Self Healing

Self Healing
Episode 48 Back to Reality



Aku kembali kepada rutinitasku sehari-hari, yaitu selain mengantar-jemput sekolah, aku juga mengikuti kelas tahsin yang berada di lingkungan sekolah Icha. Sedangkan di akhir pekan, biasanya aku menerima pesanan cake hias dan cake potong, yang promosinya aku muat di laman Facebook. Alhamdulillah, hampir setiap akhir pekan, ada saja pesanan cake yang masuk.


Biasanya aku akan mengerjakannya setelah anak-anak tertidur. Jam dinasku adalah dari pukul delapan malam hingga subuh.


"Ada orderan lagi?" tanya ibu ketika melihatku sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat cake.


"Iya Bu, alhamdulillah untuk besok pagi," jawabku sambil mempersiapkan segala perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan.


"Diambil atau diantar?"


"Diambil jam 9. Besok ba'da Subuh aku finishing," jawabku.


Malam itu, aku menyelesaikan pembuatan cake hingga matang. Lalu, setelah subuh aku melanjutkannya untuk finishing touch, dengan mengaplikasikan fondan sebagai hiasa akhir setelah dilapisi dengan butter cream.


Lalu, aku juga membuat boxnya sendiri, menggunakan karton setebal 2 mm.


"Kenapa boxnya selalu bikin sendiri sih? Kan bisa beli?"


Itulah pertanyaan yang sering dilayangkan padaku dan jawabanku adalah dikarenakan ukuran cake setelah dihias dengan fondan akan mengalami perubahan ketinggian, maka dari itu untuk kerapihan dan keamanan cake hingga sampai di tujuan, box dengan ukuran yang tidak biasa adalah yang dapat menampung cakenya.


Selama satu setengah tahun aku berbisnis cakery hingga telah mendapatkan pelanggan setia. Hampir disetiap akhir pekan aku mendapatkan pesanan cake potong, cake hias, aneka roti manis hingga pastry. Semua resep kupelajari secara otodidak, hingga cara menghias cake menggunakan coklat dan fondan, semuanya kupelajari hanya dari internet, buku atau majalah.


Kedua putriku pun sangat senang dengan aktivitasku ini, karena mereka dapat menikmati aneka cakes, roti atau panganan lainnya secara gratis.


"Enak yaa, kita bisa nyobain cake yang kayak di toko," ucap Ara suatu waktu sambil menikmati cake coklat.


"Iya, nggak harus beli ke toko, enak gratis," tambah Icha.


"Bu, pekan depan buat snack time di sekolah, ibu bikinin roti pisang coklat ya," pinta Icha padaku.


"In syaa Allah," jawabku.


Setiap tiga bulan sekali, kelas Icha mendapat giliran untuk menyediakan panganan kecil untuk satu sekolah, yaitu sebanyak 20 buah/itemnya yang dikoordinir oleh komite sekolah. Aku pun sering mendapatkan tugas untuk menyiapkannya, tentu saja dengan harga yang jauh lebih murah, ketimbang orderan biasa. Tetapi paling tidak, para orang tua murid mengetahui bisnisku ini dan berharap mereka memesannya.


Hingga tiba saatnya, dimana aku harus kembali ke Batam dan dengan berat hati, aku harus memberikan pengumuman kepada semua pelanggan-pelangganku, bahwa aku sudah tidak menerima pesanan cakes dan roti. Padahal saat itu, bisnis cakeryku sudah mulai menggeliat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Pelangganku tentu saja cukup kecewa dengan pemberitahuan ini dan sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama, tetapi kewajibanku adalah untuk mendampingi suami.


Aku dan anak-anak akhirnya kembali ke Batam, setelah dua tahun LDR dengan Tyo. Akan tetapi, Tyo masih tetap harus bolak-balik ke Jakarta untuk penyelesai tesisnya. Sebelum kami kembali ke Batam, ayahku memberikan aku sejumlah uang sebesar 100 juta rupiah, untuk membeli mobil untuk dapat digunakan di Batam nanti. Seratus juta itu, ayahku menganggapnya cukup dengan tabungan yang kami miliki pada saat itu. Pada kenyataannya, kami tidak memiliki tabungan yang cukup untuk melunasi mobil keluarga 7-seater yang kupilih.


"Tabungan kita cuma dua puluh juta, masih kurang sepuluh juta untuk mobilnya," ucap Tyo.


"Pinjam ke mas Mukti atau siapalah ?"


"Nggak ah, nggak enak."


"Trus, gimana ?" tanyaku.


"Bukannya jadi lebih mahal, lagian kan itu riba?"


"Yaa, kalau nggak begitu nggak bisa beli mobil !" ketus Tyo yang membuatku cukup terkejut.


"Yowes, terserah Mas aja," jawabku mencari aman.


"Besok, mas akan survei kredit mana yang paling ringan bunganya," ucap Tyo yang membuatku beristighfar dalam hati, karena aku sangat tidak menyetujui keputusannya.


Pada akhirnya, Tyo menyetujui cicilan selama 3 tahun, dengan total harga selama 3 tahun itu nyaris menembus 200 juta rupiah. Sungguh kerugian dunia-akhirat yang akan kami dapatkan dengan bertransaksi riba seperti ini.


Disaat yang sama, aku kembali mengandung buah hati kami berdua untuk yang ke-tiga kalinya.


Kehamilanku yang ke-tiga ini cukup berbeda dari dua sebelumnya, dimana aku kehilangan nafsu makanku yang membuat penambahan berat badanku berada di ambang batas minimal. Hal ini membuat Tyo khawatir akan kesehatan dan perkembangan janin yang kukandung.


"Yang, makan lagi yaa, trus minum susunya, kasian dedeknya kelaparan kalau Sayang nggak mau makan."


"Kalau aku lapar, aku akan makan. Tapi, sekarang aku nggak laper dan nggak kepingin ngemil, jadi jangan dipaksain, apalagi minum susu, nggak ah, aku mual banget begitu nyium baunya," tolak ku berulang kali.


"Bener yaa, Sayang harus makan. Mas, turun dulu ya. Inget yaa, sarapan dan minum susunya," ucap Tyo sebelum ia pergi untuk bekerja.


Ada yang aku lupakan pada kehamilan ini, yaitu es krim sebagai pengganti susu. Walaupun sebenarnya bukanlah lupa, tetapi sengaja tidak mengingatnya karena untuk mengkonsumsi es krim sebagai pengganti susu, tentu saja saja aku harus membeli untuk dua putriku juga, berarti pengeluaran akan membesar hanya untuk es krim, untuk itu aku menyengaja untuk tidak membeli es krim.


Hari-hariku kini cukup berbeda dari sebelumnya, karena saat ini kedua putriku telah bersekolah. Icha telah memasuki jenjang SD dan Ara di TK. Mereka berdua bersekolah dalam satu komplek sekolah Islam terpadu di daerah Tiban, Sekupang. Lokasinya cukup jauh dari RS Awassuka, yaitu sekitar 7 km, dengan perjalanan yang sangat berbeda dari sekolah sebelumnya di Bekasi.


"Perjalanan ke sekolah itu seperti Dora nggak sih?" candaku saat mengantarkan mereka ke sekolah.


"Kok kayak Dora?" tanya Icha.


"Coba perhatikan, setelah melewati waduk, kita melewati perbukitan, lalu kita melewati pasar, masjid dan komplek sekolah negeri, sampai akhirnya kita tiba di bukit tertinggi, ya itu sekolah kamu, Cha," jawabku.


"Oiya yaa, ih jauh juga ya Bu. Trus itu bukit tertinggi, iya bener! Aku bisa lihat laut sama Singapura dari lantai dua di sekolah!" sahut Icha penuh semangat.


Dengan memberikan mereka pandangan yang berbeda akan jauhnya lokasi sekolah mereka, Icha dan Ara tampak lebih bersemangat berangkat ke sekolah, karena rasa sensasi petualang Dora yang dapat mereka rasakan setiap harinya.


Enam bulan pun berlalu, kehamilanku telah memasuki masa persalinan yang sewaktu-waktu akan datang. Seperti persalinan sebelumnya, aku tidak merasa khawatir,, karena aku cukup turun menuju ruang bersalin. Tetapi berbeda dengan Tyo, yang mengkhawatirkan penambahan berat badanku yang hingga memasuki pekan ke-tiga puluh delapan, hanya bertambah 8 kg.


"Masih ada waktu, ayo makannya ditambah, kasian dedek bayinya," pinta Tyo sambil menyodorkan sepiring nasi goreng untukku.


"Mas, kalau aku lapar, aku bakalan makan kok, tapi sekarang aku lagi nggak kepingin makan," tolakku halus.


Tyo pun menarik nafas panjangnya, lalu membuangnya perlahan sambil berjalan ke arahku. Lalu ia berdiri dengan lututnya dengan tangannya menggenggam kedua tanganku, "Yang, Mas khawatir dengan penambahan beratnya yang minimal banget, takutnya bayinya yang kenapa-kenapa nantinya, karena Sayang kurang asupan makannya. Jadi makan yaa, sedikit aja. Dua sendok juga nggak papa, nanti bisa dilanjutkan lagi. Sedikit-sedikit tapi sering, yaa. Please?" pintanya dengan halus yang akhirnya membuatku menurutinya.


Mau tak mau, akhirnya aku pun menurutinya walaupun tubuh ini memberontak.