Self Healing

Self Healing
Episode 37 Kembali ke Kebun



Sepekan berlalu, Tyo telah kembali ke Langga Payung karena jadwal cutinya telah selesai dan aku harus menunggu minimal 40 hari, untuk dapat menyusulnya. Menunggu hingga Icha mendapatkan surat izin dari dokter untuk melakukan perjalanan panjang dengan pesawat terbang dan dilanjutkan dengan perjalanan darat yang membutuhkan waktu berjam-jam.


"Mulai pekan depan, kamu latihan mandiin Icha, kalau nggak latihan nanti gimana kalau sudah kembali ke kebun," ucap Ibu.


Hari-hariku pun disibukkan dengan mengurusi semua kebutuhan Icha. Dari bangun pagi hingga tidur malamnya. Hingga sebulan berlalu, aku mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk kembali ke Kebun, yang tentunya sudah sangat jauh berbeda dibandingkan ketika masih berdua.


Kali ini, pakaian-pakaian untuk Icha sudah tersedia hingga usianya 6 bulan, yang sebagian merupakan hadiah pemberian teman dan kerabat. Ada sebuah hadiah yang berasal dari teman-teman SMA-ku, yang sangat berguna selama perjalanan panjang ini, yaitu sebuah baby carrier berwarna pink, yang akan membuat nyaman Icha selama perjalanan ini.


Hari kepulanganku ke Langga Payung pun tiba, dengan ditemani oleh kedua orang tuaku dan mbak Hana, kami berlima menaiki penerbangan pagi menuju Medan dan sesampainya di sana, kami telah ditunggu oleh mobil yang didatangkan dari kantor cabang tempat ayahku bekerja.


Perjalanan darat pun dimulai sejak pukul 10.00 pagi, untuk menuju Langga Payung.


"Perjalanan ini kira-kira memakan waktu berapa lama, ya?" tanya bapak kepada Pak Desmond, supir kantor.


"Sekitar 10 sampai 11 jam, Pak," jawab pak Desmond.


"Berarti sekitar jam 8-9 malam kita baru sampai," ucap bapak.


Selama perjalanan, Icha sangat tenang, tidak ada tangisan kerasnya yang dapat mengganggu orang lain, ia benar-benar bayi yang kooperatif.


"Anteng banget si Icha," ucap mbak Hana.


"Anteng, karena kenyang dan nyaman. Kalau digendong atau dipangku, dia pasti akan kelelahan juga. Lagipula Icha kan rutin ibu pijat setiap selesai mandi, jadi badannya relaks," sahut ibu.


Perjalanan kali ini sangat lancar, kami hanya satu kali berhenti untuk makan siang dan shalat dan setelah 9 jam perjalanan, kami mulai memasuki kawasan perkebunan Langga Payung. Kami memasuki kawasan perkebunan, tak lama setelah adzan Isya berkumandang.


"Ternyata jauh juga lokasinya," lirih bapak.


"Ini beneran jauh! Jauh banget! Lin, kamu hidup di tengah hutan begini?" tanya mbak Hana dengan wajah ketakutan ketika melihat tingginya pohon-pohon sawit di sepanjang jalan, ditambah dengan jalan yang tak rata dan berliku.


"Mantap, kan Mbak?" ucapku menyahutinya.


Setelah 1 jam melewati hutan sawit yang tanpa penerangan, mulai terlihat cahaya lampu penerangan dari kantor dan pabrik serta komplek perumahan.


"Nah benerkan, aku memang tinggal di tengah hutan," ucapku dengan tawa kecil.


Aku pun memberikan arahan jalan menuju rumah dinas Tyo kepada Pak Desmond. Selama perjalanan, aku terus mengabari Tyo lokasi yang telah kami lewati dan sesaat sebelum memasuki area perkebunan atau tempat sinyal telepon seluler terdeteksi, aku telah mengirimkan SMS kepadanya, sehingga ia telah menunggu kedatangan kami di teras depan rumah.


Dengan wajah penuh senyuman yang memancarkan kelegaan dan kebahagiaan, ia menyambutku dengan pelukan dan ciuman hangat di pipi.


"Capek ya?" bisiknya ditelingaku.


"Lumayan," jawabku.


Lalu Tyo juga menyalami kedua orang tuaku, sebelum ia mengangkat baby carrier Icha.


"Nyusunya kuat banget, nambahnya lumayan banyak, sekarang jadi 4,5 kg," jawabku.


Lalu Tyo membawa baby carrier Icha masuk ke dalam kamar kami.


"Mas sudah siapkan air hangat untuk Icha. Tetapi jangan dimandiin, dilap-lap aja badannya, kasian karena sudah malam," ucap Tyo setelah meletakkan Icha di kasur.


"Mas mau bantuin angkatin barang dan beres-beres dulu. Sayang mandi aja, setelah mandiin Icha, biar segar," lanjut Tyo sambil memelukku dan mencium keningku.


Aku pun menuruti perkataannya dan beberapa saat setelah kami semua di dalam rumah dan telah menyegarkan badan kami, kedua orang tuaku dan mbak Hana berkumpul bersama di ruang tengah.


"Nih banyak oleh-oleh, bisa buat sepekan. Lauk juga ada, ibu sudah siapin tinggal dihangatkan aja nanti," ucap ibu. Ibuku memang telah menyiapkan aneka lauk yang dibekukan untuk persediaan kami di Kebun, yang pastinya sangat memudahkan aku nantinya.


"Kamu sendirian tiap hari di sini?" tanya bapak kepada Tyo.


"Nggak Pak, ada teman masih lajang tinggal di mess depan, kadang-kadang kalau dia dinas pagi, malamnya kesini atau saya ke mess-nya," jawab Tyo.


Bapak pun lanjut bertanya, "Kliniknya dimana?"


"Dekat kok, Pak. Nggak jauh, sekitar 500 meter aja. Besok pagi, saya antar bapak jalan-jalan di sekitar komplek perumahan dan kantor," jawab Tyo.


Perbincangan malam itu pun tak lama berakhir dan keesokan paginya, mulailah terlihat jelas pemandangan di sekitar rumah, yang kelilingi dengan pohon-pohon kelapa sawit yang menjulang tinggi. Hal ini pun mengundang komentar dari mbak Hana.


"MasyaAllah, hebat kamu Lin! Kalau aku ditaruh disini, langsung nangis! Serem banget, ini horor, Lin!"


"Tenang Mbak, Lina sudah sempet nangis waktu awal tinggal disini," sahut Tyo dengan senyum gelinya, mungkin ia teringat peristiwa ketika aku yang tiba-tiba menangis sesaat setelah ia pulang dari klinik.


"Waaah, Lina bisa nangis?! Amazing, cewek tomboy nan macho ini bisa nangis juga!" sahut mbak Hana yang membuat Tyo tertawa.


"Bolehlah terkadang hatiku mendadak Rinto mode on," sahutku.


Keesokan harinya, pekerjaan harian rumah tangga mulai kulakukan. Mbak Hana ikut membantuku membersihkan rumah dan merapikan barang bawaanku dari Jakarta, sedangkan Tyo asyik bermain, melepaskan rindu bersama putri kecil kami.


Kepulanganku juga dengan cepat diketahui oleh ibu-ibu asisten, maka di siang harinya mereka datang berkunjung untuk menjenguk putri kami.


Kedua orang tuaku dan mbak Hana menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


Perkenalan seperti biasa dan reaksi yang sama akan penampilan kedua orang tuaku dan mbak Hana kembali terjadi.


"Jadi bapak dan ibu sudah lebih dari 50 tahun? Lalu, mbak Hana sudah hampir 30 tahun?"


"Iya, mbak Hana 4 tahun lebih tua dari usia saya. Kami memang mempunyai gen formalin, awet!" candaku.