
Setiap orang punya sikap kamuflasenya masing-masing, sebab dia tahu bagaimana caranya bersikap dalam situasi untuk lingkungan
***
"Udah kamu pulang! Ini udah malem, Ziya…"
"Tapi kamu gimana Hafidz," jawabnya masih lemah.
Keduanya diam, langit yang sudah menguning sejak tadi kini perlahan mulai gelap. Hari tampak lengah ternyata masih ada langit yang merasa iba. Terbukti dengan kesenduannya sebelum senja ada.
Taman yang sore tadi ramai kini hanya dijangkau oleh mata masing-masing dengan kesepian. Sakit kepala yang dirasakan Naziya sudah hilang, namun rasa lemas masih ada. Hafidz terus saja mencuri pandang, bagaimana caranya dia melawan. Sekarang ketakutan memang telah pergi, tapi dia masih bingung untuk menentukan arahnya. Apalagi melihat Naziya saat ini, rasa bersalah pun dia rasakan seorang diri.
"Tapi ntar orang tua… " Hafid menjawab dengan melontarkan permohanan di matanya dan tangannya yang memegang tangan Naziya yang masih basah keringat.
"Hafidzz…" lirihnya menatap sepasang mata elang milik Hafidz.
"Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu? Mengapa harus seperti ini." ucap Naziya menerawang, sendunya kini benar-benar terlihat. Tidak ada lagi tatapan dingin seorang Naziya, tidak ada lagi perkataan kasar yang identik dengannya, dan tidak ada lagi tatapan tajam untuk orang-orang. Kondisinya saat ini, seperti benar wanita. Wanita yang rapuh membutuhkan sandaran. Wanita yang lemah membutuhkan penopang.
Hafidz yang sejak tadi berpikir diam, kini hanya bisa menyunggingkan senyum terpaksanya mendengar perkataan Naziya dan dia tidak berniat membalas perkataanya lagi.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Benar atau tidaknya biarkan waktu yang menjawab. Sekarang jangan nolak. Ayo kamu pulang, aku antar." lerai Hafidz menyudahi perdebatan kecil itu, dengan perasaan yang berkecamuk dalam semua rasa yang hadir dalam hatinya, menyesal sebab telah membuat orang lain rapuh sama dengannya, s.enang sebab dia orang yang sama setelah beberapa tahun terpisah, dan menyakitkan mengetahui kenyataan tentang apa yang dilihatnya. Naziya lupa tentang semuanya, dan sekarang teringat tetapi malah membuat dirimu kesakitan.
"Aku akan sholat magrib sesudah mengantarkan kamu, lagian adzan belum berkumandang, masih beberapa menit lagi. Tidak ada penolakan!"
Hafidz bangkit dari tempat duduknya, dia membantu Naziya berdiri dan memapahnya untuk mencari angkutan.
***
"Kamu kemana, sayang? Jam segini belum pulang." monolognya gelisah dengan tatapan terus memandang ke arah jendela
"Sudahlah mah, duduk dulu aja. En
tar adek pasti pulang." ujar seseorang dengan keadaan yang sama, cemas dan khawatir, meski dia masih bisa mengendalikannya.
"Mah, Kak. Itu si teteh kasih pelajaran aja. Udah bikin snewer orang rumah."
"Adek diem kamu!"
"Tapi…"
"Udah kalian jangan pada ribut, mamah pusing. Kalian sana duluan ambil air wudhu dulu aja."
"Iya, iya oke dehhh…"
Melihat kepergian anak-anaknya matanya meredup, dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Orang itu bernama Mayassah, seorang wanita paru baya yang terlihat muda di usianya. Seperti belum mempunyai anak lebih dari satu.
Ukiran wajahnya memiliki tampang jutek. Siapa saja orang yang pertama kali melihatnya akan beranggapan dia menyebalkan. Yah, memang itu fakta.
Mayassah melihat lagi ke luar melalui celah jendela, sekarang terlihat dua anak muda berjalan ke arahnya. Dugaanya tidak salah lagi, itu pasti Naziya. Mayassah segera membuka pintu, memangku tangannya di dada. Sorot matanya memperlihatkan kekecewaan, dan amarahnya yang diangkuhkan melalui sikapnya.
"Assalamu'alaikum, mah." Naziya mengucapkan salam sembari menyalami tangan Mayassah tapi Mayassah tepis.
"Tidak usah salaman, sana pergi segera bersih-bersih," tukasnya dan tidak mengeluarkan perkataan lagi dia segera masuk ke dalam rumah.
Naziya menggigit bibir bawahnya, tubuhnya sedikit bergetar. Dia takut untuk masuk ke rumah, dan tidak enak hati dengan sikap ibunya di hadapan Hafidz.
Hafidz tidak memberi banyak komentar.
"Masuklah, maaf untuk semuanya." Padahal Hafidz tidak tahu apa yang dia ucapkan, perihal kata maaf yang belum pasti tentang apa-apa yang telah terjadi saat ini, kemarin ataupun lalu di masa depan.
"Haaa..." Naziya menghela nafas, lalu dia pun pergi karena belum katanya sempurna terucap Hafidz sudah berbalik, berjalan pergi meninggalkannya.
"Tap--tap…" langkah Naziya terhenti ketika mata sang adik menatapnya tajam.
"Teteh dari mana? Udah ditungguin mamah sama kakak. Sana jadi imam." Ucapnya yang ketus menghadang.
"Tapi dek…"
"Adek buruan, udah jangan ajak yang gak mau. entar waktunya keburu habis." teriakan itu berhasil membuat Naziya membalikkan badan. Melirik Ibunya yang sedikit berteriak dari ruangan khusus sholat yang berada di pinggir ruang utama dan berdekatan dengan ruang makan. Sakit? Tentu, seakan dia bukan bagiannya. Padahal jawaban tapi yang akan dia lontarkan belum tentu menolak. Tidak ingin berlama beridiri di sana, lantas Naziya pun sedikit berlari menuju kamarnya. Hari ini begitu melelahkan, bukan hanya fisiknya saja tapi hatinya dibuat kacau. Dia pikir ibunya akan marah, sikapnya tadi yang dia berikan. Tapi nyatanya? Sama aja. Seperti angin, ada lalu berlalu tidak terasa.
Mayassah melihat itu, hatinya sedikit tergores tapi mengingat goresan lama yang sampai saat ini membuatnya terjebak cukup untuk berpikir ulang memperlihatkan sifat aslinya.
"Mah…" tegur Nadila. Anak pertama Mayassah, kakaknya Naziya. Orang yang tadi sedikit ribut dengan Najwa, adiknya Naziya.
"Ehh Kak, ya udah ayok… Si adek." liriknya
"Ini mah... " dia mengacungkan jempol.
Nadila selalu menyimpan tanya, dengan sikap ibunya yang berlainan untuk Naziya tapi dia tidak berani bertanya langsung terlalu takut membuatnya murung lagi, seperti satu tahun kebelakang setelah pertengkaran kecil antara dia dan Naziya.
Berbeda dengan Naziya, dia telah menjatuhkan tubuhnya di atas hamparan sajadah. Sujudnya lama, terdengar isakan tangis yang tersendat.
Dentingan jam terus terdengar berputar sampai Naziya telah seselai. Jam itu menunjukkn pukul 20.00 WIB, dari luar tidak ada sapaan lagi, tidak ada pertanyaan mengapa terlambat bahkan sekedar mengingatkan untuk makan sudah atau belumnya. Naziya menutup mata, coba menetralkan rasa sakit yang kini dia rasa.
"Selalu seperti ini, seakan menjadi orang asing yang singgah untuk sementara. Aku tidak pernah paham dengan sikap mamah. Lantas sekarang aku kepada siapa mencari dekapan kasih sayang. Ayah aku rindu, kenapa aku tidak pergi bersamamu saja. Aku tidak ingin berada di sini.
Satu lagi, Hafidz dia akan pergi ke mana. Dia akan tidur di mana. Uhhhhh…" lirihnya.
Nadila melihat nanar ke arah pintu kamar mereka. Pintu kamar ibunya, ataupun adiknya. Terlalu gengsi untuk sekedar bertanya atau bertegur sapa, nyatanya Nadila memang tidak berani lagi untuk mendekati Naziya. Dalam hatinya memang tidak bisa terbohongi, perasaan sayang sebagai kakak masih ada.
"Mah sebenarnya apa yang mamah sembunyiin dari aku, sebegitu tidak percaya kah kepadaku? Dek, kakak sayang sama kamu, tapi kakak terlalu takut untuk memulai." racaunya dalam hati
"Kak… Sakit! Lepasin Kak."
suaranya sudah hampir tidak terdengar.
"Ini hukuman bagi orang yang telah membuat kekacauan!''
Saat itu, tiba-tiba semua terasa gelap. Hanya terdengar seseorang memanggil namanya dengan menjerit.
"Naziyaa…"
"Nadila, kamu apakan adikmu? Haa?" sentaknya kasar.
"Kenapa Mamah balik nanya aku? Bukankah dia yang telah membuat ayah pergi, dan dia yang selalu membuat mamah berada dalam masalah!"
"Kamu gak tahu apa-apa. Jangan sok tahu perihal apapun, mamah gak ngajarin kamu buat jadi orang jahat. Nadila." kini nada ucapannya mulai rendah.
"*Lalu apakah aku ini mah? Figuran atau benda mati, oh atau hanya sampah yang kebetulan tidak jadi dibuang, sudah mah! Nadila selama ini selalu ngalah untuk Naziya tapi sikap mamah membuat Nadila bingung, jika jahat membuat Nadila berada dalam kesahalan lalu terus apa bedanya dengan mamah yang selalu keras terhadap Naziya, malahan mamah selalu... "
"Cukup, cukup Nadila! Tidak usah diteruskan, kamu bukan anak kecil lagi*!"
"Dengar sayang, kamu sudah dewasa tidak usah ditawarin apalagi iri dengan yang kecil. Ayah pasti sedih lihat kamu, dia sayang ko sama kamu. Ayolah bantu mamah, jangan tambah mamah bingung dengan semuanya." tukasnya
"Dia ngerusakin, barang aku. Ini figura Nadila jadi gini gara-gara dia," adunya dengan memperlihatkan figura itu dengan tangisnya yang sudah mulai reda.
"Kan bisa masih bisa diganti, tidak perlu menjambak rambut adik kamu sampai dia pingsan. Bukankah kamu tahu? Dia punya kelemahan dalam kepalanya,'' sindirnya.
"Itu kan yang mecahin adek Kak, bukan teteh." tiba-tiba Najwa berucap dengan suara kekhasannya seperti orang bangun tidur.
Mayassah menggelengkan kepala. Nadila membelakkan matanya tidak percaya.
"Sudah jangan diperpanjang, adek! Kamu sebagai gantinya beresin dan besok mamah ganti dengan yang baru."
"Nya... Non, Ziya bergumam sakit terus dan perlahan suhunya mulai panas." Bi Inah tergepoh lari dengan perasaan khawatir yang tercetak jelas di raut wajahnya.
"Bibi mau bawa ke dokter atau saya yang panggilkan dokternya?" Mayassah malah balik bertanya.
Bi Inah mendapat respon seperti itu sudah tidak aneh lagi, hatinya sedikit merasa iba melihat keadaan Naziya. Tapi kini dia merasa bingung, pasalnya keadaan Naziya benar sedang tidak baik-baik saja.
"Terserah nyonya saja." akhirnya jawaban itu yang dapat Bi Inah ucapkan.
"Ya udah jangan dibawa ataupun dipanggilkan dokter, nanti juga sembuh sendiri. Dia dari kecil emang seperti itu."
"Tapi, Nya!"
"Gak ada tapi-tapian. Bukankah terserah saya?"
Nadila bungkam, dia melihat perilaku ibunya saat itu juga. Ada perasaan menyesal dan tak tega telah membuat Naziya terkapar. Segera dia bergegas pergi, melihat keadaan Naziya.
Dilihatnya Naziya sedang terbaring dengan mata tertutup. Dekat semakin mendekat, terlihat sudut matanya terus mengeluarkan air mata dan seluruh tubuhnya yang berkeringat serta panas setelah Nadila menempelkan tangannya di kening Naziya. Nadila menjauh, dia merasa ada kejanggalan dalam hati, dia tidak menindas adiknya begitu kejam sampai dia harus terbaring lemas, tapi dari kepala dan bantalnya yang berwarna merah.
"Mamah… " teriaknya
"Ada apa la--..." jawab Mayassah menghampiri dengan berlari kecil.
"Keluar kamu, Nadila! Tutup pintunya!" Mayassah berkata kasar, dia membentak Nadila.
Nadila yang mendapat sentakan Mayassah mau tidak mau dia menangis lagi, dia benar-benar heran dengan sikap ibunya.
"Mah ada apa? Adek berdarah kepalanya tapi mamah malah…''
"Cukup Nadila, kamu keluar!" teriaknya lagi.
"Ga--k"
"Nadila kamu sayang mamah sama adek kan?" potong Mayassah.
Nadila mengalah, dia menutup pintu dan setelahnya tidak tahu apa yang terjadi. Sejak hari itu, kebekuan anatara dia dan Naziya serta sikap Ibunya sudah tidak bisa dielak lagi, dan penikmat dalam diam atas semuanya, Najwa rasakan.
"Dorr… "
"Kakak lagi ngapain sih? Lihatin kamar teteh sama mamah seperti itu, tapi tunggu deh." Najwa membalikkan badan Nadila ke arahnya.
"Kakak nangis yaaa…" tuduhnya
Nadila membekap mulut Najwa. Dia berujar "Kalau ngomong itu jangan pake toa, Dek. Berisik tahu! Kira-kira mamah sama teteh udah makan belum ya?"
"Eemmmm…" Najwa menepuk tangan Nadila yang digunakam untuk membekapnya. "Ehpasin."
"Eehh lupa." Nadila melepaskannya
"Pengap tahu Kak, yaa mana adek tahu, sono kakak aja samperin. Adek takut ihh." cicitnya
"Dek, takut kenapa sii? Tinggal kasih makanan apa susahnya."
"Kalau apa susahnya kenapa kakak nyuruh adek." alis Najwa mengangkat.
"Dek!"
"Kak, ayolah. Adek takut, kakak masih ingatkan."
Nadila tidak bisa berkata apa-apa lagi, dirinya, Naziya dan Najwa memang usianya tidak jauh. Dia mengerti, bahwa Najwa pun telah paham apa yang terjadi saat itu. Untuk kesekian kali, semuanya terhalang oleh ego dan sinar kasih sayang tidak pernah sampai.