Self Healing

Self Healing
Episode 42 LDR



Aku pun membaca sepintas jadwal kuliah yang akan Tyo jalani di tahun depan.


"Jum'at siang sampai sore, Sabtu pagi sampai sore. Hmmm berarti Jum'at pagi terbang ke Jakarta trus balik Batam, Ahad sore atau malam?"


"Yaa lihat sikon, bisa sore, bisa juga malam. Mas nanti mau booking tiket langganan, siapa tahu bisa lebih murah," jawab Tyo.


"Coba aja cek di travel fair, siapa tahu dapat diskon," usulku.


Kami pun memulai persiapan untuk kepindahanku bersama anak-anak selama dua tahun ke depan. Menyiapkan dana untuk sekolah Icha dan juga ayahnya. Memang Tyo mendapatkan beasiswa dari rumah sakit, tetapi tidak termasuk urusan transportasi, sedangkan biaya tiket pesawat di akhir pekan, yang merupakan saat-saat terjadinya lonjakan penumpang, dapat mengalami kenaikan hingga 200%.


Di akhir tahun, kami berlibur ke Jakarta sekaligus mencari TK untuk Icha. Saat itu, bapak telah memasuki masa pensiun dan memilih untuk pindah dari Kelapa Gading ke Pondok Gede, Bekasi. Di sanalah aku mendaftarkan Icha ke sebuah TKIT yang berjarak sekitar 3 km, dari rumah orang tuaku.


Pertengahan tahun itulah, kami memulai kehidupan LDR selama 2 tahun. Hari Senin sampai Kamis, Tyo berasa di Batam dan bekerja seperti biasa. Lalu di Jum'at pagi, ia akan terbang ke Jakarta dan langsung menuju kampusnya di Salemba, kemudian ia akan tiba di rumah pada Jum'at malam setelah mengikuti kelas S2-nya.


"Bu, ayah dataaaang!" teriak kedua putriku yang telah menunggu kedatangan ayahnya sejak selesai makan malam.


Mereka kemudian saling berebut untuk memeluk Tyo.


"Nggak usah berebut, sini ayah peluk semuanya," ucap Tyo sambil melebarkan kedua tangannya untuk memeluk Icha dan Ara.


"Kangen ayah, nggak?"


"Kangen lah, Yah!" jawab kompak Icha dan Ara.


"Baru nggak ketemu seminggu, kok sambutannya seperti nggak ketemu setahun aja?" goda Tyo sambil mencubit pipi Icha dan Ara.


"Kan kangen ayah. Eh ayah bawa apa?" tanya Ara dengan lugunya yang membuatku dan Tyo tertawa.


"Ternyata ada modus dibalik penyambutan," ucapku menyahuti Ara.


"Ini ada roti O," jawab Tyo sambil menunjukkan kantong kertas yang berisi roti dengan toping karamel beraroma kopi itu.


"Mauuu!" teriak kedua putriku.


Tak lama, keduanya pun duduk tenang sambil menikmati roti favoritnya.


"Hmmm, gimana Yang, capek yaa?" tanya Tyo sambil memelukku.


"Nggak, lagian aku ngapain kok capek?"


"Capek nungguin Mas."


"Ish GR, emangnya aku nungguin?"


"Oh nggak nungguin ya. Yowes Mas pulang ke Rawamangun aja deh."


"Nah, itu Sayang tahu, makanya ngambek lah ke Mas. Coba sudah berapa tahun kita nikah, belum pernah Mas diambekin Sayang," sahut Tyo yang membuatku tertawa.


"Aku bukan tipe ngambekan kok disuruh ngambek? Ntar bingung kalau aku ngambek, yakin mau lihat aku ngambek?"


"Ya iyalah, kan pingin ada cerita tiba-tiba diambekin istri, kek cerita orang-orang."


"Ooo kek gitu, yang tiba-tiba suaminya dikunciin di luar rumah atau kamar, gitu? Atau yang nggak dimasakin trus dicuekin all day, mau yang mana?" tantangku.


"Ih kok serem amat ngambeknya?"


"Mengerjakan sesuatu itu jangan setengah-setengah, harus berdedikasi dengan penjiwaan yang tak tertandingi!"


"Merdeka! Dan Sayangku kambuh," sahut Tyo.


"Eh ini gimana? Suaminya datang bukannya disuguhi minuman trus diajak makan, kok malah ngobrol," tegur ibu yang baru keluar dari kamarnya.


"Eh ibu nun sewu. Assalamu'alaikum," sapa Tyo sambil menyalami ibu.


"Wa'alaikumsalam. Sudah malam, langsung makan aja, sekalian sama Lina, dia juga belum makan, tadi katanya nungguin kamu."


Tyo pun mendelik ke arahku seolah berkata, "Ini sudah malam, kok belum makan?"


"Sudah yuk, kita makan. Nggak usah pakai drama melotot-melotot. Aku makannya nungguin Mas datang, biar bisa makan bareng, daripada cuma ngeliatin," ucapku sambil menggandeng tangannya menuju ruang makan.


Setelah makan malam, kedua putriku saling berebut untuk bercerita kepada ayahnya. Tyo pun meladeni nya dengan sabar dan penuh senyuman.


Ia pun membantuku menidurkan anak-anak, sekaligus melepas kerinduan antara ayah dan putrinya. Pemandangan seperti ini membuatku trenyuh dan berharap hubungan antara anak-anak dan Tyo akan selalu harmonis.


Keesokan paginya, Tyo akan mengantarkan aku dan anak-anak ke rumah orangtuanya di Rawamangun sebelum ia menuju kampusnya di kawasan Salemba. Jadwal akhir pekan seperti ini harus kami lalui dalam dua tahun ke depan.


Di pertengahan tahun berikutnya, Tyo mendapatkan bonus wisata ke Hong Kong bersama dengan rekan-rekan dokter lainnya, ia pun mengajakku turut serta.


"Yang, Mas di ajak ke Hongkong sama ke Makau, ke Disneyland juga. Sayang ikut ya?"


"Ikut, memangnya biayanya berapa, trus berapa hari?"


"5 hari, dari tanggal 7 sampai 11 Mei, pas tanggal pernikahan kita. Nggak usah ngebahas biaya, in syaa Allah ada kok. Sayang pokoknya ikut, kita jalan-jalan bareng, anggap aja honeymoon yang tertunda," jawab Tyo.


"Tertunda berapa tahun, tuh? Hmm 6 tahun, ... gedubrak deh Mas."


"Ya, nggak papa, daripada bayar sendiri semua. Tenang, Sayang nggak bayar full kok, ada diskonnya. Ikut yaa, kan paspornya masih polos tuh, belum ada cap-nya," bujuk Tyo agar aku menyetujui ajakannya.