Self Healing

Self Healing
Bab 18 Sabar



Mereka yang menyadari betapa berharganya seseorang setelah kepergiannya, hanya akan merasa sesak dan menyesal menghantui kehidupannya. Jika putus asa bukan sabar yang digenggamnya. 


*** 


     Naziya selepas dari pemakaman mengurung diri sampai gelap malam. Nura mengetok, Haris menggedor, Zayyan memanggilnya. Tidak keluar juga, nenek menyeruh mereka untuk membiarkan. Biarkan dia menenangkan diri, sampai merasa dirinya cukup. Shakila juga seperti itu, bentuk dari sikap yang tengah membentengi diri agar tidak berbuat apapun yang bisa melukai diri atau menghancurkan orang lain. Diam, sampai hatinya merasa lega sendiri. Cuman Nura saja yang tidak, mengikuti ayahnya kali ya. Wonder woman, strong girl. Bisa tertawa padahal luka sedang memporakporandakan. Nenek mengatakannya ketika melihat mereka khawatir. Benar saja, Naziya keluar setelah subuh. Matanya sembab banget, hidungnya merah. "Kakak udah baikan?" Naziya tersenyum tipis, dia mengacak rambut Nura yang sekarang tidak berhijab. "Kakak ijin gak sekolah ya." Mereka beriringan berjalan menuju ruang makan. "Selamat pagi putri-putri ayah. " Senyuma Haris melebar. Satu persatu bergantian mengecup Haris, Meira datang dengan membawa boneka. "Kakek aku juga mau," Rengeknya. Naziya tertawa dia menggendong Meira mensejajarkan tubuh dia dengan Haris. "Cup… " Nenek pura-pura merajuk. "Nenek buyut enggak nih, nenek juga… " Giliran Nura yang tetawa. "Ashhhiiiappp… " Zayyan menghirup nafas bahagia. Awal yang menyenangkan.


***


   Kepergian Hafidz masih membekas, duka masih belum belum pulih. Hari itu, mentari pun belum nampak, sedangkan jam telah menunjukkan pukul 8.00, Hartono yang merasakannya tidak bersemangat bekerja, dia menangis sendirian sepanjang malam. Sekarang dia sedang terduduk, dekat kolam renang yang berada di rumahnya. Terlihat dia memegangi foto keluarga. "Ayah, makan dulu ya." Firman membawa nampak yang di atasnya ada mangkuk berisi bubur. "Ayah, sedang tidak enak makan. Kamu saja," Pintanya. "Ayah masih ingat apa yang dikatakan saat pemakaman Hafidz." Firman bermain taktik. "Dari kemarin ayah belum makan apapun, Firman masih butuh ayah." Dia ingin menangis. Hartono menyuruh Firman duduk di hadapannya. Firman tunduk patuh, dia berjongkok. "Ayah tahu, tapi itu hanya pura-pura tegar di hadapan mereka. Ayah tidak ingin melukai, Naziya. Dia sangat terpukul, Bu Rina bilang Naziya telah mengalami beberapa kecelakaan yang mengharuskan dia kehilangan seseorang. Salah satunya ayahnya. Ayah tidak ingin membuat Naziya bersalah, takdir pasti akan menghampiri meski tidak diinginkan. Darinya Hafidz sedikit belajar tentang hidup, tamparan Naziya yang menyadarkan. Jarak diantara kita baru saja terhapus kemarin malam, tapi paginya." Firman kagum, ayahnya selalu bisa memaafkan dengan sendiri piawai memainkan peran. "Tapi ayah baru sadar, betapa berharganya seseorang untuk kita saat dia telah pergi, sakitnya ini melebihi ketika ayah ditinggal pergi ibumu. Kekasih hati ayah. Ayah menyesal, telah--."Ucapan Hartono terbata-bata, Firman mencoba menenangkan. "Firmana juga merasa seperti itu ayah, tapi Firman masih hidup." Hartono membercandainya. "Kalau gitu, kapan kau akan menikah?" Masih dengan air mata yang satu dua tetes mengalir. Firman bungkam, tiba-tiba teringat wajah Nadila yang tersenyum saat pemakaman kemarin. Firman terasa dibius, hatinya bergetar aneh. "Sesegara mungkin." Jawabnya. "Ahh makan dulu yah." Dia menghindari percakapan itu. "Jawab dulu, emang kamu udah punya calon gitu?" Satu suapan akan masuk tapi Hartono menutup mulutnya rapat. "Iya, kalau wanitanya mau." Mata Hartono berbinar."Siapa? Kalau begitu kenalkan cepat. Jika bisa besok." Firman meneguk saliva sulit. "Secapat itukah." Pikirnya. 


***


   Dear-Diary 


 Kicauan burung telah bernyanyi tadi pagi, dan sekarang mereka sedang terbang mencari kehidupan. Andai jika disamakan, itulah aku. Gadis belia yang selalu meracau lewat kata menjelang fajar. Menuliskan sebuah keasingan dan luka yang ada setiap hari. Bunda, aku di sini sekarang. Menatap sendu fotomu. Ayah, aku sedang terduduk bersama sepotong kenangan tentang kau. Setelah usai menulis, aku kembali jadi Naziya yang terlihat dingin bukan cengeng. Pergi ke sekolah mencari ilmu, dan sekedar pelampiasan dari asing yang terus menikam. Mamah aku menuliskan ini bukan aku merasa dendam, tapi aku ingin ini menjadi kenangan. Sedikit memori tentang baiknya mamah saat ada ayah, Ka Nadila yang masih belum dewasa dan Nazwa yang selalu mengganggu. Sampai hari ini, 17 tahun hidup di dunia. Aku hanya selalu merasa sendirian. Oh iya, Bi Inah. Apa kabar bi? Ehh ko ngaur ya. Ahh bodo amat. Tapi sekarang tidak ada lagi, bunda sama ayah jangan cemas. Naziya udah sedikit bahagia, tapi rindu ini tidak terbayar. Naziya ingat perkataan Bi Inah tentang sabar. Saat Naziya kelas satu SMA. Naziya terluka oleh sikap mamah dan Ka Nadila yang yang membuat Naziya akan kabur, dan menangis berhari-hari mogok makan satu minggu. Bi Inah bilang, dia paham luka aku. Bagaimana aku setelah ayah pergi. Tapi bibi tidak bisa membantu, bibi tidak tahu permasalahannya. Non Naziya harus bersyukur, ada banyak anak brokenhome di luaran sana yang masuk dunia gelap, kelaparan, dan diskriminasi. Tapi Non tidak kan? Meski sikap mamah membuat bibi pun ikut terluka melihatnya. Dan sabar, ini hanya tentang waktu. Diamlah terus berbuat baik. Biar tuhan yang memberikan jawaban. Dan is meazing, Naziya merasakannya bunda. Sabar kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Naziya pun merasakannya, bagaimana Naziya melawan. Tidak ada agama yang menyuruh bunuh diri saat masalah ada. Itu yang Naziya catet. Pertemuan Naziya dengan Bu Rina, banyak hal jail yang Naziya lakukan. Sampai dia bercerita tentang satu hal. Perjumpaan dengan Hafidz. Ahhh Naziya menulis namanya pun tidak kuat, tuhan. Iya menamparnya. Dia sih rese, tapi Naziya bertemu dengan dia kedua kalinya. Kepala Naziya sakit dan sangat sakit Naziya menangis, satu bayangan tentang Bunda ada. Setelah sebelumnya Naziya di sekolah Naziya menangis, mengingat sebuah mimpi. Miris:)  Naziya pulang diantar Hafidz. Dia terlihat khawatir. Dan dua hari yang lalu dia menolong Naziya, dia pergi selamanya seperti ayah. Membuat Naziya sedikit trauma Naziya tidak keluar. Di sana Naziya berpikir tentang perkataan Bi Inah lagi. Takdir tidak ada yang bisa menolak, kehilangan adalah ujian terberat untuk mencapai drajat yang selanjutnya. Naziya takut Pak Hartono menuntut, tapi sampai sekarang tidak juga. Merasa bersalah menyarang di hati Naziya, bunda. Tapi ketika Naziya tidur, setelah menangis tadi malam. Hafidz mengatakan kata-kata yang di pemakaman. Naziya iri, bunda, ayah bolehkah Naziya ikut bersamanya. Naziya… 


  Rindu yang tak terbalas 


Kepada siapa aku mengadu jika bukan pada rabbku. Kepada siapa aku bercerita jika bukan dengan tulisanku. Aku rindu. Kenyataan ini belum membuat aku tenang. Aku rindu.


 Naziya menyeka air matanya. Dia mengusap lembaran yang terkena cucuran air matanya. .