
Hingga keesokan harinya, aku belum juga dapat menemui bayiku tanpa alasan yang jelas. Akhirnya, aku dan Tyo mendatangi langsung kamar bayi.
"Mbak, bayi saya atas nama Halina Ramadhani, kok nggak dibawa ke kamar?" tanyaku.
"Ooo Bu Halina, bayinya tadi muntah-muntah, nanti kalau sudah diperiksa sama dokter anak, akan kami antar ke ruangan."
Aku pun merasa aneh mendengar jawaban yang diberikan dan yang lebih membuatku kesal adalah sikap Tyo yang santai saja, seolah-olah ini adalah hal yang biasa terjadi. Padahal semua teori, semua cerita hinggs video proses persalinan hingga akhir, sampai si bayi berada pada satu ruangan perawatan bersama, sudah ku lihat dan aku pun berharap yang sama.
Aku pun kembali ke ruang perawatan penuh dengan kekecewaan.
"Tunggu aja, Yang. Nanti juga akan diantar ke kamar. Sudah yuk, kita tunggu di kamar aja," ucap Tyo yang berusaha menghiburku.
Akhirnya selepas maghrib, seorang perawat mengantarkan bayiku ke ruangan, di saat orangtua dan saudaraku tengah berkumpul.
"Alhamdulillah, wah berat juga 3,3 kg!" seru mbak Hana ketika membaca status yang terdapat pada box bayi.
Dari semua komentar akan bayiku, tidak ada satupun kudengar kata lucu, gemas atau cantik. Memang, bayiku tidak menggemaskan, tidak lucu ataupun cantik. Kulitnya sangat merah dan rambutnya sangat tebal, sedangkan wajahnya, aku sendiri tidak dapat menggambarkannya. Tetapi itu tidak masalah untukku, yang terpenting adalah ia sehat dan normal.
Keesokannya, aku mendapat kunjungan dari keluarga Tyo, yaitu orang tua bersama kakak dan kemenakannya yang datang bergantian.
"Assalamu'alaikum, selamat ya Nak Lina," ucap Ibu Tyo sambil mencium dan memelukku.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Tyo.
"Oh iya, Mas," ucap Ibu Tyo ketika Tyo menghampirinya yang kemudian menyalaminya layaknya orang lain.
Aku dan Tyo pun berpandangan, lalu Tyo pun berucap, "Bu, ini Tyo."
Sontak sang bunda dan ayah Tyo baru menyadari jika ternyata si putra bungsu berada di depan mereka, segera memeluknya sambil mengeluarkan air mata haru.
Ibu Tyo pun memandangi putranya dengan pandangan tak percaya, karena perubahan fisiknya yang cukup drastis.
"Kamu naik berapa kilo?" tanya ayah Tyo.
"9 kg, Pak," jawab Tyo sambil tersipu.
"Wah, nak Lina nggak ngurusin Tyo, nih!" canda ayah Tyo.
"Iya, Pak. Ngeri kalau dikurusin lagi, ntar tinggal tulang," balasku yang membuat keluarga Tyo tertawa.
"Cerdas!" sahut ayah Tyo.
Selama setahun pernikahan kami, memang Tyo telah berhasil menambah berat badannya hingga 9 kg. Peningkatan berat pun berdampak pada perubahan penampilannya yang sangat jauh berbeda dari awal kami menikah.
Reuni antara orang tua dan putra bungsu kesayangan pun terjadi di kamar rumah sakit.
"Kamu kapan sampainya?" tanya ayah Tyo.
"Kemarin pagi Pak, sekitar jam 10."
"Kamu cuti sampai kapan?" tanya ayahnya lagi.
"In syaa Allah 10 hari, Pak, sekalian ngabisin cuti tahun lalu."
"Alhamdulillah, bisa sampai qeqahan..., siapa namanya?" tanya ibu Tyo.
"Aisha Mayra, Bu," jawabku.
"Besar juga, ya?"
"Alhamdulillah, Pak."
"Jadinya qeqahannya kapan ya?" tanya ayah Tyo.
"In syaa Allah tanggal 1, Pak."
Tak lama terdengar adzan Isya bersahutan, yang membuat orang tua beserta kakak Tyo pun berpamitan. Sesaat kemudian perawat bayi datang untuk mengambil bayiku, karena ASI-ku belum keluar.
"Saya bawa dulu bayinya ya, Bu."
"Iya, Mbak. Oiya, bayi saya dikasih susu apa?"
"NINe dari Nestla. Ibu tidak perlu khawatir, semua pemberian susu merupakan rekomendasi dari dokter anaknya," jelasnya.
"Iya, saya percaya kok, makasih ya Mbak," ucapku.
Malam itu, aku kembali tidur terpisah dengan bayiku dengan alasan ASI-ku yang belum keluar. Aku pun tidak menolak kebijakannya dan beranggapan itu adalah yang terbaik tanpa memikirkan efeknya di masa yang akan datang.
3 hari setelah persalinanku, aku telah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Mas Purnomo dan mbak Leli, kakak dari Tyo pun datang untuk ikut mengantarkan aku pulang.
Dengan menaiki mobil operasional di rumah, yang tentunya dengan supir, aku dan Tyo ditemani ibuku pun pulang menuju Kelapa Gading.
Kembali pulang ke rumah membuatku lebih rileks, yang berpengaruh kepada kelancaran ASI-ku. Selain itu, ibuku juga telah menyiapkan sayur katuk dan aneka buah-buahan untuk memperlancar ASI-ku, serta ditunjang dengan suplemen dan vitamin.
Benar saja, pada hari ke-tiga itu, ASI-ku mulai keluar dan pada hari ke-empat, ASI-ku sudah semakin deras. Tetapi ternyata perjuangan untuk meng-ASI-hi Icha tidak semudah dan seindah yang kubayangkan.
Efek dari tidak segeranya Icha diberikan kepadaku selama di rumah sakit, ternyata berimbas pada pemberian ASI. Icha akan menangis histeris dan ia akan menggelengkan kepalanya berulang kali sehingga aku harus memegangi kepalanya agar dapat mendapatkan ASI.
Tangisannya yang keras dan histeris mengundang orang tuaku untuk memeriksa keadaan Icha.
"Icha kenapa, Lin?" tanya ibuku dengan penuh kekhawatiran.
"Ini, Icha mau ASI aja ngamuk gini nangisnya," jawabku sambil memberikan ASI kepada putriku.
"Kok nangisnya kayak anak dipukulin, kalau bahasa Jawanya itu, mbeker-mbeker," ucap Ibu.
"Hah, mbeker-mbeker? baru denger tuh kata," sahutku.
"Ya itu, nangisnya histeris, kayak lagi dihajar, nangis sambil teriak-teriak," jawab ibu.
Icha, putri pertamaku memang sangat berbeda. Wajahnya tidak menggemaskan ataupun ayu, kulitnya sangat merah dan tangisannya membuat orang yang mendengar seperti mendengar bayi yang sedang dipukuli.
Ketika mas Verdi datang beserta bayinya, yang lahir 3 bulan sebelum bayiku. Saat itu aku melihat perbedaan yang sangat signifikan.
Qanita, nama yang diberikan mas Verdi untuk putri pertamanya adalah bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Berkulit putih dan berwajah ayu. Badannya yang gemuk, berisi seperti bayi sehat pada umumnya, membuatku merasa sedikit cemburu, karena Icha sangat jauh dari itu semua.
Tetapi, aku segera sadar akan pikiranku yang nantinya dapat merusak batinku.
"Cha, kamu bayi sehat, itu yang paling penting," ucapku dalam hati untuk membesarkan hatiku.
Aku dan Tyo, sama sekali tidak membicarakan akan penampilan fisik putri pertama kami yang jauh di luar ekspektasi kami berdua, tetapi mimik wajah Tyo mengisyaratkan kekecewaan akan penampilan bayi mungil kami, hal ini membuatku sedikit merasa sakit hati.
Bye-bye mimpi indah akan bayi lucu nan cantik.