
Aku tidak marah pada kenyataan yang selalu membuatku terkan. Hanya saja, hati ini sudah lelah berpura-pura tegar. Rindu yang paling menyedihkan, ketika bukan tidak bertemu dengannya tapi ketika alam kita telah berbeda.
(Nura)
***
Senja terlihat sore ini, kemuning cakrawala menyisakan duka. "Nenek, aku di sekolah tadi bertemu dia lagi, wajahnya mirip bunda," Nura mengadukan kejadian di sekolah tadi. Neneknya tidak menjawab, ada rasa penyesalan yang hanya bisa ditelan seorang diri, mulutnya tidak dapat berbicar. "Nura juga udah putuskan, nura tidak akan melanjutkan perjodohan… " Berat tapi tetap Nura katakan. "Nu--," Ucapannya menggantung, sebelum katanya sempurna dia sudah dipeluk. "Ayah," Lirihnya. "Ayah marah sama abang, tapi malah ninggalin adek setahun lebih." Nenek ikut menghampiri yang tengah terduduk di atas kursi rodanya. "Nura ayah kamu sedang cape, jangan dulu digangguin." Nenek mengusap punggung Nura yang membelakangi. "Gak apa-apa bu, saya paham." Haris membawa kursi roda ibu masuk, di sana haris langsung duduk berjongkok melipatkan kakinya setengah berdiri membawa tangan ibu dalam genggamannya. "Maafin Haris bu, pergi meninggalkan Nura dan ibu. Kepergian Shakila serta membangkangnya Zayyan terhadapku membuat aku tidak berpikir panjang." Haris menangis. Nura yang awalnya berdiri kini memeluk sang ayah dari belakang punggungnya. Nenek ikutan menangis dia mengusap rambut Haris. "Ibu tidak marah, hanya saja sedikit kecewa. Satu tahun lebih semenjak kamu pergi tanpa kabar, Nura berhenti sekolah. Ibu tidak punya uang, dia bekerja. Pergi pagi dan pulang malam menghidupi neneknya yang sudah tidak berdaya dan dirinya seorang diri. Ibu tidak pernah mengharapkanmu kembali sesungguhnya, sampai satu bulan yang lalu Nura bertemu keluarga baik hati. Dia menjodohkan Nura dengan anaknya, nenek terima tapi tiga minggu sebelum Nura dimasukkan ke bangku sekolah lagi, Nura bercerita anaknya sangat dingin itu pertanda bahwa dia tidak menyukai Nura tapi Nura bertahan demi nenek, sampai masuk sekolah satu sekolah dengan anaknya Nura melihat dia bersama wanita lain, wanitanya mirip dengan Shakila." Haris mendengarnya dia tambah menangis setengah berteriak dia berkata."Aku ayah yang tidak becus, melukai anak orang apalagi anak kandung." Nura menyela."Ayah tidak seperti itu, ayah baik terlalu baik sampai mendidik Nura langsung di kehidupan nyata ini. Maafin Nura telah mengganggu waktunya, Nura tidak ingin dijodohkan." Semua haru, Neneknya bangga mendengar pernyataan Nura."Cucu nenek yang Insyaalloh sholihah ini. MasyaAlloh sayang," Haris yang tengah menangis di pangkuan Nenek langsung balik menatap Nura. Mengecupnya.
***
"Abang bertemu dia di mana?" Aura dingin Haris kepadanya masih terasa."Tadi di taman kota. Abang melihat dia sudah bersama Meira, awalnya abang tidak peduli langsung membawa Meira. Tapi ketika Meira di mobil menunjukkan hasil DNA, tertulis bahwa Naziya bukan anak dari Mayassah. Abang selalu penasaran sama semua orang yang ternyata bukan anak kandung dari keluarga yang membesarkannya, lalu abang puter-balik. Dia sedang menangis sendirian, ketika abang dan Meira samperin lagi dia belum mendongkakkan wajahnya. Tapi ketik abang kasih surat itu baru, abang tanya namanya Naziya dan sebelum turun abang lihat wajah dia yang ayah kasih. Pahatannya hampir sama. Maafin abang pernah membangkang, yah. Sekarang abang datang ke kota ini lagi. Untuk mencari nenek, Nura dan dia. Tidak ada lagi tujuan akhir abang, selain menebus kesalahan abang selama ini." Haris menepuk pundak anak laki-lakinya. "Sebenarnya ayah tidak marah ketika kamu menolak ayah jodohkan sebelum tahu orangnya, hanya saja ayah marah ketika kamu memutuskan menikah bersama perempuan lain. Dan ayah dengar itu dari orang lain. Lebih parahna, setahun setelah kepergian bundamu." Haris mencari kebenaran di mata Zayyan. "Iya Zayyan mengaku salah, soal perempuan lain memang benar tapi tidak sampai menikah. Dia mau sama Zayyan bukan cinta semata ingin meraih surga bersama, dia melihat kedudukan Zayyan dan ingin berlindung bahwa dia telah hamil di luar nikah. Zayyan terlalu ciut nyalinya, sampai Zayyan memutuskan pergi jauh lalu sebelum itu mengangkat Meira jadi anak Zayyan. Satu kali pertemuan ayah dengan Meira tapi Meira sudah mengenal ayah dengan begitu fasihnya menyebut kakek padahal aku mengenalkan ayah lewat foto. Zayyan berjanji tidak akan pulang menemui ayah sebelum bertemu Naziya. Kesalahan Zayyan juga, menelantarkan Nura." Perbincangan hangat itu terdengar oleh malam, rembulan berseri menyaksikan dua orang insan antara ayah dan anak saling membebaskan. "Ayah Nura tidur bareng ka Naziya, gak jadi sama ayah." Nura menghampiri Haris sambil membawa teteh. "Nenek barusan mencocokkan wajah Ka Naziya sama bunda, mirip. Tapi Ka Naziya terus memegangi kepala berguman pelan sakit. Akhirnya nenek menyuruh dia tidur di kamar aku." Nura memberi penjelasan itu kepada ayahnya. Haris sudah yakin dia putrinya, meski bukan darah dagingnya dia tetap akan menyayangi Naziya. "Bunda, ayah sudah menemukan separuh jiwa bunda yang hilang. Dan Ka Rudi, Haris tidak menyangka kita akan sedekat ini. Haris tidak tahu kalau Shakila istri keduamu, yang menjadi istriku yang selalu mengisi kekosonganku, aku akan menyayangi Naziya seperti Nura. Seperti Shakila menyayangi Zayyan. Ijinkan mereka bersatu." Haris menatap langit dengan monolog hati dan harapan. "Ayah tau tidak rindu yang paling berat it apa?" Celetuk Nura melihat ayahnya melamun. "Apa tuh dek." Zayyan menanggepi Nura. "Ihh abang, adek nanya ayah bukan abang." Sifat manja Naziya keluar. "Rindu kepada seseorang yang telah dipisahkan alam," Jawab Haris. "100 buat ayah. Rindu bunda Shakila Aulia." Lanjut Nura yang diiyahkan Zayyan.