
"Kamu nggak usah sok suci, sok baik, saya sudah cukup kenal kamu !"
Kebingunganku pun semakin menjadi, karena selama ini suami adalah prioritas utamaku, setelah itu baru anak-anak yang menjadi prioritasku.
Tak lama kemudian Tyo kembali mengirim pesan.
"Kamu ingat, malam sebelum saya kembali ke Batam ? Saya kan bilang kalau ada yang mulai mengisi hati saya, tapi kamu diam saja, kamu tidak bereaksi apapun. Saya anggap, kamu sudah tidak perduli lagi dengan hubungan kita !"
Aku pun teringat pada malam itu, dimana aku bingung harus bereaksi seperti apa. Apa yang harus kulakukan ketika suamiku yang telah mendampingi selama dua belas tahun, tiba-tiba berkata mempunyai seseorang yang lain.
Sungguh aku tidak tahu bagaimana harus meresponnya dan saat ini, kini kemarahan Tyo lah yang kudapatkan.
"Hati saya mulai beralih, jangan buat saya bingung ! Saya sudah memberi kamu clue dari bulan bulan lalu, kalau ada seseorang yang mulai memasuki hati saya, tapi kamu diam! kamu tidak merespon apa pun! saya anggap kamu tidak peduli akan saya dan hubungan kita lagi!"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, kakiku pun lemas, jantungku berdetak tidak karuan yang membuatku sesak.
"Saya kan sudah minta kamu untuk jaga hati saya. Hingga berulangkali saya minta, bahkan ibu juga sudah minta kamu, tetapi apa responmu ? Kamu diam, tidak bereaksi apapun !"
"Saya anggap responmu sebagai ketidakpedulianmu terhadap hubungan pernikahan kita!"
Kali ini aku benar-benar runtuh, bagaimana mungkin Tyo menuduhkan hal itu kepadaku ? apalagi setelah dua belas tahun, sungguh tuduhan yang tidak masuk di akal.
Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke Batam. Setelah telepon dan WA yang membuatku kebingungan, aku segera memesan tiket pesawat secara on-line dan ini adalah kali pertamaku, untuk memesannya, karena selama menikah, Tyo yang melakukannya.
Setelah aku berhasil memesannya dan melakukan pembayaran, aku segera memasukkan pakaianku dan Zalfa ke dalam koper. Saat ini, yang kupikirkan hanyalah secepatnya kembali ke Batam dan aku siap dengan apapun konsekuensinya, termasuk untuk kembali menetap di sana.