Self Healing

Self Healing
Bab 15 Fakta



Jadilah mutiara mesti berada di tengah lautan, tirulah batu karang mesti harus menahan terpaan air laut yang tidak jarang mengikis keberadaannya 


***


    Naziya membuka gorden kamar dari lantai dua, dilihatnya sahutan burung-burung dengan merdu terdengar. Ranting pepohonan yang basah dan embun di daun yang mengembun. Dihirup udara dalam-dalam, Naziya merasa segar mengalir di tubuhnya. "Ka mau sekolah, lah ko masih pakai mukena." Nura datang dengan pakaian seragam yang telah rapi. Naziya menoleh dengan senyuman. "Kakak males sekolah ah."Jawabnya "Lah ko kakak gitu sih! Ayo dong." Nura memaksa Naziya memberhentikan aktifitasnya tersebut. "Dek, kakak…"Naziya tidak bisa melawan, tingkah Nura seperti Meira, tidak bisa ditawar dan harus. Nura mendorong tubuh Naziya ke kamar mandi. "Mandi sana, dedek tunggu di luar. Cepetan ya! Ruang makan telah menunggu kakak." Nura meninggalkan Naziya dengan gelengan. Desain rumah yang ditempati Nura terkesan bercampur dengan alam, setiap sudut di rumahnya ditempati tanaman. "Adek, kakak mana?" Tanya Haris yang sudah duduk di ruang makan. "Lagi mandi," Meira datang dengan Zayyan."Lah ko dia baru mandi? Bukannya jarak sekolah dari sini jauh ya, memakan waktu kurang lebih satu jam," Zayyan menyela. "Tadi tuh kakak katanya gak mau sekolah, malah asyik mandangin pohon. Untung adek bisa paksa dia. Hhehehe, jangan marah ya bang." Nura menjawab sambil mendaratkan bokongnya untuk duduk di dekat Haris. "Nura, kamu?" Nenek menghentikan pertanyaannya ketika Nura udah menyerempet menjawab."Adek udah gak sakit hati lagi, kan abang mau nikahin ka Naziya. Urusan Rivaldi. Bodo amat, yang penting ayah, abang terus nenek sama Meira sekarang ada bersamaku. Aku udah berhasil melawati masalah yang diberikan." Lagi lagi jawaban Nura membuat nenek bangga, dia merasa tidak sia-sia telah mengajarinya ilmu agama. "Telat dikit mah gak bakalan disuruh pulang lagi kali yaa bang, kan Ka Naziya kayaknya deket tuh sama pak satpamnya," Tawar Nura. "Kamu jangan suka mengambil kesempatan dek," Meira belum aktif seperti biasanya, dia terus menguap di atas meja makan. "Ayah susul dulu Naziya ke atas ya." Haris berdiri dia segera menaiki tangga menuju kamar Nura. Naziya sudah siap, baju sekolah yang kemarin sempat dibawa hujan-hujanan dia pakai lagi. Tapi dia belum mau beranjak dari tempat tidur, dia memandangi foto Shakila dan Nura yang terpampang jelas di depannya. Haris melihat itu, lantas menghampirinya."Ka, turun yuk! Yang lain udah nunggu,"Ajak Haris. Saat Haris memegang tangan Naziya untuk berdiri ditarik tangannya Oleh Naziya untuk duduk dulu. "Itu foto Bunda ya? Mirip aku banget. Itu foto ayah tapi, gak ada aku. Terus ayah," Tanya Naziya meminta penjelasan. Perihal dia bukan anak kandung Haris Naziya belum tahu, hanya yang ditahu oleh Naziya bahwa Shakila adalah ibu kandungnya. Sekarang fakta sudah berada jelas di depan mata. Tapi kenapa Mayassah bisa menjadi mamahnya, apa dia diangkat yang Naziya ingat ada seseorang yang mengakui ayahnya. "Kita makan dulu saja, nanti ayah jelaskan." Naziya menggeleng. "Ya udah kakak gak mau sekolah. Mau tidur lagi aja," Rajuk Naziya. Haris menghembuskan nafas gusar, sebelumnya dia mengirim pesan kepada Zayyan untuk makan saja terlebih dahulu dan harus berhasil mengajak Nura berangkat sekolah duluan. "Ayah memang bukan ayah kandungmu, tapi bunda dia ibu kandungmu. Naziya masih ingat kecelakaan… " Haris mengangkat alisnya. Naziya mengangguk. "Ayah kecelakaan gara-gara Naziya, dan sebelumnya menampar Ka Nadila. Boneka Naziya." Naziya tidak melanjutkannya lagi, air matanya sudah merembas di pipi. "Nah saat itu, Naziya sama ayah langsung ke rumah sakit. Ayah kandungmu itu temen ayah, dia seperti kakak, orangtua dan sahabat bagi ayah. Tapi ayah tidak tertolong, ayah membawa hpnya di sana ada curhatan mengenai kamu dan bunda. Dia takut kamu tidak bahagia bersama mamah, jadinya setelah kematian ayah kandungmu ayah selalu mengunjungi kamu. Mamah kamu tidak pernah bertemu setiap kali itu, hanya kamu. Tapi  kamu masih belum ingat ya. Ayah dipindah tugaskan ke luar negri dan tidak tahu kelanjutan kamu lagi. Beberapa tahun kemudian, ada email masuk dari mamahmu dia mengatakan kamu pendarahaan yang menyebabkan koma satu hari. Ayah kaget, satu tahun mengurus syarat kepulangan mencari-cari kamu tapi tidak ketemu, sampai ayah bertemu Shakila. Ayah sebelumnya tidak tahu, tapi seiring berjalannya waktu ayah tahu semuanya. Kadang bundamu selalu menangis memandangi fotomu dalam diam. Merasa bersalah sekaligus bahagia berhasil melindungi istri ke dua sahabat ayah. Bersalah dia masih belum mendapatkan kata cerai yang benar menurut negara hanya sah menurut agama, senang Ayah mendapatkan wanita seperti bundamu dia cantik cerdas dan pandai berdamai dengan luka cuman dengan kamu saja dia tidak pernah berdamai merelakan. Udah paham ya." Haris ingin mengakhiri cerita jam dinding udah menunjukka pukul 6.45. "Pertemuan ayah sama bunda bagaimana, dan sejak kapan ayah tahu kalau bunda telah menikah dan mempunyai anak aku. " Naziya bertanya. "Sudahlah nanti kamu akan tahu segalanya kalau waktunya, yang jelas sekarang ini aku adalah ayahmu, Nura adikmu, dan Zayyan calon suamimu." Haris tidak ingin Naziya bolos sekolah. Naziya memanyunkan bibir. Merasa canggung dia tetap. "Lalu bunda sekarang kemana, dari kemarin sore tadi Naziya tidak lihat, Nenek hanya menunjukkan foto dia saja. Naziya ingin bertemu dia." Haris memegangi kedua pipi Naziya dengan tangannya. "Masih ada ayah, Bunda telah pergi." Naziya menatap sorot mata Haris terluka pertanda kehilangan yang sangat menyakitkan. Naziya memeluknya tanpa berpikir lagi. Ruang makan telah bersih, tersisa dua kotak nasi yang berisi. "Nura berhasil dibujuk tapi sambil ngedumel." Nenek tertawa ringan, setelah melihat Haris dan Naziya datang menghampiri dia yang berada di dapur bersama Bi Sumi. Naziya bersalaman dia memeluknya sebelum berangkat sekolah ada sedikit tangisan yang tumpah. "Mengapa bunda ninggalin Naziya, sebelum Naziya bertemu kembali dengannya." Disela tangisnya Naziya bergumam Nenek tidak dapat menjawab. "Ayo sayang udah siang ini, bawa bekelnya ya." Haris mengatakan sambil menarik Naziya untuk melepaskan pelukannya. 


***


      Nadila sudah hampir satu jam menunggu di gerbang kedatangan Naziya, tapi sampai sekarang tidak wajahnya pun tidak terlihat. "Neng gak sekolah," Tanya Pak Tino. Nadila menggeleng "Gak pak, saya mau menunggu adik saya." Jawabnya, tidak lama Naziya terlihat denga haris turun dari mobil menyapa Pak Tino. "Pak bukain dong, yahh. Cuman 5 menita." Naziya memelas."Pak tolong bukain ya, saya berani tanggungjawab," Ucap Haris. "Ayah gak kerja?" Tanya Naziya. "Nanti saja, yang penting kamu sudah masuk ke sekolah." Pak Tino membukanya. "Neng itu Naziya, tapi ko." Harus tersenyum ramah. Nadila menarik tangan Naziya. Dia memeluknya. "Dek pulang, kakak sendirian. Kita bereskan semua ketegangan yang telah terjadi bertahun-tahun ini. "Sambil terisak. "Kita akan bereskan, sayang. Tapi Naziya harus masuk ke kelas dulu." Haris menjawabnya. Nadila melepaskan pelukan itu, dia menatap Haris. "Sepulang sekolah nanti saya jelaskan. Mari kamu sekolah dulu, biarkan saya antar. " Haris mengajak dia. Nadila masih mematung. "Iya sana ka, bareng ayah." Nadila berkata ayah mengetes bahwa dia salah tidak dengar. "Institut Teknologi Bandung," Naziya berucap lembaga lalu dia meninggalkan mereka. Nura terlihat menunggu di sana memanyunkan bibir. Nadila memandangi kepergian Naziya tanpa sadar Haris menariknya masuk ke dalam mobil.