Self Healing

Self Healing
Episode 55 Back to Everyday Life



Sepekan berlalu, kami sekeluarga kembali ke Batam. Walaupun kondisi fisikku belum sepenuhnya normal, tetapi mau tidak mau aku harus kembali mendampingi Tyo dan mengasuh ketiga putriku. Aku juga tahu dan menyadari bahwa hal itu tidak akan mudah, selain karena vertigoku yang tak kunjung menghilang ditambah keadaanku yang terkadang masih linglung, hal itu juga masih ditambah lagi dengan kualitas tidur malamku yang belum sepenuhnya baik. Aku dapat merasakan otakku bekerja luar biasa di saat malam hari yang menyebabkan aku kelelahan di pagi harinya.


Emosi Tyo pun semakin menjadi dengan kondisiku yang belum juga pulih dari vertigo dan masalah memori.


"Coba dilatih, Yang. Jangan diikutin sakitnya, mau sampai kapan diikutin vertigo dan lupanya?!"


Itulah kalimat yang sering dilontarkan oleh Tyo, rasa hati ini ingin menangis karena seseorang yang selama ini telah sabar mendampingiku, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sebaliknya. Di saat dalam proses pemulihan ini, dimana aku sangat membutuhkan ketenangan dan kestabilan emosi, tetapi Tyo yang seharusnya dapat memahami dari sudut ilmu kedokteran yang dimiliki, malah ia membuktikan bahwa ilmu itu hanya ia gunakan untuk orang lain, tetapi tidak kepadaku.


Tidak hanya denganku, di saat mendampingi anak-anak, ia berubah menjadi ancaman yang satu ke ancaman yang lainnya.


Kelelahan emosi pun harus kurasakan selama berbulan-bulan, akhirnya membuatku seringkali untuk memilih diam dan melindungi ketiga putriku. Di saat aku menemani mereka tidur malam, aku pun membisikkan kalimat-kalimat permintaan maafku untuk mereka, disaat mereka mulai terlelap.


"Maafin ibu, maafin ayah yaa. Maafin ibu yang tidak bisa menjadi ibu seperti ibu-ibu yang lain, yang menemani kalian belajar dan bermain. Maafkan ibu yang tidak bisa mengendalikan emosi ayah kalian. Maafkan ibu, yang masih sering melupakan permintaan kalian. Maafkan ibu yang tidak dapat memberikan masa kecil yang indah seperti teman-teman kalian."


Setelah itu, aku mencium keduanya sebelum kembali ke kamarku.


Ketika aku memasuki kamarku, kulihat Tyo sedang asyik dengan gadgetnya, tanpa memperdulikan Zalfa yang masih bermain.


Aku pun kembali harus mengurut dadaku, bagaimana mungkin Zalfa yang masih berusia empat tahun, belum juga tidur sedangkan waktu telah menunjukkan pukul sepuluh lebih.


Aku pun mengganti cahaya lampu kamar menjadi redup.


"Eh, Zalfa kok belum bobok? Mbak Icha sama mbak Ara sudah tidur lho. Zalfa bobok yuk," ajakku sambil merebahkan badanku di samping Zalfa.


"Ayah main HP terus sih," sungutnya.


Aku pun melirik ke arah Tyo yang sepertinya tidak mendengarkan protes Zalfa karena masih saja asyik fokus dengan gawainya.


Aku memilih membiarkan Tyo dan fokus ke Zalfa, yang merasa tidak dipedulikan oleh ayahnya.


"Yuk, sekarang Zalfa bobok ya. Besok kita main lagi," ucapku sambil mengelus rambutnya yang terasa basah karena keringat padahal AC di kamarku cukup dingin, dengan suhu 23°C.


"Baca do'a dulu ya, bismikallahumma ahya wa bismika amut," bisikku di telinganya dan tak membutuhkan waktu yang lama, ia pun mulai terlelap.


Mendengar nafasnya yang berat, aku menyadari jika Zalfa kelelahan.


"Mas, kok Zalfa nggak dikelonin dulu, sih? Kan kasihan dia kecapean," lirihku kepada Tyo yang masih juga belum mengalihkan pandangannya dari gadgetnya.


"Mas?!"


"Apa sih?" jawabnya ketus yang membuatku malas melanjutkan protesku.


"Nggak papa, aku mau tidur," ucapku sambil menarik selimut untuk menutupi badanku dan Zalfa.


Tiba-tiba Tyo beranjak dari tempat tidur, lalu memakai celana panjang dan jaketnya, yang tentu saja membuatku bertanya-tanya.


"Mas mau keluar sebentar," ucap Tyo.


"Mau kemana, malam-malam begini?"


"Mau ambil berkas MCU, tadi katanya dititipin ke front office, sekalian isi bensin," jawab Tyo.


"Kok sekarang jadi sering berkas MCU dititipin ke lobby, nggak langsung diselesaikan di rumah sakit atau dibawa pulang?" tanyaku.


"Ya mereka kerjanya lambat, kalau nungguin bisa nggak pulang. Daripada besok pagi ngerjain kerjaan hari ini, mending malam ini diselesaikan. Cuma tanda tangan aja kok, nggak banyak. Yowes, mas pergi dulu. Nggak usah nungguin, kalau sudah ngantuk, tidur duluan aja," ucap Tyo.


"Iya, hati-hati Mas."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah Tyo pergi, aku melihat ke arah jam yang ada di HP-ku dan waktu menunjukkan pukul 21.45. Jika Tyo hanya ke rumah sakit dan mengisi bensin, seharusnya tidak membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk kembali ke rumah. Tak lama kemudian aku pun tertidur. Hingga aku mendengar suara pintu dibuka dari luar, aku pun menduga Tyo telah kembali.


Lalu aku melihat ke arah jam di HP-ku, ternyata telah menunjukkan pukul 23.50, yang berarti telah dua jam Tyo keluar.


Tak lama, Tyo memasuki kamar dengan perlahan agar tidak membangunkan aku dan Zalfa, sementara aku berpura-pura untuk tetap tidur. Ia kemudian membersihkan badannya lalu merebahkan badannya di sampingku.


Inginku bertanya mengapa sampai dua jam hanya untuk mengambil berkas dan mengisi bensin, tetapi aku memutuskan untuk menundanya hingga keesokan harinya.


Aku pun terlelap hingga terdengar adzan subuh bersahutan. Kulihat Tyo masih terlelap disampingku, dengan badan membelakangiku. Laku aku pun membangunkannya agar tidak terlambat mengikuti shalat subuh berjama'ah di masjid.


"Mas, sudah adzan subuh," ucapku sambil menepuk-nepuk lengannya.


Perlahan Tyo membuka matanya, yang terlihat sangat berat.


"Sudah adzan, buruan nanti ketinggalan jama'ah di masjid," lanjutku.


"Iya," jawabnya dengan suara berat lalu segera bangkit dari tempat tidur.


Setelah shalat, seperti biasanya aku melakukan rutinitasku dengan membuat sarapan dan memastikan Icha dan Ara telah bangun dan menunaikan shalat subuh. Sementara itu, Tyo terkadang kembali setelah tiga puluh menit, tetapi belakangan ia kembali setelah lebih dari satu jam. Sering kali, ia kembali ketika matahari telah menunjukkan cahaya paginya.


"Kok lama, Mas?"


"Tadi ngobrol dulu sama bapak-bapak di sini, makanya lama," jawabnya.


"Mas ke kamar ya," lanjut Tyo.


"Tolong sekalian, bangunin Icha sama Ara, sekarang sudah waktunya mandi," pintaku, karena biasanya mereka berdua tertidur kembali setelah subuh.


Tanpa menjawabnya, Tyo berjalan menuju kamar kedua putriku.


Tak lama kemudian, Tyo kembali menghampiriku.


"Nggak mau bangun. Sayang ajalah !" ucapnya dan tanpa menungguku ia segera berjalan menuju kamar.


Aku pun menarik nafasku, ada sedikit kekesalan dalam diriku, tetapi aku mencoba menepisnya, karena aku harus fokus untuk kedua putriku.


Lalu aku segera menuju kamar Icha dan Ara untuk membangunkannya, tetapi sebelumnya aku mengambil handuk kecil yang kubasahi dengan air terlebih dahulu.


"Cha bangun, sudah setengah enam. Sebentar lagi om Iyan datang njemput lho," ucapku sambil menyeka wajahnya dengan handuk basah, yang tentu saja membuat Icha segera terbangun dari tidurnya.


"Segera mandi, ibu mau bangunin Ara dulu," ucapku.


"Iya, Bu."


Rutinitas pagiku yang sibuk berbanding terbalik dengan Tyo yang lebih sering untuk tidur kembali hingga saatnya untuk bekerja. Ada kalanya ia terbangun saat Icha dan Ara berpamitan untuk bersekolah dan mengantarnya hingga ke teras. Lalu menunggui hingga kedua memasuki mobil antar-jemput sekolahnya. Tetapi Tyo lebih sering terlelap di alam mimpinya ketimbang meluangkan waktunya untuk anak-anaknya.


Tidak hanya itu, di saat putriku berlatih membaca Al-Qur'an, fokus Tyo tetap pada gadgetnya, yang tentu saja membuat kedua putriku kesal.


"Bu, aku latihan Ummi-nya sama ibu aja, ya. Kalau sama ayah, nggak enak. Masa' ngecek bacaanku sambil main HP?! Trus kalau aku sudah selesai, ayah cuma bilang, oh sudah ya, bagus, pinter, tapi ngecek juga nggak!" protes Icha padaku suatu kali yang tentu saja membuatku merasa bersalah padanya.


"Mungkin ayah capek, trus mungkin juga karena ayah lagi nunggu WA dari rumah sakit," jawabku untuk memberikan pemakluman untuknya, walaupun aku tahu, Icha dan Ara tidak sedikitpun mempercayai alasan yang kuberikan.