
Hati siapa yang tidak patah, ketika tidak pernah ada yang peduli dengannya, dan hati siapa yang tidak pernah merasa bahagia, ketika perhatian datang tanpa ada rasa iba sebab ketulusan matanya yang berbicara.
@NuraSs_Fya
***
"Naziya jujur sama ibu sekarang, kemarin kamu ke mana saja? Dan mengapa sampai tidak makan? Kamu sebenarnya ada masalah apa?" tanya Bu Rina langsung
"Nggak--," bola mata Naziya bergerak-gerik, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu hal yang menakutkan. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Pilu yang menggeorogoti hatinya seakan mengajak dia untuk tidak bercerita saat ini. Bu Rina yang paham akan hal itu, mengerti dengan situasi.
"Ibu tidak akan memaksa, tapi jika membahayakan kamu lagi, mau tidak mau kamu harus jujur sekarang, ayolah! atau nggak ibu panggil mamahmu saja ya," ancam Bu Rina yang tengah siap menekan tombol panggil di layar *handphone* kaca yang bertuliskan Mamah Naziya.
"Jangan bu," cegahnya
"Baiklah, aku..." Naziya mengigit bibir bawahnya. Bu Rina yang berada di sampingnya mengusap bahu dia.
"Semua akan baik-baik saja, ayo ceritakan," perintah Bu Rina lembut
"Aku akhir\-akhir ini sering sakit kepala, itu bekas benturan beberapa minggu yang lalu saat aku olahraga, jadi aku selalu sakit kepala sampai hari ini. Ketika aku berada di mana dan berjumpa dengan siapa, tentang masa lalu yang tidak aku ketahui, bu... Terlebih saat aku yakin meski belum sepenuhnya, siapa aku sebenarnya. Kemarin aku bertemu dengan anak pemilik yayasan, aku melihat dan mengingat sesuatu yang janggal... Huffsstt." helaannya terdengar lelah.
Bu Rina yang mendengar penuturan tersebut membelakkan mata, nyaris sampai mau menjatuhkan barang yang dipegangnya. "Aduhh, maaf sayang."
"..."
"Pertemuan memang dibatalkan, tapi ibu dengar kamu terancam dikeluarkan dari sekolah. Kamu apakan dia, kamu kenal, sayang?" tanyanya penuh kehati-hatian.
"Naziya udah bilangkan, belum yakin. Mau dikeluarkan? Bodo amat," jawab Naziya malas.
Dia teringat dengan handphone-nya yang sejak pagi dilupakan, ketimbang memperpanjang pembahasan lebih baik dia mambuka hp tersebut. Dahinya mengernyit, ada beberapa panggilan masuk yang tidak terjawab dan pesan yang tidak terbuka dari nomor tidak dikenal. Mengingat sebentar, nomor itu sama persis sama penelpon tadi pagi yang belum terpikirkan Naziya. Open messege tersentuh sempurna oleh tangannya, Naziya membaca pesan itu setengah mendesah. Isinya satu permasalahan yang sama.
From : 0823****
"Ziya kamu gak apa-apa kan? Ini Hafidz. Kalau bisa kamu harus pindah sekolah secepatnya. Aku tidak mau kamu semakin terancam karena masalahku. Please."
To : Hafidz gila😩
"Gue baik, lo gak usah nge.khawatirin gue, gak akan pindah. Bodo amat, masalah itu dihadapai bukan dihindari, gak usah sok akrab dan sejak kapan bahasa itu jadi kamu."
Sifat sarkas Naziya kembali, tidak sama seperti kemarin. Paradoks hati yang terus jadi tameng pelindung dari luka yang selama ini dia tutupi. Tulisan send terlihat sempurna, artinya telah terkirim ke nomor itu. Sesaat pikiran Naziya mulai terganggu, dan keributan di luar mengundang penasaran.
***
Jam terus berdetak, detiknya membawa perubahan di setiap menit. Saat matahari sudah berada di atas kepala, waktu setengah hari telah terlewat. Terlihat di koridor sekolah, segerombalan anak perempuan yang asyik dengan perbincangan, lalu-lalang satu dua orang yang tidak tahu ke mana tujuannya, yang jelas saat itu waktu istiharat ke dua saat menunggu satu dua jam pelajaran sebelum pulang, termasuk Albi dan Rivaldi yang santai berajalan secara cool, tanpa diduga seseorang menabrak Rivaldi tak disengaja.
"Eh maaf… " katanya dengan kepala menunduk, Rivaldi tahu orang itu siapa.
"Gak usah nunduk, bangun! Sengaja ataupun enggak, kamu masih gak percaya. Dia teman sekelasku." orang itu terperangah, tiba-tiba hatinya terasa sesak. Padahal benar dia tidak sengaja.
"Nura," ucap Rivaldi.
"Maaf, anda jangan selalu menyimpulkan sesuatu dari yang belum pasti. Adakalanya, itu memang benar tapi kesengajaan bisa dilihat dari cara dia bersikap, dan saya tidak merasa bahwa saya sengaja, sebab jika salah bisa menyakiti perasaannya. Sudah banyak praduga yang membuat kehidupan seseorang hancur," jawabnya diskak, ada satu kalimat berupa sindiran dan Rivaldi itu paham. Buru\-buru Nura melangkahkan kaki, sebelum hati sesak yang ditahan meluap jadi rintik di daerah pelupuk mata.
Rivaldi mematung, dan Albi masih cengo. Rivaldi terkenal dengan cowok misterius dan sebutan ice prince bagi anak\-anak ips di sekolahnya sebab itu kejadian beberapa menit yang lalu menarik perhatian orang-orang, sebagian orang yang berjalan melewati meraka melirik dan berdesas-desus, ada yang mencuit-cuit ada juga yang menaruh tampang wajah bodo amat.
"Kuy-kuy… Ciee ahhh." Albi menyiku Rivaldi, tatapannya meminta penjelasan. "Itu anak barukan?" Albi bertanya sambil mengkaitkan lengan pada Riavaldi untuk sambil berjalan.
"Iya." simple, singkat, dan jelas.
Jawaban Rivaldi terlihat enteng, tapi Albi mengetahui gelagapnya serta sikap mematung Rivaldi tahu ada yang disembunyikan, meski tidak tahu pasti. Ketika Albi akan bertanya kembali, ada seseorang yang tengah menjadi pusat perhatian siswa-siswi SMA DHARMA KUSUMA, meski siswi yang paling dominan melihat siapa yang datang membuat keduanya ikutan tertarik untuk melirik mengalihkan. Seseorang itu baru saja keluar dari mobil bermerk lamborghini keluaran terbaru, badannya tinggi, mungkin jika disamakan Aldi maupun Rivaldi tunggi mereka sebahunya. Sayang mata indahnya tertutup kaca mata hitam. Pakaiannya memakai jas berwarna biru navi, dan jeans hitam yang tidak ketat menambah kharismatik aura seorang pengusahanya terlihat. Di belakang seseorang mengikuti, wajahnya terlihat lebih tua tapi sama\-sama keren, tampilannya yang sederhana memperlihatkan jiwa ke orang tuaan. Dia berjalan masuk koridor utama dengan jejeran ruang kelas 10 dan ada belokan di sebalah utara yang menghubungkan langsung dengan ruangan khusus yayasan.
"Keren banget," salah satu ucapan seorang siswi
"Begoo, hidungnya." beberapa sahutan tersebut terdengar diantara kerumunan yang melihat.
Albi mendengarnya ingin muntah, meski dia tukang bikin gaduh di kelas. Rivaldi bingung, tapi kenapa hatinya bimbang pikirnya tertuju pada Naziya. Dia ingat, bahwa harus ke ruangan BK meski pesannya sehabis pulang sekolah, tapi dan tapi. Lima belas menit, orang itu hilang dari ekor mata siapapun.
"Dia itu siapa? Lo tau gak?" tanya Albi lagi, sejenak rasa penasaran soal Nura menghilang.
"Sejak kapan lo jadi wartawan, banyak tanya mulu. Buruan ah," Rivaldi menghindar dia sedikit berlari.
"Ngaco lo ah… Eh iya juga yaa. Sejak kapan gue jadi kayak gitu," tanya Albi seorang diri.
***
Hafidz gila😩: Iya gue tahu, masalah dihadapi, serah lo dah.
Ziyalucuu😍: Bagus, lo pinter! Etdah bentar. Lo tau nomor gue dari mana?
Hafidz gila😩: Dari hati yang sebagian kisah masa lalunya yang belum tuntas:)
Ziyalucuu😍: Lo lagi gesrek. Lo di mana? Pulang!
Hafid gila😩:Serah gue dong di mana pun.
Naziya memandangi layar hpnya gusar, menunggu balasan selanjutnya, namun tulisan typing tidak kunjung datang. Centang biru saja pun sudah tidak terlihat.
"Apa maksud perkataannya dari hati yang sebagian kisah masa lalu yang belum tuntas:\( ."
Rutinitasnya terhenti ketika Albi dan Rivaldi sudah berada di depan pintu dengan cengengesan Albi yang khas.
"Lo udah baikan?" tanya Rivaldi berbasa\-basi sambil berjalan menghampiri. Matanya teduh, ukiran senyum terpahat di daerah bibir ranumnya. Naziya membalas tatapan dia dengan seulas senyum, meski hati dan pikirnya masih terbayang dengan perkataan Hafidz.
"Modus lo," sarkas Albi dengan mata mendelik.
"Ingat tuh cewek tadi," sindirnya. Seketika hilang senyuman Naziya. Wajahnya kembali datar, dan semua diam ketika Bu Rina masuk dengan orang tadi, yang menjadi pusat perhatian. "Apa lagi ini?" tanyanya dalam hati.
"Albi, Rival tolong kalian keluar dulu! Kalian masuk 15 menit lagi, cepat!" seru Bu Rina.
Mau tidak mau, mereka undur. Sebelumnya Rivaldi melontarkan tatapan yang menyiratkan pertanyaan terhadap Bu Rina. "Sudah Rival, silahkan!" Kali ini suaranya penuh dengan intimidasi. Naziya hanya menelan salivanya mendengar hal itu.
'Silahkan! Ini Naziya." Bu Rina mempersilahkan untuk mendekati aku kepada orang itu.
"Sebelumnya maaf telah menggangu waktumu gadis manis. Saya hanya ingin meminta bantuanmu, dan perkenalkan saya Firman Anandasyah, dan ini ayah saya Hartono Anandasyah."
Pembicaraanya penuh wibawa, sedikit pun tidak memperlihatkan dia sedang mempunyai masalah sampai harus berkata meminta bantuan terhadap Naziya.
"Saya kakaknya Hafidz. Dia kabur sejak siang kemarin, dan saya tidak tahu apa permasalahannya sehingga membuat dia bersikap yang tidak seperti biasa. Katanya kamu adalah orang yang sebelumnya berantem dengannya, kami tidak akan jadi menuntut, tapi apakah kamu tahu keberadaan dia?" lanjutnya yang arah perkataannya tidak terlihat seperti menyudutkan siapapun. Naziya belum bisa menjawab dia terdiam beberapa saat, sampai Hartono angkat bicara.
"Saya percaya kamu gadis yang bisa dipercaya, ada rahasia yang tidak saya jelaskan kepada dia, Hafidz. Hafidz anakku, dia kesayangan saya, tapi karena ketakutan saya, semua yang saya khawatirkan pun terjadi. Dia ngamuk meminta penjelasan itu, dan tiba-tiba dia berkata yang tidak-tidak, sedikit membuat hati saya sakit, hari itu juga amarah saya memuncak dan menamparnya dengan keras. Dia pergi, dan belum kembali. Saya merindukannya," jelas Hartono.
"Maaf sebelumnya juga, saya tidak paham dengan penjelasan om. Apapun itu saya tidak berhak ikut campur, kemarin memang saya bertemu dengannya, tapi sekarang saya tidak tahu dengan keberadaannya." jawab Naziya jujur setengah bingung.
"*Tidak ada tampang menyeramkan dari keluarga ini, tapi kenapa Hafidz sampe pergi* " monolog hatinya.
" Kamu tidak berbohong kan?" selidik Firman.
"Dunia ini penuh dengan kebohongan, lantas kenapa harus bertanya bahwa saya tidak berbohong. Jelas-jelas kehidupan selalu menuntut kita berbohong--" Bu Rina yang mendengar melongo. "Naziya," Potongnya.
"Maaf bu saya belum selesai, agar tidak menimbulkan multitafsir. Berbohong untuk menutupi kebaikan dan berbohong untuk pura-pura melupakan kesalahan orang lain, ataupun untuk menutupi luka dari kejamnya dunia." jawaban Naziya membuat Hartono terenyuh, ucapannya benar.
"Saya memang akan mengajak kamu berunding sebelumnya, karena mendengar bahwa kamu telah berkelahi dengan Hafidz. Tapi tolong, " Hartono mulai menyerah. Firman yang melihat ayahnya seperti itu tidak tega. "Tapi apakah ada--"
Hp Naziya berbunyi, tertera nama Hafidz gila menelpon di layarnya. Firman melihat itu, segera dia menyuruh Naziya mengangkatnya dan semua terdiam dengan duduk di sisi rangjang yang Naziya tempati.
"Hallo... "
"Ziya, gue mohon lo please pindah sekolah. Gue akan bayarin deh kepindahannya."
"Lo siapa berani ngatur-ngatur?"
"Tapi lo gak ngerasain…"
"Apa? Jadi gue gitu. Katanya lo gak akan ketakutan lagi, banci lo, so jagoan tapi masih kayak cewek. Masa gitu aja lo ngehindar. Sampai ujung dunia pun gak akan pernah lo dapatkan apa yang lo mau jika lo berlindung di balik perkataan yang sebatas dari orang tapi lo gak buktikan pakai mata kepala lo," potong Naziya cepat.
"Lo gak usah sok tahu, bukannya lo udah inget siapa gue?"
"Lo yang sok tahu, ingatan gue sedikit-sedikit emang udah teringat tapi belum sepenuhnya benar. Jika lo benar lelaki, datang ke sekolah hari ini juga. Cepat." sambungan hp terputus.
Firman mendengus, tingkah Naziya sedikit berbeda. Hartono menghela napas berat, dan Bu Rina tidak bisa berbuat apa-apa dulu.
"Haruskah ayah menjelaskan semua, sebelum waktunya yang telah dijanjikan?" Hartono bertanya terhadap Firman dengan kesenduannya yang terdengar pilu. Naziya melihat itu hanya bisa menahan tangis, mengingat kata Keluarga rasanya bagi dia tidak bernyawa.