
Hari Senin, adalah hari pertama aku harus berada di rumah sendirian, hanya bertemankan suara dari acara di televisi. Aku tidak memperdulikan acara yang diputar, karena aku tidak tertarik untuk melihatnya. Aku hanya membutuhkan suara untuk mengurangi rasa takutku, yang berada di dalam rumah sebesar ini sendirian.
Aku mulai menyibukkan diri dengan mencoba resep cemilan yang mudah untuk dipraktikkan, yaitu kue pukis, kue jajanan sejuta umat yang selalu ada di pasar. Hanya saja, aku tidak menggunakan cetakan pukis, karena aku belum memilikinya, alih-alih aku hanya menggunakan wajan teflon kecil yang biasa untuk menggoreng telur mata sapi, sehingga menghasilkan pukis yang berbentuk bulat seperti pancake.
"Bentuk mah nggak penting, yang penting itu rasanya!" ucapku dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, aku pun segera memakai jilbab instanku, sebelum aku membuka pintunya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawabku.
Setelah ku lihat, ternyata ibu-ibu yang ku kira adalah para istri dari staf PT. Light Golden, datang bertamu.
"Mari Bu, silahkan masuk," ucapku untuk mempersilahkan mereka masuk.
"Terima kasih," jawab mereka.
"Permisi Bu Dokter, kami... "
"Eh maaf tapi saya bukan dokter, yang dokter suami saya," potongku untuk meralat panggilan mereka yang ditujukan untukku.
Mereka pun tertawa mendengar ucapanku.
"Bu dokter bisa ngelucu juga, ya," ucap Bu Bagyo, istri dari Askep atau Kepala Asisten.
"Saya mah bukan pelawak, tapi ini kenyataan, saya memang bukan dokter, yang dokter itu suami saya. Kalau tiba-tiba saya dipanggil dengan panggilan Bu dokter, padahal nggak pernah kuliah di kedokteran, kan nggak adil sama yang beneran dokter. Cukup panggil saya Halina saja," ucapku.
"Atau Bu Tyo saja, sepertinya lebih sesuai," ralat Bu Bagyo yang sebenarnya tidak kusetujui, tetapi untuk kenyamanan dan ketentraman ibu-ibu staff perkebunan, aku hanya tersenyum untuk menanggapinya.
Dari wajah-wajah yang terlihat, aku memperkirakan mereka rata-rata berusia antara awal 30-an hingga awal 40-an. Kemudian, basa-basi pun mengisi perkenalan kami.
Lalu mereka mulai memperkenalkan diri satu-persatu, disinilah daya ingatku diuji. Dimans menghafal nama beserta wajah, bukanlah keahlianku.
"Bu Tyo asli dari Jakarta?" tanya Bu Bagyo, istri dari asisten kepala (askep).
"Tidak, saya dibesarkan di Jakarta tetapi kedua orang tua saya asli Wonosobo, Jawa Tengah," jawabku.
"Tapi saya sudah lama tinggal di Jakarta, sejak saya kelas 6 SD, sekitar 13 tahun yang lalu," lanjutku.
Perbincangan pun berlanjut hingga mulai terlihat adanya hawa kecemburuan dan persaingan terselubung diantara para ibu-ibu kebun.
"Bu Tyo, sebelum kesini aktivitasnya apa ya?"
"Saya desainer interior," jawabku dan aku menebak jika mereka tidak tahu apa itu desain interior dari raut wajah mereka.
"Oh dari universitas mana, kalau boleh tahu?"
"Ooo jelas boleh tahu dong, aku kan sombong," ucapku dalam hati.
"Saya lulusan Brisakti," jawabku singkat.
"Berarti waktu peristiwa '98 itu?"
"Saya baru masuk dan kakak saya baru lulus," jawabku.
"Jadi ibu lihat kejadiannya?"
"Alhamdulillah tidak, kan waktu peristiwa '98 itu, saya baru lulus SMA, jadi tahunya juga dari kakak saya dan teman-temannya. Yaa sewaktu awal masuk juga diceritain sama senior bagaimana mencekamnya saat itu, jadi yaa cuma bisa ngebayangin aja. Ceritanya juga lebih terasa ngerinya, karena ruang-ruang kelas yang dipakai itu juga terkena tembakan peluru dari aparat yang masih meninggalkan bekas lubang di kaca jendelanya."
"Dari cerita para senior yang berada di kampus pada saat kejadian, kami dapat membayangkan situasinya mencekam seperti di medan perang. Kepanikan dan ketakutan kakak-kakak senior pada saat itu ketika mendengar suara letusan senjata dan melihat rekan mereka tiba-tiba terkapar bersimpuh darah," jawabku yang membuat suasana hening seketika.
Aku sengaja menceritakannya, untuk menyudahi perbincangan yang akan berujung pada ajang unjuk diri, untuk memperlihatkan kehebatannya. Benar saja, tak lama kemudian mereka pun berpamitan.
Waktu tak terasa berlalu, hari pun sudah menjelang dzuhur. Ketika aku sedang berada di kamar, aku mendengar suara mobil dinas Tyo memasuki halaman rumah. Aku pun bergegas menyiapkan minum untuknya dan membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum," salam Tyo.
"Wa'alaikumsalam," jawabku lalu aku pun mencium tangannya dan ia pun mengelus kepalaku, yang tentu saja reflekku segera menepis tangannya.
Ia pun teringat, "Eh maaf-maaf, lupa," ucapnya.
"Nggak papa. Minum dulu, Mas," ucapku.
Kami berdua pun duduk bersama di ruang makan, lalu Tyo bertanya, "Tadi ibu-ibu asisten ke rumah, ya?"
Aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku.
"Trus tadi siapa aja yang datang, inget nggak?" tanya Tyo sambil tersenyum.
"Hmmm mau ngetes, iyaa aku tahuu, aku tuh paling nggak bisa nginget nama dan wajah orang-orang yang baru dikenal! hmm tapi kalau aku bisa, aku dikasih hadiah apa?" tantang ku.
"Hmmm apa yaa? Cium aja!"
"Idih ogah! Emang aku anak kecil, dapat hadiah cium udah seneng!" protesku.
"Iya deh, nanti Mas beliin roti. Mau roti tawar nggak? Kalau mau, nanti sore kita ke luar, beli roti," ucap Tyo.
"Di Sungai Kanan, jangan tanya kirinya mana!" ucap Tyo yang sepertinya membaca pikiranku.
"Yaaah ketahuan," sahutku sambil berpura-pura kesal.
"Akhir bulan ini kita ke Rantau, terserah mau belanja apa," ucap Tyo untuk menghiburku.
"Oke, apa aja yaa, bener lho," tantangku.
"Iya, apa aja," jawab Tyo pasti.
"Eh Mas, kita kan sudah di perantauan, kok mau ke Rantau lagi?" tanyaku.
"Rantau Prapat, cantiiiiik," jawab Tyo sambil mencubit pipiku.
"Oo, ngobrol dong!" seruku.
"Laa, ini kan lagi ngobrol?"
"Oh iya, kita ngobrol ya?" tanyaku iseng yang membuat Tyo nyaris mencubit pipiku. Tetapi aku terlalu cepat untuknya, karena aku berhasil menghindarinya dengan tudung saji.
"Yang, itu tameng model apa, sih? Sudah, duduk anteng di sini, Mas janji nggak bakalan ngapa-ngapain, deh!"
"Baiklah, janji Pramuka ya?" candaku.
"Iya. Yuk, duduk di sini," ajak Tyo.
"Oiya, tapi Ahad pagi pekan ini, kita ke lapangan tenis," lanjut Tyo setelah aku kembali duduk di sampingnya.
"Ngapain, mau main tenis?" tanyaku.
"Ada acara penyambutan dan perkenalan. Ada asisten baru, sekalian perkenalan Sayang juga," jawab Tyo.
"Lah, tadi kan sudah?"
"Resminya besok, ada istri manajer juga, tadi kan nggak ada. Jadi Ahad pagi, siap-siap resepsi kedua," ucap Tyo.
"Kok tahu, tadi nggak ada istri manajer?" tanyaku heran.
"Tahulah, soalnya istri manajer itu sering bolak-balik Bandung-kebun, karena anak-anaknya sekolah di Bandung semua," jawab Tyo.
Pada akhir pekan, tepat sepekan setelah aku tiba di Kebun, kami berdua menuju lapangan tenis untuk menghadiri acara penyambutan dan perkenalan staff baru di PT. Light Golden.
Lapangan tenis pun telah berubah fungsi menjadi tempat pertemuan. Sebenarnya, tidak tepat di lapangan tenisnya, tetapi di bangunan pendopo yang terletak di samping lapangan yang telah disulap menjadi area prasmanan aneka panganan kecil maupun berat.
Inilah kali pertama aku melihat wajah-wajah anggota keluarga para staff perkebunan. Penampilan kami berdua pun terlihat berbeda dari mereka semua, mungkin karena kami berdua masih berusia dibawah mereka semua.
"Bu Dokternya imut-imut, masih muda banget," terdengar lirih suara dari kumpulan ibu-ibu dan aku pun berpura-pura tidak mendengarnya.
Berada di lingkungan yang baru dengan wajah-wajah baru, membuatku tiba-tiba ingin bersembunyi dan menghilang. Terlebih lagi, kali ini kami berdua menjadi pusat perhatian puluhan orang.
"Kepada dr. Tunggul Prasetyo, waktu dan tempat kami persilahkan," terdengar suara MC memanggil Tyo.
"Ayo Yang," ajak Tyo untuk mengikutinya, lalu aku pun berdiri di sampingnya dan sedikit agak dibelakang, hal ini membuatnya menarik tanganku agar aku berdiri sejajar dengannya.
Tyo pun mulai memberikan kata sambutan singkat, sebelum ia memperkenalkan aku kepada keluarga besar perkebunan Langga Payung.
"Perkenalkan, ini istri saya. Namanya Halina Ramadhani, biasa dipanggil Lina dan jangan panggil dia Bu Dokter, karena Lina akan menjawab kalau dirinya bukan dokter," ucap Tyo ketika memperkenalkanku yang disambut dengan tawa karena penjelasan Tyo barusan.
"Lina adalah lulusan Universitas Bisakti jurusan Desain Interior. Kami adalah teman sekelas sewaktu SMA kelas 1, tapi saat itu kami hanya sebatas tahu nama dan wajah, tidak ada percakapan apa pun. Kami mulai bertemu kembali kurang dari setahun yang lalu, hingga akhirnya saya meminangnya 5 bulan yang lalu, tepat di akhir tahun. Lalu 2 pekan yang lalu kami telah resmi menikah di Jakarta," jelas Tyo panjang lebar.
Setelah itu, acara pun berlanjut dengan ramah tamah seluruh anggota keluarga staff, aku bergabung bersama para wanita dan Tyo bersama para pria.
"Bu Lina jadi itu teman sekolahnya Dr. Tunggul?"
"Iya Bu, kami dulu teman satu kelas, seperti yang dijelaskan tadi," jawabku.
"Berarti sudah kenal lama ya?"
"Hmm lebih tepatnya tahu, Bu. Kami cuma sebatas tahu nama dan wajah saja, selebihnya tidak banyak yang kami saling ketahui," jelasku.
Berada di tengah-tengah lingkungan yang baru dan cukup asing, membuatku menarik diri perlahan dari percakapan. Aku hanya menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku, sisanya aku hanya bersikap pasif.
Hari-hari berikutnya, aktivitasku sebagai ibu rumah tangga mulai berjalan normal. Aku mencuci pakaian setiap 2 hari sekali, masih dengan cara tradisional, yaitu merendam, mengucek dan memerasnya hanya dengan menggunakan kekuatan tangan. Tyo juga membantuku di sela-sela waktu istirahatnya.
Alhasil dalam 2 pekan kulit tanganku mulai mengelupas pada bagian buku-buku jarinya.
"Ya Allah, ini kok bisa begini tangannya?" tanya Tyo ketika memegang telapak tanganku.
"Nyuci," jawabku singkat.
"Ini pasti perih," ucapnya sambil meringis seperti ia ikut merasakannya sakit yang kualami.
"Sedikit, tapi tadi sudah aku kasih salep," jawabku.
"Gini deh, pekan ini kita beli mesin cuci sama AC, daripada ngorbanin tangan begini," ucap Tyo yang membuatku hatiku bersorak.