
Adaptasi bahasa ternyata cukup membingungkan, aku sampai-sampai harus berfikir keras akan maksud dari kata-kata yang mereka ucapkan.
"Bu Tyo, besok pagi jadwal kita ke pajak, kalau ibu mau ikut, siap jam 7, nanti mobilnya berhenti di depan," ucap Bu Bambang.
"Oh iya, Bu," jawabku sambil tersenyum, padahal dalam hatiku aku tidak mengerti akan maksudnya.
"Ke pajak? Ngapain ibu-ibu ke kantor pajak, kok pakai ngajak-ngajak segala?" tanyaku dalam hati.
Di sore hari, saat Tyo pulang dari klinik adalah saat untuk menanyakan tentang masalah pajak tadi.
"Mas, bu Bambang tadi ngasih tahu, kalau besok pagi ibu-ibu mau ke pajak, trus kalau aku mau ikut, disuruh siap jam 7. Pertanyaannya, ngapain ibu-ibu pada ke kantor pajak ramai-ramai, mana ngomongnya besok jadwal ke pajak. Lah, ke kantor pajaknya emang rutin? Serius aku bingung!"
Melihat reaksi Tyo yang tertawa geli setelah mendengar pertanyaanku, membuatku semakin tidak mengerti, apa ada yang salah dengan pertanyaanku.
Sambil menggandeng tanganku menuju sofa, Tyo pun mendudukkanku di sampingnya.
"Maaf Mas lupa, kalau disini ada beberapa kosakata yang sama tapi artinya berbeda. Nah, pajak itu pasar. Kan mas sudah sempat ngasih tahu kalau ada jadwal ke pasar 2 pekan sekali," ucap Tyo.
"Oooh ya Allah, yaaa ngobrol dong! Pajak itu pasar? Ini sungguh aneh, kenapa bisa jadi pajak?!" seruku heran.
Belum selesai urusan pajak yang masih membuatku bingung, kali ini urusan motor pun menjadi panjang.
Suatu ketika di saat aku dan Tyo sedang beristirahat, aku mendengar suara ketukan pintu. Aku pun segera memakai jilbabku dan kemudian membuka pintunya. Ternyata supir kantor yang datang.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam, Pak. Ada masalah apa, Pak?" tanyaku yang menebak kemungkinan adanya kecelakaan kerja atau masalah di klinik.
"Oh nggak ada, Bu. Cuma mau pinjam motor bapak," jawabnya.
Aku pun mengernyitkan dahiku, karena kami disini tidak memiliki motor dan fasilitas transportasi yang kami dapatkan adalah mobil.
"Hmm tapi, bapak kan nggak ada motor?" tanyaku.
Mendengar jawabanku, supir tersebut tersenyum dan hampir tertawa. Lalu ia menjawab sambil menunjukkan tangannya ke arah mobil yang terparkir di depan rumah.
"Itukan motor bapak?"
Dengan malu dan bingung aku pun masuk ke dalam untuk mengambil kunci mobil, sedangkan Tyo yang mendengarkan dari dalam tak dapat menahan tawanya.
Setelahnya, aku pun mulai bertanya dengan kesal.
"Kemarin pajak, sekarang motor? Besok apa nih, oo motor itu kan mobil, trus motor itu disebut apa, kapal?"
"Maaf Yang, mas lupa ngasih tahu lagi. Mobil itu motor, nah kalau motor itu kereta. Ssst, jangan dipotong, kalau nyebut kereta harus pakai api, kalau nggak lengkap yaa dikiranya itu motor," jawab Tyo.
"Waaah, aku merasa lost in translation, ketika hilang dan nggak ada yang nerjemahin," ucapku yang kembali membuat Tyo tertawa.
Masalah bahasa sedikit demi sedikit mulai teratasi, walaupun beberapa kali aku masih tidak mengerti dengan maksud akan kalimat mereka, tetapi mereka pun mulai memahami akan kesulitanku untuk memahami bahasa mereka.
Selesai masalah bahasa, kali ini Tyo berusaha untuk meringankan beban pekerjaan rumahku, karena kondisiku yang berbadan dua.
"Yang, pakai pembantu aja, daripada kecapean, kasihan dede bayinya kalau ibunya capek," ucap Tyo yang terlihat khawatir akan kesehatanku dan calon bayi kami.
"Pembantu dari mana?" tanyaku.
"Banyak kok, istri karyawan disini juga ada yang mau," jawab Tyo.
"Tapi, nanti dia ngapain?" tanyaku yang cukup bingung akan tugas yang akan ku delegasi kan.
"Nyapu, nyuci baju, nyetrika, bantuin di dapur, kan banyak," jawab Tyo.
"Yang, cukup setengah hari, dari jam 7 sampai jam 1 atau 2, trus 2 hari sekali," lanjut Tyo.
"Trus dibayar berapa kalau begitu jadwal kerjanya?"
"150-200 ribu," jawab Tyo yang membuatku akhirnya menyetujui saran yang diberikan untukku.
Sejak saat itu, setiap Senin hingga Sabtu, ada seorang ART yang membantuku di rumah yang sangat meringankan pekerjaan rumahku dan membuatku semakin sering menyalurkan hobi baking yang kumiliki.
Berbagi dengan tetangga pun semakin sering kulakukan, selain memberikan juga kepada ART-ku untuk dibawa pulang.
Tak jarang para istri asisten ini berkunjung ke rumah untuk sekedar menanyakan resep roti. Berbagi resep sebetulnya tidak masalah untukku, toh resep yang kumiliki adalah resep dari sebuah brand tepung terigu ternama, yang memiliki sebuah tempat pelatihan.
Hari berlalu, kandunganku semakin hari semakin terasa berat, berat badanku pun bertambah sangat signifikan. Di awal kehamilan, berat badanku hanya 46 kg, sedangkan saat usia kandunganku memasuki pekan ke-29, beratku telah bertambah 15kg.
Hingga pada pekan ke-30, kedua orangtuaku menjemputku di Medan.