Self Healing

Self Healing
Episode 25 Medan, I'm Coming!



Keberangkatan kami berdua menuju perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara hanya menyisakan 3 hari. Kami berdua pun telah kembali ke rumah orang tuaku di Kelapa Gading, karena aku harus mempersiapkan semua barang bawaanku.


Aku fokus mempersiapkan perlengkapan rumah, agar aku dapat tinggal di sana dengan nyaman. Seprei, korden dan beberapa perlengkapan memasak telah kusiapkan yang akan dikirimkan melalui kargo pesawat dan akan sampai bersama dengan kedatangan kami di Medan.


2 koper besar masing-masing berkapasitas 25 kg juga telah penuh terisi pakaianku dan Tyo serta koleksi buku resepku.


Aku yang bertugas sebagai stylish Tyo, memastikan pakaian yang akan dikenakannya serasi dengan penampilanku. Dapat dikatakan, belum sepekan aku menikah dengannya, tetapi aku sudah mengganti lebih dari separuh isi lemari pakaiannya. Terutama untuk pakaian santai di luar rumah.


"Kita sampai di Medan jam 9.30 pagi. Trus jadwal kereta di jam 13, jadi nanti kita belanja dulu di Medan," ucap Tyo.


"Sampai Langga Payung kira-kira jam berapa?" tanyaku.


"Hmm kita sampai Rantau Prapat itu jam 7 malam, lanjut naik mobil sekitar 2 jam. Paling cepat jam 9 malam, sampai di rumah," jawab Tyo.


"Memangnya di jemput lagi?" tanyaku.


"Iya, nama supirnya Wak Gepeng, dia supir Mas selama disana, yang ngajarin nyetir dia juga. Wilayah perkebunan itu seperti jalanan off-road, jadi diajarin deh teknik nyetirnya, yang pastinya nggak gampang," jawab Tyo.


Aku pun berusaha untuk membayangkan kondisi alam yang akan kutemui, dengan keterbatasan internet pada saat itu, tidak banyak informasi yang kudapat akan kota-kota yang akan kulalui dalam perjalanan menuju Langga Payung.


Keesokan paginya, setelah Shubuh kami berangkat menuju Bandara Soetta dengan diantar 2 mobil. 1 mobil keluargaku dan 1 lagi keluarga Tyo.


Sebelum berangkat, seperti biasa, ayahku akan melakukan inspeksi.


"Tiketnya sudah?" tanya ayahku.


"Sudah, Pak. Ini tiket pesawat dan ini tiket keretanya," jawab Tyo.


"Tyo, nanti sampai Medan, sudah ada yang akan menjemput, bapak sudah minta orang Cabang Medan jemput kamu, trus katanya kan mau belanja, ya pakai saja mobilnya untuk kebutuhan kamu," ucap ayahku.


"Eh, nanti dijemput supir kantor Bapak?" tanyaku.


"Bukan cuma supir kantor, kayaknya Pak Ali ikut jemput, palingan sama istrinya juga," jawab ayahku.


"Pak Ali teh saha?" tanyaku.


"Kepala Cabang Medan, santai aja, kemarin mereka juga datang ke resepsi kamu, kok," jawab ayahku.


"Waduh, nah lho. Buta wajah nih! Yaa Bapak kok nggak bilang? Kalau tahu gitu, aku kan ngafalin muka orang kantor Bapak," protesku.


"Nggak perlu di hafalin, dia tahu kamu kok, nanti juga dia yang nyamperin," jawab ayahku.


Yaah beginilah nasib jadi anak dari Direktur Operasional yang kantornya tersebar di hampir di seluruh kota di Indonesia. Apalagi kota Medan, kota kelahiranku, tempat dimana ayahku memulai kariernya, sudah pasti karyawan-karyawan di kantor ayahku sudah mengetahui akan kedatanganku.


Sesampainya di Bandara Soetta, kami berpamitan dengan orang tua kami dan saudara yang ikut mengantarkan.


"Hati-hati ya, ingat, kamu sudah menjadi istri, jadi bukan bapak ibu lagi yang bertanggungjawab atasmu, melainkan Tyo. Hormati dan layani dia dengan baik, seperti yang sudah ibu contohkan, bagaimana ibu melayani bapak setiap hari. Ibu yakin kamu bisa untuk tinggal di perkebunan selama 2 tahun," ucap ibu sambil memelukku erat.


"Iya, Bu. Minta do'anya ya, Bu," ucapku dengan membalas pelukan ibu dengan erat.


"Ibu selalu mendo'akan anak-anak ibu, agar selalu diberikan keselamatan, kesehatan dan yang terbaik dalam hidupnya," ucap ibu sebelum mencium kedua pipiku.


Setelah itu, aku berpamitan ke ibu Tyo, yang tampak sedih melepaskan kepergian anak bungsunya kembali.


"Nak Lina, hati-hati yaa. Baik-baik disana, saling menjaga, yang akur," pesan ibu Tyo dengan mata berkaca-kaca sambil memelukku erat.


"Iya, Bu. Minta do'anya ya, Bu," jawabku dengan membalas erat pelukannya.


Setelah berpamitan kami berdua pun memasuki ruang check-in Bandara yang ramai dengan calon penumpang. Inilah perjalanan pertamaku tanpa bersama kedua orang tuaku, yang membuatku cukup gugup.


Rasa gugup itupun berangsur-angsur menghilang, setelah kami berdua selesai check-in dan memasuki ruang tunggu.


"Nanti kita duduknya di 8A dan B," ucap Tyo sambil memperlihatkan tiketnya.


"Mau beli roti atau cemilan yang lain nggak?" tanya Tyo.


"Nggak," jawabku singkat.


"Masih 30 menit lagi, mau ngapain?" tanya Tyo.


"Main congklak," jawabku sekenanya yang membuat Tyo tertawa.


"Mas baru tahu, kalau Sayang tuh lucu," ucap Tyo.


"Hmmm baru tahu yaa, selamat yaa. Akhirnya Anda mengetahui penyamaran diriku," sahutku yang kembali membuat Tyo tertawa.


"Sepertinya Mas bakalan awet muda nih," ucap Tyo.


Aku pun melirik ke arahnya.


"Oh, hati-hati nggak bagus kalau pakai pengawet, Pak Dokter harusnya tahu," sahutku.


Kali ini Tyo benar-benar tertawa dan seketika itu tangannya mengarah ke kepalaku.


"Stop!! Move your hand!" seruku yang membuat Tyo terkejut.


"Maaf, tapi memang dari dulu, aku tuh paling nggak bisa dipegang kepalanya, tanya aja ke ibu. Nggak bisa, rasanya berat aja, trus yaa kalau ada yang mau pegang kepalaku, tanganku reflek aja, untuk nepis tangannya, sudah auto nih tangan," jelasku.


"Oh gitu, kenapa? Apa karena operasi kepala dulu?" tanya Tyo.


"Jauh sebelum dioperasi kepalanya juga sudah begitu, kalau nggak percaya tanya aja ke ibu," jawabku.


"Yaaah nggak bisa romantis kayak orang-orang dong?" protes Tyo.


"Romantis gimana, maksudnya?" tanyaku.


"Yaa, biasanya kan cowoknya suka ngelus-ngelus kepala ceweknya gitu," jawab Tyo.


"Oh, itu kan biasanya, kalau aku kan luar biasa, jadi nggak biasa begitu," sahutku.


"Yang, kenapa dulu nggak pernah ngelucu waktu di kelas?" tanya Tyo.


"Yaa kaali, aku ngelawak nanti semakin banyak yang naksir. Aku galak bin jutek aja banyak yang suka, apalagi kalau paket lengkap sekaligus pelawak. Sisiku yang seperti ini, memang hanya diperuntukan pada kalangan tertentu saja, nggak sembarangan bisa menikmati kelucuan dari Halina. Judule limited edition," jawabku yang kali ini benar-benar kembali membuat Tyo tertawa.


"Iya deh, limited edition itu mahal," sahut Tyo.


Kami berbincang hingga terdengar panggilan boarding penerbangan ke Medan.


"Mas, aku telpon ibu dulu, pesannya tadi kalau boarding segera kabarin," ucapku.


"Mas juga mau telpon ibu," ucap Tyo.


Kami berdua pun menghubungi ibu kami masing-masing, setelah itu kami ikut mengantri untuk masuk ke dalam pesawat.


Ini adalah penerbanganku setelah hampir 12 tahun tidak bepergian menggunakan pesawat. Penerbangan terakhir adalah ketika aku berlibur ke Padang dan Bukit Tinggi, bersama orang tuaku dan kedua adikku, yaitu beberapa bulan sebelum aku terkena nefrotik syndrome.


Penerbangan langsung menuju Bandara Polonia, Medan ini ditempuh dalam waktu hampir 2,5 jam. Aku mulai bosan berbincang dengan Tyo, hm iya aku bosan, tidak banyak hal menarik untuk dibicarakan dengannya, karena dunia kami yang berbeda.


Untuk itu, aku mengambil buku catatan harianku dan mulai menulis tentang perjalanan ini. Tyo pun memandangiku kemudian bertanya, "Nulis apa?"


"Resep," jawabku asal yang entah mengapa selalu membuat Tyo tertawa.


"Sini, Mas juga bisa nulis resep," ucap Tyo.


"Yeee, itu mah resep dokter, obat semua, aku nggak butuh," jawabku sambil terus menulis.


"Trus butuhnya apa?" tanya Tyo.


"Situ diam," jawabku dalam hati.


Tyo terus memandangiku karena aku tidak menjawabnya, yang membuatku menutup bukuku.


"Butuh cemilan," jawabku sambil berdiri kemudian berjalan menuju minimarket dalam ruang tunggu.


Tyo pun berjalan cepat untuk mengikuti. Lalu ia meraih tanganku.


"Yang, lupa ya. Sekarang kan sudah punya suami, nggak sendirian lagi. Kalau mau pergi, harus bareng," ucap Tyo.


"Nggak lupa kok, yaa kali aku lupa ada manusia segede ini di dekat aku," jawabku cuek.


Sesampainya di minimarket, aku membeli beberapa roti dan makan ringan lainnya, sedangkan Tyo membeli 2 botol minuman.


Setelah itu, kami kembali duduk di ruang tunggu dan menyantap roti yang baru saja kami beli.


Sesaat setelah kami menghabiskan roti kami, pengumuman boarding penerbangan yang akan kami naiki pun berkumandang.


"Selamat pagi, kepada para penumpang yang terhormat. Panggilan boarding untuk penerbangan Garuda dengan nomor penerbangan GA 769 dengan tujuan Bandara Polonia, Medan, diharapkan untuk mempersiapkan boarding pass dan kartu identitas di pintu C7, terima kasih."


Sambil memeriksa ulang jangan ada yang tertinggal, kami juga menghubungi orang tua kami masing-masing.


"Bu, aku boarding sekarang, yaa."


"Iya, hati-hati. Ingat di cek semua jangan sampai ada yang tertinggal," ucap ibuku.


"Iya, Bu. Yowes aku matiin HPnya yaa. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tak lama mengantri, dengan bergandengan tangan, kami berjalan menuju pesawat dengan menggunakan garbarata.


Sesampainya di pintu pesawat, kami mulai berbaris satu persatu, untuk menuju ke nomor kursi yang dituju.


Alhamdulillah, kami mendapat nomor awal, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama karena antrian, kami sudah dapat duduk dengan nyaman di seat kami.


Sesaat setelah duduk, aku segera memasang seat belt-ku begitu juga dengan Tyo. Lalu, ia menggenggam erat tanganku sambil berkata, "Bismillah, kita menuju Medan. In syaa Allah, kita sampai 2,5 jam lagi."


"Jam 9.30 ya," ucapku.


Tak lama, pesawat kami pun lepas landas menuju Medan.