Self Healing

Self Healing
Episode 53 Healing but Hurting



Selama aku dirawat, secara bergantian kedua kakak dan adikku menjengukku di rumah sakit. Mereka juga menyempatkan untuk berkunjung ke rumah orang tua Tyo, selain bersilaturahmi juga untuk mengunjungi ketiga putriku yang menginap di sana.


"Tadi mbak Hana datang, bawa mainan untuk Zalfa sama buku-buku cerita untuk Icha dan Ara," ucap Tyo yang baru saja tiba setelah pulang selama beberapa jam.


"Anak-anak pasti senang banget, dibawain mainan sama buku cerita," sahutku sambil membayangkan kegembiraan anak-anak yang mendapatkan hadiah dari budenya.


"Iya, alhamdulillah mereka senang. Sayang, sekarang harus lebih semangat biar bisa ikut lebaran di rumah."


"Fighting !"


Tiga hari menjelang Idul Fitri, aku sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah walau keadaanku masih tidak karuan, dikarenakan vertigo yang kualami. Keadaan seperti ini membuatku mual sepanjang hari dan hal ini sungguh menguras tenagaku untuk melawan rasa mual yang ada.


Sementara itu keluarga besar Tyo telah berkumpul di rumah orang tuanya di Rawamangun untuk menyambut Idul Fitri, suasana ceria dan hangat penuh dengan senda gurau membuatku melupakan rasa mual yang kurasakan.


"Lin, besok kamu ikut shalat Id nggak?" tanya ibu Tyo.


"Kalau nggak bisa, juga nggak papa," sambung mbak Cahya, sang menantu pertama.


"Mbak Intan mau minjemin sepeda listriknya buat besok, jadi besok kita naik sepeda ke lapangan, gimana?" tanya Tyo.


"Boleh deh," jawabku.


"Yowes, jadi besok ikut shalat Id ya?" tanya ibu Tyo yang kujawab dengan anggukan kepala.


Keesokan harinya, aku berangkat menuju lapangan untuk mengikuti ibadah yang hanya dilaksanakan dua kali dalam setahun, dengan membonceng sepeda. Aku pun dapat mengikuti ibadah shalat Id hingga selesai tanpa masalah.


Seperti biasa, setelah itu tetangga dan sanak saudara tak henti berdatangan.


"Yang, istirahat aja di kamar, tamu-tamunya biarin aja. Mereka tahu kok, kalau Sayang baru selesai operasi kepala, nggak papa istirahat aja di kamar," ucap Tyo yang memahami keadaanku.


"Makasih Mas."


Mendengar kebahagiaan keluarga yang berkumpul dengan senda guraunya, membuat aku sedikit melupakan vertigoku. Hari itu juga, keluarga mas Verdi dan Ewing datang untuk bersilaturahmi sebelum mereka berangkat menuju Jogja untuk menemui kedua orangtuaku.


"Jadwal check-up Lina, kapan ya?" tanya mas Verdi.


"Masih 2 pekan lagi, setelah itu sebulan sekali selama tiga bulan. Kalau nggak ada keluhan, ya sudah, selesai. Tetapi disini ada rujukan untuk periksa ke ahli imunologi, karena dari hasil pemeriksaan kemarin, ada indikasi autoimun," jawab Tyo.


"Lina kena autoimun?" tanya mas Verdi.


"Belum tahu, Mas. Tetapi ada kecurigaan ke arah sana, karena penyumbatan yang berulang tanpa diketahui penyebabnya," jawab Tyo.


"Semoga nanti jadi ada titik terang penyebab sakitnya Lina. Aku nggak bisa ngebayangin rasanya kepala bolak-balik di operasi, mana sempat hilang ingatan juga, kan?"


"Nggak usah dibayangin, Mas. Cukup dilihat aja, trus udah," jawabku santai.


"Lin, kamu masih bisa sesantai itu yaa?"


"Capek kalau dibawa serius terus, lagian aku auto dapat wahana ontang-anting sama kora-kora all day, jadi yaa nikmati aja privilege yang aku dapat dari Allah," jawabku santai.


"Aku salut sama kamu, kamu kuat. Semoga sakit ini menjadi penggugur dosa."


"Aamiiin, makasih Mas."


Beberapa saat kemudian, keluarga mas Verdi pun berpamitan karena akan langsung menuju Jogja.


"Salam buat bapak-ibu ya, Mas," ucapku sebelum mas Verdi berpamitan.


"In syaa Allah, kamu jangan kecapean, istirahat. Nanti kita telponan ya."


Beberapa hari kemudian, keluarga Tyo telah merencanakan untuk menginap bersama di puncak dengan menyewa dua villa, aku pun memberitahukan rencana tersebut ke ibu.


"Rencananya dua malam aja sih," jawabku.


"Kalau menurut bapak-ibu, sebaiknya kamu nggak usah ikut. Kondisi kamu masih belum kuat, kalau kecapean malah bahaya. Biar anak-anak saja yang ikut, kan ada pakde-budenya, yaa kamu tetap di rumah sama Tyo."


"Aku juga maunya gitu, Bu. Tapi mas Tyo bilang, biar nggak suntuk, biar seger badannya."


"Suntuk gimana? La wong kamu memang masih harus bedrest. Ingat nggak, dulu kamu bedrest selama sebulan penuh, itu juga nggak dihitung opname di rumah sakit. Laa ini baru dua pekan selesai operasi kok sudah mau jalan-jalan. Kalau ibu akan menolak ajakan itu, tapi yaa terserah kamu. Kamu tahu bagaimana baiknya."


"Aku juga maunya di rumah aja, tapi kayaknya mas Tyo pinginnya aku ikut," jawabku.


"Ya terserah kamu, kalau ada apa-apa, dia kan dokter, biar dia tanggungjawab."


Semua yang diucapkan ibu adalah benar dan aku sendiri juga sangat tidak ingin untuk pergi berlibur dengan kondisi badanku yang masih serasa di atas kapal. Tetapi apa mau dikata, jika semuanya mengatakan ini juga baik untuk pemulihanku.


Hingga tiba saatnya kami semua berangkat menuju puncak dengan menggunakan empat kendaraan pribadi. Kami berangkat pada pukul delapan pagi dengan harapan akan tiba sebelum dzuhur. Tetapi entah apa yang dipikirkan oleh mas Deni yang berjalan paling depan, ia memilih jalur alternatif karena ingin menghindari sistem buka tutup yang diberlakukan oleh Polantas.


Tyo dan yang lain pun mengikuti dari belakang. Pada awal perjalanan masih aman, hingga kami melewati jalan yang becek, berlubang dan bebatuan.


"Ini lewat mana sih? Jalan ancur begini kok dipilih?" gerutu Tyo.


Ingin aku menjawabnya dengan, "Kan nggak harus konvoi, kayak mau nyasar kemana. Milih lewat jalur biasa aja kan bisa, buka tutup emangnya berapa lama sih?"


Tetapi aku memilih diam, karena kepalaku sudah mulai tidak karuan.


Kami terus berjalan hingga akhirnya sampai juga di sebuah villa yang cukup besar ketika hari sudah gelap. Kami sampai di villa hampir pukul delapan malam, yang artinya perjalan dari Rawamangun menuju Puncak, ditempuh selama dua belas jam lamanya. Ini sama lamanya dengan perjalanan menuju Jawa Tengah!


Rasa kesal dan marah harus kupendam jauh-jauh agar tidak merusak suasana liburan yang seharusnya menyenangkan. Terlebih lagi, semua anggota keluarga terlihat senang dan ceria.


Keesokan paginya, aku membuka jendela kamarku dan kulihat pemandangan hijau asri yang tertutupi kabut dan rumah-rumah penduduk.


"Gimana Lin, semalam bisa istirahat nyenyak ?" tanya mbak Nur.


"Alhamdulillah, Mbak."


"Ayo, sarapan dulu, setelah itu bebas mau pada ngapain. Anak-anak sudah pada jalan-jalan sama para abi," tambahnya.


Di hari itu, aku memilih beristirahat di dalam villa. Walaupun semuanya mengajakku untuk bergabung berjalan-jalan menikmati udara segar dan pemandangan. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka tidak menanyakan kondisiku, apa yang kurasakan, dua pekan yang lalu aku baru melaksanakan operasi kepala, bukan operasi gigi, yang sepekan juga sudah baik-baik saja!


Mengapa mereka berpendapat bahwa dengan liburan ini membuatku lebih baik lagi dan lebih cepat pulih? Bagaimana dengan perjalanan dua belas jam yang menguras emosi itu?


Tetapi sekali lagi, semua ini terjadi juga karena aku hanya diam. Aku tidak melawan dan memprotes, hanya karena aku tidak ingin merusak suasana liburan ini.


Ibuku pun menelfon untuk mengetahui kondisiku, setelah aku mengirimkan pesan kapan kami tiba di villa.


"Itu dua belas jam, Lin?! Kamu gimana? Trus Tyo?"


"Alhamdulillah masih di kapal. Mas Tyo lagi bawa anak-anak jalan-jalan," jawabku.


"Bukan itu, maksud ibu, gimana reaksinya ke kamu ?"


"Ya biasa, ngecek tekanan darah aja. Sudahlah Bu, aku males ngomongnya. Liburan ini buat mereka kok, bukan buat aku."


"Trus kamu ditinggal sendirian di villa?"


"Nggak, ada mbak Nur sama mbak Leni, kok," jawabku.


"Alhamdulillah, kalau kamu ditinggal sendirian namanya itu ngawur!"


Aku sangat memahami kekhawatiran ibu akan kesehatanku. Tidak ada orang tua yang tidak mungkin khawatir akan kondisi anaknya, terlebih jika kondisi kesehatannya tidak baik-baik saja.