Self Healing

Self Healing
Bab 11 Kerikil



Mencintai paling agung ialah mencintai Sang Maha cinta, ikhlas yang paling tinggi adalah ketika tidak pernah mengharapkan kembali balasan sekalipun itu surga.


***


Malam semakin larut, gelapnya semakin menikam aura dingin yang tengah mendominasi. Nadila sulit tertidur, dia terus berguling di atas kasurnya. Dinding yang tidak terlihat dia tatap, matanya tak kunjung terpejam. Akhirinya Nadila beranjak, dengan niat akan ikutan tidur di kamar Nazwa. Di lantai dua dia berjalan setengah cilingak-cilinguk, semakin dekat dengan pintu kamar Nazwa, terdengar tangisan yang membuatnya penasaran, meski bulu kuduknya merinding ketakutan. Dia menempelkan telingan di pintu di mana suara tangisan berasal. Kretttt. Nadila membuka pintu perlahan, ada yang tengah sujud dan seluruh tubuhnya bergetar. Saat dia terduduk, lampu tamaram jelas menyorot wajahnya. Nadila bergumam." Mama." Yang dipanggil menoleh. "Nadila," ucapnya lemah. Nadila menghampirinya dia memeluk Mayassah."Mamah kenapa? Kukira mamah tidak ada, Nadila tidak bisa tidur. Naziya sekarang tidak pulang, entah di mana keberadaannya. Nadila capek mah, terus berbohong," Nadila meracau dalam pelukan itu. "Maafin mamah Nadila, telah membuat semuanya menjadi semakin rumit. Dari awal salah mamah yang tidak berterus-terang," Jelasnya sambil menangis. "Kenapa mamah menyimpan semua dengan sendiri, Hasil udah paham mah." Mayassah menggeleng, meski telah mengakui dia masih enggan bercerita. "Terlalu berat untuk kamu sayang, perasaan ini selalu dihantui ketakutan. Mamah lemah, iman mamah tidak semua yang dikira." Malam berlalu begitu cepat, Nadila tidur dipangkuan Mayassah yang masih memakai mukena. Mayassah tidak keberatan, menjelang subuh, dia mengusap wajah Nadila. Sepanjang malam Mayassah tidak tidur, sulit sekali meski matanya sudah perih. "Sayang ba--." Ucapannya terhenti kala terlintas bayangan di mana dia membentak Nadila dan menarik paksa ketika melihat mengajari Naziya. "Dengarkan mamah, Naziya memang adik kamu. Tapi tidak seharusnya kamu mengajari dia, kewajiban sebagai kakak bukan mengajari tapi membantu tapi mamah belum bisa… Ehh maksudnya, pokoknya kamu jangan dekati Naziya. Ingatkah kamu sebelum ayah tiada, apa yang telah terjadi diantaramu dan Naziya." Ucapan Mayassah berbelit. " Kenapa?" Telinga Mayassah mendengung, kata kenapa terdengar jelas ketika Nadila berujar dengan air mata. Saat itu, Mayassah sadar telah membantah perintah suaminya. Nadila terbangun ketika satu tetes air mata Mayassah mengenai pipinya. "Mamah ini jam berapa? Mamah nangis lagi. Mamah gak tidur?" Ucapnya, jiwanya belum sempurna terkumpul. Mayassah diam, dia bangkit dan melepas mukena. Nadila membuang nafas dan pergi dari kamar itu. Sayup-sayup suara adzan mulai terdengar, Nadila segera pergi ke kamar mandi membawa air wudhu. "Dek bangun. Ouiiii," Teriaknya menggedor kamar Nazwa. Tidak ada rutinitas berjamaah sholat pagi ini, adalah suatu hal yang tidak biasa, dan jika ayah mereka masih ada pasti akan langsung kena hukuman. Masing-masing, itulah kebenarannya. Nazwa bangun setelah sinar matahari telah samar terlihat dengan kesal dia mendatangi Nadila." Kakak gak bangunin adek!" Nadila menatap adiknya santai."Kata siapa? Tadi dibangunin, kamu aja yang kebo. Sholat sana, qodo!" Titahnya, suara serak sebab nangis semalam masih ada mengundang kecurigaan Nazwa. Nadila tau tatapan Nazwa yang meminta penjelasan."Sholat dulu!" Kali ini lebih tegas. Saat Nazwa keluar dari kamar kakaknya, dia melihat Mayassah sudah rapi dan berjalan terburu-buru menuruni anak tangga. "Mamah," Panggilnya tapi tidak didengar. "Kenapa mamah akhir-akhir selalu berbeda. Ah bodo amat:v," Umpat dia. Tidak pernah merasa diasingkan ataupun tidak mendapat kasih sayang, karena Nadila yang menggantikan peran. Nadila tidak ingin Nazwa seperti Naziya.


***


Nazwa menemui Nadila kembali setelah dia selesai mandi sekalian duha. Nadia sedang terbaring sambil menatap layar HP. "Ka sedang apa sih?" Nazwa ikut terbaring di sebelahnya. Nadila melirik, tidak menghiraukan Nazwa, dia terbangun dengan memegang HP-nya. "Lah ko malah ditinggal lagi, kakak mau kemana!" Nazwa ikutan bangun, mengikuti Nadila. "Mamah," Ketuk Nadila setelah sampai di depan pintu. Nazwa mengerutkan dahi. "Mamah tadi udah keluar ka, rapi banget deh barengan sama adek. Ketika kakak nyuruh sholat," Ucapnya. Nadila tidak percaya, dia membuka kamar mamahnya. Ceklekk, terbuka. Kamarnya berantakan, Nadila membereskan. Setiap sudut ruangan itu. "Nazwa kangen ayah," Celetuk Nazwa. "Kenapa gak bilang kalau mamah pergi dek?" Nadila mengalihkan pertanyaan. "Bagaimana mau bilang, dedek kan inget udah siang tapi belum sholat. Lagian dedek teriakan mamah, mamah gak jawab. Sudah beberapa hari kebelakang ini mamah aneh deh, terus teteh ke mana ka?"Nazwa balik bertanya sambil membereskan vas bunga. "Teteh gak tau, kakak juga," Jawab dia jujur. Nadila belum bisa menjelaskan kepada Nazwa yang sebenarnya. "Ka adek laper, ini hari minggu yaa… Emmm" Cengiran Nazwa memelas. "Ya udah kita masak ayuk, " Ajak Nadila. "Gak mau ahh, ogah! Kakak aja sana. Adek nanti bagian makan saja." Nazwa sudah bersiap untuk kabur. Nadila menarik kerah bajunya. "Eitssss mau kemana? Siapa yang laparnya coba. Ayo belajar, kamu tuh perempuan dek." Nazwa angguk-anggukan. Keduanya pun turun, Nadila diam-diam mencari barang bukti apa saja yang mampu menjawab pertanyaan yang tidak pernah dijawah mamahnya. Namun nihil, tidak ada. Hanya ada setangkai mawar lagu di nanas sebelah ranjangnya mengapa sampai berani masuk kamarnya, dulu sama sekali tidak meski pintunya terbuka. Nadila menutup pintunya, Nazwa sudah terlebih dahulu menuju dapur. Di dapur, Nazwa melihat kulkas kosong, tidak ada makanan hanya ada masakan sisa semalam. "Ka tidak ada apa-apa," Nazwa memanyunkan bibir. Nadila mengecek, dan dia terduduk. "Makan ini dulu aja ya dek, kakak angetin." Bujuknya. Nazwa pasrah, perutnya keroncongan. HP diletakkan di atas meja makan, Nazwa iseng membukanya ada satu notif masuk.


Litle princess. "Ini kontak siapa, bukan nomor aku tapi ko," gumamnya dalam hati.


Strong girl😇: Kakak akan cari, tapi kalau ketemu kamu harus ikut kakak pulang. Kakak peduli dek, ini hanya tentang waktu, dan kerikil yang seharusnya kita singkirkan bukan dijadikan alasan untuk saling menjauh.


"Nazwa!" Bentak Nadila. Nazwa acuh, tidak takut. "Maksud kerikil yang seharusnya kita singkirkan tuh apa ka?" Nazwa bertanya serius. Nadila merengkuh tubuh Nazwa. "Kamu akan paham setelah waktunya, tapi kamu mau kan bantu kakak singkirin kerikil itu?" Bisiknya. "Littel princess itu--" Nazwa menggantungkan perkataannya. "Teteh Naziya," Jawab Nadila. Nazwa melotot cemburu. "Udah siniin hp kakak, makananya cepet makan." Sebelum dia mengembalikan HP-nya, Nazwa menyodorkan pesan ibunya."Mau?" Tawar Nadila. "Udahlah gak usah, ini aja. Tapi uang tetep masuk kantong kan ka?" Nazwa tersenyum jahil. "Iya, setelahnya kita akan ke taman." Sepering berdua, mereka makan bersama.