Self Healing

Self Healing
Episode 24 Di Rumah Mertua



Malam itu, aku harus tidur dengan kipas angin yang mengingatkanku pada masa-masa SD di Surabaya. Nostalgia keadaan masa kecilku pun terjadi di kamar mungil ini.


Tidur dengan beralaskan kasur kapuk merupakan kenanganku saat berada di rumah simbah di Purwokerto dan Wadaslintang, sehingga hal itu tidak pernah menjadi masalah untukku.


Malam itu, aku pun dapat tidur dengan nyenyak, hingga terdengar adzan shubuh bersahutan.


Di pagi harinya, seperti kebanyakan menantu baru, aku pun merasakan kebingungan akan kebiasaan di rumah ini.


"Bu, biasanya sarapan apa? Nanti aku masakin," ucapku kepada ibu Tyo yang sedang di dapur memasak air.


"Nggak usah, nanti beli aja. Nanti jam 8, biasanya tukang jualan lontong lewat, ada pecelnya juga, nanti ibu belikan," jawab ibu Tyo.


Sementara itu, Tyo dan ayahnya sedang mencuci pakaian di samping rumah menggunakan mesin cuci 2 tabung dan beberapa ember yang berisi air, sedangkan di rumah orang tuaku, kami telah mengganti mesin cuci 2 tabung dengan 1 tabung beberapa tahun yang lalu.


Untuk urusan mencuci manual ataupun dengan mesin, aku pun sanggup, karena aku juga melakukannya ketika berada di rumah simbah, di saat libur lebaran.


Aku pun berinisiatif untuk membantu.


"Nak Lina, ngapain? Sudah kamu di dalam saja, disini nanti basah semua," larang Ayah Tyo.


"Nggak papa kok, Pak. Aku dulu juga biasa nyuci begini, kalau sekarang nyuci seperti ini ada di rumah Simbah, di Purwokerto sama Wadaslintang," jawabku sambil membantu menyikat pakaian.


"Memangnya nak Lina biasa nyuci baju?" tanya ayah Tyo.


"Yaa biasa lah, Pak. Kalau pembantu mudik, kan aku rame-rame nyuci, trus bagi tugas ada yang bersih-bersih, juga masak. Kalau aku seringnya bantuin ibu masak," jelasku.


Saat itu, aku membayangkan ketika seluruh anggota keluarga Tyo berkumpul, pasti sangat akrab dan seru seperti di rumah Simbah.


"Nak Lina," panggil ibu Tyo.


"Iya, Bu," jawabku dan segera menghampirinya.


"Yu'Mar yang jualan sarapan sudah datang, mau beli apa?" tanya ibu sambil memegang beberapa piring kosong.


"Aku lihat dulu ya, Bu. Mau milih sendiri," jawabku sambil mengambil beberapa lembar 10ribuan di dompetku.


Benar apa yang ibu Tyo katakan, menu sarapan beranekaragam pun tertata rapi di bakulan yang terbuat dari anyaman bambu.


"Nak Lina, suka pecel?" tanya ibu Tyo.


"Suka, Bu. Kayaknya yang di bakul ini, semuanya aku suka deh," jawabku.


"Beli aja semuanya, Yang," ucap Tyo yang tiba-tiba muncul dari ruang tamu.


"Semuanya?" tanyaku balik.


"Iya, yang semua Sayang suka beli aja," ucap Tyo lagi.


Tanpa kusadari simbok penjual makanan itu memperhatikan aku dan Tyo.


"Lho, ini istrinya mas Tyo, ya?" tanya simbok itu.


"Iya, Yu. Ini nak Lina, istrinya Tyo," jawab ibu Tyo.


Aku pun tersenyum ke arah simbok itu, tetapi di dalam hatiku pun bertanya, "Kok tahu Tyo?"


"Ini namanya Yu' Mar, tinggalnya masih di sekitar sini, di gang seberang masjid, jadi masih tetangga juga," bisik Tyo di telingaku, yang sepertinya ia membaca pikiranku.


"Cantik," lirih Yu' Mar yang membuatku tersipu.


"Mas Tyo, nanti istrinya mau dibawa ke kebun?" tanya Yu' Mar.


"In syaa Allah, Yu'," jawab Tyo.


"Bulan madu di kebun, dong? Bisa cepet dapat momongan, nih?" goda Yu' Mar yang membuatku ingin segera menyelesaikan transaksi sarapan ini.


"Yu', aku mau pecelnya, cenil sama lupisnya juga. Gorengannya bakwan sama tahu isi," ucapku.


"Aku mau bihun gorengannya sama lontong," tambah Tyo.


"Lontong?" tanyaku bingung, karena aku tidak melihat adanya lontong dalam dagangannya.


"Iya, itu lontong," tunjuk Tyo pada jajanan pasar yang dibungkus daun pisang.


"Lontong? Ini mah arem-arem," ucapku.


"Kalau lontong tuh nggak ada isinya, polosan, trus panjang," lanjutku.


Ibu Tyo dan Yu' Mar pun tertawa kecil mendengar ucapanku.


"Kalau di Jakarta, arem-arem juga biasa disebut lontong, lontong isi," jelas ibu Tyo.


"Oooo," ucapku.


Lalu dengan sigap, Yu' Mar memindahkan dagangannya ke piring-piring kosong yang ibu Tyo telah siapkan.


Pecel, mie goreng, bakwan sayur, tahu isi, cenil, lupis, arem-arem dan bihun goreng pun terhidang di meja makan yang besarnya hanya cukup untuk 2 orang.


"Ayo, sarapan dulu," ajak ibu Tyo.


Aku pun mengambil piring kosong untuk ku dan Tyo.


"Hmm pecel, lontong sama bakwan aja," jawab Tyo.


Aku dan Tyo sarapan di ruang tengah sembari menonton TV.


"Mas, sering jajan buat sarapan?" tanyaku.


"Lumayan, kalau lagi pada ngumpul biasanya beli nasi uduk deket sini, biasanya ibu telpon orangnya," jawab Tyo.


"Kalau yang itu, dia ada gorengan spesialnya, oncom goreng, enak banget tuh," lanjut Tyo.


"Oncom goreng? Hmmm nggak kebayang," ucapku.


"Ya begini jajanan di kampung," lanjut Tyo.


"Hmmm kampung di tengah kota metropolitan Jakarta, yang belum pernah aku eksplorasi," sahutku.


Gaya hidup keluarga Tyo dan bagaimana aku dibesarkan memang cukup jauh berbeda. Untuk urusan sarapan saja, selama aku hidup bersama orang tuaku, membeli sarapan pagi hanya terjadi ketika bepergian, sedangkan ketika di rumah, kami selalu masak sendiri. Entah ibuku atau PRT yang memasaknya. Walaupun terkadang aku juga ikut membantu menyiapkannya.


Makanan sarapan sederhana ini memang nikmat, karena jajan! Yes, jajan di pagi hari tanpa keluar rumah adalah hal yang sangat menyenangkan.


Selesai sarapan, aku menyapu lantai seluruh ruangan di rumah Tyo yang mungkin hanya 1/3 dari lantai 1 rumah orang tuaku, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tyo pun melanjutkannya dengan mengepel.


"Mas, hari ini kita mau ngapain?" tanyaku.


"Oiya, Mas mau ke kantor pusat, ada urusan sebentar. Janjiannya jam 10," jawab Tyo.


Aku pun melihat jam yang tergantung di dinding.


"Sekarang jam setengah 9, eh buruan gantian mandi!" ucapku sambil berjalan mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi.


Di saat aku mandi, aku mendengar ada suara pria yang cukup asing di telingaku. Sepertinya ada tamu yang datang berkunjung.


Aku pun membuka sedikit pintu kamar mandi, untuk memanggil Tyo.


"Mas !"


Tyo pun segera menghampiri dengan membawa jilbab dan gamis untukku.


"Eh tahu aja aku manggil buat apa," ucapku.


"Ya tahu dong," jawabnya.


"Siapa, Mas?" tanyaku sambil menutup pintu.


"Om Andi, adiknya bapak yang tinggal disebelah," jawab Tyo.


"Masih lama? Gantian dong," lanjut Tyo.


"Ntar, lagi andukan," jawabku.


"Mas andukin deh, biar cepet," goda Tyo.


"Yaa kaaalii jadinya cepet, ntar minta plus-plus, ogah!" jawabku.


Aku pun keluar kamar mandi dengan busana muslim lengkap.


"Ish, eh kapan nih first nightnya?" bisik Tyo.


"Auk!" jawabku sambil mendorongnya untuk segera masuk ke kamar mandi.


Kami memang belum melakukan hubungan suami istri hingga di hari ke-tiga ini. Aku sendiri cukup terkejut, jika ada pengantin baru yang dapat melakukannya tepat di hari pertama mereka menikah.


Untuk berpegangan tangan saja, rasa malu itu menjalar hingga ke ubun-ubun. Meskipun aku tahu, itu adalah bagian dari kewajiban ku untuk taat dan patuh kepada suami, tetapi aku belum merasa siap untuk melakukannya.


Pagi itu, kami pergi menuju kantor pusat PT. Light Golden yang terletak di kawasan Thamrin, setelah itu kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengelilingi mall, tanpa berbelanja.


Ba'da Maghrib, satu-persatu keluarga dari kakak Tyo datang, untuk makan malam bersama dan juga untuk lebih mengenal satu sama lain.


Semua menantu, sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam, karena semua menantu yang datang adalah perempuan. Sedangkan yang suami mbak Retno, sudah kembali bekerja di Batam.


"Gini nih, kalau kita ngumpul, mantu ibu nggak ada yang laki, yang laki tinggalnya jauh di luar pulau," ucap mbak Leni istri dari mas Purnomo.


"Iya, trus yang laki mukanya semuanya sama pada ngumpul di ruang keluarga, palingan ngebahas partai," tambah mbak Cici, istri dari mas Dedi yang mebuatku tertawa.


"Oiya Lin, berangkat ke Medannya kapan?" tanya mbak Nur istri dari mas Mukti.


"In syaa Allah Sabtu, biar Ahadnya bisa beberes rumah," jawabku.


"Sudah tahu rumahnya seperti apa?" tanya mbak Nur.


Aku menjawabnya dengan menggelengkan kepalaku.


Tyo lalu menjawab, "Rumahnya besar, ada 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi, plus 1 kamar mandi di dalam kamar tidur utama. Dapur sudah ada kompornya dan rak piring. Yang perlu dibawa seprei, korden aja."


"Eh beli korden dulu dong!" seruku.


"Gampang, beli korden yang sudah jadi di ITC, bagus-bagus dan murah," jawab ibu.


"Yowes, besok ke ITC untuk beli korden sama seprei," ucapku.