
Orang-orang tidak akan pernah bisa menebak skenario Tuhan, sebab selalu ada hal indah dan kejutan tak terduga, dan prasangka hanya akan membuat orang merasa resah.
***
Sakit hati paling menyakitkan itu ketika kita tidak paham dengan lukanya, saat mulut dan sikap telah berkata bahwa saya menerima dengan ikhlas dan telah menyerahkan semua sesuai kuasa Tuhan, yang ada omong kosong belaka. Buktinya masih ada tangisan yang tiba-tiba datang dan sesak yang terasa tanpa diduga. Naziya memandang sorot mata Hartono yang penuh harap, ada kilasan kasih sayang yang tulus.
"Saya akan membantu, tapi
tolong berikan waktu untuk semuanya, " ujar Naziya
Firman tidak mendengus dia sekarang mengulum senyuman. Hartono membisikkan sesuatu, Naziya tertegun seketika air matanya jatuh yang sejak tadi dia tahan.
"Naziya ibu keluar dulu ya, kalau begitu." Ucap Bu Rina akan pergi.
"Tunggu bu, saya boleh masuk kelas lagi kan? Saya sudah baikan." dengan tergagap Naziya berkata meminta ijin dengan keadaan Hartono dan Firman yang masih di sana.
"Baiklah," Bu Rina mengalah.
Hartono berpamitan.
"Terimakasih nak, om pergi dulu. Maaf sebelumnya."
Mereka bertiga meninggalkan ruang UKS. Naziya menangis sambil memberesakan barang-barangnya dan dia beranjak pergi mengikuti keluar untuk meninggalkan ruangan itu.
***
Hujan masih mengguyur kota Bandung siang ini, angin sekilas lewat menambah gemuruh yang semakin takut untuk didengar. Hartono dan Firman telah berlalu, Naziya yang tengah berjalan untuk ke kelas, ke dua kalinya bertemu Nura. Sekarang Naziya yang tidak sengaja menabraknya.
"Ehh maaf," coleteh Naziya. Saat itu Nura yang berjalan menunduk karena kebiasaannya pun mendongkak.
"Ehh iya gak apa-apa, kamu itu orang yang kemarin kan? Dan orang yang dipangku Rivaldi tadi." Sedikit mengulum senyum dan Nura mengulurkan tangannya.
"Salam kenal, aku Nura. Anak baru, kelas 11 IPA." Naziya mendapat perlakuan seperti itu merasa risih, pasalnya ini pertama kali ada orang yang mengajak kenalan. Terkenal dengan sebutan cewek sombong, banyak masalah, masuk-keluar BK, jahil dan pernah dapat juara di kelasnya salah satu sebab yang menyebabkan semua itu terjadi.
"Santai aja, " Naziya berlalu tanpa menyalami uluran tangan itu. Nura tidak kaget ataupun tidak enak hati, hujan di tengah lapangan sudah cukup membuatnya menjadikan dia tersenyum dan perihal hidup yang terus disambangi permasalahan. Sepanjang koridor Naziya berjalan dengan kepala yang dipenuhi pertanyaan.
Hahahha…
Naziya mendengar kelas gaduh, enggan untuk masuk. Dia malah duduk di bata pinggiran pintu. Sekelebat bayangan tentang kehidupan yang dijalani selama hampir 17 tahun terlintas, memandangi hujan yang tengah jatuh dia teringat kala itu. Seseorang yang dipanggil ayah selalu menemaninya main hujan sampai di mana waktu merenggut dia secara paksa tanpa ijin dari dia. Senyum getir terlihat di raut wajahnya, lalu di tengah-tengah hujan yang cukup deras Naziya melihat bayangan orang yang tengah tersenyum, badannya basah kuyup dan satu menit kemudian dia terjatuh di tengah lapang. Saat dia hendak berdiri menghampiri, bayangan itu menghilang. Naziya terduduk, wajah orang itu mirip sekali dengan Hafidz. Naziya menyentuh wajahnya gusar, pertanda alam sengaja mengirim sinyal bahwa seseorang membutuhkannya.
Naziya membuka HP-nya ada notif pesan yang sampai.
Hafidz gila😩: Bokap sama kakak gue datengin lo, nanya tentang apa btw? Perhatian banget sama lo mah.
Ziyalucuu😍: Lo balik rumah makanya, sana gih. Ada konspirasi tentang kehidupan lo tau😌 dan iya satu lagi kakak lo ganteng juga beda dari adiknya. Wkwkwk.
Hafidz gila😩: Gue bakal balik rumah, dengan ajuin syarat gue harus pindah ke sekolah itu.
Ziyalucuu😍: Lo tadi nguping yaa, ada di mana sihh? Barusan gue lihat lo hujan-hujanan tapi mau gue samperin gak ada. Oke deal setuju.
Naziya tidak habis pikir dengan jalan pikirannya, begitu pun Hafidz.
Hafidz gila😩: Oke👌 cewek kasar, setelah pulang sekolah temuin gue di taman kemarin kalau masih hujan pake payung. Minjem😝😝"
Naziya tidak membalasnya, dia berdiri dan memasukan hp ke dalam tas yang tergeletak begitu saja. Dia berjalan perlahan sampai dirinya tak menyadari sudah berada di tengah-tengah guyuran hujan. Menghirup dalam-dalam udara, bagaimana rasanya ketika hujan, dan di sana dia berteriak.
"Aku benci hidup yang penuh teka-teki, aku benci jadi aku. Aku lelah. Aku pengen bersama ayah." raungan itu tidak terdengar siapapun sebab gemuruh hujan penuh dengan rintik.
"Kamu gila ya, baru aja dari UKS balik bukan masuk kelas malah hujan-hujanan?" seseorang datang dari arah belakang. Dia membawa payung sedetik teriakan Naziya terhenti. Dia membalikkan badan.
"Rival," sendu Naziya.
"Buruan neduh!"titahnya.
"Lo siapa? Berani nyuruh-nyuruh, gue gak suka. Mending lo pergi." adu mulut terjadi, Rivaldi mengalah dia membawa Naziya secara paksa, untung keadaan sepi artinya tidak akan ada orang yang mengecengnya seperti tadi ketika dia membawa ke UKS. Albi yang melihat dari arah koridor dekat pintu kelas pun memandang malas.
"Lepasin Rival!" Rival tidak menggubris dia membawa Naziya ke ruangan Bu Rina saat itu juga, tidak ambil pusing dengan baju Naziya yang telah basah kuyup. Albi tidak usah disuruh sudah paham, dia membawa tasnya mengikuti memakai jalan lain. Jika Rivaldi lewat terobosan hujan, Albi di koridor. Lagi-lagi Nura, dia melihat semuanya. Berdua di tengah lapangan keadaan hujan lebat. Ukiran senyum kebohongan tercipta. "Sudah saatnya aku yang berbicara, kita harus selesai Kak Rival. Aku akan menelpon orangtuamu untuk tidak melanjutkan hubungan ini." lirihnya.
***
"Ada apa lagi ini?" Bu Rina sudah bertanya tanpa mempersilahkan Hafidz, Naziya dan Albi duduk dulu. Naziya tidak berani menjawab, kepalanya dia tundukan.
"Tanya aja tuh sama anak kesayangan ibu, udah bulak-balik BK kan?" pancing Rivaldi.
"Rival, Albi dan kamu Naziya apakah tidak capek hari ini main kucing-kucingan. Apa kalian tidak sadar sudah menjadi sorotan anak-anak," ucap Bu Rina belum sadar jika baju Naziya basah.
"Ibu saja sudah capek, ada apa sih? Naziya udah biasa tapi kalian gak biasanya, dan tunggu, " Bu Rina menghampiri Naziya yang masih berdiri di samping Rivaldi kepalanya tertunduk. Bu Rina menyentuh bahu Naziya, tiba-tiba bahu Naziya mengguncang tangisnya pecah sudah. Albi dan Rivaldi setengah kaget.
"Rivaldi, Albi kalian sana masuk kelas lagi meski lagi jamkos."suruh Bu Rina.
"Tunggu dulu bu, saya ke sini mau menuhin suruhan ibu tadi pagi. Dari pada nanti saat pulang sekolah, mending sekarang saja." bohong Rivaldi yang sebenarnya amat penasaran dengan permasalahan Naziya. "Oh itu, kamu mau keluar masuk kelas lagi atau mau saya SP?" tantangnya.
Albi tertawa mendengarnya. "Ehh ko bu." sela Rivaldi.
"Rival," kata Buk Rina.
"Iya-iya." cicit Rivaldi.