
Ketika ada Pertemuan pasti ada perpisahan, ketika tertawa pasti ada air mata, ketika ada ujian pasti ada kelulusan
***
Momen kelulusan adalah momen yang selalu ditunggu sekaligus momen yang menyedihkan. Kebersamaan selama beberapa tahun, akan terpecah-berai. Masing-masing orang akan melanjutkan kehidupan sesuai yang diinginkan dirinya, kadang meski tidak mau dunia kejam memaksa dia menjalani sebuah hidup yang penuh tragedi. Segelintir orang yang hanya bisa melewatinya, teramasuk Naziya yang kini duduk diapit oleh empat orang. Haris, Zayyan, Nenek dan Mayassah. Dia masih ingat sekali, kelulusan saat SMP-nya.
"Saya ucapkan terimakasih kepada siswi kami yang telah banyak menorehkan prestasi bagi sekolahi. Mulai tingkat kecamatan dan nasional. Dan satu kabar bahagia lagi, dia persembahkan. Mendapat nilai tertinggi dari peroleh UN ketiga seprovinsi. Sumbangsih yang kadang lupa di apresiasi. Kita panggilkan ananda Naziya Pratiwi."
Naziya meneteskan air mata, mengingat hal itu. Tidak ada orang ataupun keluarga, suara tepukan tangan itu. Tidak tahu mengejek atau benar bangga. "Kamu nangis?" Tanya Haris, dia menggenggamkan tangan Naziya erat. Mayassah menyadari, dia pun teringat saat perpisahan itu. Dia tidak datang, dan saat dia pulang ke rumah, Naziya yang sedang menaruh piala tanpa sengaja Mayassah menyenggol dia akhirnya piala yang akan ditaruh jatuh dan rusak.
Kedua kalinya kata itu, dikatakan. Hanya ditambah oleh sekilas sikapnya sebab yang menjelaskan Bu Rina. " Sikap dia dingin, terkenal seantero sekolah. Langganan BK tapi untuk belajar tetap juara, dia bersekolah selama dua tahun lebih itu tidak punya teman, temannya hanya pensil, buku, dan saya. Iya saya kebetulan guru BK. Dan semua bidang pelajaran yang membawa nama sekolah dikancah perlombaan. Tidak banyak yang tahu tentang keluarganya, tapi saya sendiri mengatakan hari ini. Sangat menyangkan, selama dia berlomba dan terus jadi juara jarang terekspos orang dan paling parah keluarganya tidak pernah ada yang datang. Teman-temannya pun mengatai dia, sebagai siswi galak, dingin dan ketus. Kita panggilkan ananda Naziya Pratiwi." Nenek bangga sekaligus pilu. "Shakila anakmu cantik, cerdas dan dia… " Naziya maju ke depan. Dia menerima penghargaannya. Matanya memandang semua orang yang ada di sana. Senyuman mereka terlihat bangga. Tapi Naziya tidak dapat berkata-kata banyak, hatinya lirih. "Ayah, Bunda… "
***
Hiduplah seperti air yang mengalir meski harus melewati beberapa celah yang kadang menghimpit untuk sampai di muara
Jangan pernah menyerah, usahamu akan jadi do'a
Teruslah bermimpi, jangan takut selagi niatmu masih di hati
Damaikan luka, dengan bersikap mengikhlaskan segalanya
Kurangi perbacotan yang tiada guna
Sebab praduga kadang menghancurkan
Pahami situasi, kadang kita harus bersikap kamuflase pada sementara waktu
Menyesali keadaan hanya akan membuat dirimu semakin terpenjara
Perpisahan ini bukan dari akhir cerita kami
Ini awal dari yang baru, sebagai generasi maju
Untukmu para pemuda
Angkatlah cita-cita setinggi angkasa
Jangan pernah berkata itu hal yang mustahil
Keadaan saja selalu mempermainkan kita
Untuk mengingatnya saja tidak sempat
Tidak
Itu hal yang salah
Setiap luka ada obatnya
Setiap rindu ada surutnya
Jika diri paham akan sebuah makna
Skenario Tuhan tidak pernah ada yang mengetahui apa kelanjutan dari kisah-kisahmu.
Prakata dari beberapa siswa termasuk Naziya, Albi, Rivaldi… Teriakan terakhir diucapkan dengan lantang yang di sorakin para orang tua. Mereka menatap haru anaknya telah tumbuh dewasa. Haris berbisik. "Andai Bunda ada di sini, lihatlah Naziya yang begitu cantik katanya."