
Setelah menghabiskan 5 hari di Hongkong dan Makau, akhirnya tibalah saatnya untuk kembali ke tanah air. Jika pada saat berangkat, banyak dari kami yang terjaga, tetapi di saat penerbangan pulang ini, kami tertidur pulas hingga menjelang landing di Bandara Internasional Changi, Singapura.
"Yo, kamu langsung ke Jakarta?" tanya bang Ardit sesaat setelah mendarat.
"Iya, Bang. Anak-anak pasti sudah nungguin."
"Yowes met ketemu lagi. Oiya kapan ke Batam?"
"Besok aku shift sore, jadi besok siang aku langsung balik ke Batam."
"Oke, sampai ketemu besok!"
"Fii amanilah," ucap aku dan Tyo bersamaan.
Setelah berpamitan dengan rombongan dokter, kami berdua kembali check-in untuk penerbangan lanjutan ke Soetta. Kami berdua sudah cukup lelah dengan perjalanan di malam hari ini, karena waktu telah menunjukkan pukul 22.00 waktu Singapura dan kami masih harus menunggu tiga jam lagi untuk penerbangan lanjutan ke tanah air.
Aku duduk dengan kepala yang aku sandarkan pada lengan Tyo karena lelah dan rasa kantuk yang mulai menghampiri.
"Ngantuk? Tidur aja, nanti kalau sudah boarding Mas bangunin," ucap Tyo sambil meletakkan kepalaku di dadanya.
"Mas nggak ngantuk?" tanyaku.
"Ngantuk juga, tapi masih bisa melek kok, nggak kepingin tidur. Sudah, Sayang tidur aja," ucapnya lembut sambil mengecup ubun-ubun kepalaku.
Aku pun tertidur cukup lelap hingga Tyo membangunkanku.
"Yang, sudah boarding."
Dengan mata yang masih terasa berat, aku mulai mengumpulkan kesadaranku.
"Mau dibeliin kopi?" tanya Tyo.
"Nggak, aku pingin tidur aja, biar besok pagi agak segeran," jawabku.
Kami pun mulai mengantri untuk masuk ke dalam pesawat dan tepat pukul 01.00 waktu Singapura, pesawat yang kami tumpangi mulai bergerak. Penerbangan kali ini, kursi-kursi penumpang tidak terisi penuh, mungkin hanya terisi 2/3 dari seat yang ada.
Penumpang yang tidak banyak ini, membuat pekerjaan para awak kabin lebih santai dan cepat selesai, sehingga kami berkesempatan untuk berbincang dengan salah satunya, yang berasal dari tanah air.
"Ini tadi yang ikut rombongan, ya?" tanya Linda, sang pramugari.
"Iya, Mbak. Mbak orang Indo?" tanyaku.
"Iya, orang tua saya tinggal di Bali, tapi kami bukan orang Bali."
"Kok nggak barengan sama rombongan yang tadi?" tanya Linda.
"Soalnya saya tinggal di Bekasi, tapi suami saya kerja di Batam. Rombongan tadi masih lanjut naik feri untuk sampai ke Batam," jawabku.
"Ooo kerja di Batam, dimana?"
"Saya dokter di RS Awassuka," jawab Tyo.
"Ooo dokter, jadi tadi rombongan dokter semua yaa?"
"Iya, dokter dan keluarganya," jawab Tyo.
"Waaah keren banget liburan bareng ke Hongkong. Ini berdua aja liburannya ?"
"Iya, anak-anak sama eyangnya di rumah. Kasian kalau ikut, pasti kecapean. Tur wisata seperti ini nggak cocok untuk anak-anak, kalau sama anak-anak pasti mereka kecapean, kami berdua saja cukup lelah," jawab Tyo.
"Jadwal turnya pasti padat, ya?"
"Iya, capek lah kalau untuk anak-anak" jawabku.
Linda lalu melihat ke arah jam tangannya.
"Eh iya, maaf saya mau lanjut tugas dulu, permisi," pamit Linda yang segera berjalan ke arah area servis di bagian tengah pesawat.
Tak berapa lama, para pramugari dan pramugara mulai membagikan makan malam kepada seluruh penumpang.
"Kok nggak dimakan?" tanya Tyo ketika melihatku memasukkan kotak makan malam ke dalam tas.
"Nggak lapar, lagian roti dari penerbangan sebelumnya belum aku makan," jawabku.
Beberapa saat sebelum landing, Linda menghampiri kami kembali dengan membawa kantong kertas.
"Ini masih banyak, silahkan diambil," bisiknya padaku.
"Eh, memangnya nggak papa, Mbak?" tanyaku setelah melihat isinya.
"Nggak papa, bawa aja. Ini ada tiga kotak snack dan dua kotak makan malam yang tadi," ucap Linda sambil menyerahkan kantong kertasnya.
Aku pun menerimanya dengan senang hati, "Terima kasih."
"Sama-sama," bisiknya.
Penerbangan ini cukup tenang karena telah melewati tengah malam dan lampu kabin pun diredupkan, agar para penumpang dapat beristirahat.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju rumah.
"Gimana Mbak, jalan-jalannya?" tanya Ewing.
"Keren Wing, kalau bawa anak-anak pasti mereka nggak mau pulang. Setelah nyampe di Disneyland, Dufan berasa biasa aja," jawabku.
"Surga mainan anak-anak, semua tokoh kartunnya ada, lengkap! Aku aja excited banget!"
"Jadi penasaran, ada fotonya kan?" tanya Ewing.
"Ada foto and videonya, semoga hasilnya bagus," jawabku.
"Boleh ntar aku ikutan nonton ya, Mbak."
"Silahkan aja."
Jalanan di ibukota tampak sangat lengang di tengah malam. Melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi jalan-jalan utama di pusat bisnis Jakarta, membuatku berfikir bahwa tidak ada perbedaannya dengan kota-kota Metropolitan lainnya di dunia, setelah melihat secara langsung bagaimana kota di Hongkong dan Makau, yang semuanya dihiasi dengan gedung-gedung pencakar langit modern.
Setelah hampir satu jam, akhirnya kami sampai di rumah orang tuaku. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku membersihkan diriku sebelum melihat kedua buah hatiku yang masih terlelap di alam mimpi.
"Biarin anak-anak tidur. Kita bangunin nanti sekalian Subuh aja," bisik Tyo ditelingaku agar anak-anak tidak terbangun.
Aku pun menurutinya, tetapi aku meletakkan mainan yang kubeli saat di Disneyland di samping tempat tidur mereka.
"Buat surprise," lirihku pada Tyo.
Di pagi harinya, setelah beristirahat sekitar 2 jam, aku kembali melakukan rutinitasku sebagai ibu. Pertama-tama adalah membangunkan kedua putriku untuk shalat Subuh, sedangkan Tyo shalat Subuh berjama'ah di masjid.
"Assalamu'alaikum," bisikku ditelinga Icha sambil membelai wajahnya.
Perlahan Icha membuka matanya, sesaat setelah menyadari kehadiranku, ia pun bangkit dari tidurnya.
"Ibu kapan sampai?" tanya Icha, sementara Ara masih berusaha membuka matanya setelah kulakukan hal yang sama.
"Tadi malam."
Lalu Icha melihat ke samping bantalnya dan menemukan boneka Donal dan Miki yang masih terbungkus plastik.
"Ibu! Ini bonekanya? Ini buat aku sama Ara?" tanya Icha dengan mata berbinar.
"Iya, itu oleh-oleh dari Disneyland, ini juga ada gantungan kunci sama kaos," jawabku sambil memberikan bungkusannya.
Ara yang tadinya masih malas untuk bangun, menjadi semangat setelah melihat hadiah yang kuberikan untuknya. Kedua putriku pun langsung memelukku sambil mengucapkan, "Terimakasih, Bu!"
Aku pun membalas pelukan mereka sambil mencium kedua pipinya dan berkata, "Sama-sama, shalihah. Nah, sekarang kita shalat subuh dulu, nanti setelah selesai shalat, kita bongkar oleh-olehnya, ya."
"Yeeii, asyik!" sorak Icha dan Ara.
Selepas shalat Subuh, kami berkumpul di kamar sambil membongkar koper. Aku pun mengeluarkan t-shirt dengan gambar kota Hongkong dan Makau untuk kedua putriku.
"Nih dicoba kaosnya," ucapku sambil memberikan kepada Icha dan Ara
"Ini kaos buatku?" tanya Ara.
"Iya," jawabku sambil memakaikanya pada Ara.
"Alhamdulillah, pas!"
"Gimana, suka nggak?" tanya Tyo.
"Suka, Yah! Makasih Yah, Ibu," jawab kompak Icha dan Ara.
Lalu aku kembali merapikan koper dan barang bawaan kami berdua, sementara Tyo berbincang dengan kedua putri kami.
"Ayah kapan balik ke Batam?" tanya Icha.
"Nanti siang, karena nanti sore ayah sudah harus kerja lagi," jawab Tyo.
"Yaaah, kok cuma sebentar?"
"Nanti kalau pas liburan kenaikan kelas, insyaAllah ayah bisa cuti agak lama, jadi nanti kita bisa jalan-jalan yaa," ucap Tyo.
"Sekarang sekolah dulu, nanti ayah anterin dan jemput, tapi setelah jemput, ayah langsung ke bandara ya," lanjut Tyo.
"Yaah Ayah nggak seru!" protes Ara.
"Yaa maaf, Ayah kan harus kerja. Nanti kalau nggak kerja, Ayah nggak dapat uang, kalau nggak dapat uang, nggak bisa bayar uang sekolah, nggak bisa jalan-jalan, gimana?"
"Tapi jangan lama-lama kesininya," pinta Ara.
"Iya, in syaa Allah Jum'at sore kan ayah kesini lagi," jawab Tyo.
"Sudah yaa, Icha mandi dulu, siap-siap untuk sekolah," ucapku sambil mengambilkan handuk dan seragam sekolahnya dari lemari pakaian.