
Hari persalinanku semakin dekat, aku telah mencuci pakaian-pakaian bayi milik Ara yang masih kusimpan rapi di dalam lemari. Mempersiapkan kebutuhan bayiku nanti membuatkku dan kedua putriku bersemangat.
Hingga konstraksi hebat itu pun datang di awal bulan Desember, aku pun segera dilarikan ke ruang bersalin.
Tyo menggenggam erat tanganku selama persalinan, seperti sebelumnya. Aku merasakan rasa sakit teramat sangat, melebihi rasa sakit pada dua persalinanku sebelumnya, yang mengakibatkan badanku gemetar dan mengerang kesakitan. Tetapi aku hanya dapat meremat tangan Tyo.
"Yang, Sayang bisa, Sayang kuat, ayo semangat!" bisik Tyo di telingaku.
Dalam hatiku berkata, "Sok, dicobain rasanya kontraksi! Semangat?! Emang mau lomba!"
Ibuku pernah suatu kali bercerita, jika salah satu pasiennya dulu, memukuli suaminya selama persalinan. Bukan hanya dipukuli, tetapi sampai dicakar dan ditarik-tarik bajunya. Saat ini, itulah yang kurasakan dan ingin kulakukan kepada Tyo, tetapi untungnya itu semua tidak terjadi.
Hingga akhirnya aku sudah tidak kuat lagi, tiba-tiba aku seperti komputer yang dalam proses shutdown. Aku tidak bergerak dan tidak merespon apapun. Tetapi aku masih sadar dan dapat memahami dengan jelas situasi yang terjadi.
Seketika itu juga, Tyo nampak panik. Ia menepuk-nepuk pipiku, karena ia mengira aku tidak sadarkan diri dan berusaha untuk menyadarkanku.
"Yang, Sayang! Yang, bangun!" seru Tyo sambil terus menepuk-nepuk pipi dan tanganku. Kemudian Tyo memeriksa denyut nadiku dan memeriksa tanda-tanda vital yang lain.
Tetapi aku tetap tidak merespon, hal ini membuat dr. Nesya memutuskan untuk melakukan tindakan cesar.
"Kayaknya nggak bisa nih, Yo. Siapkan OK (kamar operasi) sekarang!" seru dr. Nesya.
Perawat dan bidan yang berada di ruang bersalin pun segera berkoordinasi dengan pihak OK. Tetapi tak lama berselang, dr. Nesya meneriakkan sesuatu.
"Eh tunggu! Lin, kepalanya sudah kelihatan! Ayo, kamu dorong yang kuat! Ayo, kamu bisa Lin!"
Sesaat itupun, aku segera mendapatkan kekuatanku kembali dan mulai mengejan sekuat tenagaku.
"Ayo Lin! Sekali lagi!"
Aku pun kembali mengejan sekuat tenaga.
"Ayo Lin, terus, terus!"
Lalu terdengarlah suara tangisan bayi yang membuatku lega.
"Waa, mirip banget sama mbaknya!" seru dr. Nesya sambil meletakkan bayiku di atas dadaku.
"Iya, mirip Ara," sahut Tyo dengan wajah penuh kelegaan.
Aku tahu, di saat itu, Tyo ingin sekali membelai kepalaku, tetapi aku tahu ia juga tidak berani akan reaksi aku nantinya.
"Yang, mas periksa bayinya dulu ya," bisik Tyo sambil mengecup keningku.
Aku pun menjawabnya hanya dengan isyarat mata karena lelah yang kurasakan.
Tenagaku benar-benar terkuras habis pada persalinan ini. Rasa sakit yang kukira akan jauh lebih berkurang karena ini adalah kali ke-tiga aku melahirkan, ternyata salah. Rasa sakit kali ini, jauh melebihi rasa sakit disaat aku melahirkan Icha dan Ara.
"Perempuan lagi ya, Dok?" tanyaku lirih.
"Iya, selamat ya," jawab dr. Nesya.
"Makasih, Dok. Alhamdulillah, mode hemat berlanjut," candaku yang kemudian disahuti oleh Tyo, "Baju lungsuran, ya?"
Suasana di ruang bersalin pun menjadi bertambah hangat dengan canda dan tawa dari kami semua.
Beberapa saat kemudian, aku telah ditempatkan di ruang perawatan presiden suite, karena semua kamar VIP telah penuh terisi.
Pada kelahiran yang ke-tiga ini, walaupun aku merasakan sakit yang jauh melebihi persalinan sebelumnya, tetapi aku mendapatkan kenyamanan setelahnya membuat rasa sakit itu hilang tak berbekas. Terlebih, Icha dan Ara yang sangat gembira menyambut kelahiran adik baru mereka, yang kuberi nama Zalfa Haisya.
Icha dan Ara tidak melepaskan pandangan dari adik baru mereka yang berada di dalam box bayi, sesekali kulihat Ara mengelus-elus pipi Zalfa. Bahkan hingga mereka meminta untuk tidak kembali ke lantai tujuh, karena ingin tetap bersama adik barunya. Walaupun alasan itu sedikit kuragukan, karena aku yakin alasan sebenarnya adalah dapat tidur di kamar yang luas.
Keesokan paginya, secara bergantian, aku mendapatkan kunjungan dari rekan sejawat Tyo dan pihak manajemen rumah sakit. Hal ini sangat berbeda dari persalinan sebelumnya, dimana saat itu, aku belum dikenal karena Tyo adalah dokter baru.
Sayangnya, Tyo masih harus menyelesaikan tesisnya yang mengharuskannya terbang ke Jakarta, lima pekan setelah persalinanku dan di saat itulah aku merasakan ada yang tidak beres dengan penglihatanku.
Untuk itu, aku segera menghubungi Tyo untuk menceritakan kondisiku, "Mas, kapan pulang?"
"In syaa Allah besok siang, setelah nyerahin tesis ke dosen. Kenapa?"
"Mataku kok nggak bisa ngelihat jelas ya? Hmm agak berbayang gitu, gimana yaa njelasinnya?"
"Berbayang, dobel gitu?" tanya Tyo dengan nada khawatir.
"Iya, semuanya dobel," jawabku.
Tyo pun terdiam sesaat, sebelum ia mulai bertanya kembali.
"Pusing atau sakit kepalanya, nggak?"
"Enggak sih. Nggak ada pusing atau sakit kepala, hanya semuanya jadi kembar aja," jawabku.
"Yang, kalau gejalanya bertambah jadi pusing, sakit kepala, telinga berdenging atau apapun itu, Sayang langsung ke UGD aja, ya. Nanti Mas bilang ke Ratna biar Sayang segera ditangani."
"Mas, emangnya aku kenapa?"
"Oke, bener yaa, cepet pulang, nggak usah bawa oleh-oleh, yang penting cepat sampai sini lagi."
"Iya, Sayang. In syaaAllah, tiket kan sudah ada. Ingat pesan mas, ya! Kalau ada apa-apa, langsung ke UGD, hubungi Bang Farhan juga."
"Iya."
Aku pun menyudahi percakapanku dengan Tyo. Hatiku sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Tyo, walaupun belum menemukan jawaban atas kondisi yang aku alami.
Keesokan harinya, seperti yang sudah Tyo katakan, ia akan secepatnya menemuiku begitu sampai di Batam.
"Gimana sekarang, apa yang dirasakan?" tanya Tyo.
"Mas jadi kembar," jawabku.
Tyo pun segera memelukku erat.
"Yang, masih bisa ngelawak aja sih?" bisik Tyo di telingaku.
"Yowes, aku nangis histeris aja, gimana?"
Lalu Tyo melepaskan pelukannya dan memegang kedua lenganku sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Mas, periksa sebentar ya. Sayang duduk dulu," ucap Tyo.
Aku pun menuruti perintahnya, sementara itu, Tyo mengambil senter dan stetoskop untuk memeriksa kondisiku.
"Ikuti arah sinarnya, ya," pinta Tyo setelah memeriksa badanku.
Aku pun mengangguk.
Tyo mengarahkan senter ke arah atas-bawah lalu ke arah kanan dan kiri, kedua bola mataku pun mengikuti arah cahayanya.
Setelah beberapa saat, hanya dengan senyuman Tyo menyudahi pemeriksaanku.
"Yang, mas konsultasi ke dr. Harry dulu ya," ucap Tyo.
Aku tidak mendengarkan dengan jelas apa yang ia tanyakan ke dr. Harry, tetapi setelah itu ia memintaku untuk berganti pakaian dengan raut wajah yang menunjukkan kecemasan.
"Kita ke radiologi, Sayang sebaiknya segera CT-scan otak," ucap Tyo.
Kekhawatiranku pun kembali datang. Sambil bersiap untuk pemeriksaan CT-scan, aku hanya dapat memasrahkan diriku pada Illahi.
Kudengar Tyo menghubungi mbak Yusna untuk menitipkan Zalfa yang masih tertidur nyenyak.
"Mbak Yusna mau ke sini, buat njagain Zalfa," ucap Tyo.
Tak lama, pintu kamarku diketuk dari luar dan Tyo bersegera membukanya.
"Lina kenapa, Yo?" tanya mbak Yusna.
"Nggak tahu, Mbak. Makanya aku mau periksakan sekarang," jawab Tyo.
"Semoga nggak baik-baik aja, ya," ucap mbak Yusna.
Setelah itu, aku dan Tyo bersegera menuju ruang radiologi di lantai dasar. Aku dapat merasakan kecemasan yang Tyo rasakan. Aku pun berusaha menenangkannya dengan menggenggam erat tangannya.
Sesampainya di ruang radiologi, para operator radiologi segera memindai otakku. Suara mesin CT-scan membuat kepalaku berdenyut, aku pun memejamkan mataku untuk mengurangi ketidaknyamanan yang kurasakan selama proses pemindaian.
Selang beberapa menit kemudian, setelah memegang hasil CT-scan, kami berdua menuju poliklinik syaraf, yang telah sepi dari antrian pasien, karena waktu telah menunjukkan lewat tengah hari.
"Ini Dok, hasil CT-scannya," ucap Tyo sambil menyerahkan amplop putih besar.
Dr. Harry membacanya dengan seksama, sebelum ia mengutarakan diagnosisnya.
"Sepertinya ada penyumbatan di jalur VP-shuntnya. Kita konsulkan ke bedah syaraf, kalau menurut saya, ini harus segera diambil tindakan operasi," ucap dr. Harry.
"Coba saya hubungi dr. Adi dulu," ucap dr. Harry.
Tak lama setelahnya, dr. Adi datang ke ruang dr. Harry.
"Gimana? Siapa yang harus chito?" tanya dr. Adi.
Tyo pun segera menceritakan kronologi sakitku ini, dari awal operasi pertama kali, yaitu sembilan tahun yang lalu.
"Hmm, kok bisa nyumbat ya, padahal sembilan tahun ini aman-aman aja, kan?" tanya dr. Adi.
"Nah itu, Dok. Sembilan tahun ini, saya nggak pernah mendengar keluhannya diseputar kepalanya," jawab Tyo.
"Yowes, saya siapkan OK-nya dulu. Kita mulai jam empat sore ini," ucap dr. Adi.
"Oiya, Lina langsung masuk ke ruang perawatan aja. Yo, kamu segera pesan kamarnya. Kita ketemu nanti di OK, tiga jam dari sekarang," lanjut dr. Adi.