
Orang tuaku dan mbak Hana menginap selama 2 malam, sebelum mereka bertolak kembali ke Medan pada Senin pagi. Perpisahan kali ini tidak lagi terasa berat, karena aku sudah memiliki teman yang dapat menemaniku di saat Tyo pergi bekerja.
Alhamdulillah dengan hadirnya bayi mungil di dalam pernikahan ini, membuat hari-hariku semakin ceria. Menyaksikan perkembangannya dari hari ke harinya, sungguh suatu momen yang sangat berharga untuk dilewatkan.
Selain dengan kehadiran Icha yang mewarnai kehidupan pernikahan kami, Tyo menawarkan ART baru kepadaku, yang jauh lebih muda dari sebelumnya.
Namanya Ninik, usianya baru 16 tahun dan ia kuanggap seperti adikku sendiri. Ninik sangat rajin, kerjanya cepat dan cekatan. Aku banyak bertukar cerita dengannya, juga berbagi aneka resep panganan dan cemilan. Satu hal yang terpenting adalah aku dapat berbagi sedikit ilmu agama yang kumiliki.
"Nik, kamu mau pakai jilbab, nggak?" tanyaku.
"Maulah, Bu. Tapi, saya nggak punya jilbabnya, baju juga masih pendek-pendek semua kek gini," jawabnya.
Sehari-hari, Ninik memang masih menggunakan kaos berlengan pendek dan celana jins yang cukup ketat, hal ini cukup membuatku risih.
Maka dari itu, aku tawarkan jilbab dan beberapa pakaian yang dapat ia gunakan untuk menutup auratnya.
"Makasih, Bu! Makasih!" ucap Ninik dengan mata berbinar.
Aku pun rajin memberikan tausyiah kepada Ninik, tentang adab berpakaian dan bersosialisasi, selain mengajarinya aneka jenis makanan dan cemilan yang kuketahui.
Memasuki bulan ke-tiga usia Icha, kulitnya perlahan memutih, tidak sehitam dan semerah sewaktu ia dilahirkan. Pertumbuhan dan perkembangannya dari hari ke hari pun berada pada ambang batas atas pada kartu kesehatan bayi.
Lalu di akhir tahun, acara liburan tahunan perusahaan ini membuatku bersemangat, karena kami akan berlibur ke Danau Toba dan Medan. Terakhir aku berlibur ke Danau Toba adalah ketika aku masih belum sekolah, mungkin sekitar usiaku 4 tahun, di saat ayahku ditempatkan di Sidikalang.
Supir kami menyarankan untuk berangkat lebih awal, yaitu sesudah waktu Ashar, agar kami bisa menginap semalam di Parapat sehingga Icha tidak kelelahan. Sementara rombongan staf berangkat menjelang tengah malam dan mereka sampai di Parapat sesaat menjelang Shubuh.
Jadwal kami hari itu adalah mengelilingi sebagian Danau Toba, lalu menyeberang ke Tomok, Pulau Samosir. Hujan yang turun sedari Shubuh tidak mengurangi semangatku untuk mengikuti perjalanan ini.
Kami menaiki kapal feri yang didisain tanpa dinding dan jendela, sehingga mengakibatkan air hujan masuk terbawa angin dan mulai membasahi kami. Tak hilang akalku untuk melindungi Icha, yang telah kupakaikan baju hangat serta jilbab, dengan membuka payung kecil yang kuletakkan di depanku.
"Mas, tolong pegangin payungnya di depan, biar kita nggak basah, kasihan Icha," pintaku kepada Tyo.
Tyo pun segera memegangi payungnya selama perjalanan dan benar saja, kami tetap kering hingga sampai di Tomok.
Perjalanan kami selama 3 hari tersebut cukup menyenangkan, terlebih Icha sangatlah penurut dan tenang selama perjalanan.
Selain piknik akhir tahun, selama tinggal di Langga Payung, kami juga sempat berjalan-jalan ke Padang Sidempuan untuk bertemu teman SMA kami yang tinggal di sana. Aku juga sempat bertemu dengan teman sebangkuku saat SMP, yaitu Cici yang semenjak lulus SMA telah menetap di Medan.
Tanpa terasa, 2 tahun masa kontrak kerja Tyo pun berakhir di awal tahun 2007. Tyo pun bangga akan pencapaiannya selama menjadi dokter di Perkenunan Langga Payung PT. Light Golden.
"Alhamdulillah, Mas menyelesaikan dinas dengan meninggalkan sebuah bangunan klinik yang baru," itulah yang ia ucapkan dan siapa yang tidak bangga akan hasil pencapaian tersebut.
Kami pun kembali ke Jakarta dan kembali tinggal di rumah orang tuaku di Kelapa Gading. Tak berapa lama, Tyo mendapatkan pekerjaan sebagai dokter di Puskesmas Tanah Abang. Tetapi ia hanya bertahan selama 3 bulan saja, karena lebih besar pasak dari pada tiang. Lalu Tyo mendapatkan pekerjaan kembali di RS Unda Margonda.
Akhirnya Tyo mengalah setelah merasakan lelahnya berkendara di tengah kepadatan lalu lintas dan mulai menaiki kendaraan umum. Hingga suatu kali, aku mendapat telpon darinya di saat ia sedang bekerja.
"Yang, bisa jemput Mas, nggak ?"
"Lho ada apa, kok dijemput?" tanyaku.
"Mas nggak enak badan, sekarang lagi istirahat di UGD," jawab Tyo.
"Lah, kok Pak dokternya malah sakit ?" candaku dan akhirnya aku harus pergi untuk menjemputnya.
Setelah itu, aku lebih mulai memperhatikan kondisi fisik Tyo, yang ternyata tidak sekuat yang aku kira. Ia mudah kelelahan dan sering terkena flu, dengan alasan alergi debu.
"Mas, ini ada vitamin dan suplemen, diminum setiap hari, biar nggak drop kondisinya," ucapku sambil memberikan beberapa botol suplemen dan vitamin.
Tyo pun menerimanya dengan penuh senyuman, "Makasih, Yang," ucapnya sambil mengecup keningku.
Akhirnya setelah beberapa bulan, ia mendapatkan tawaran pekerjaan di tempat lain di RS swasta terbesar di Batam. Saat itu, Bang Farhan, senior Tyo di kampus telah bekerja 2 tahun di RS Awassuka Bersaudara, sebelum akhirnya menawarkan posisi dokter umum kepada Tyo.
Tyo pun berangkat terlebih dahulu, karena ia harus mempersiapkan tempat tinggal untuk kami nantinya. Kala itu, aku tengah mengandung anak ke-dua kami dan kekhawatiranku akan biaya persalinan nanti pun terjawab dengan pekerjaan Tyo yang baru.
Di malam hari sebelum keberangkatan, Jakarta diguyur hujan deras hingga keesokan harinya, yang menyebabkan genangan air di beberapa ruas area di ibukota. Termasuk di jalan tol dari dan menuju bandara, yang mulai tergenang dengan ketinggian air mencapai setengah meter lebih.
"Nggak bisa lanjut lagi nih Mas, airnya sudah tinggi, kalau dipaksakan mobilnya bisa turun mesin," ucap supir yang mengantarkan kami.
Beberapa kendaraan juga banyak yang memilih untuk berhenti dan memutar arah, kemudian sebuah truk melintas di depan kami dan berhenti untuk mengangkut calon penumpang yang menuju bandara.
"Bandara, bandara!" teriak supir truk sambil melambaikan tangannya.
Melihat itu, Tyo pun segera mengambil tas dan kopernya.
"Yang, Mas turun disini aja. Mas, naik truk itu aja. Sayang langsung pulang, ya," ucap Tyo setengah terburu-buru.
"Mas, hati-hati," ucapku cemas.
"In syaa Allah, doain Mas, ya. Assalamu'alaikum," pamit Tyo sesaat setelah mencium putri kami.
Melihat Tyo keluar dari mobil, Icha pun menangis histeris sambil berteriak memanggil-manggil ayahnya, "Ayah! Ayah!...."
Entah bagaimana, tangisannya pun menular padaku. Aku merasakan mataku berair, lalu kupeluk erat tubuh mungil Icha, untuk menenangkannya.