Self Healing

Self Healing
Episode 34 H2C



Memasuki pekan ke-37, semua perlengkapan untuk menyambut kelahiran bayi pertamaku telah tersusun rapi di dalam box kontainer yang terbuat dari plastik. Beberapa alternatif pilihan nama, baik untuk bayi laki-laki ataupun perempuan juga telah kusiapkan. Hal ini bukan karena aku tidak mengetahui jenis kelamin bayiku nantinya, tetapi walaupun aku sudah mengetahui dari USG, tetapi menjaga segala kemungkinan yang terjadi.


"Lin, kamu siapin baju yang mau dibawa untuk persalinan nanti. Satu tas isinya, baju kamu selama di rumah sakit, baju bayi lengkap untuk pulang, jangan lupa maternity pads-nya. Nanti sisanya, ibu bawain dari rumah."


"Nah trus, kapan Tyo kesininya? Jangan mepet!" tanya ibu.


"In syaa Allah, secepatnya. Kemarin bilangnya lagi ngurus surat izin cutinya, kalau sudah di ACC, mas Tyo langsung ke sini," jawabku.


Ibu tampak khawatir, jika Tyo tidak dapat datang tepat waktu, yaitu sebelum aku melahirkan. Sementara aku sangat percaya, Tyo akan datang sesaat sebelum persalinanku.


Aku menghabiskan waktuku dengan tilawah dan membaca buku-buku tentang cara merawat bayi, untuk memudahkan aku nantinya.


Hari-hari pun berlalu, kontraksi palsu mulai sering kurasakan. Tendangan-tendangan yang kurasakan di perutku, sering membuatku sulit untuk beristirahat.


"Nak, apa kamu mau jadi pemain bola? Kok, nendangnya kenceng banget, ibu kan jadi kesakitan," ucapku lembut sambil memegangi perutku yang sangat besar ini.


Perut besar, kaki bengkak dan nafas yang mudah terengah-engah, membuatku ingin segera mengeluarkan bayiku secepatnya. Menunggu memang membutuhkan ekstra kesabaran dan disaat-saat inilah, kesabaranku diuji.


Di hari Rabu sore, Tyo mengirim pesan singkatnya kepadaku, "Mas sore ini ke Medan. InsyaAllah besok pagi terbang ke Jakarta."


Membaca pesan singkatnya, membuatku merasa seperti membaca surat cinta, padahal tidak ada satu kata-kata manis di dalamnya, tetapi entahlah hatiku berbunga-bunga menunggu kedatangannya esok pagi.


Di malam harinya sebelum aku tidur, Tyo menghubungiku.


"Assalamu'alaikum, sudah mau tidur ya?" sebuah pertanyaan yang sederhana dan biasa saja, tetapi terdengar merdu di telingaku.


"Wa'alaikumsalam, belum. Aku kan nunggu di telfon," jawabku manja.


"Ini, Mas telfon Sayang, kan? Hmm hari ini ngapain aja?"


"Mas, kalau aku jawab hari ini aku koprol, salto, loncat tali, pasti sebuah khayalan yang indah, yang bahkan di saat normal aku juga nggak bisa ngelakuinnya."


Candaku kali ini berhasil membuat Tyo tertawa terbahak-bahak yang sudah dapat kubayangkan apa yang ia lakukan padaku jika aku di dekatnya.


"Ih Sayang, kan jadi bikin tambah kangen. Yang, kok bisa lucu begitu sih?"


"Entahlah, mungkin dulu waktu ibu sedang hamil aku, sempet keselek Srimulat," jawabku santai.


"Yaaang! Awas besok yaa, siap-siap!" seru Tyo yang aku tahu benar arahnya.


"Mas, kasihan pipiku yang sudah tembem ini, janganlah menjadi korban esok hari," protesku.


"Hmm, bukan cuma pipi! Tunggu aja besok," jawabnya kembali.


"Baiklah, aku akan menunggu. Lagian, kalaupun aku nggak nungguin, Mas juga tetap bakalan sampai di rumah," sahutku.


"Teganya Sayang, sama Mas?" rengek Tyo, yang kali ini mulai sedikit menggangguku dan di saat yang bersamaan aku merasakan kontraksi yang cukup kuat, sehingga membuatku meringis menahan sakit.


"Yang, Sayang? Kenapa, kok nggak ada suaranya?" pertanyaan Tyo kali ini juga tak bisa kujawab dengan cepat, karena aku masih menahan rasa sakit akibat kontraksi pada perutku.


"Yang? Sayang, mulai kontraksi yaa? Ingat, tarik nafasnya, buang perlahan, tarik nafas lagi dan buang pelan-pelan," ucap Tyo yang kali ini terdengar sangat khawatir.


Aku pun mengikuti aba-aba darinya dan perlahan rasa sakit akibat kontraksi berangsur-angsur menghilang.


"Yowes, Sayang istirahat yaa, sudah malam. Jangan lupa wudhu dulu sebelum tidur," ucap Tyo.


"Iya. Maaf, tadi sakit banget," jawabku.


"Eh, ngapain minta maaf, Sayang kan lagi kontraksi, wajar kalau kesakitan sampai nggak bisa ngomong. Sekarang tidur, yaa, sudah malam, tidur yang nyenyak biar besok ketemu Mas, Sayang sudah segar," ucap Tyo yang kembali membuatku tersenyum.


"Iya, Mas juga istirahat, yaa. Assalamu'alaikum."


Malam itu, aku tidur tetapi seperti terjaga, hal ini membuatku tampak tidak segar di keesokan harinya. Untuk itu, aku meletakkan es batu pada wajahku dan berharap wajahku akan terlihat segar ketika Tyo sampai di rumah.


Selepas sholat Shubuh, Tyo menghubungiku kembali dan mengatakan ia akan segera bersiap untuk sarapan sebelum bertolak ke bandara.


Pesawat yang Tyo tumpangi dijadwalkan mendarat pada pukul 09.00 WIB. Aku pun menunggu kedatangannya dengan tidak sabar di ruang tamu, setelah Tyo menghubungiku dan mengatakan bahwa ia sudah di dalam perjalanan menuju rumah.


Perjalanan dari bandara menuju rumah orang tuaku, normalnya hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, tetapi lain halnya jika terjadi kemacetan. Sekitar pukul 10.00 WIB, Tyo telah mendaratkan kakinya di teras rumah orang tuaku dengan membawa koper kecil dan plastik bertuliskan Zulaikha.


Aku menyambut kedatangannya dengan pelukan dan ciuman hangat. Kami berpelukan cukup lama, setelah hampir 2 bulan berpisah.


"Kangeeen banget!" ucap Tyo sambil menghujaniku dengan ciuman di wajahku.


Aku pun mendorong wajahnya, "Udah, basah semua nih!" protes candaku.


"Eh ternyata masih tetep galak, tapi...," kalimatnya terhenti, ia pun mulai mengamati bentuk tubuhku yang kian membulat ini.


"Kalau mau bilang gendut, bilang aja!" tantangku.


"Mas pangling, Sayang cantik banget, seger," sahutnya dengan mata berbinar dan wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Mas, aku GR," ucapku singkat yang membuat Tyo mencubit lembut kedua pipiku.


"Gemes!" sahut Tyo yang membuatku tertawa.


"Lina, mbok Tyo diajak masuk dulu. Kasihan jauh-jauh datang, nggak dikasih minum malah ngobrol di luar, " suara ibu dari balik pintu membuatku tersadar.


"Ayo Mas, masuk," ajakku sambil menggandeng tangannya.


Tyo pun mengalami tangan ibuku dan ibuku pun membalasnya dengan mencium kedua pipinya.


"Gimana perjalanannya? Pasti capek," ucap ibu.


"Alhamdulillah, capek tapi senang bisa ketemu lagi," jawab Tyo sambil memelukku dari samping.


"Ya sudah, kamu sarapan dulu, trus istirahat," ucap ibu, sambil berjalan menuju ke ruang keluarga.


"Oiya, ini ada bika ambon sama brownies," ucap Tyo sambil mengangkat plastik oleh-oleh.


"Alhamdulillah, aku langsung buka ya, Mas," ucapku.


"Langsung dimakan," sindir Tyo.


"Laa emang dibuka buat apa kalau nggak dimakan," jawabku.


Kami berdua pun menikmati makanan yang berbeda, Tyo dengan makan siangnya dan aku dengan cemilan asal Medan.


Kedatangan Tyo ternyata membuat bayi di dalam kandunganku menjadi agresif, ditandai dengan kontraksi yang berurutan. Bahkan selepas Ashar, aku hampir menangis karena menahan sakitnya kontraksi hingga aku berjongkok di samping meja makan, dengan berpegangan pada kaki meja.


Tyo yang melihatku pun ikut berjongkok di belakangku, sambil mengelus-elus punggungku dan membacakan istighfar.


"Kayaknya besok lahir," ucap ibu sambil membawakan aku segelas air madu.


"Minum dulu, biar ada tenaganya," lanjut ibu.


Aku pun meminumnya hingga habis. Sakit itu pun menghilang perlahan, sehingga aku kembali dapat berjalan dan duduk bersandar di sofa.


"Sayang mandi aja dulu, trus lanjut tilawah, sambil nunggu Maghrib," ucap Tyo dengan lembut.


"Iya, ngumpulin tenaga dulu buat naik," jawabku.