Self Healing

Self Healing
Episode 41 Life of A Doctor



Hari berganti, aku dan anak-anak pun sudah terbiasa dengan kehidupan di lantai 7 dan jadwal kerja ayah mereka yang terkadang harus meninggalkan mereka di malam hari hingga di pagi hari.


Tetapi terkadang Tyo kembali di tengah malam untuk beristirahat, yaitu di saat ia mendapatkan jadwal jaga ruangan, dimana ia bertugas di ruang-ruang perawatan.


"Lagi sepi, Mas?" tanyaku.


"Aman, tadi sudah meriksa semua lantai, tadi juga sudah pesan kalau ada emergency telpon ke kamar aja. Mas tidur sebentar, 2 jam aja. Nanti jam 2 keliling lagi."


Tetapi terkadang hal kedaruratan terjadi, seperti saat aku sedang merapikan kamar, tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api dari jalan raya. Aku pun segera melihatnya dari jendela. Kulihat beberapa mobil polisi di depan rumah sakit dan beberapa orang polisi berlarian menangkap seseorang.


Tyo yang sedang bertugas di UGD pun harus lembur, karena seharusnya ia kembali sebelum pukul 4 sore, tetapi hari ini ia belum juga kembali sedangkan waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Telepon genggamnya pun tidak diangkat sejak beberapa jam yang lalu.


Hingga akhirnya sekitar pukul 9 malam, Tyo kembali dengan wajah yang lusuh.


"Lho, kok pakai baju operasi?" tanyaku.


"Iya, tadi kemejanya kena noda darah, tapi tadi sudah Mas bersihin pakai alkohol, jadi nodanya nggak nempel," jawab Tyo sambil menunjukkan plastik berisikan kemejanya.


Tyo kemudian menyandarkan badannya di sofa, bahasa tubuhnya menyiratkan kelelahan fisik dan pikirannya.


Aku pun memberikan segelas cappucino hangat kegemarannya, sambil menanyakan tentang kejadian sore tadi.


"Itu tadi yang ada polisi ...."


"Oh Sayang lihat ya?"


Aku pun mengangguk.


"Iya tadi ada residivis, setelah ditembak kakinya akhirnya tertangkap juga, trus langsung dibawa ke UGD, yaa begini deh jadinya," jelas Tyo.


"Kok lama, kan itu kejadiannya sore?"


"Yaa, kan tadi setelah ngerawat tersangkanya harus nulis laporan buat polisinya, trus ada media juga, jadi harus ngasih keterangan dulu," jelas Tyo.


"Oo, tapi Mas nggak papa kan?"


"Iya, Mas nggak papa kok, cuma capek aja."


"Aku siapin makan, yaa?"


Tyo pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Saat itu, aku telah menidurkan Icha dan Ara lebih cepat karena aku tahu, pasti Tyo sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


"Icha sama Ara sudah tidur?" tanya Tyo.


"Iya tadi setelah selesai makan malam, mereka berdua langsung tidur. Tadi sempat nanyain, ayah mana, kok belum pulang? Aku jawab aja, kalau ayah lagi ada pasien di UGD," jawabku.


Itu adalah salah satu dari sekian kasus di rumah sakit yang aku ketahui dari Tyo. Pernah suatu waktu, Tyo juga harus lembur di UGD karena pasien membludak.


"Rekor!"


"Rekor apa, Mas?"


"Hari ini pasien UGD total dari pagi sampai jam 7 malam ini, ada 24 orang!"


"Banyak amat?!"


"Nggak tahu, dari pagi nggak berhenti, ada yang kecelakaan di jalan raya, ada yang kecelakaan kerja, macam-macam deh, capek banget!" ucapnya sambil menyandarkan badannya di sofa.


"Yowes, Mas segera mandi aja, setelah itu makan, sholat trus bisa istirahat," ucapku sambil membawakan segelas cappucino hangat.


Selain itu, lokasi pulau ini yang sangat dekat dengan pulau Singapura, membuat rumah sakit tempat Tyo bekerja beberapa kali harus mengirimkan atau mengevakuasi pasien ke negeri kepala singa itu. Disanalah Tyo mengenal seorang pemilik bisnis medical emergency and evacuation, yang bernama Christopher atau lebih sering dipanggil Capt, karena beliau adalah kapten purnawirawan Angkatan Laut Filipina, yang setelah masa baktinya berakhir, ia memilih untuk membangun bisnisnya di Singapura.


"Yang, siang nanti ba'da dzuhur, ada evakuasi ke Singapura. In syaa Allah sorenya langsung pulang," ucap Tyo di suatu siang yang tiba-tiba kembali ke kamar di saat ia sedang bertugas di UGD.


"Aku siapin apa?"


"Nggak perlu, kan nggak nginap. Mas cuma ambil ransel sama handuk kecil dan sajadah kepala aja kok. Oiya, nanti mau dibeliin apa?"


"Hmm apa yaa, nggak tahu? Beliin buat anak-anak aja."


"Yowes ntar mas lihat-lihat di sana ada apa, ya. Do'ain biar lancar perjalanannya, ya."


"Fii amanillah."


Dalam 3-4 bulan sekali, Tyo akan mendapat giliran untuk evakuasi dan tidak setiap evakuasi ia dapat segera pulang, terkadang ia harus bermalam di Singapura dan di saat itulah ia menjelajahi kota Singapura bersama dengan 2 perawat yang bersamanya.


"Bu, Singapura itu jauh ya?" tanya Icha suatu kali.


"Hmm nggak jauh, cuma 1 jam naik kapal feri," jawabku.


"Oiya Cha, lihat sini yuk," ajakku untuk melihat pemandangan dari jendela.


"Cha, kamu bisa lihat seperti ada bayangan gedung di sana, yang jauh itu."


Icha pun menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


"Nah, itu Singapura...."


"Ooo ayah ke sana. Bu pingin ikut ke sana, kan deket," pinta Icha setengah merengek.


"In syaa Allah kalau ada rezeki, kita ke sana," jawabku.


"Kenapa kita nggak ikut ayah sekarang aja?"


"Yaa nggak bisa dan nggak boleh, karena ayah kerja," jawabku.


Tetapi Tyo telah mempersiapkan adanya kemungkinan untuk kami dapat mengunjungi negara kepala Singa tersebut, dengan membuatkan paspor untuk kami sekeluarga saat pulang ke Jakarta. Percayalah, bahwa membuat paspor dengan dua balita itu tidak mudah.


Icha menangis ketakutan ketika ia harus diambil fotonya.


"Anaknya dipangku saja, Pak. Bisa kok, tapi nanti posisi badan Bapak agak dijauhkan, agar tidak masuk frame," ucap petugas imigrasi.


Akhirnya pengambilan foto pun berhasil, walau hasil foto Icha, masih terlihat habis menangis, karena saat itu memang Icha baru berusia kurang dari 3 tahun dan Ara baru berusia 7 bulan.


Hingga setelah bekerja selama hampir 2 tahun, Tyo mendapatkan tawaran beasiswa dari direktur.


"Yang, Mas mau disekolahin S2, disuruh ambil okupasi."


"Okupasi itu apa?" tanyaku.


"Okupasi itu kedokteran kerja, hmm jadi dokter untuk perusahaan atau ketenagakerjaan gitu," jelas Tyo.


"Rencananya mau ambil di UI, kalau bisa tahun depan," tambah Tyo.


"Tahun depan, berarti barengan sama jadwal Icha masuk TK dong?"


"Iya, ini jadwalnya, pendaftaran, tes dan pengumuman," jawab Tyo sambil menunjukkan brosur program S2 yang dimaksud.