
Aku telah kembali berada di rumah orang tuaku, setelah perjalanan panjang dari Langga Payung sampai ke Kelapa Gading (Jakarta Utara). Setelah sehari sebelumnya aku dan Tyo, berangkat dari Rantau Prapat menuju Medan dengan menggunakan kereta api dan siang tadi, aku bertiga bersama kedua orang tuaku yang menjemputku di Medan, menaiki si burung besi menuju Jakarta.
Sementara itu, Tyo kembali pulang menuju Rantau Prapat dengan menaiki kereta siang.
"Alhamdulillah, aku kangen kamar ini! Kasurnya yang super empuk, semoga bangun tidur nanti, punggungku nggak sakit lagi," ucap dalam hati yang sangat merindukan suasana di dalam kamarku ini.
Kamar yang telah kutempati bersama dengan mbak Hana, sejak aku kelas 6 SD hingga menikah. Kamar yang entah berapa kali telah kami rubah warna cat dinding dan langit-langitnya, di saat liburan sekolah tiba. Kami berdua yang membeli cat, lalu mengecat kamar kami sendiri. Bankan tak jarang, kamar kedua adikku yang hanya dipisahkan oleh pintu geser, juga turut aku redesain.
Bukan hanya urusan cat-mengecat dinding, bahkan untuk urusan menata ulang dengan menggeser atau memindahkan furnitur di dalam kamar, selalu kami berdua yang mengerjakannya. Hingga terakhir, aku mendapatkan tugas dari bapak untuk membuat lemari pakaian dan tempat untuk meletakkan koleksi buku-buku dan benda-benda yang kami miliki untuk kamarku dan kedua adikku. Jadilah aku membuat 2 lemari pakaian built-in dan sebuah credenza yang sangat sesuai untuk kebutuhan kami berempat. Selain lemari pakaian juga terdapat sebuah lemari gantung, diatas tempat tidurku dan mbak Hana, untuk meletakkan berbagai koleksi buku, perangko dan masih banyak lagi, yang merupakan milik kami berdua.
"Lin, kamu sebaiknya tidur di kamar tengah, yang kemarin dijadikan kamar pengantin," ucap ibu yang mengejutkanku.
"Kenapa? Kan aku pingin tidur di sini?" protesku.
"Di kamar sana saja, kasurnya kan orthopedic, biar badanmu nggak pegal-pegal lagi, akan lebih nyaman jika tidur di sana," jawab ibu.
"Oiya, kasur mihil nan nyaman ada di sana. Baiklah, aku pindah ke sana!" seruku sambil mendorong koper yang berisi pakaianku.
"Jangan lupa telpon Tyo," ucap ibu yang berjalan mengikutiku dari belakang.
Ucapan ibuku pun mengingatkan pada janjiku untuk segera menghubungi Tyo begitu aku sampai di rumah. Aku melihat ke arah jam yang tergantung di dinding ruang TV, yang telah menunjukkan pukul 15.00 WIB, yang berarti Tyo telah berada di dalam kereta menuju Rantau Prapat.
"Assalamu'alaikum," ucap Tyo ketika menjawab telfonku.
"Wa'alaikumsalam," jawabku.
"Hei, sudah di rumah ya?" tanya Tyo dengan nada yang sangat hangat.
"Alhamdulillah, sudah di kamar," jawabku.
"Alhamdulillah, pasti capek. Tadi makan apa di pesawat?" tanya Tyo kembali.
"Makan yang nggak bikin kenyang, jadi pas nunggu bagasi aku beli roti dulu," jawabku yang dibalas dengan suara tawa diseberang sana.
"Bumil memang harus banyak makan, jadi sampai rumah tadi langsung makan, nggak?"
"Iya dong, sekarang sudah kenyang. Mas juga sudah makan kan?" tanyaku balik.
"Sudah.Oiya, jangan lupa besok langsung periksa ke dr. Safitri di RS Ekasari, dia tuh dosen waktu mas kuliah," ucap Tyo mengingatkanku.
"In syaa Allah, besok pagi langsung daftar," jawabku.
"Besok jangan lupa kabarin mas, ya," pinta Tyo.
"Siaaap!"
Lalu, aku menyudahi sambungan teleponku dan merebahkan diriku di tempat tidurku.
"Alhamdulillah, punggungku...," ucapku dalam hati.
Pada saat memasuki trimester ke-3 kehamilanku, aku mengalami pegal-pegal dan sakit di beberapa persendian, terutama pada tulang punggungku. Tidur diatas kasur busa, memang berdampak cukup banyak pada tubuhku. Setiap harinya aku terbangun dengan rasa nyeri pada punggung, akibat kasur busa yang tipis. Kembali berada di atas kasur orthopedic, aku berharap tubuhku dapat segar kembali.
Keesokan harinya, aku bangun tidur dengan badan yang terasa sangat nyaman, tanpa sakit pada punggungku yang selama 3 bulan terakhir kualami dan sesuai dengan rencana, aku memeriksakan diriku ke salah satu dokter kandungan yang Tyo rekomendasikan untukku, karena beliau adalah dosen Tyo di kampus dan aku percaya pilihannya untukku.
Ruang tunggu RSIA Ekasari di pagi hari sudah ramai dengan ibu-ibu hamil dan ibu-ibu muda dengan bayi mereka. Melihat bayi-bayi mungil dalam gendongan sang bunda atau berada di stroller, membuat diriku tidak sabar menunggu saat kelahiran.
"Sebelumnya periksa dimana?" tanya dr. Lucky kepadaku.
"Di Rantau Prapat, di dr. Erkha," jawabku sambil menunjukkan buku pemeriksaan kehamilanku.
Dr. Lucky pun membuka dan membaca setiap halamannya, lalu dengan mengernyitkan dahinya, ia bertanya kepadaku, "Kok, pemeriksaannya bolong-bolong? Kenapa pemeriksaannya nggak rutin?"
"Suaminya dokter umum di kebun, Dok," jawab ibu.
"Ooo, bisa periksa sendiri di rumah dong? Trus, suaminya mana?"
"Masih di kebun, nanti cuti ke Jakarta kalau sudah menjelang kelahiran. Kira-kira di pekan berapa yang aman, ya Dok?" jawabku dan kemudian kembali bertanya.
"Hmm biasanya di usia 38-42 minggu, kalau sekarang...," dr. Lucky terdiam sesaat sambil membaca keterangan pada buku periksaku.
"Sekarang baru di 30 minggu, ya? Berarti paling cepat 8 minggu lagi. Yuk, saya periksa dulu," ucap dr. Lucky.
Aku pun segera berbaring di atas bed periksa, lalu dr. Lucky, menuangkan gel ke atas perutku untuk pemeriksaan USG.
"Hmm posisinya bagus, kepalanya sudah dibawah. Disini tercantum sudah 31 minggu, berat janin, 1450 gram, panjangnya 40 cm. Alhamdulillah, semuanya normal. Letak tali pusat juga bagus, posisinya sudah bagus semua," jelas dr. Lucky.
Setelah itu, aku kembali duduk di kursi konsultasi bersama ibuku.
"Kalau dari hasil USG tadi, perkiraan kelahiran paling cepat di awal bulan Mei, di usia 38 minggu, semoga berat janin sampai 3 kg, ya."
"Suplemen dan vitamin yang sudah ada dilanjutkan saja, saya tidak akan memberikan resep baru. Sekarang mulai latihan pernafasan untuk persiapan melahirkan nanti, ikut senam hamil juga bisa membantu relaksasi," lanjut dr. Lucky.
Setelah konsultasi selesai, aku bertanya kepada dr. Lucky di luar masalah kehamilanku ataupun persalinan nanti.
"Maaf Dok, boleh nanya?"
"Iya, silahkan."
"Dokter masih ngajar di UI?"
Pertanyaanku itupun membuatnya mendelikkan matanya ke arahku.
"Kok tahu saya ngajar di UI, apa kamu mahasiswa saya?"
"Oh bukan Dok, tapi suami saya. Dia angkatan '98," jawabku.
"Oiya suami kamu dokter di kebun. Saya masih ngajar. Oiya, kapan suami kamu ke sini? Dia akan mendampingi kamu saat melahirkan nanti, kan?" tanya dr. Lucky.
"In syaa Allah Dok, maunya nggak lama sampai di sini, saya langsung melahirkan," jawabku.
"Hmm kalau sudah mulai mules-mulesnya setiap hari, bisa disuruh datang saja. Kalau taksasi kelahiran, paling cepat itu akhir Mei dan paling lambat pertengahan Juni, sekitar tanggal 25 Mei sampai 10 Juni," jelas dr. Lucky.
Setelah pemeriksaan selesai, aku pun segera mengirimkan SMS perihal taksasi persalinanku, agar Tyo dapat mengurus izin cuti sesuai dengan tanggal yang diperkirakan.
"In syaa Allah, tanggal 24, Mas cuti sampai tanggal 5 Juni."
Aku pun berdo'a, agar bayiku lahir di saat Tyo masih berada di Jakarta.