
Aku berangkat ke Jakarta bersama Tyo dan Zalfa, yang saat itu telah berusia satu setengah tahun. Sesampainya di bandara, Tyo meminta fasilitas kursi roda untukku karena vertigo yang kualami.
Untuk itu, aku harus melalui pemeriksaan kesehatan di bandara sebelum check-in. Setelah mendapatkan surat izin layak terbang, aku pun mendapatkan fasilitas utama untuk penerbangan ini, yaitu kami didahulukan untuk masuk ke dalam pesawat sebelum pengumuman boarding.
Dengan begitu, maka para awak kabin dapat memberikan pelayanan ekstra kepadaku, dari sebelum naik ke dalam pesawat hingga turun pesawat.
"Bu Lina, saya Aida awak kabin penerbangan Anda pagi ini. Saya bantu untuk menaiki pesawat, ya."
"Terima kasih, Mbak," ucapku.
Ia lalu mendorong kursi roda hingga pintu pesawat dengan Zalfa berada di pangkuanku.
"Lucu banget putrinya, umur berapa Bu," tanya Aida sambil mendorong kursi rodaku.
"Satu setengah tahun, Mbak."
"Nggemesin banget sih kamu, dek. Oiya, namanya siapa ?"
"Namanya Zalfa."
Setelah sampai di pintu pesawat, aku harus berjalan untuk memasuki kabin pesawat. Saat awak kabin melihat aku memangku Zalfa, maka dengan sigap mereka membantuku dengan menggendong Zalfa untuk masuk ke dalam kabin.
"Guys lihat ini lucu banget, pakai jilbab lagi!" seru awak kabin yang menggendong Zalfa.
Satu persatu awak kabin pun mendekati Zalfa. Zalfa yang telah terbiasa dengan orang asing, ia pun tidak menangis bahkan sangat senang dengan keramahan awak kabin.
"Bu, boleh pinjam Zalfa sebentar? Mau foto bareng, boleh?" pinta salah satu awak kabin kepadaku.
"Boleh, silahkan saja," jawabku.
Sedari bayi, Zalfa memang telah banyak menyita perhatian orang-orang yang melihatnya, pujian seperti lucu banget, nggemesin dan masih banyak lagi, selalu dilontarkan. Terlebih semenjak aku sakit dan Zalfa menjadi sering diasuh oleh orang lain, membuatnya tidak takut dengan orang asing.
Beberapa saat sebelum panggilan boarding, Zalfa pun telah kembali ke pangkuanku.
"Bu, tadi adik Zalfa foto sama kapten di kokpit, lho. Kapten seneng banget lihat adik Zalfa," ucap Nina, sang awak kabin.
"Waa, udah masuk kokpit aja nih! Emaknya aja belum!" candaku.
"Gemesin sih, Bu. Tadi kita foto-fotonya banyak, nggak papa ya, Bu."
"Nggak papa, Mbak. Saya senang kalau Zalfa bisa menghibur kalian semua," jawabku.
"Iya, bikin mood booster. Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Mbak."
Tak lama, satu persatu kursi penumpang mulai terisi dan tak lama kemudian, pesawat pun lepas landas menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Menempuh penerbangan selama satu jam empat puluh lima menit, terasa sangat singkat dengan keramahan para awak kabin.
Hingga sebelum turun dari pesawat, pilot dan co-pilot menyempatkan untuk menemui kami.
"Selamat jalan, semoga penerbangan tadi memberikan kenyamanan untuk Anda," ucap pilot kepada Tyo.
"Terimakasih, Kapt," jawab Tyo.
Lambaian tangan para kru pesawat mengantarkan kedatanganku di Bandara Soetta, membuat penerbangan kali ini menjadi sangat berkesan untukku.
Setelah itu, Tyo segera membawaku menuju RS Pertamina Sentul untuk melakukan MRI. Tyo memilih rumah sakit tersebut, karena telah mengenal dengan baik dokter radiologi yang bertugas, sehingga memudahkan dan juga mempercepat prosedur MRI.
Keesokan harinya aku telah dijadwalkan untuk konsultasi dengan dokter bedah syaraf untuk persiapan operasi, yaitu dr. Lucas, dokter yang mengoperasiku pertama kali.
Setelah konsultasi berakhir, Tyo menjelaskan padaku mengapa semua prosesnya dipercepat.
"Sekarang kan pertengahan Ramadhan, jadi Rio ingin agar Sayang bisa tetap berkumpul bersama keluarga saat lebaran, makanya dipercepat."
"Jadi nanti yang akan mengoperasi Sayang itu, Rio. Rio itu adik kelas mas waktu kuliah dulu. Sekarang dia jadi asistennya dr. Lucas, jadi semua operasinya dr. Lucas, Rio yang ngerjain, karena dr. Lucas kan sudah sepuh dan beliau sudah nggak bisa ngoperasi lagi. Tapi tenang aja, dr. Lucas nanti ada kok, nanti beliau ikut di dalam ruang operasinya." jelas Tyo lagi.
Maka di Senin pagi, aku telah berada di ruang operasi dan sedang menunggu kedatangan dr. Lucas dan dr. Rio.
"Ya Allah, ini dingin banget sih," batinku karena ruangan operasi yang memang harus bersuhu dikisaran 19-22°C.
Aku merasakan kakiku yang dingin dan hanya dilapisi oleh kain biru dan sangat berharap operasi agar segera dimulai.
Tak lama, dr. Lucas dan dr. Ryo datang memasuki ruangan operasi dengan mengenakan jubah biru dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Sudah siap, Lin? Kita mulai sebentar lagi. Semoga ini menjadi operasimu yang terakhir," ucap dr. Lucas padaku.
Setelah itu, anestesi mulai dimasukkan dan aku tak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian, aku telah berada di kamar ICU, dengan perban yang metutupi kepalaku. Rasa berat pada kepalaku dan kantuk yang teramat sangat, membuatku kembali tertidur. Entah berapa lama aku tertidur dan aku pun akhirnya terbangun dengan Tyo yang berada di samping tempat tidurku.
"Mas, Mas," panggilku dengan suara yang lirih.
Mendengar suaraku, Tyo yang sedang membaca majalah pun segera meletakkan majalahnya, lalu ia pun menghampiriku dengan senyum lembutnya.
"Hei, sudah bangun?" jawab Tyo dengan lembut sambil mengelus pipiku.
"Sekarang jam berapa?" tanyaku lirih.
"Jam 8 malam. Sayang, mau minum?"
Aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku yang terasa sangat berat.
Tyo pun mengambil segelas air hangat dan membantuku untuk meminumnya.
"Tadi berapa lama aku dioperasi? Trus, aku tidur berapa jam?" tanyaku setelahnya.
"Operasi tadi selesai jam dua belas, jadi tadi sekitar tiga jam lebih operasinya. Setelah itu, Sayang tidur, hmm sekitar hampir dua belas jam," jawab Tyo.
"Kok, operasinya lama? Bukannya dulu nggak sampai dua jam sudah selesai? Kok ini sampai tiga jam lebih?" tanyaku.
"Duh bangun-bangun langsung kritis begini? Santai dulu, Yang," jawab Tyo sambil tertawa kecil.
"Yang, mas jelasin sambil Sayang makan ya?" lanjut Tyo sambil mulai menyuapiku dengan makan malam.
"Jadi, waktu operasi sebelumnya yang bikin Sayang hilang ingatan, ingat nggak? kan selang yang lama nggak bisa diambil, jadi akhirnya sama dr. Adi kan dipasang selang disampingnya."
Aku pun mengangguk.
"Alhamdulillah, tadi selangnya sudah bisa diambil, terus dipasang selang yang baru. Setelah dipasang selang, dr. Lucas bikin sumur cairan otak di atas dahi. Untuk berjaga-jaga, kalau sampai terjadi sumbatan lagi yang mengharuskan mengambil sample cairan otak, yang cukup mengambil dari sumur yang sudah dibuat tadi," jelas Tyo yang tidak kumengerti.
"Walaupun aku nggak mudeng, tapi iya aja deh," jawabku.
"Sekarang Sayang makannya dihabiskan, terus minum obatnya, ya," ucap Tyo.
Setelah meminum obatnya, aku pun kembali tertidur hingga pagi. Aku kembali mengalami vertigo, yang aku rasa ini adalah efek dari operasi. Aku merasakan rasa sakit dan tidak nyaman seperti pada operasi yang pertama, dimana aku mengalami vertigo selama hampir enam bulan lamanya.