Self Healing

Self Healing
Episode 50 Ingatan yang Hilang



Aku terbangun dengan perban terpasang di kepala. Kepalaku pun terasa berat dan berdenyut. Aku mencoba menggerakkan tangan kananku, yang terpasang selang infus berisikan cairan yang tidak kuketahui isinya.


Entah berapa lama aku tertidur akibat anestesi, karena saat ini aku telah berada di ruang ICU. Tak lama, Tyo pun datang menjengukku dengan menggunakan masker dan baju khusus ICU. Dari sinar matanya, kulihat ia tersenyum padaku.


"Sudah bangun? Mau minum?" tanya Tyo dengan lembut.


Tenggorokanku terasa sangat kering sehingga aku hanya dapat menjawabnya dengan isyarat mata.


"Mas ambilin ya."


Setelah mengambil air hangat yang berada di meja samping tempat tidurku, Tyo membantuku untuk dapat meminumnya.


"Makasih," lirihku.


Tyo meletakkan kembali gelas di atas meja, lalu ia duduk di pinggir tempat tidur sambil menggenggam tanganku.


"Apa yang dirasakan?" tanya Tyo.


"Ngantuk, tapi sedikit. Oiya Mas, anak-anak gimana?"


"Mereka semua sudah tidur. Zalfa tidur sama mbak Yusna, kalau Icha sama Ara tetap tidur di kamarnya," jawab Tyo.


"Sekarang jam berapa?"


"Sudah hampir tengah malam, jam 11.40," jawab Tyo.


"Aku tidur berapa lama?"


"Operasi selesai sekitar jam 6 tadi. Alhamdulillah, operasinya lancar. Selangnya sudah dibersihkan, in syaa Allah nggak mampet lagi. Tadi mas lihat sendiri, kalau alirannya sudah lancar kembali," jelas Tyo.


Rasa syukur aku panjatkan kepada Illahi Rabbi, karena operasi ke-dua ini berjalan dengan lancar, terlebih aku tidak mengalami vertigo seperti pada pasca operasi pertama. Lalu, setelah beberapa hari di dalam ruang perawatan, aku pun diperbolehkan pulang.


Setelahnya, aku masih tetap harus banyak beristirahat, untuk mencegah terjadinya vertigo atau pusing yang dapat datang kapan saja. Untuk itu, aku mengandalkan kantin rumah sakit atau warung makan yang terletak di belakang rumah sakit dalam urusan pemenuhan kebutuhan pangan keluargaku.


Tetapi ada satu hal yang sangat kusesalkan, yaitu aku tidak dapat meng-ASI-hi bayiku yang baru berusia lima pekan. Hal ini dikarenakan pengaruh obat-obatan yang akan kukonsumsi selama beberapa bulan ke depan.


"Nggak papa, Yang. Zalfa sudah dapat kolostrumnya, kan kandungan ASI terbaik adalah di bulan pertama kelahirannya, jadi in syaaAllah sudah memenuhi kebutuhan awalnya," ucap Tyo untuk membesarkan hatiku.


Tetapi qadarullah, jelang empat pekan kemudian aku harus kembali masuk ruang operasi, karena terjadi penyumbatan yang sama. Lalu, tiga pekan kemudian, aku juga harus kembali menjalani operasi yang sama dengan diagnosis yang sama.


Tetapi pada operasi kali ini, memberikan efek yang berbeda pada diriku. Entah apa yang terjadi selama operasi berlangsung, tetapi aku seperti keluar dari ragaku. Aku melihat diriku terbaring di meja operasi dan dr. Adi sedang memulai pembedahan pada kepalaku. Aku juga melihat Tyo, berdiri di samping meja operasi. Aku melambaikan tanganku padanya, tetapi Tyo sama sekali tidak melihatku.


Lalu aku mulai menyadari apa yang terjadi padaku.


"Ya Allah, Ya Rabb, tolong jangan ambil nyawaku sekarang. Hamba yang lemah ini memohon kepada-Mu ya Allah. Jangan sekarang, ya Allah!"


Kemudian, aku terbangun di dalam kamarku. Aku terbangun karena suara berisik anak-anak yang bermain.


"Sudah bangun, Lin?" tanya ibuku.


Aku menjawabnya hanya dengan menganggukkan kepalaku.


"Makan dulu, terus minum obatnya," lanjut ibuku dan aku pun menurutinya.


Aku melihat ke sekeliling kamarku. Semuanya tampak asing bagiku. Lalu aku melihat sosok bayi yang tertidur pulas di sampingku, yang membuatku bertanya-tanya.


"Bu, ini siapa?" tanyaku.


Ibuku tampak terkejut dengan pertanyaan yang baru saja kulontarkan.


Ibuku pun menyadari kebingungan yang kurasakan.


"Ini Zalfa, bayimu. Kamu melahirkannya sekitar lima bulan yang lalu."


Jawaban ibu, selamat sontak membuatku terkejut luar biasa.


"Melahirkan? Ibu bercanda! Anak kecil kok melahirkan?" sahutku pada ibu.


Ibu pun terdiam. Lalu dengan nada yang serius, ibu bertanya, "Lin, sekarang kamu dimana dan umur berapa?"


"Di Sidikalang," jawabku pasti.


Raut wajah ibu pun berubah, yang membuatku semakin tidak memahami apa sebenarnya yang terjadi.


Hari itu, aku merasa sangat lelah padahal aku nyaris tidak melakukan aktivitas apapun. Hingga di sore hari, tiba-tiba ada seorang pria yang masuk ke dalam kamarku bersama dua anak perempuan yang memanggilku 'ibu'. Aku hanya terdiam, membeku, tidak mengerti ada apa sebenarnya yang terjadi.


Anak yang bernama Ara, sibuk bercerita kepadaku tentang kegiatannya selama di sekolah, sedangkan Icha lebih banyak diam jika tidak ditanya. Aku hanya duduk mengamati mereka berdua dengan pikiran yang tidak karuan. Aku kan belum sekolah, tetapi mengapa dua anak ini memanggilku ibu?


Lalu saat aku ke kamar mandi, aku melihat pantulan diriku di cermin yang sungguh membuatku terkejut yang membuatku bertanya dalam hati.


"Kok aku sudah dewasa? Jadi apa memang benar mereka anak-anakku?"


Aku bagaikan orang yang linglung. Ditambah seorang pria yang terus bertanya padaku akan apa yang kurasakan, sungguh membuatku terganggu.


"Lin, kamu kenapa? Itu kan Tyo, suami kamu," tegur ibu yang memperhatikan bahasa tubuhku yang tidak nyaman dengan keberadaannya.


Aku tidak menjawabnya dan memilih untuk kembali tidur. Setelah beberapa hari, aku mulai dapat beraktifitas ringan, tetapi aku masih belum dapat mengingat Tyo dan anak-anakku. Hingga akhirnya, ibu memutuskan untuk membawaku ke Jogja.


"Biar Lina di Jogja sama bapak-ibu. In syaaAllah, di sana nanti akan dikonsulkan ke dokter syaraf untuk proses penyembuhan Lina. Jadi tolong, kamu pesan tiket untuk kita bertiga ditambah Zalfa ke Jogja. Icha dan Ara biar disini dulu sampai akhir semester ini, sementara nanti kita cari sekolah untuk mereka berdua."


"Coba kamu tanya ibu, bisa tidak menemani anak-anak, sementara kamu ke Jogja untuk cari sekolah?" pinta ibu kepada Tyo untuk menghubungi ibunya di Jakarta.


Beberapa saat kemudian, setelah menghubungi orang tuanya di Jakarta, Tyo kembali berbicara dengan ibu.


"Ibu bilang in syaaAllah bisa. Nanti ibu berdua bareng bapak kesini. Kalau begitu, Tyo cari tiketnya dulu ya, Bu."


Aku hanya diam dan memperhatikan situasi, sementara Tyo mulai mempersiapkan kepindahanku ke Jogja.


Kondisi fisikku belum sepenuhnya pulih dari operasi, walaupun aku tidak merasakan vertigo, tetapi setiap aku menutup mata, terutama di saat istirahat malam, aku seolah-olah berada di suatu lorong dimana terdapat sebuah kabel berwarna biru, merah dan kuning, yang panjang dan membundat. Maka perjalananku akan terhenti untuk melepaskan ikatan kabel tersebut. Ketika ikatan terlepas akan keluar kilatan cahaya yang menandakan perjalananku berlanjut.


Hal ini membuat kualitas istirahat malamku terganggu, sehingga aku membayar hutang tidurku di pagi dan siang hari. Tetapi yang Tyo lihat adalah aku yang hanya tidur seharian.


"Yang, semangat dong! Jangan tidur terus, ayo bangun!"


Kalimat itu bagaikan iklan yang terus diputar di kepalaku, membuatku semakin merasakan lelah tidak terkira.


Mendengar jawaban Tyo, aku merasa ia tidak mendengarkanku sepenuhnya. Ia tidak memberikan aku solusi tetapi malah seolah-olah menyemangatiku yang malas. Tetapi aku tidak membantahnya, aku tetap diam seperti biasa.


Sementara itu, ibu terus membuatkanku minuman coklat hangat setiap hari, di pagi dan malam hari, karena ibuku pernah membaca bahwa coklat baik baik untuk kesehatan otak. Aku masih belum dapat mengingat ketiga anak-anakku, aku hanya mendengarkan mereka bercerita sepulang dari sekolah. Aku bahkan tidak dapat merasakan ikatan batin antara ibu dan anak-anaknya.


Hingga tiba saatnya aku berangkat menuju Jogjakarta. Kedua orang tua Tyo dan mbak Intan, seorang sahabat keluarga yang ikut datang menemani, telah sampai di Batam dua hari sebelumnya. Di saat kami berpamitan, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh.


Aku melihat sekelilingku, pakaianku, semuanya tampak tidak biasa. Lalu aku melihat ibuku dan orang tua Tyo sedang berpamitan.


"Mas, kita mau kemana?" tanyaku yang membuat Tyo keheranan.