Self Healing

Self Healing
Episode 23 Bagaikan Langit dan Bumi



Keesokan harinya, aku telah mempunyai rencana untuk mengajak Tyo berbelanja pakaian untuknya di mall dekat rumahku, sebelum bermalam di rumah orang tua Tyo.


"Nanti kita ke Mall dulu sebelum ke rumah ibu," ucapku kepada Tyo.


"Mau belanja apa?" tanya Tyo.


"Baju," jawabku singkat tanpa menjelaskan lebih lanjut.


Kami memang berencana untuk menginap selama 2 malam di rumah mertuaku, sebelum aku mengikutinya ke perkebunan kelapa sawit di wilayah antah berantah Sumatera Utara.


Kami berdua pun pergi menuju mall yang terletak tidak jauh dari rumah orang tuaku. Kali ini, Tyo yang menyetir, karena ia telah mendapatkan SIM sesaat sebelum berangkat ke Medan.


Ahad siang adalah saat Mall mengalami lonjakan pengunjung, sehingga sudah dapat dipastikan akan sulit mendapatkan parkir. Aku pun melihat ke sekitar, terlihat antrian panjang untuk memasuki gedung parkir.


"Mas, tukeran nyetirnya," pintaku.


"Kenapa?" tanya Tyo.


"Parkiran pasti rame banget, kalau yang nyetir perempuan, biasanya diprioritaskan untuk dapat parkiran," jelasku.


Kami pun bertukar posisi dan benar saja, tak lama setelah memasuki gedung parkiran, seorang petugas parkiran menghampiri.


"Mau parkir, Mbak?" tanyanya.


"Iya, Mas. Ada nggak?"


"Ada Mbak, ikutin saya ya," jawabnya sambil berjalan.


Aku pun mengikutinya perlahan dari belakang dan benar saja, tak lama mobilku telah terparkir dengan sempurna di lantai 2 gedung parkiran.


Aku pun mengajak Tyo ke departemen store yang sering menjadi langggananku berbelanja pakaian, lalu menuju tempat pakaian pria.


Aku memilih beberapa t-shirt, kemeja santai serta celana kerja untuk Tyo. Tyo hanya mengikutiku tanpa protes dan ia mencoba semua yang kutawarkan padanya.


"Nggak beli sekalian?" tanya Tyo.


"Nggak, dah yuk bayar," jawabku sambil menuju kasir.


Aku membayarnya dengan menggunakan uang angpao dari acara pernikahan kami berdua. Tyo sangat penurut, tetapi aku tidak menyadari bahwa itu adalah kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil, dimana ia tidak dibiasakan untuk berinisiatif melakukan sesuatu, tetapi lebih banyak menuruti keinginan keluarganya.


Setelah itu, Tyo mengajakku makan siang di food court.


"Makan dulu, yuk."


"Mau makan apa?" tanyaku.


"Terserah Sayang aja," jawab Tyo.


Whaaat? It's supposed to be my answer!


Dimana-mana perempuan yang boleh ngasih jawaban terserah, bukan laki-laki!


Tetapi saat itu aku cukup santai menanggapinya, bahkan aku cukup senang, karena aku bisa memilih yang aku mau.


"Thai Express," jawabku sambil berjalan ke arah food court.


Sesampainya disana, aku segera memilih menu yang kuinginkan, sedangkan Tyo tampak tidak familiar dengan menu makanan khas negara Gajah Putih itu.


"Mau yang kuah atau goreng? Nasi atau mie?" tanyaku sambil menunjukkan nama pada daftar menu beserta fotonya.


Tyo pun membacanya kembali, hingga akhirnya ia memutuskan.


"Kuah aja," jawabnya sambil menunjukkan foto tomyam.


"Oke," jawabku dan mulai memesan.


"Tom yam goong 1, pad thai 1, minumnya es lemon tea 2. Tambah papaya salad 1."


Seperti biasa, Tyo menikmati posisinya sebagai penerima.


Ah, aku teringat sesuatu, sewaktu masa pendekatan, Tyo bertanya akan film favoritku.


"Suka nonton apa?"


"Hmmm suka nonton dorama. Aku juga suka J-Pop," jawabku.


Aku menangkap ketidaktahuannya akan apa yang kumaksud, tetapi dia mengatakan yang sebaliknya.


"Oh, suka Jepang yaa. Aku juga suka," ucapnya.


"Suka nonton yang mana? J-Pop suka dengerin siapa?" tanyaku.


Wajah Tyo tampak sedikit kebingungan, tetapi ia dapat menjawabnya dengan jawaban standar.


"Hmmm nggak hafalin judulnya, musiknya juga nggak hafalin judul lagunya sama siapa yang nyanyi, tapi suka juga," jawab Tyo.


"Pernah ke JakJapan Matsuri?" tanyaku.


Mimik wajahnya pun kembali terlihat kebingungan.


"Hmm nggak pernah, waktunya sering bentrok sama waktu jaga," jawabnya yang saat itu kupikir yaa wajar karena ia seorang dokter.


Tak lama, makanan yang kami pesan telah dihidangkan, kami berdua pun menyantapnya dengan lahap.


"Sering makan disini?" tanya Tyo.


"Ini yang ke-dua kalinya, yang pertama bareng mbak Hana," jawabku.


"Tahu banyak tentang kuliner ya?" tanyanya lagi.


"Aku sempat kursus manajemen restoran di Jakarta Culinary Center. Belajar dasar-dasar ilmu perdapuran, kebetulan kepala sekolahnya teman SMP-nya ibu, jadi dapat tambahan tips-tipsnya lagi," jawabku.


Beberapa saat setelah lulus kuliah, aku memang sempat mengambil kursus selama 6 bulan di JCC, karena ayahku baru saja merintis bisnis rumah makannya dan berkeinginan agar salah satu dari anaknya dapat melanjutkan bisnis ini. Qadarallah, aku memiliki passion dibidang kuliner sejak kecil, sehingga aku berinisiatif untuk mengambil kursus tersebut.


"Kursusnya dimana?" tanya Tyo.


"Di Jakarta Culinary Center, di Senayan," jawabku.


"Nggak ada, itu pure punya mas Verdi sama temannya, aku malah dapat ilmu juga dari chefnya, lumayan dapat resep-resep gratis," jawabku.


Mas Verdi bersama temannya merintis bisnis rumah makan, yang berlokasi di ruko yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Rumah makan tersebut menyediakan makanan Western, Indonesia dan juga fusion food.


Sementara itu, ayahku juga memiliki saham di sebuah rumah makan Sunda di Bekasi.


"Bisnis keluarganya apa aja, sih?" tanya Tyo.


"Rumah makan aja, kok. Paling nggak sementara ini, begitu. Nantinya nggak tahu juga, apa mau nambah ke bidang yang lain," jawabku.


"Oiya, itu mobil yang di rumah, punya siapa aja?" tanya Tyo lagi.


"Oh itu, kalau yang Audi kan itu mobil dinas bapak, nah kalau kijang itu mobil operasional di rumah. Punyaku Chevrolet Aveo, mas Verdi sama mbak Hana pakai Daihatsu Taruna," jawabku.


"Terus Ewing sama Wawan?" tanya Tyo lagi.


"Belum dikasih, Ewing kan masih kuliah di UI, dia ngekost jadi belum butuh. Kalau Wawan kan masih SMA, belum punya SIM dan belum bisa nyetir juga," jelasku.


Kalau dipikir-pikir, keluargaku sepertinya dambaan orang banyak, yang memiliki kekayaan seperti yang terdapat di dalam cerita-cerita novel, drama Korea atau sinetron. Dimana putri yang memiliki segalanya itu menikahi seorang pria yang ekonominya saat itu berada jauh dibawah ekonomi keluarganya.


Sungguh cerita yang menarik, tetapi apakah cerita pernikahanku akan sama menariknya dengan drama-drama itu semua? Well, kita lihat saja nanti.


"Mau kemana lagi?" tanya Tyo sesaat setelah selesai makan siang.


"Pulang aja, kalau kelamaan disini, setan belanja akan menyerang," jawabku sambil berjalan cepat menuju parkiran mobil.


"Eh kok, jalannya jadi cepat begitu?" protes Tyo.


"Kita harus segera menghindar dari kejaran setan belanja. Tuh lihat, tadi kita nggak lihat ada tulisan diskon, sekarang tiba-tiba itu tulisan muncul semua," candaku.


"Dari tadi juga ada, Yang."


"Udah ah, buruan pulang. Sudah pegel nih," ucapku sambil berpura-pura kesakitan yang membuat Tyo tertawa.


"Iya, ayo kita pulang," jawab Tyo.


Tetapi sebelum pulang, aku menyempatkan untuk membeli oleh-oleh untuk mertuaku.


"Mas, bapak-ibu suka makan roti, nggak?" tanyaku.


"Suka, kenapa?"


"Aku mau beliin roti. Yuk, ke Kingdom Bakery," ajakku.


Kingdom Bakery adalah tempat favoritku untuk berbelanja aneka roti, karena tokonya terletak tidak jauh dari rumah orang tuaku, selain itu rasanya memang sangat lezat. Semenjak Kingdom Bakery membuka outletnya di mall, varian roti, cake dan pudingnya pun bertambah, tentu saja hal ini membuatku senang.


Aku pun membeli beberapa roti manis dan sebungkus roti tawar.


"Dah selesai, mari kita pulang," ucapku penuh semangat.


Perjalanan Kelapa Gading menuju Rawamangun di akhir pekan ini memang cukup menguji kesabaran, karena terjadi antrian panjang hampir di semua titik trafic light, sehingga waktu tempuh normal biasanya hanya sekitar 15-20 menit, tetapi kali ini kami tempuh hampir 1 jam.


Sesampainya di rumah orang tua Tyo, ibu dan ayahnya segera menyambut kedatangan kami dengan wajah bahagia.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Ayo masuk, nak Lina," ajak ibu Tyo.


Sebetulnya kata-kata itu benar-benar basa-basi, karena saat itu kami berada di ruang tamu dan sepanjang pengetahuanku, tidak ada ruang tamu yang berada di luar.


"Inggih, Bu," jawabku.


"Oiya Bu, ini ada sedikit roti. Aku nggak tahu bapak-ibu suka roti apa, jadi aku beli hampir semua jenisnya di toko," ucapku sambil memberikan kotak berisi aneka roti.


"Eeeeh kok repot-repot bawa roti segala, nak Lina datang, ibu juga sudah senang."


"Nggak repot, kok Bu. Kan cuma beli aja, repot itu kalau bikin sendiri," jawabku.


Sementara itu, aku tidak melihat keberadaan Tyo sejak aku masuk ke dalam rumahnya.


"Nunsewu Bu, mas Tyo kemana, kok nggak kelihatan?" tanyaku.


"Tuh lagi beresin kamar," jawab ibu Tyo sambil menunjuk ke arah kamar yang berada di samping ruang tamu.


"Masuk aja, nanti nak Lina tidur di situ," ucap ibu Tyo.


"Nunsewu nggih, Bu," ucapku sambil berjalan menuju kamar yang berukuran 2x3 m.


Aku melihat ke sekelilingnya, aku merasa berada di rumah nenekku di kampung. Semua perabotannya tampak tua ditambah dengan kasur yang masih menggunakan kapuk. Tanpa AC, hanya ada kipas angin yang diletakkan di atas rak buku.


Kulihat ada beberapa tempat di dindingnya yang ditempeli dengan bagian belakang kertas kalender.


"Itu kenapa, kok ditempelin kertas?" tanyaku.


"Oh, dindingnya ada yang terkikis, jadi ada serpihan batu semen gitu, jadi ya ditutup pakai kertas kalender aja. Belum ada duit untuk benerinnya," jawab Tyo.


"Ini kamar siapa?" tanyaku.


"Mbak Retno, tapi mbak Retno kan nggak disini. Sekarang nginap di Bekasi, di rumah mas Hawan," jawab Tyo.


"Mas, mau ke kamar mandi, dong," ucapku.


Tyo pun menunjukkan lokasi kamar mandinya yang terletak di bagian belakang. Letak kamar mandinya bersebelahan dengan ruang makan dan berada di dapur. Benar-benar ruangan yang sempit untuk dijadikan area servis.


Bahkan dapur di rumah orang tuaku jauh lebih besar dari kamar tadi, apalagi dengan dapur ini.


Lantai yang berminyak, ditambah dinding-dinding keramik yang natnya sudah dipenuhi dengan kumpulan minyak yang membeku, membuatku gemas ingin membersihkannya. Di tambah dengan wadah minyak jelantah yang telah menghitam, membuatku ingin segera membuangnya mengingat efeknya bagi kesehatan.


"Ini WC-nya, kalau yang itu kamar mandinya," tunjuk Tyo pada 2 buah pintu yang bersebelahan.


Ternyata kamar mandi dan WC-nya dibuat terpisah. Aku pun membuka pintunya.


Persis!! Ini mirip kamar mandi di rumah nenekku di desa, tanpa keramik dan berpintu aluminium.