
Dalam kehidupan banyak kemungkinan yang bisa terjadi, salah satunya tentang luka yang seringkali dijadikan salah arti. Jika dia paham, Jalaludin Rumi pernah berkata, luka adalah proses menuju cahaya.
***
Mentari telah terbit setinggi tombak, cahaya nya menyilau ke segala penjuru kota, hujan kemarin seakan terlupa. Sinar masuk masuk melalui celah jendela ke setiap rumah. Naziya yang tengah sibuk membantu di dapur Bu Rina menutup mata ketika silauan tak sengaja terpandang. "Teteh lagi di foto gaya apa, itu mata ditutup?" Ayesha yang datang secara tiba-tiba bertanya. Bu Rina melirik, dan cekikin. "Cukup jeli kau anak kecil," Naziya mencolek dagunya. "Ihh kakak, " Naziya tersenyum menjulurkan lidah. "Kakak bakalan tinggal bareng terus kan setelah ini? Jadi teteh aku, umi sama abi juga gak bakalan marah." Ayesha menggelayuti tangan Naziya. Bu Rina tidak kaget, dia membalas perkataan anaknya lembut. "Dia telah jadi teteh kakak, untuk masalah tinggal doakan yang terbaik saja yah, Ayesha sayang." Mengelus rambutnya yang lembut. Naziya mengiyakan. "Oke, putriku sekarang waktunya makan." Naziya menggendong Ayesha dan menduduki dia dikursi. "Bu, Fathan biar sama Naziya dulu aja." Naziya hendak menimang Fathan yang sedang bermain sendirian di alas kasur ruang tengah. Bu Rina menahan. "Yes," Ayesha mengedipkan mata. "Kita makan bareng saja, biarkan ibu yang membawa dia ke sini. Temenin Ayesha dulu." Bu Rina pergi, Naziya menggelitik Ayesha. "Kamu curang… Hehehe," Tuduh Naziya bercanda. "Eh malah bercanda, makan sayang." Buk Rina menegur mereka ketika Fathan sudah berada dipangkuannya. "Kan kata umi bareng-bareng, jadi kakak nunggu umi dulu tapi teteh malah gelitikin kakak, "Ayesha membela diri. "Kakak," tegurnya lagi. "Ehh iya umi," Naziya mengejek Ayesha. "Sudah-sudah, ayo makan." Selama makan Fathan tidak bisa diam, aktif dan lincah membuat Bu Rina kewalahan. "Ibu sihhh--" Bu Rina memotong perkataan Ayesha "Kakak habisin itu makanan!"
Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 siang, Naziya masih betah bermain dengan Ayesha. Tawa Ayesha tidak surut jua, terus melebar sampai kelelahan membawanya pada mimpi. Bu Rina menghampiri dirinya, dia memberikan HP miliknya yang dia pinjam tadi malam. "Ibu sekarang percaya, tapi ada kesalahan tentang pemahaman yang menjadikan semua terbelok dari pengertian yang sesungguhnya. Naziya menerima dan membaca teks pesan itu. "Ka Nadila yang mengirim pesan pertama kah?" Bu Rina membalas dengan satu kata."mungkin, buktinya ada pesan dihapus. Mintalah penjelasan mamahmu yang sebenarnya, sayang. Atau nggak lalukan tes DNA untuk meyakinkan agar lebih jelas." Lanjut. "Oh iya,kabar Hafidz bagaimana?" Naziya tidak langsung mengatakan apapun, dia malah memberikan kembali HP-nya terhadap Bu Rina.
Hafidz gila😩:"Ziya lu di mana? Gue udah pegel nunggu dari satu jam yang lalu. Katanya deal😴
Hafidz gila😩: Etdah lu beneran gak dateng, udah basah kuyup sendirian dan lu. Ahsudahlah, batalin saja perjanjiannya. Udah magrib, kalau mau temuin gue. Di mesjid dekat taman itu.
"Boleh ibu laporin ke Pak Hartono kah? Ibu jawab ya, tapi perjanjian apa yang kalian maksud?" Bu Rina bertanya sambil mendaratkan bokongnya di kursi. "Terserah ibu, oh itu. Dia ingin pindah sekolah, ingin satu sekolah dengan aku." Naziya membalas perkataan Bu Rina masih memainkan rambut Ayesha. "Selanjutnya," Naziya memandang Bu Rina. "Aku setuju aja sih," Naziya bangkit dia membereskan barang-barangnya. "Oh iya bu, Naziya mau pamit dulu. Makasih untuk semuany."Ketika akan mengecup tangan Bu Rina, dia membawa Naziya terduduk kembali. "Nanti sedikit siangan pulangnya, boleh ibu bercerita dulu" Bu Rina tersenyum penuh arti. Naziya mengangguk, lantas dia menyampingkan barang-barang nya kembali. "Dulu sebelum ibu menikah, ibu sama seperti kamu pernah menjadi remaja. Satu hal yang tidak kamu tahu, ibu adalah seorang anak yang dibuang diberikan bagaikan hewan tidak bernilai, Sampai sekarang pun ibu tidak tahu di mana orang tua yang telah menyebabkan ibu berada di dunia. Ibu mengetahuinya setelah ibu berusia 17 tahun, ketika ibu merengek ingin melanjutkan kuliah. Umi melarang, ibu sampai marah kepadanya mengurung diri di kamar beberapa hari tidak keluar. Bukan masalah biaya, ataupun lainnya. Saat purnama tiba, umi masuk ke kamar ibu. Dia menangis, meminta maaf. Hati ibu merasa teraduk malam itu, umi melarang ibu kuliah karena tidak ingin ibu pergi jauh darinya terlalu takut kehilangan ibu katanya, tapi dia menyadari dia egois katanya. Ibu sudah besar, tidak selamanya umi bisa memenuhi kebutuhan ibu, mendidik ibu. Kaget dan tidak tahu harus berbuat apa, ibu hanya bisa memberikan selembar kertas beasiswa perguruan tinggi yang diberikan kepada ibu. Umi memperbolehkan, dia hanya bisa memberikan ibu sebuah liontin untuk menjadi petunjuk mencari keberadaan keluarga ibu. Ibu tidak ambil pusing, tapi ibu membawa liontinnya tapi sampai sekarang ibu tidak mencarinya. Umi bagi ibu sudah cukup, dia mendidik ibu, menyayangi ibu. Katanya umi menemukan ibu di semak-semak setengah akan mati, benci iya ibu benci. Marah iya ibu marah, tapi buat apa? Sebab pada akhirnya itu malah mengukung hati ibu dalam perasaan dendam, sebelum berangkat meninggalkan umi, dia berpesan. Jangan pernah membenci ibumu walau dia telah membuangmu jauh, dia tetap malaikat yang telah bertarung menaruh kan nyawa untuk aku hidup. Mungkin bisa saja kamu dibuang bukan oleh dirinya, tapi ada orang yang jelas pemilik alam mengijinkannya sehingga kamu bersama umi. Tidak masalah jika kamu tidak ingin mencari mereka, asal jangan pernah merasa terluka. Skenario-Nya akan selalu berakhir indah, sayang. Carilah ilmu dengan kejujuran jangan selalu menebarkan kebencian, seolah-olah kamu paling terluka. Renungi, makanya mengapa ibu ambil jurusan psikologi berakhir guru BK kamu. Ibu saat menjalani masa bangku kuliah sambil mondok tahun pertama menyenangkan bahkan bodo amat perihal umi bukan ibu kandungku, aku orang terbuang. Peduli apa gitu, paling terberat semester akhir ketika umi meninggal dan aku belum sempat bertemu lagi, ibu belum pandai mencari uang. Itu fase di mana ibu sangat jatuh-jatuhnya, untung jurusan psikologi jadi bisa mengatur depresi. Wkwkwk, sampai ibu mau memutuskan berhenti, tapi nenek angkat ibu melarang dia ingin menunaikan pesan terakhir umi meluluskan aku kuliah, biaya kan beasiswa cuman untuk masalah pondok dan biaya hidup lainnya. Ibu menolak mentah-mentah, ibu tidak mau. Nenek tetap ingin, ibu mengambil jalan tengah iya tidak akan berhenti kuliah sampai lulus tapi biarkan ibu berjuang sendiri. Nenek merelakan ibu, dari toko satu ke toko lain ibu mencari kerja. Tapi tidak dapat, ibu mengalah mengadu pada Nenek. Ibu dipercaya membantu usaha butik umi, dan pondok ibu pulang-pergi. Tidak disangka, itu membentuk mental ibu. Jalaludin Rumi pernah berkata, luka adalah proses menuju cahaya. Kata-kata pegangan ibu sampai har ini." Bu Rina bercerita dengan tangisan, tawa dan bercanda. Naziya kaget mendengar cerita Bu Rina, "Cuman bedanya mungkin. Ibu lebih beruntung karena dirawat umi yang berkecukupan harta ilmu dan kesabaran. Sedangkan kamu, mungkin hanya harta saja." Tambah Bu Rina, Naziya menanggepi pernyataan Bu Rina. "Iya, tapi kadang aku selalu tidak mau, akhirnya nyiksa diri. Heee" Jawabnya.
Fathan terbangun, matanya melirik-lirik kanan kiri, tiba-tiba dia tersenyum."Ko dedek bangunnya gak nangis ya, bu" Bu Rina menyeka air mata yang tadi mengalir mengenang kesulitan hidupnya. "Dia seneng ada uminya dan kamu, tuh matanya aja melirik-lirik."
***
***
"Tingggg… " Suara bel
"Permisi," Nazwa dari tadi ngoceh kesal. "Kakak lama pulang ahh ayo"
"Kakak emang teteh ke mana?"
"Ka, ihhh kenapa gak bawa mobil sendiri ihh, sumpeg di angkot mah."
"Yeyy, akhirnya sampai juga." Nadila menggelengkan kepala. "Indah ya ka, interiornya." Nadila menutup mulut Nazwa. "Diem gak sopan, dari jalan kamu ngoceh mulu," Pemilik rumah ke luar, yang tak lain Bu Rina. Ayesha yang ikutan keluar. "Lahh ko kakak ini mirip teteh," Tunjuk Ayesha kepada Nazwa. Hati Nadila lega, setidaknya berarti benar Naziya ada di sini. "Maaf bu, sebelumnya saya mengganggu. Dengan guru BK Naziya kan? Ibu tau Naziya ada di mana, saya kakaknya dia tidak pulang." Nadila bersalaman dia bertanya langsung. "Mending masuk dulu saja yuk," Nadila menolak. "Ahh enggak, apa ibu tau Naziya di mana?" Pura-pura Nadila tidak tahu. "Ahh sayang ka, Naziya sekitar 30 menita yang lalu udah pulang." Bu Rina tidak berbohong."Ahhh teteh ini gak asyik, pada jutek gak kayak teteh." Ayesha memberengut dia." Kakak," Pelotot Bu Rina, Ayesha masuk rumah. "Ya udah gak apa-apa bu, beneran dia pulang," Nadila merasa belum yakin. "InsyaAlloh." Bu Rina