Self Healing

Self Healing
Episode 29 Insiden Jemuran



Tiga bulan sudah aku tinggal di perkebunan kelapa sawit, aku sudah dapat beradaptasi dengan keheningan di siang hari dan panggilan tiba-tiba di luar jam kerja akan masalah di klinik. Aku mulai terbiasa ditinggal karena panggilan kegawatdaruratan karena entah masalah kecelakaan kerja atau lainnya, yang tak mengenal waktu.


Menunggu tukang sayur adalah momen bersosialisasi aku dengan ibu-ibu kebun, yaa begitulah aku menyebutnya, ibu-ibu kebun atau istri-istri para asisten perkebunan kelapa sawit ini.


"Bu Lina, masak apa hari ini?"


Pertanyaan standar yang hampir setiap hari kudengar.


"Belum tahu mau masak apa, palingan nanti kalau sudah mepet waktu makan siang ketemu ide buat masak," jawabku santai.


"Kalau masih berdua memang santai, nanti kalau sudah ada momongan, sudah mulai atur menu."


Kemudian di sore harinya, pemandangan anak-anak berlarian atau balapan naik sepeda mengelilingi komplek perumahan, sudah menjadi hiburan tersendiri untukku.


Tetapi ada kalanya terjadi hal-hal yang tidak biasa dan cukup membuatku kesal.


Pagi ini, aku baru saja selesai mencuci seprei dan handuk. Lalu seperti biasanya, aku menjemurnya di halaman belakang. Uniknya komplek perumahan ini adalah kami berbagi halaman belakang dengan rumah yang lainnya. Rumah-rumah yang ku tempati berada di tengah, di antara 2 rumah asisten. Sekitar berjarak 200 meter ke belakang, terdapat 3 rumah asisten lainnya lagi. Untuk itu kami berbagi halaman belakang yang dipergunakan untuk menjemur pakaian ataupun berbincang-bincang pada dipan-dipan yang terpasang pada tengah-tengahnya.


Tukang sayur yang datang sepekan 3 kali pun, akan menggelar dagangannya di halaman belakang tersebut. Jadi dapat dikatakan, tidak ada rahasia dari halaman belakang kami, ditambah dengan tidak adanya pagar pemisah atau pembatas rumah, menjadikan komplek perumahan ini terbuka.


Saking terbukanya, hingga siapapun dapat masuk, walaupun sudah terdapat papan peringatan dilarang masuk ke area perumahan PT. Light Golden, selain karyawan tetapi tetap saja, penduduk asli kampung di sekitar perkebunan masih menggembalakan kerbau dan kambingnya ke wilayah perumahan Light Golden.


Seperti hari ini, setelah istirahat makan siang di rumah, Tyo masih harus kembali ke klinik.


"Mas berangkat kerja lagi, ya. Sayang istirahat aja, nggak usah bikin cemilan, nanti Mas mampir ke kedai untuk beli roti tawar," pamit Tyo sesaat sebelum berangkat ke klinik.


"Mas, siang ini jadwal klinik mana?" tanyaku, karena selain praktek di klinik utama, Tyo juga harus ke klinik-klinik di divisi-divisi lain, yang jaraknya cukup jauh dan lintasannya tidak mulus. Sehingga membutuhkan waktu tempuh paling cepat sekitar 30-45 menit.


"Siang ini di divisi 2. Sayang istirahat aja, hmmm atau mau ikut, biar lihat klinik disana?" ajak Tyo.


"Nggak ah, aku tidur di rumah aja. Kapan-kapan aja kalau bosen," jawabku.


"Yowes, Mas berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah mencuci piring dan merapikan meja makan, aku pun beristirahat di dalam kamar, tak lama aku pun tertidur.


Beberapa saat kemudian aku pun terbangun karena mendengar suara yang cukup ramai dari halaman belakang.


Aku lalu menuju halaman belakang untuk mengambil jemuran pagi ini, sekaligus memeriksa ada peristiwa apa yang membuat keramaian. Tetapi saat aku membuka pintu, rasanya ingin menangis melihat seprei dan selimut yang masih berada di jemuran penuh dengan noda lumpur.


Tetangga sebelah kiriku, Bu Bambang yang juga sedang mengambil jemurannya pun bernasib sama denganku.


"Aah, ini pasti gara-gara gembala kerbau yang lewatin area ini!" gerutunya.


"Tadi memangnya ada kerbau lewat sini, Bu?" tanyaku.


"Biasanya kalau kerbau lewat sini, pasti korbannya jemuran. Lihat aja, jadi penuh lumpur begini," jawab Bu Bambang.


Lalu aku pun mengambil semua jemuranku dan meletakkannya di dalam ember. Belum selesai dengan kesal ku, tiba-tiba terdengar suara seseorang menggedor-gedor jendela depan. Aku pun segera berlari untuk memeriksanya, kakiku pun kembali lemas, setelah melihat pemandangan di teras depan melalui jendela kaca. Sekumpulan monyet hutan sedang asyik bermain di teras, mereka berloncatan kesana kemari dan sebagian lagi memukul-mukul jendela.


Aku hanya terdiam memandang ke arah jendela, sungguh ini adalah pemandangan luar biasa yang tidak pernah terlintas dalam benakku.


Jantungku pun berdebar-debar karena rasa takut yang timbul, menyaksikan atraksi kebun binatang gratis di teras rumah. Sesaat kemudian petugas keamanan yang sedang berpatroli pun segera mengusir monyet-monyet itu.


Lalu, aku berjalan perlahan ke sofa di ruang keluarga. Aku pun duduk bersandar sambil melihat ke arah TV yang sengaja kunyalakan untuk menemani di saat kusendiri. Aku tidak perduli dengan acara yang diputarkan, aku hanya membutuhkan suara setelah insiden beruntun hari ini.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil dinas Tyo yang memasuki pekarangan depan. Aku segera menyiapkan minuman untuknya, lalu aku pun bersiap menyambut kedatangannya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawabku sambil mencium punggung tangan Tyo.


Entah mengapa, sesaat itu aku tiba-tiba menangis.


"Lho Yang, kenapa? Ada apa?" tanya Tyo dengan wajah penuh kekhawatiran karena melihatku yang tiba-tiba menangis tersedu.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, aku hanya terus menangis dan menangis. Tyo pun memelukku tanpa berkata apapun, lalu ia membopongku ke kamar dan meletakkanku di atas tempat tidur.


Tyo tidak berkata apapun, ia hanya memelukku dan mengelus-elus punggungku. Setelah aku tenang, aku mengajaknya ke kamar mandi tempat mesin cuci kami diletakkan.


"Tuh lihat, hadiah dari kerbau," tunjukku pada seprei dan selimut yang terkena noda lumpur.


Tyo pun tersenyum dan kembali memelukku.


"Sayang capek yaa? Mas bantu cuci lagi yaa, trus nanti kita jajan ke Blok Songo, mau nggak?" ucap Tyo yang sedang berusaha menghiburku.


"Ini kan sudah sore, Mas?"


"Maksudnya besok pagi, besok kan Ahad. Besok pagi, Mas bantuin nyucinya trus kita jalan cari makan di Kota Pinang atau di Blok Songo, gimana?" ucap Tyo.


"Deal!" jawabku semangat.


Keesokan paginya, sesuai dengan janji Tyo, ia membantuku mencuci ulang seprei yang kotor akibat ulah kerbau, lalu mengajakku sarapan pagi di Blok Songo, yang lokasinya cukup jauh, sekitar 50-an km dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di sana.


"Mau lontong sayur, mie gomak atau nasi?" tanya Tyo.


"Apa aja, yang penting cepet, aku sudah lapar," jawabku.


"Oke, mas pesenin lontong sayur aja, trus nanti mie gomaknya dibungkus, sekalian pilih lauk untuk makan hari ini, jadi Sayang istirahat nggak usah masak," ucap Tyo lembut dengan tatapan matanya yang sendu ke arahku.


"Makasih, Mas," jawabku sambil tersenyum kepadanya.


Tetapi ketika makanan yang telah dipesan dihidangkan di atas meja, tiba-tiba aku kehilangan selera makan, padahal selama perjalanan tadi, aku telah membayangkan hidangan sederhana nan lezat ini mendarat di mulutku.