Self Healing

Self Healing
Episode 44 1st Day in Hongkong



Destinasi pertama kami di Hongkong adalah city tour di ajak untuk berkeliling kota Hongkong.


"Selamat pagi, selamat datang di Hongkong. Perkenalkan saya Adam Suwandi, saya guide Anda selama di Hongkong. Saya asli dari Surabaya dan sudah tinggal menetap di Hongkong selama 20 tahun. Lalu saya mulai menjadi tour guide sejak 5 tahun yang lalu."


"Baiklah, pagi ini kita akan melakukan city tour terlebih dahulu. Kita akan melewati perumahan-perumahan kelas atas di Hongkong, yang beberapa diantaranya dimiliki oleh selebritis kenamaan Hongkong."


Bis pun mulai bergerak mengitari kota lalu menuju jalan yang menanjak dan berliku. Benar saja, tampak di kanan-kiri jalan berjejer rumah-rumah mewah dengan rapi bagaikan villa mewah di puncak, karena perumahan itu terletak di perbukitan di dataran tinggi. Kami di buat terpukau dengan arsitektur perumahan mewah tersebut, yang terlihat sangat eksklusif.


Sesaat itupun aku berfikir, "Lucu nggak ya, tiba-tiba ketemu Jackie Chan, Andi Lau, Aaron Kwok, Samo Hung yang lagi jogging atau mungkin mereka sedang bersantai di teras rumahnya kemudian melambaikan tangannya kepada kami yang berada di dalam bus."


"Heh ngelamunin apa, kok senyum-senyum sendiri?" kejut Tyo yang membuyarkan khayalanku.


"Nggak papa," jawabku. Aku tidak ingin membahasnya dengan Tyo, karena aku tahu, dia pasti tidak tahu dan berpura-pura untuk tahu.


Selera kami masih tetap jauh berbeda, dia lokal sedangkan aku lebih internasional. Tetapi kaki tidak pernah bertengkar hanya masalah selera. Kami berdua saling membiarkan atau memberikan kebebasan satu sama lain untuk melakukan aktivitas yang disukai yang terpenting adalah jangan meninggalkan tanggung jawab.


Kemudian jalan mulai menurun dan berkelok hingga akhirnya kami sampai di lokasi pemberhentian pertama, yaitu pantai Repulse Bay. Pantai ini memiliki pasir yang sangat bersih dan dikelilingi dengan bangunan hotel-hotel bertaraf internasional, serta perbukitan dibelakangnya. Hal ini membuatnya sangat jauh berbeda dengan pemandangan pantai di Indonesia.


Udaranya cukup sejuk di awal bulan April ini, yaitu suhu berada di kisaran 22°-26° C di siang hari, yang membawa angin dingin sehingga suasana di pantai cukup sepi, hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu-lalang.


"Yang, foto dulu," ucap Tyo.


"Aku sendiri?"


"Iya, terserah berdiri dimana, cari view yang bagus," lanjut Tyo.


Aku pun memilih pemandangan lepas pantai untuk menjadi background-nya.


"Mas, gantian!" pintaku.


Kali ini, aku memotretnya dengan pemandangan ke arah perbukitan dan perumahan mewah diatasnya. Lalu salah seorang rekan dokter yang juga menempati lantai 7 di RS Awassuka dan kami biasa memanggilnya "Bang Ardit" menawarkannya bantuannya.


"Sini aku fotoin kalian berdua, honeymoon kok fotonya sendirian."


"Wah makasih Bang!" sahut Tyo sambil menyerahkan kamera sakunya.


Bang Ardit pun mengambil foto kami berdua dengan berbagai macam view. Setelah itu, bang Ardit menawarkan bantuannya selama perjalanan liburan ini.


"Nanti aku jadi fotografer buat kalian selama liburan," ucap Bang Ardit sambil menyerahkan kamera tadi.


"Serius, Bang?"


"Eh udah yuk, sudah pada ngumpul di bis lagi, tuh!" seru bang Ardit sambil berjalan ke arah bus.


Lalu dari Repulse Bay kami bergerak menuju Victoria Peak, yaitu sebuah gunung dengan ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan laut. Dari sanalah kami dapat melihat pemandangan pulau Hongkong dari ketinggian. Pemandangan hutan beton yang menghiasi pusat kota Hongkong serta dikelilingi oleh perbukitan dan gunung. Sungguh pemandangan yang indah dan jauh berbeda dengan di Indonesia.


Setelah mengambil beberapa foto di sana, rombongan kembali bergerak menuju museum patung lilin yang berasal dari Perancis, yaitu Madame Tussauds. Sebenarnya, aku tidak tertarik untuk melihat koleksi patung lilin selebritis dunia yang berada di sana, tetapi tidaklah mungkin untuk memisahkan diri dari rombongan termasuk dari Tyo yang tampak sangat bersemangat. Kami pun berkeliling museum dan Tyo beberapa kali memintaku untuk mengambil fotonya.


Setelah dari Madame Tussauds, kami menghabiskan waktu dengan berkeliling kota dan berbelanja. Berbelanja memang menjadi salah satu tujuan wisata ini bagi para dokter dan keluarganya, tetapi tentunya selain aku dan Tyo. Kami berdua hanya membeli beberapa cindera mata dan sedikit oleh-oleh untuk anak-anak.


"Yang, nggak beli apa gitu?" tanya Tyo.


"Beli apa?" tanyaku balik.


"Ya apa gitu, baju, tas, sepatu atau apalah, mas juga nggak tahu."


"Aku nggak kepingin, Mas. Malah bingung mau beli apa?"


"Biasanya Sayang kan, suka lihat-lihat sepatu, sandal atau tas, coba lihat-lihat aja dulu, nanti kalau ada yang disukai, beli aja," jawab Tyo.


"Hmm, kita window shopping aja deh, beneran aku lagi nggak mood belanja."


"Yakin? Nanti nyesel lho, udah nggak usah mikir duitnya, InsyaAllah masih cukup kok. Sudah sana, lihat-lihat yang mana, yuk mas temenin," bujuk Tyo.


"Kita lihat-lihat dulu deh, Mas. Nanti kalau ada yang cocok, aku beli yaa?"


"Iya, silahkan," jawab Tyo sambil tersenyum manis padaku.


Memang selama 5 tahun pernikahanku dengan Tyo, dapat dikatakan kami hampir tidak pernah berkonflik. Tyo sering memanjakanku dengan membiarkan melakukan hal yang kusukai, selain itu, ia tidak pernah menuntut apapun dariku, begitupun aku, yang tidak menuntut apapun darinya, karena aku sangat bersyukur ternyata Tyo bukanlah pria yang memanfaatkan keadaan seperti yang kukira saat diawal menuju pernikahan kami.


Tyo adalah suami yang sangat sabar dan pengertian, ia lebih sering menanyakan apa yang kumau, karena ia tahu kalau aku tidak menyukai kejutan dan aku adalah tipe yang selalu terencana bukan spontan.


Setelah melihat-lihat, aku tetap tidak tertarik untuk membeli apapun.


"Jadi nggak ada yang dibeli nih?" tanya Tyo.


"Nggaklah, kayaknya nggak ada yang menarik. Lagian acara belanja kan masih ada nanti di Nathan Road sama Ladies Market, kan?"


"Iya, yowes terserah aja."


Keesokan harinya, kami dijadwalkan untuk mengunjungi Disneyland yang lokasinya cukup jauh dari hotel tempat kami menginap, yaitu sekitar 30-45 menit untuk mencapai lokasi. Aku telah menyiapkan handycam dan kamera saku untuk mengabadikan momen tersebut untuk kedua putri kami.