Self Healing

Self Healing
Bab 9 Separuh waktu di sepertiga masalah



 


Waktu hanya terbatas pada tiga masa, saat lalu yang telah pergi, sekarang yang dijalani, dan hari esok yang masih menjadi misteri. 


 


***


"Ka… Sakit! Lepasin ka." suaranya sudah hampir tidak terdengar.


"Ini hukuman bagi orang yang telah membuat kekacauan!"


Saat itu, tiba-tiba semua terasa gelap. Hanya terdengar seseorang memanggil namanya dengan menjerit. 


"Naziyaa…" 


"Nadila, kamu apakan adikmu? Haa?" sentaknya kasar. 


"Kenapa Mamah balik nanya aku? Bukankah dia yang telah membuat ayah pergi, dan dia yang selalu membuat mamah berada dalam masalah!"


"Kamu gak tahu apa-apa. Jangan sok tahu perihal apapun, mamah gak ngajarin kamu buat jadi orang jahat. Nadila" Kini nada ucapannya mulai rendah. 


"Lalu?... Dia selalu mendapatkan semua yang dia mau, tapi aku apa. Mah? Dia selalu paling disayang ayah, lalu aku hanya figuran kah?" teriaknya dengan air mata yang sudah merembas di pipinya. 


"Bi, tolong bawa Naziya ke kamar, obatin dia." 


"Dengar sayang, kamu sudah dewasa tidak usah ditawarin apalagi iri dengan yang kecil. Ayah pasti sedih lihat kamu, dia sayang ko sama kamu. Ayolah bantu mamah, jangan tambah mamah bingung dengan semuanya." Tukasnya 


"Dia ngerusakin, barang aku. Ini figura Nadila jadi gini gara-gara dia." Adunya dengan memperlihatkan figura itu dengan tangisnya yang sudah mulai reda. 


"Kan bisa masih bisa diganti, tidak perlu menjambak rambut adik kamu sampai dia pingsan. Bukankah kamu tahu? Dia punya kelemahan dalam kepalanya.'' Sindirnya. 


"Itu kan yang mecahin adek ka, bukan teteh." Seseorang menimpali dengan kekhasannya seperti orang bangun tidur. 


 Mayassah menggelengkan kepala. Nadila membelakkan matanya tidak percaya.


"Sudah jangan diperpanjang, adek! Kamu sebagai gantinya beresin dan besok mamah ganti dengan yang baru." 


"Nya-- Non, Ziya bergumam sakit terus dan perlahan suhunya mulai panas." Bi Inah tergepoh lari dengan perasaan khawatir yang tercetak jelas di raut wajahnya. 


"Bibi mau bawa ke dokter atau saya yang panggilkan dokternya?" Mayassah malah balik bertanya.


 Bi Inah mendapat respon seperti itu sudah tidak aneh lagi, hatinya sedikit merasa iba melihat keadaan Naziya, tapi kini dia merasa bingung, pasalnya keadaan Naziya benar sedang tidak baik-baik saja. 


"Terserah nyonya saja." akhirnya jawaban itu yang dapat Bi Inah ucapkan. 


"Ya udah jangan dibawa ataupun dipanggilkan dokter, nanti juga sembuh sendiri. Dia dari kecil emang seperti itu."


"Tapi, Nya!" 


"Gak ada tapi-tapian. Bukankah terserah saya." 


  Nadila bungkam, dia melihat perilaku ibunya saat itu juga. Ada perasaan menyesal dan tak tega telah membuat Naziya terkapar. Segera dia bergegas pergi, melihat keadaan Naziya. 


  Dilihatnya Naziya sedang terbaring dengan mata tertutup. Dekat semakin mendekat, terlihat sudut matanya terus mengeluarkan air mata dan seluruh tubuhnya yang berkeringat serta panas setelah Nadila menempelkan tangannya di kening Naziya. Nadila menjauh, dia merasa ada kejanggalan dalam hati, dia tidak menindas adiknya begitu kejam sampai dia harus terbaring lemas, tapi dari kepala dan bantalnya yang berwarna merah. 


  "Mamah… " teriaknya 


"Ada apa la--..." jawab Mayassah menghampiri dengan berlari kecil. 


"Keluar kamu, Nadila! Tutup pintunya!" Mayassah berkata kasar, dia membentak Nadila. 


 Nadila yang mendapat sentakan Mayassah mau tidak mau dia menangis lagi, dia benar-benar heran dengan sikap ibunya. 


"Mah ada apa? Adek berdarah kepalanya tapi mamah malah…''


"Cukup Nadila, kamu keluar!" teriaknya lagi. 


"Gak--"


"Nadila kamu sayang mamah sama adek kan?" potong Mayassah. 


  Nadila mengalah, dia menutup pintu dan setelahnya tidak tahu apa yang terjadi. Sejak hari itu, kebekuan antara dia dan Naziya serta sikap Ibunya sudah tidak bisa dielak lagi. Dan penikmat dalam dia atas semua cerita itu, Nazwa. 


"Dokter, hallo… " Nadila mendengarkan dibalik pintu. Tidak lama pintu kamar Naziya terbuka, Mayassah membopongnya dan tidak tahu dibawa ke mana. Nadila ingat, mamahnya berkata. "Maafin mamah sayang, mamah terlalu takut melukaimu. Sekarang mamah bingung." 


"Taukah kau? Kantor sedang berada dalam masalah, mamah merasa kewalahan untuk mengendalikannya. Semua ini sebab kelalaian mamah, yang terlalu fokus mencari bundamu. Mamah melukai kalian. Maafin mamah, tolong bangun jangan tingggalin mamah. " Naziya mengerang kesakitan.


 


"Aww sakitttt-- " masih dengan mata tertutup.


"Dokter," teriak Mayassah. Orang yang memakai jas putih berlarian sekitar dua orang segera menemui mereka. Sepanjang Naziya ditangani Mayassah sendiri mondar-mandir di depan ruangan. Tangisannya belum mengering.


"Mas maaf, aku gagal merawat Naziya, dan aku pun belum menemukan Shakila, meski waktu telah berjalan hampir 5 tahun lebih, rasanya semuanya terasa sama. Gelap dan masih menyakitkan, mas, " lirihnya dan dia terduduk. Teringat akan Haris, dia beberapa kali menelponnya gagal. Tidak ada cara lain selain, mengirimkan pesan lewat email yang sempat diberikan setelah dua tahun kebelakang dia berhasil menemukan jejaknya yang hilang. 


 


To : Haris 


    "Haris apa kabar kamu di sana? Ini tante. Naziya kepalanya berdarah. Tante merasa gagal, kamu bisa bantu."


 


terkirim tapi sampai Naziya siuman pun tidak pernah ada jawaban.


"Ini tidak apa-apa, keajaiban. Saraf ingatannya kemungkinan besar akan bisa kembali mengingat setelah sembuh total."


Dokter keluar dengan senyuman. Dua hari berada di rumah sakit, menengani semuanya sendiri. Mendengar kabar itu, Mayassah terlonjak senang.


 


 


"Mamah," sapa Nadila dan Najwa beserta Bi Inah yang berada di sana.


 


"Kenapa mamah gak bilang-bilang?" Nadila tertunduk.


 


Dokter permisi keluar, Mayassah tidak berani menatap Nadila dan Najwa matanya terus menatap Naziya.


"Nyonya saya bawakan baju ganti dan makanan," Bi Inah menyodorkan barang.


"Aa-yahh… " Naziya membuka mata, air matanya keluar.


"Ayah barusan datang, Naziya pengen ikut dengan ayah tapi dia melarang. Ayah meninggalkan Naziya sendirian. Dia berkata mamah nunggu Naziya," ucapnya terbata-bata. Mayassah mendengar itu langsung merengkuh tubuhnya.


 


"Iya sayang, mamah menunggu kamu. Kakak Nadila juga datang ini." tunjuknya sambil membawa Nadila mendekat. Barang yang disodorkan Bi Inah sampai jatuh. Naziya memandang semuanya, dia tersenyum tipis. 


***


   Langit mendung yang akan hujan tapi tiba-tiba cerah kembali, saat itulah ketika Naziya kira gelap selepas guyuran hujan akan hilang ternyata datang malam yang lebih pekat. Dua hal kemungkinan yang diprediksi oleh manusia yang berlainan. Dia kembali ke rumah, senyum Naziya merekah terus mendapat genggaman dari Mayassah.


"Mah nanti kita ke kebun binatang ya," pintanya. Nadila acuh dan Najwa hanya diam.


 


"Mamah gak bisa, sama Bibi aja ya?" Naziya melepaskan genggaman itu. Dia berlari sendiri ke kamarnya, satu hari penuh mengurung diri.


Mayassah tidak bisa mengalahkan hatinya, terus saja banyak prasangka yang membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan dia.


"Na--" ucapnya lemah. Nadila turun menuntun Najwa, Bi inah membereskan barang-barang yang berada di bagasi.


Dingin, sepi, sendiri sampai cahaya ilahi datang. Bi Inah mengajarinya tentang agama, yang selama ini terlupakan oleh Mayassah, sebab terhadap Nadila dan Najwa apapun dia selalu menomor satukan perihal tentang agama.


 


***


Hari pun berlalu, jam terus berdetik tanpa henti, waktu tidak pernah diam barang sekejap, semua tampak sama. Bagi Naziya, dirinya hanyalah benalu yang tidak tahu etika. Setelah kejadian tersebut, Naziya menjadi gadis yang sangat tidak bisa ditebak tentangnya, seakan tidak pernah ada apapun yang diinginkan dalam hidupnya, belajar mengikuti alur dan berusaha menjadi yang terbaik menurut dia sendiri tanpa berpikir harus apa, mengapa dan bagaimana hidup ini, serta luka ini.


 


Saat Naziya menginjak kelas VIII di sekolah menengah pertama, suatu ketika pernah tergoda untuk kabur setelah kemarahan mamahnya yang tidak jelas sampai hukuman tidak boleh keluar selama satu minggu, selain sekolah.


"Mau kemana kamu? Malam-malam," intrupsi Nadila menghentikan Naziya.


"Suka-suka akulah Kak, peduli apa kakak sama aku?" ejeknya.


Ketika Naziya akan membuka pintu, Nadila keburu menguncinya, ketika itu dia telah menginjak bangku SMA.


"Masuk kamar!" titahnya dingin.


Naziya mematung, saat Nadila memandangi dia, Naziya yang menggendong tas berukuran kecil.


 


"Mau kabur?" tanyanya.


Hati Naziya menclos begitu saja, ketika kata kabur didengar. Sudah jelas-jelas tidak tahu akan pergi ke mana lagi, tapi selama ini dia tidak bisa melawan, akhirnya hanya berbalik arah menuju kamarnya. Menangis dalam gulungan bantal. Nadila mengintip dibalik pintu hanya bersedih tanpa tahu sebabnya. Tidak ada lagi yang bisa mendengar kesedihan Naziya selain Bi Inah.


 


Sejak Bi Inah berhenti berkerja, hidupnya terlunta, sering membuat masalah. Bolos sekolah sudah menjadi hal biasa, ngerjain anak orang sampai orang tuanya melamporkan ke BK dia dipanggil. Pelarian untuk menarik perhatian, tapi tidak kunjung berhasil, Mayassah tidak tertarik. Apalagi akhir-akhir ini Mayassah suka pulang malam.


Nadila yang sudah remaja cukup dewasa, meski rasa tegang masih diberikan jarak oleh Naziya, sekarang lebih peduli rasa sayangnya sudah tumbuh sebagai kakak.


 


"Dek sampai kapan kamu bikin masalah terus sih," berjalan sambil beriringan Nadila membuka membuka percakapannya dengan bertanya.


 


Naziya tidak menjawab, diam mengacuhkan. Nadila paham, sampai diparkiran pertanyaannya tidak ada yang dijawab. Nadila memeluknya.


 


"Itu rasanya Kak, selalu diacuhkan dan tidak dianggap. Aku hanya ingin satu, yaitu mamah." Nadila menghela nafas.


 


Sepanjang perjalanan pulang masih didominasi kedinginan. Tiba-tiba Naziya teringat perkataan Bi Inah.


 


"Sayang bibi akan pulang kampung, kamu yang baik ya. Bibi percaya kamu bisa melewati semuanya, menghancurkan kebekuan setelah kejadian ayahmu meninggal, dan satu jangan pernah kau tinggalkan sholat serta ngajimu. Sang Pencipta selalu bersamamu, percaya itu. Jangan terus bikin masalah." dia tersenyum, dia tahu telah membuat kecewa tanpa disengaja.


"Adek rindu Bi Inah, ajarin adek ngaji Kak."


 


Awal yang baik dari separuh waktu di sepertiga masalah. Nadila mengangguk mantap.