Self Healing

Self Healing
Episode 51 Berlibur



Aku pergi meninggalkan kedua putriku di Batam tanpa sempat memberikan pelukan hangatku kepada mereka. Rasa sesal di dalam dada menyelimuti hatiku, mengapa di saat aku mulai mengingat anak-anakku, aku harus pergi meninggalkan mereka walaupun hanya untuk sementara.


Tyo yang membaca keresahanku, berusaha untuk membuatku nyaman selama di dalam perjalanan menuju Yogyakarta, dengan terus menggenggam erat tanganku.


"Sayang tenang aja, Icha dan Ara sudah tahu kok, mereka paham kalau Sayang dalam proses penyembuhan dan kepergian kita ke Jogja, juga untuk pengobatan lanjutan Sayang. Icha dan Ara kan ditemenin bapak-ibu sama mbak Intan, selain itu juga ada mbak Yusna dan Bang Farhan yang selalu perhatian sama anak-anak. In syaa Allah, anak-anak nggak papa ditinggal sebentar. Jadi, Sayang tenang ya," ucap Tyo lembut.


Dengan mulai mengingat sedikit demi sedikit, aku merasakan memiliki kekuatan lebih untuk proses kesembuhanku. Sesampainya di Jogja, Tyo segera mendaftarkan aku untuk pemeriksaan lebih lanjut di sebuah rumah sakit bertaraf Internasional yang tak jauh dari lokasi tempat tinggal orang tuaku.


Beberapa tes motorik dan keseimbangan pun harus kulakukan untuk melihat sejauh mana permasalahan yang kualami.


"Semuanya bagus, normal kok, tidak ada masalah. Jadi obatnya yang lama diteruskan saja," ucap dokter syaraf yang menanganiku.


"Bagaimana dengan masalah memorinya, Dok?" tanya Tyo.


"Kalau dilihat dari hasil MRI, memang terlihat ada infark pada bagian korteks cerebral, penyebabnya bisa karena kurangnya pasokan oksigen dalam darah yang menuju ke area tersebut. Untuk penyembuhannya, sampai saat ini kami belum menemukan obatnya, tetapi untuk meningkatkan kinerja memori bisa dibantu dengan mencatat hal-hal penting dan yang utama adalah menghindari stres yang muncul karena berusaha untuk mengingat. Kesabaran adalah kunci untuk menghadapi pasien yang mengalami hilang ingatan jangka pendek. Bisa jadi, sepulang dari sini, istri Anda tidak mengingat jika baru menjalani pemeriksaaan. Hal itu adalah wajar bagi penderitaan amnesia jangka pendek. Intinya jangan dipaksa untuk mengingat karena stress akan membuatnya lebih buruk," jelas dokter syaraf.


Setelah pemeriksaanku, aku dan Tyo segera mencari sekolah untuk Icha dan Ara, karena kondisiku yang membuat kedua orangtuaku memintaku untuk pindah.


Ibuku pun mendaftarkan Icha ke salah satu SD yang tidak jauh dari rumah orang tuaku, sedangkan untuk Ara, didaftarkan di TK Islam full day, yang terletak hanya beberapa meter di belakang rumah orang tuaku.


Tyo telah kembali ke Batam setelah tiga hari menemaniku di Jogja dan setelah dua pekan berlalu, kesehatanku berangsur-angsur membaik, memoriku sedikit demi sedikit mulai kembali. Untuk itu, aku mulai mempelajari kurikulum sekolah untuk Icha dan Ara. Setelah aku mempelajari kurikulum yang mereka gunakan, aku menjadi ragu, karena ternyata kurikulum yang digunakan, jauh lebih baik yang di Batam. Terlebih ditambah dengan salah perkiraan, yaitu ternyata kendaraan yang digunakan orang tuaku menggunakan transmisi manual dan berbadan cukup lebar, sedangkan kedua sekolah tersebut terletak di gang yang menurutku cukup sempit. Untuk itu, aku membatalkan pemindahan kedua putriku.


"Pak, aku nggak jadi mindahin anak-anak kesini."


"Lho, kenapa?" tanya ayahku.


"Tadinya kan aku mikir, kalau disini ada mobilnya Ewing, jadi aku kan bisa antar jemput anak-anak pakai mobilnya, tapi kan ternyata Ewing nggak disini. Trus aku kan nggak lancar pakai manual, mana mobilnya gede masuk ke gang, aku kan ngeri bawanya."


"Trus, kamu mau balik ke Batam? Kamu yakin dengan kondisimu?" tanya ayahku.


"Iya Pak, nggak mungkin aku mindahin anak-anak ke sekolah yang kualitasnya dibawah dari yang di Batam, apalagi aku nggak bisa gerak kalau pakai manual," jawabku.


"Jadi apa rencanamu?"


"Anak-anak kan sebentar lagi kesini, yaa biar mereka berlibur disini, trus ya balik sekolah di Batam."


"Kamu yakin dengan kondisimu yang seperti ini untuk merawat tiga anak? Kalau disini kan bisa dibantu bapak-ibu, lagipula sekarang kan Ani masih kerja disini, jadi praktis urusan kerjaan rumah, dia yang nanganin. Bener kamu mau balik ke Batam aja?" tanya ibu untuk memastikan keputusanku.


"Iya, Bu. In syaa Allah," jawabku pasti.


"Inggih Pak, maturnuwun."


Aku pun membatalkan pendaftaran sekolah kedua putriku, walaupun harus kehilangan 50% dana yang sudah diberikan kepada pihak sekolah.


Anak-anak pun cukup bahagia dapat berlibur di rumah eyangnya yang sangat luas. Rumah orang tuaku di Jogja memang cukup luas, dengan 6 kamar tidur ditambah kamar mandi dalam. Belum lagi halaman belakang yang sangat luas, sekitar setengah hektar lebih sedikit, begitulah kata ayahku.


Halaman belakang itupun ditanami dengan aneka pohon buah, seperti mangga, durian sirsak, pepaya, pisang, jambu dan kelengkeng. Ditambah dengan kolam ikan nila dan gurami pada ujungnya. Tentu saja membuat kedua putriku sangat senang, karena mereka dapat dengan bebas berlarian, berbeda dengan di Batam yang hanya dari kamar ke kamar.


Hingga masa liburan selesai, tiba saatnya kami untuk segera kembali ke Batam, agar Icha dan Ara tidak tertinggal hari pertama kembali ke sekolah.


Kembali ke Batam dan kembali mengurus semuanya sendirian, memang tidaklah mudah, terlebih dengan masalah memori yang kumiliki. Aku harus mencatat semua kebutuhan mereka agar tidak terlupa, seperti mencatat menu bekal makanan mereka dan ditempelkan di pintu kulkas.


Tetapi tetap saja, terkadang aku lupa mencatat tanggal dan harinya, sehingga mereka mendapatkan bekal yang sama selama dua hingga tiga hari berturut-turut.


"Yaa ibu, kok mie goreng lagi? Kemarin kan sudah. Aku tulis nasi pakai nugget, bukan mie goreng," protes Icha yang kesekian kalinya dalam bulan ini.


"Ya maaf, Cha. Ibu lupa ini hari apa, coba kamu tulis tanggalnya aja, biar nggak salah lagi. Maafin ibu yaa."


Icha dan Ara harus kembali memaklumi keterbatasanku, yang terkadang membuat mereka hanya dapat gigit jari. Masalah kedua ku adalah pada putri bungsuku, Zalfa. Ia seolah-olah balas dendam terhadapku, karena aku tidak hadir dalam enam bulan pertama kehidupannya, sehingga setiap aku tidak terlihat, ia akan menangis. Bahkan saat Zalfa sudah tertidur sekalipun, aku tidak dapat meninggalkannya sendiri, karena tak lama ia pasti menangis


Terlebih setelah kami pindah dari lantai tujuh dan menempati sebuah rumah yang disewa oleh pihak rumah sakit. Kami menempati rumah dua tingkat dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi. Tampaknya sangat nyaman, jika hanya dihuni oleh kami sekeluarga.


Sayangnya, kami hanya mendapatkan jatah satu kamar saja. Hal ini pun berdampak pada hubunganku dengan Tyo. Jika sebelumnya, kami menempati dua kamar, sekarag di saat putri kami sudah semakin besar, kami hanya mendapatkan jatah satu kamar.


Disini juga, emosi Tyo semakin menjadi. Entah berapa kali ia memarahi Icha dan Ara, yang menurutku itu sangat tidak perlu.


Momen berbelanja mingguan yang seharusnya menjadi momen kebersamaan, menjadi momen dimana Tyo melepaskan emosinya kepada anak-anak. Suasana setelah berbelanja dan makan malam pun menjadi ajang omelan dari Tyo sepanjang perjalanan pulang


Aku berulang kali harus menenangkan dirinya, agar ia tidak mengeluarkan kata-kata yang akan ia sesali nantinya yang akan meninggalkan trauma psikologis pada anak-anak. Aku juga harus menenangkan anak-anak agar mereka tidak ketakutan dan mengalami trauma.


Aku pun harus kembali terbelah antara Tyo dan anak-anakku.


Hingga setahun berlalu, aku kembali mengalami vertigo dan penglihatan yang berbayang yang membuatku harus di rawat di rumah sakit.


"Yo, sepertinya Halina nggak bisa ditangani disini. Tahun lalu saja dia sudah menjalani tiga operasi berturut-turut," ucap dr. Edi Spesialis bedah syaraf.


"Coba kamu bawa ke Jakarta, disana banyak tenaga yang lebih ahli dengan peralatan yang lebih canggih," lanjut dr. Edi.