
Lewat tengah malam, aku terbangun dari tidurku, karena kontraksi hebat yang kurasakan. Sementara itu, kulihat Tyo masih terlelap dalam tidurnya di sampingku. Aku meremas tangannya karena menahan rasa sakit kontraksi, yang akhirnya membuat Tyo terbangun dan segera memeriksaku.
Tak lama, aku merasakan air keluar membasahi pakaian dalamku.
"Mas, basah!" seruku setengah panik.
Tyo pun segera keluar kamar dan mengetuk pintu kamar orang tuaku, untuk memberitahukan kondisiku. Tak lama, kedua orang tuaku mendatangiku yang masih mengerang menahan sakitnya kontraksi. Ibuku yang seorang mantan bidan segera memeriksaku.
"Yo, kita ke rumah sakit sekarang, sepertinya sudah ada rembesan air ketuban," ucap ibu.
"Bapak siapin mobilnya," ucap ayahku yang segera bergerak menuju carport.
Sementara itu, ibu membantuku untuk berganti pakaian dan Tyo mengambil tas yang telah kusiapkan beberapa hari yang lalu, untuk persalinan ini.
"Pakai pembalutnya, takutnya air ketubannya merembes lagi," seru ibu sesaat aku akan berganti pakaian di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, kami ber-empat telah berada di dalam kendaraan menuju RSIA Ekasari. Ayahku melajukan kendaraannya di tengah kesunyian malam, yang hanya nampak 1-2 kendaraan saja yang terlihat.
"Alhamdulillah, kamu mulesnya tengah malam, pas jalan lagi sepi-sepinya. Coba kalau siang atau sore, kamu bisa-bisa melahirkan di mobil," ucap ibu yang duduk di kursi depan.
Sesaat setelah sampai di rumah sakit, aku segera dilarikan ke ruang bersalin tanpa Tyo menemaniku. Sakitnya kontraksi membuatku tidak dapat berkata-kata, fokusku hanya pada posisiku yang serba salah dan sangat ingin mengeluarkan bayi yang berada dalam perutku secepatnya.
Tak lama kemudian, seorang perawat membawakan aku susu hangat dan roti.
"Di minum dulu susunya untuk tenaga nanti," ucapnya.
"Mbak maaf, tapi aku nggak suka susu, apalagi pagi seperti ini, pasti jadinya mual, eneg gitu," jawabku untuk menolak pemberiannya.
"Kalau teh, bisa?" tanyanya lagi.
"Bisa Mbak, makasih," jawabku.
Kontraksiku datang dan pergi, tetapi kali ini cukup panjang, membuatku bertanya kapan Tyo akan menemaniku di ruang bersalin.
Aku melihat ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul 04.30, suara adzan Shubuh pun terdengar bersaut-sautan.
"Mungkin Tyo sedang di musholla," pikirku.
Setengah jam kemudian, seorang bidan memeriksa seberapa besar pembukaanku, "Sudah 5 cm," ucapnya.
'Mbak, kapan dokternya datang?" tanyaku sambil meringis menahan sakit.
"Sebentar lagi juga datang, tadi sudah ditelfon, kok," jawabnya.
Waktu terus berjalan, kontraksiku semakin kuat dan sering. Dr. Lucky akhirnya tiba dan segera memeriksaku pembukaanku.
"Sudah 6 cm," ucapnya.
"Sudah sarapan?" tanya dr. Lucky.
"Sudah, Dok," jawabku.
"Suaminya ada?" tanya dr. Lucky kepada bidan yang sedari tadi menemaniku.
"Ada, Dok," jawabnya.
Lalu, aku menunggu mereka memanggil Tyo, tetapi tidak kudengar dr. Lucky mengucapkan permintaan itu, hingga saat kontraksiku semakin kuat dan semakin membuatku merasa ingin mengeluarkan bayi ini sesegera mungkin.
"Oke, sudah lengkap. Lin, kamu ikutin aba-aba dari saya, ya," ucap dr. Lucky.
Saat itu, aku sudah tidak dapat menjawab apa pun yang ditanyakan kepadaku, karena rasa sakit terhebat yang pernah kurasakan, terjadi saat itu.
Aku mengerang dan terus mengerang kesakitan, hingga aku merasakan seperti ingin mengejan.
Aku pun dengan sekuat tenaga menahannya, hingga akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi.
"Oke Lin, dorong sekarang!" seru dr. Lucky.
Aku pun mengejan sekuat tenagaku.
"Bagus! Lin, dorong yang kuat tapi kamu jangan merem, matanya dibuka, jangan merem yaa," ucap dr. Lucky.
Aku pun kembali mengejan sekuat tenagaku.
"Oke, kepalanya sudah mulai kelihatan, tarik nafas dan dorong!"
"Jangan berhenti, ayo terus! Kepalanya sudah kelihatan, dorong!" seru dr. Lucky.
Aku pu kembali mendorongnya dengan sisa tenaga yang kumiliki.
"Alhamdulillah, barakallah. Perempuan," ucap dr. Lucky dengan diikuti suara tangisan bayi yang sangat keras.
Nafasku terengah-engah, keringatku pun mengalir membasahi seluruh tubuhku. Rasa lega, haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
Bayi mungil itu pun diperlihatkan kepadaku, suara tangisannya sangat keras, aku rasa suaranya akan terdengar sampai ruang tunggu.
Tetapi, impianku akan proses bersalin yang ditemani oleh suami, kemudian memeluk dan mencium bayi yang baru kulahirkan, ternyata memang hanya mimpi. Sampai detik aku mendapatkan jahitan yang rasa sakitnya melebihi sakit kontraksi, Tyo tak jua terlihat di ruang bersalin. Bahkan bayiku pun, aku hanya sempat melihatnya sesaat, sebelum ia ditangani oleh dokter anak.
Beberapa saat kemudian, aku telah berada di ruang perawatan VIP bersama Tyo dan kedua orang tuaku. Rasa lelah dan kantuk, membuatku tertidur hingga matahari berada di atas kepala.
"Sudah bangun?" tanya Tyo yang kemudian membantuku untuk duduk.
"Makasih," ucapku.
"Mau minum?" tanya Tyo kembali. Aku pun menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku.
Setelah aku minum, aku melihat di sekitarku dan tak kudapati bayiku.
"Bayinya mana?" tanyaku.
"Katanya masih di observasi, jadi belum bisa dibawa ke sini," jawab Tyo.
"Alhamdulillah, beratnya 3,3 kg, panjangnya 56 cm," lanjut Tyo.
"Alhamdulillah, Mas sudah lihat?"
"Sudah, tadi sebelum dibawa ke ruang bayi," jawab Tyo.
Jawaban singkatnya tanpa ada kata-kata pujian untuk putri pertama kami, membuatku berpikir ada sesuatu pada bayiku.
"Mas, bayinya sehat kan?" tanyaku.
"Alhamdulillah sehat, cuma masih di observasi aja. Palingan ntar sore di antar kesini," jawab Tyo.
Menunggu hingga sore untuk melihat bayiku, bukanlah hal yang kubayangkan sebelumnya. Semua bayanganku akan manisnya proses persalinan yang didampingi oleh suami, hingga memeluk dan mencium bayiku sesaat seperti dalam adegan film, hilang sudah.
Hanya ada kekecewaan dalam hatiku yang tak terungkapkan. Herannya, aku melihat Tyo sepertinya biasa saja. Aku sungguh tidak tahu apa yang ada dipikirannya, aku ingin melihatnya protes akan proses persalinan yang baru saja kulalui.
"Mas, kok tadi nggak masuk, nggak nemenin aku melahirkan?"
"Mas juga bingung, kok nggak dipanggil? Takutnya nggak boleh masuk. Trus mas kira, Sayang belum masuk ruang bersalin, karena biasanya kelahiran anak pertama itu lama, bisa sampai berjam-jam, makanya tadi kaget waktu perawat ngedorong box bayinya," jawab Tyo.
Aku hanya diam, mendengar jawaban yang Tyo berikan untukku. Entahlah, tapi hari ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan karena ini adalah hari putri pertamaku dilahirkan, tetapi semua mimpi itu sirna begitu saja.