Self Healing

Self Healing
Episode 56 Pindah



Dua tahun berlalu sudah, vertigo yang kualami berangsur-angsur berkurang. Jika sebelumnya aku akan merasakan vertigo kapan saja, kali ini hanya kurasakan pada saat kelelahan. Tetapi aku masih bermasalah pada ingatan jangka pendekku, yang membuatku masih saja melupakan hal-hal kecil yang baru saja terjadi.


Selain itu, Tyo juga mempertimbangkan usia kedua orang tuaku yang sudah menjelang tujuh puluh tahun, dimana keduanya hanya tinggal berdua dan tanpa adanya asisten rumah tangga, sedangkan rumah yang ditinggali terbilang cukup besar dengan enam kamar tidur dan halaman belakang yang sangat luas. Hingga akhirnya Tyo memberikan aku pilihan untuk tetap di Batam atau pindah ke Jogja bersama dengan ketiga putri kami.


"Apa Sayang nggak ke Jogja aja, sekalian nemenin bapak-ibu?"


"Nanti, Mas akan ke Jogja sebulan sekali di akhir pekan atau saat liburan," tambah Tyo.


"Tapi, kalau pindah semua, artinya biaya pindah sekolah juga. Kalau Ara sama Zalfa mungkin nggak masalah, tapi Icha kan tahun depan naik ke kelas enam, apa ngga resiko mindahin di saat menjelang UN?"


"Aku dulu, juga pindah pas kelas enam. Malah pindah dua kali, cawu satu di Surabaya dan lulusnya di Jakarta. Hasil ujianku anjlok, ya memang saat ujian aku demam, tapi kan pengaruh nggak sih nanti ke psikisnya Icha. Lima tahun SD di Batam, tapi lulusnya di Jogja," jawabku yang meragukan keputusan Tyo.


"Ya terserah Sayang, enaknya bagaimana," jawab Tyo.


Tetapi beberapa pekan kemudian, ibu mengabarkan bahwa ayahku sedang kurang sehat dan tak lama berselang, ibu pun mengabarkan hal yang sama akan kondisi kesehatannya, yang membuatku menjadi tidak tenang.


"Sudah Yang, pindah aja ke Jogja biar Sayang juga tenang," bujuk Tyo.


"Tapi kewajiban aku, kan ada disini, sama Mas, bukan di bapak-ibu lagi," jawabku yang masih berat untuk memilih antara kedua orangtuaku atau Tyo.


"Iya, Mas tahu, tapi Mas juga tahu apa yang Sayang rasakan sekarang, saat bapak-ibu sakit bergantian. Mas lihat Sayang nangis sewaktu ibu nelpon, kalau bapak sakit. Jadi daripada kepikiran dan jadinya nggak tenang, Sayang sama anak-anak pindahlah ke Jogja, temenin bapak-ibu. Mas tetap disini sampai nemu pekerjaan di Jogja. Nanti mas akan coba apply ke rumah sakit-rumah sakit disana," bujuk Tyo.


"Untuk sementara, nanti mas akan ngekost aja, yang jelas lebih murah dari ngontrak," lanjut Tyo lagi.


Sebenarnya pindah di tahun ini, telah kami pertimbangkan dan rencanakan jauh-jauh hari, yaitu semenjak Tyo disekolahkan S2 oleh manajemen rumah sakit, dimana kontrak kerjanya akan berakhir di tahun ini. Tetapi yang menjadi pertimbangan utamaku adalah Icha, yang akan memasuki tahun terakhirnya di sekolah dasar, dimana ia akan mengikuti Ujian Nasional.


Tentu saja, Icha membutuhkan kestabilan emosi dan lingkungan. Tetapi, dengan kepindahan ini, bukannya malah membuat Icha harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru? Itulah yang menjadi pertimbangan terberatku.


"Cha, kalau tahun ini kita pindah ke Jogja, gimana?" tanyaku pada Icha.


"Tahun ini, pas kenaikan kelas ?" tanya Icha balik.


"Trus sekolahku gimana ?"


"Ya pindah semua. Kemarin kan yangti sudah sempat nanya-nanya tentang SDIT di dekat rumah yangti, katanya ada di Babarsari, jaraknya hampir sama dari Awassuka ke Tiban," jelasku.


"Tapi, disana nggak ada mobil antar-jemput seperti disini, jadi yaa ibu yang antar-jemput kamu semua," tambahku.


"Hmm ayah juga pindah ?" tanya Icha.


"In syaaAllah, katanya nanti mau cari kerja di Jogja, tapi kita duluan yang pindah. Ayah pindah setelah dapat kerja di Jogja," jawabku.


"Terserah Ibu aja," jawab Icha dengan wajah tertunduk.


"Ya memang keputusan ada di tangan ibu dan ayah, tapi ibu nggak mau kamu jadi kesal yang akhirnya berpengaruh kepada belajarmu."


"Nggak kok, Bu. Aku mau pindah ke Jogja, disana juga enak, rumahnya luas," jawab Icha dengan senyum yang kurasa agak dipaksakan.


Icha memang selalulah menjadi anak yang penurut, ia tidak pernah membuatku kecewa ataupun bersedih, hal itulah yang membuatku semakin berat untuk pindah. Tetapi bagaimanapun juga, aku tetap harus memutuskan antara Jogja atau Batam.


Bulan demi bulan pun berganti, hingga dua bulan menjelang liburan kenaikan kelas, aku mulai membereskan barang-barang yang akan kubawa ke Jogja. Beberapa peralatan memasak aku masukkan ke dalam kardus, untuk dikirim nantinya. Buku-buku dan mainan anak-anak juga sudah kumasukkan ke dalam kardus. Menyisakan pakaian dan perlengkapan yang masih digunakan setiap hari.


Hari yang dinantikan pun tiba, setelah mengambil raport Icha dan Ara, menyelesaikan administrasi, berpamitan kepada pihak sekolah dan tentu saja tetangga sekitar, kami berlima pun bertolak menuju Jogja, menggunakan penerbangan sore, yaitu setelah Tyo pulang bekerja.


"Semua sudah siap ?" tanya Tyo sambil memeriksa gembok koper satu persatu.


"Sudah. Tinggal yang di kardus, jangan lupa nanti dikirimkan, itu buku-buku dan alat tulis yang masih bisa dipakai, sama yang perlengkapan dapurku juga. Semuanya sudah aku susun, insyaallah aman sampai Jogja," jawabku.


"Yowes, kita berangkat sekarang," ajak Tyo.