
Singgah untuk pergi, pergi untuk kembali, kembali kepada Sang Ilahi. Pertemuan tentang perpisahan, perpisahan tentang yang menyatukan.
***
Nadila buru\-buru pulang, Nazwa terus mendengus kesal. "Ayo puter\-puter, lama\-lama jadi kolecer ini kepala. Si teteh pake ngilang lagi, kayak mamah aja." Nadila tidak mendengarkan ocehannya dia terus menuntut sang adik sampai rumahnya. Nazwa menghempaskan tubuh di atas kursi ruang tengah. "Dedek capek, kakak tanggungjawab." Nadila membiarkan saja, dia naik ke lantai dua mencari Naziya di kamarnya. "Dedek, Naziya." Sebelumnya dia mengetuk pintu. Tapi tidak ada jawaban, Nadila memegang knop pintunya dan terbuka tidak terkunci. Tidak ada siapa\-siapa, Nadila masuk melihat kamar Naziya rapi, hanya kusut seprainya. Bercak darah. "Naziya mimisan atau lagi dapet ya." Meraba darah itu. "Mimisan," Lirihnya. Dia tahu darah mimisan bagaimana. Nadila membersihkannya, melihat meja belajarnya banyak sekali buku. Nadila tertarik terhadap buku yang berwarna Biru. Dear\-Diary, tulisan buku itu. Nadila membawanya, dia turun kembali. "Tangan kosong, dek." Nazwa mendorong Nadila saat dia akan duduk dekat dengannya. "Sana, jangan dekat\-dekat dedek lagi marah." Nadila akhirnya duduk di seberangnya, menyalakan TV. Memutar Chanel menunggu waktu sore. Nadila membuka HP\-nya.
Little Princess: Dek pulang, kamu di mana? Send
Nazwa terlihat menguap dia pun tertidur 15 menit kemudian. Nadila membuka buku Naziya yang dibawanya tadi.
***
Kakak kenapa ?” ujar seorang anak kecil mensejajarkan tubuhnya.
Naziya yang tengah duduk di kursi panjang sambil menunduk kini menoleh ke arah suara itu. Mengernyitkan dahi lalu mengedarkan pandangan ke segala arah. “ Hai adek, kamu sama siapa disini ?" Alih – alih bukan menjawab pertanyaan melainkan balik bertanya. Tangan naziya terulur untuk menggendong, gadis kecil itu tersenyum senang. Setelah jarak keduanya dekat, anak kecil itu menghapus jejak tangisan yang masih terlihat. Naziya yang terperangah dengan perlakuan langsung memeluk dia erat. Meneruskan tangisan dengan diam.
Langkah yang terdengar semakin dekat di telinga Naziya, mengusik dia untuk melepaskan pelukan. Anak kecil itu menatap Naziya lalu mengikuti ekor mata mengarah kepada seseorang yang datang menghampiri mereka.
“Abanggg,” pekiknya girang. Dia berlari namun Naziya menahan dengan telah merentangkan dua tangannya.
“Biarkan abang kamu menghampiri kita sayang, ngomong-ngomong adek cantik ini namanya siapa ya, hhee ... maaf kakak langsung meluk kamu gitu aja,” Naziya bertanya dengan nada bercanda.
Seseorang yang dipanggil abang pun kini berdiri tepat di hadapan mereka dengan memakai pakaian formal yang terlihat seperti pakaian dosen. Kaca mata dan aura kharismatiknya membuat Naziya tidak mau menatap matanya yang menatap tajam ke arah dia.
“Maaf saya.”
“Abang jangan malah, dia gak apa-apain adek ko. Butinya adek baik-baik aja. Tadi tata ini nangis, terus pas adek tanya eh dia malah meluk adek Bang. Pelukannya nyaman lohh, Bang,” Jelas anak kecil itu setelah melihat gelagat Naziya yang terlihat ketakutan.
“Udah, ayo pulang.” Membawa anak kecil itu dengan cekatan memindahkannya ke dalam pangkuan dia. Tanpa melihat Naziya kembali, dia pergi dengan cepat meninggalkan Naziya yang tengah mematung.
“Kamu siapa dek, celotehmu mirip Ayesha, membuatku lupa dengan sejenak masalah menjadikanku seperti hidup kembali, setelah pernyataan yang menyakitkan bagi kakak.” Naziya bergumam pedih, sungai kecil dia tumpah kembali dengan perlahan dan perasaan menyeruak beda.
Naziya tidak berniat pulang, dia sudah lelah dengan hati yang terus dibohongi dengan kekuatan semu. Berbalik mencari sesuatu yang tadi tergeletak di atas kursi. Untuk pulang ke rumah Bu Rina kembali, Naziya malu.
"Aku harus ke mana ya robb, gak ada lagi.. “
***
“Abang ini apa ya, “ tanya dia setelah mendaratkan bokong di jok dekat dengan kemudi.
Zayyan menatap sekilas lalu akan bersiap melajukan kemudi. Tapi pertanyaan anak kecil itu mengganggu yang terus meminta penjelasan. Dia yang tengah lelah hanya bisa pasrah dan menyipitkan mata ketika melihat tulisan bukti medikal cek up seseorang. Pemuda itu merebut, setelahnya menghela nafas gusar.
"Kamu dapat dari mana ini sayang, " lembut suara paraunya agak terkesan tidak seperti orang yang kaget.
"Adek dapat dari kakak tadi yang nangis, Bang."
"Ayok kita ke sana dek, kamu masih mau main sama kakak tadi kan ?" Zayyan menerawang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Pah, Zayyan udah nemuin orang ini. Maafin Zayyan pernah membantah papah." Ucap Zayyan dalam hati. Mobil melaju selama perjalanan Meira terus bercerita Zayyan tidak banyak bicara. Naziya sesekali menanggapi Meira
Meira menekan tombol musik bosan kebetulan lagu Titip Rindu Buat Ayah yang terputar.
Di matamu masih terkenang
Selakna peristiwa
…..
Ayah dalam hening sepi kurindu
Zayyan dan Naziya meneteskan air mata barengan, Meira menyadari hal itu. "Abang, kakak…" Ucap Meira dia menatap keduanya, Zayyan menginjak pedal rem, dia yang sejak tadi terfokus ke depan akhirnya membalikkan badan menatap Meira dan Naziya yang berada di sebelah jok kemudi. Lagu itu terus berputar, Naziya tidak sanggup memberhentikan air mata yang mengalir begitupun Zayyan satu aliran air matanya kini terlihat orang lain, ketika dulu selalu disembunyikan. "Kenapa kalian menangis?" Meira mengusap air mata Zayyan lalu beralih ke Naziya. "Aku tidak kenal kalian, tapi kenapa aku mau diajak pulang sama kalian," Naziya berkata sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dia." Apa benar karena itu ka?" Tanya Meira, anak kecil tidak akan pernah berbohong dan tidak akan pernah bisa dibohongi.
Seandainya ini hanya sebuah kebetulan apa mungkin semua akan berjalan dengan indah
Jujur mengenalmu saja bagai kutukan yang akan menjeratku ke dalam masa laluku
Masa lalu yang susah payah aku buang dan ikhlaskan
Masa lalu yang sulit aku kenang dan damaikan
Tapi perangaimu membuatku jatuh
Degup kencang pertama kali
Membuat hatiku berloncat tidak tentu
Lentik mata dan ketegaranmu membuatku terayun
Langkah ini terhenti ketika jejak tangismu
Langkah ini tersandung ketika diammu
Bukan lagi tentang dia
Bahkan aku sendiri untukmu
Apa yang akan membawa takdir kepada pelabuhan itu.
(Zayyan)